Menu

Wednesday, 18 February 2015

[Flash Fiction] Sampai Kita Ketemu Lagi (THEME TWO)



Held by : Tiket.com and nulisbuku.com 
Status : Didn't Win
Inspired by Seribu Tahun Lamanya (song) by Tulus


Aku menghentikan langkahku tepat di depan sebuah batu nisan yang masih tampak baru. Tentu saja, karena penghuninya memang baru di kubur seminggu yang lalu. Aku meletakkan sebuket bunga di atas kuburan sahabatku itu, lalu mengelus batu nisannya pelan.

"Maaf aku tidak datang ke upacara penguburanmu," ucapku pelan. Setitik air mata berhasil lolos dan mengaliri pipiku. Gagal kutahan. "Salahmu sendiri, melanggar janjimu." Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan sisa tangisku yang tidak habis-habis sejak seminggu yang lalu.

Aku mendesah saat mengingat janji yang kami buat tujuh tahun yang lalu. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi," janjinya saat itu.

Aku kembali mendesah. Aku tahu kematian itu tidak bisa dihindari, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. "Ini tidak adil, kau tahu? Aku yakin kau ada di tempat yang jauh lebih baik sekarang, meninggalkanku sendiri di dunia kejam ini."

Tentu aku tahu aku tidak akan mendapat balasan dari sahabatku yang sudah terbaring damai di bawah tanah dan rohnya sudah terangkat ke surga, tapi setelah berbicara langsung padanya, aku merasa lebih lega. "Well, apa boleh buat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mendapatkanmu kembali. Kau baik-baik ya, di sana." Setelah menatapi batu nisan sahabat terbaikku itu untuk yang terakhir kali, aku pun bangkit berdiri, hendak meninggalkan tempat itu sebelum aku merasa semakin sedih.

Belum sempat aku berbalik, mataku menangkap secari kertas terselip di balik batu nisan tersebut. Itu bisa saja sampah, tapi tulisan yang tertulis di atasnyalah yang meyakinkanku untuk memungut dan membuka lipatannya.

Dear Anita,

Sebelumnya, aku mohon jangan marah. Aku tahu aku telah melanggar janjiku, walaupun kita berdua tahu, kematian bukanlah pilihan. Tapi jelas kamu pantas marah, karena aku tidak pernah menyebut-nyebut soal penyakitku ini, bahkan sampai di akhir. Dan fakta kalau aku telah menyiapkan surat ini membuktikan kalau aku sudah punya firasat aku akan meninggalkanmu, membuat segalanya jadi jauh lebih buruk. Tapi beri aku kesempatan untuk menjelaskan dan memperbaiki semuanya, oke?

Aku tidak memberitahumu tentang penyakitku karena aku tidak mau kamu khawatir. Klise? Tapi itulah kenyataannya. Dan aku senang, karena sampai di akhir pun kita masih sama seperti dulu, tidak berubah hanya karena penyakit bodoh ini. Aku menulis surat ini bukan karena aku tahu aku akan meninggalkanmu, tapi karena aku ingin memberitahumu kalau aku tidak melanggar janjiku.

Aku tidak meninggalkanmu sendiri, Nit. Aku akan selalu ada dimanapun kamu berada - di hatimu. Ingat waktu aku menyanyikan lagu kesukaan kita di prom? Kamu tahu kan, aku menyanyikannya untukmu? Dan aku memaknai setiap kata dalam liriknya. Aku sungguhan rela menunggu seribu tahun lamanya, walaupun maut telah menjemputku. Aku masih bisa terus menunggu setelah itu, kan? Jadi, kau juga harus menunggu, sampai kita ketemu lagi.


Love,

Jerome

Aku menghapus jejak air mataku dengan satu tangan. "Tidak," ucapku pelan. "Aku tidak tahu kamu menyanyikannya untukku, Jer." Aku menatap batu nisan di hadapanku lekat-lekat. "Tapi aku senang kamu mau nunggu, walaupun seharusnya tidak perlu selama itu. Sekarang gantian aku yang harus menunggu, deh. Walaupun sampai seribu tahun."

No comments:

Post a Comment