Menu

Sunday, 22 February 2015

[Short Story] BUS STOP NO. 10136


Joining : #CoupleGiveaway
Held by : NBC IPB
Status : Didn't Win
Inspired by slight true story


“Duh, telat, telat, telat!"

Aku mempercepat langkah kakiku sambil bolak-balik mengecek jam tangan, tidak menghiraukan rasa pegal yang menggigiti otot-ototku. Aku berbelok ke kanan, dan… Dia tidak ada di sana. Sesuai dugaan, tetapi tidak sesuai harapan. Nafasku terengah-engah saat aku berhenti di sebelah dinding apartemen yang terletak tepat di belakang bus stop tempat aku (dan dia) selalu menunggu bus sepulang kerja. 

Aku menertawakan diri sendiri dalam hati. Ini sangat, sangat konyol. Kami bahkan tidak saling mengenal, tapi aku selalu merelakan diri untuk jalan lebih jauh tanpa memedulikan kakiku yang pegal setelah kerja hanya demi bertemu dengannya di bus stop ini dan menunggu bus bersama.

Aku sudah bekerja di kafe ini selama hampir satu tahun, tapi baru belakangan ini aku menyadari kehadirannya. Mungkin sejak menunggu di bus spot ini hari itu, tiga bulan yang lalu. Dan ya, sekonyol apapun ini terdengar, selama tiga bulan itulah, dia menjadi motivasiku pergi bekerja. Aku jadi tidak terlalu merasa terbebani setiap kali aku mendapat shift lebih banyak, dan jadi selalu menanti-nanti jam pulang kerja untuk bertemu dengannya.

Tentu, dia tidak selalu ada di sana. Entah karena aku terlambat dan busnya sudah datang menjemputnya, atau dia memang tidak datang sama sekali. Entahlah. Seperti yang kubilang, kami tidak saling mengenal. Aku tidak tahu namanya, tidak tahu dari mana dia datang dan kemana dia akan pergi, tidak pernah mendengar suaranya, nihil. Yang kutahu tentangnya sangatlah minim. Aku hanya tahu dia akan muncul dari seberang jalan, dan berhenti di balik dinding ini, tapi tidak tahu dia hendak menuju sebuah tempat dari rumahnya, atau hendak pulang dari suatu tempat. Aku tahu dia selalu naik bus nomor 106, tapi tidak tahu dimana dia akan turun. 

Semakin sering kami bertemu, semakin banyak hal-hal kecil yang kuketahui. Seperti fitur-fiturnya – wajah oval tampannya yang dihiasi jenggot tipis, alis mata tebalnya yang mempertajam kedua mata besarnya, hidung bangirnya, bibir penuhnya yang merah, tato bermotif floral yang menghiasi lengan bawahnya, lalu kostumnya yang tidak jauh berbeda dari hari ke hari – atasannya yang kadang kaos polo hitam atau kaos V-neck tipis, dipadukan dengan skinny jeans dan sepasang snickers biru tua, lalu tas selempang kulit berwarna cokelat. Dia selalu membeli tiket untuk bus tripnya, tidak menggunakan kartu SmartRider yang selalu kugunakan. Dia sesekali akan mengecek iPhone putihnya dan tersenyum sendiri – yang membuatku penasaran setengah mati: apa itu pacarnya?

Yang membuatku semakin tertarik padanya adalah bagaimana dia selalu bolak-balik menoleh ke arahku, seakan-akan sedang mengecekku juga. Aku selalu berdiri di sebelah kirinya, dan bus selalu datang dari sebelah kanan, jadi untung bagiku, aku punya alasan untuk melihat ke arahnya. Tapi dia tidak punya alasan untuk melihat ke arahku selain hanya karena iseng. Masalahnya, dia sering melakukannya, dan kadang, bukan hanya sekilas, tapi memutar kepalanya tepat ke arahku. Tentu, aku tidak mau kegeeran, tapi aku menikmati sensasi manis setiap kali dia menoleh ke arahku. Dia juga sering tersenyum sendiri – senyuman memikat itu, seakan-akan dia menyadari acara saling curi lirik kami dan menikmatinya sebagaimana aku menikmatinya juga. Oh, aku sungguh penasaran apa yang dia rasakan dan pikirkan. Apa dia sadar kami selalu menunggu bus di spot yang sama selama tiga bulan ini?

