Menu

Wednesday, 18 February 2015

[Flash Fiction] Love You Till It Hurts (THEME ONE)



Held by : Tiket.com and nulisbuku.com 
Status : Didn't Win
Inspired by You're Not the Only One (song) by Sam Smith


"Beri aku satu alasan saja  mengapa aku tidak bisa meninggalkanmu sekarang juga."

Pria di hadapanku berdiri tepat di sebelah ranjangku, menundukkan kepalanya untuk menatapku, yang sedang berbaring terlentang di atas ranjang, lurus-lurus. Aku tersenyum penuh kemenangan di balik senyuman lemahku. "Karna kalau tidak, semua orang akan mengira kaulah pembunuhku."

Ekspresi dingin pria tersebut terbakar amarah dalam sekejap. "Tapi kau jelas-jelas masih hidup!"

Senyumanku melebar. "Dengan keadaan seperti ini? Kau tetap akan dihukum berat. Dan semua orang akan mendengarkan apapun yang keluar dari mulutku. Mereka belum tahu cerita aslinya, kau tahu? Semua masih berasumsi."

Pria itu menggertakkan giginya. "Kau..." Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

"Aku pantas melakukan ini, kau tahu? Sekarang, kau sepenuhnya menjadi milikku, seperti yang seharusnya, sebelum pelacur itu merusak segalanya." Aku menyandarkan kepalaku lebih dalam di atas bantal, menikmati berbagai rasa sakit yang menusukku dari berbagai bagian tubuhku. Setidaknya satu bagian terpenting tidak lagi tersakiti - hatiku. 

Aku ingat betapa sakitnya hatiku saat pertama kali melihat pria yang begitu kucintai ini melanggar sumpah nikahnya padaku dengan mencium bibir si pelacur itu di depan mata kepalaku sendiri. Saat itu aku sudah terlalu curiga pada suamiku yang tiba-tiba jadi super sibuk itu, dan akhirnya aku mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghantui benakku. Rasa sakitnya memang menghilang seiring berjalannya waktu, terbakar habis oleh rasa amarah dan dendam, lalu digantikan rasa semangat saat merancang rencana brilian ini. Dan rasa sakit itu sepenuhnya sirna setelah semuanya berjalan sesuai rencana.

"Aku benar-benar tidak mengerti." Pria itu mengembalikan jiwaku ke masa sekarang. "Mengapa dulu aku bisa jatuh cinta pada wanita segila kau?"

Tatapanku turun menyusuri luka-luka di tangan dan kakiku, yang semuanya disebabkan oleh diriku sendiri. "Ini bukti dalamnya cintaku padamu, kau tahu? Dan seharusnya kau mencintaiku sedalam ini juga," ujarku pelan. Ya, saking cintanya aku pada pria ini, aku rela melupakan kesalahannya demi mendapatkannya kembali. Saking cintanya, aku rela melukai diriku lebih dalam demi memperbaiki hubungan rumah tangga kami.

Suamiku mendengus sinis. "Saking cintanya, kau sengaja menyabotase 'penculikan dan pembunuhan'-mu sampai seakan-akan akulah pelakunya? Aku hampir dipenjara tanpa bukti konkrit akan mayatmu hanya karena semua bukti lain menunjukku sebagai pelaku!"

Senyumanku menjadi sedikit lebih sinis. "Tapi aku kembali untuk menyelamatkanmu! Aku rela membunuh penganiayaku demi kabur dan kembali padamu."

"Itu ceritamu," sahut suamiku dingin. "Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak sebodoh mereka. Kau yang merencanakan semua ini. Sengaja membuatku sebagai pelaku utama agar semua orang membenciku, termasuk Marni yang langsung pergi meninggalkanku. Itu tujuan utamamu, kan? Menyingkirkan dan menghukumku? kenapa kau kembali, hah? Kenapa pakai acara pura-pura kau memang diculik dan dianiaya orang lain dan berhasil kabur? Kenapa tidak membiarkan aku mati busuk saja dipenjara?"

Aku pun tersenyum lembut. "Sudah kubilang kan, aku cinta padamu? Aku rela melakukan apapun untuk memilikimu kembali."

No comments:

Post a Comment