Dia juga menjadi sumber inspirasiku. Tanpa bisa kuhindari, imajinasi liarku terus-menerus berandai-andai tentang kisah cinta kami. Semacam sitcom atau situation comedy, tapi romance sitrom, yang setiap episodenya hanya berputar di sekitar sepasang cowok-cewek di lokasi yang sama – sejenis cinta lokasi. Entah kisah macam apa yang bisa terjalin, tapi aku sungguh tertarik untuk menggali lebih dalam. 

Saat aku menoleh ke kanan untuk mengecek nomor bus yang datang, betapa kagetnya saat mataku menangkap bayangan familiar yang berdiri tepat di sebelah dinding tempat aku bersandar. Itu dia! Dia maju selangkah untuk mengecek nomor bus yang datang juga, dan aku dapat melihat fiturnya lebih jelas sekarang. Ah, ternyata aku tidak terlambat. Busnya belum datang. Dia hanya ‘tersembunyi’ di balik tembok ini, tidak seperti biasanya – dia selalu berdiri sedikit lebih ke kanan jadi aku langsung dapat melihatnya dari arah aku datang. Sepertinya busnya datang sedikit lebih terlambat dari biasanya. Moodku langsung berubah drastis! 

Busnya sering datang lebih dahulu dari busku, dan hari ini, saat dia melambaikan tangannya untuk menghentikan bus, dia menoleh ke arahku, lalu cepat-cepat menoleh kembali ke arah datangnya bus. Aku bisa merasakan jantungku berhenti berdetak selama momen itu, lalu kembali memompa jauh lebih cepat dari biasanya. Apa-apaan itu? Apa aku hanya berhalusinasi barusan?

Aku tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya kurasakan untuknya, tapi aku memang menikmatinya, jadi aku memutuskan untuk meneruskannya, dan bahkan mengambil langkah lebih jauh. Suatu hari, aku ikut naik ke bus yang sama dengannya. Tentu saja aku tidak bermaksud untuk menjadi penguntit gila. Aku memang ingin ke perpustakaan umum dan kebetulan aku harus naik bus yang sama. Tujuan keduanya memang ingin melihat dia turun dimana, tapi sayangnya, aku turun duluan. Tidak sia-sia, karena saat aku turun, aku bisa merasakan tatapannya ke arahku. Aku juga sempat mendengar suaranya saat sedang membeli tiket. Seperti yang kubayangkan, suaranya pun tampan.

Selain itu, tidak ada banyak perkembangan lain. Hanya sesekali, di hari beruntungku, aku sampai tepat saat dia hendak menyeberang jalan. Atau ada satu kali, dia datang dari arah lain, dari sebelah kiriku, dan saat kami hendak berpapasan, dia berhenti di tengah jalan untuk mengecek handphonenya, membiarkanku berjalan melewatinya. Entah apa tujuannya melakukan itu. Tidak mau kegeeran, tapi tanpa bisa dicegah, aku berharap yang aneh-aneh. Habisnya, aneh saja dia tiba-tiba berhenti di tengah jalan begitu.

Tentu saja aku juga berandai-andai, bagaimana kisah ini akan berakhir? Aku tidak terpikir hal apapun yang akan mengubah semua ini – alasan untuk memulai percakapan atau apapun itu. Kurasa kami akan selamanya seperti ini – dua orang yang tidak saling mengenal, berdiri bersebelahan di bus stop yang sama, hanya dibatasi sebuah tembok, dan saling curi pandang.

Sayangnya, kami tidak bisa selamanya begitu. Aku kira aku masih punya setidaknya satu-dua tahun lagi sebelum aku pindah kerjaan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Shiftku berubah, jadi aku tidak pulang di jam yang sama. Tanpa aba-aba, semuanya berakhir begitu saja.

Selamat tinggal, pria tampan penunggu bus nomor 106, sumber inspirasi sitromku. Sampai kita jumpa lagi (jika Tuhan berkehendak)!

No comments:

Post a Comment