Menu

Saturday, 28 February 2015

[Flash Fiction] Everything Has A Price



Hujan. 

Terkadang, ia mengingatkan kita pada masa lalu. Sebagian orang menyukainya – suasana sejuk dan tentram yang tercipta oleh suara gemericik air dan bau tanah. Sedangkan bagiku, yang ada hanyalah rasa amarah dan dendam, suara rintihan, dan bau karat. Aku termasuk sebagian orang lainnya. 

Oh, tidak. Aku tidak hanya membenci hujan. 

Aku ingin membunuhnya. 

Tinggal di kota yang selalu diguyur hujan pun menjadi penderitaan tersendiri bagiku, apalagi saat sedang terjebak hujan seperti saat ini. Seakan dipenjarakan bersama musuh bebuyutanmu.

"Wah, hujan, lagi," komentar seseorang yang juga terperangkap di penjara siksaan ini. 

Aku meliriknya sekilas, tetap mempertahankan ekspresi datarku. Pria berjaket abu-abu itu membalas lirikanku, dan ekspresinya berubah, sangat kontras dengan ekspresiku. 

"Max?" sapanya tak percaya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sekali, tidak begitu menghiraukannya. 

Pria itu menatapku lekat-lekat, membuatku merasa risih seketika. "Wow! Long time no see! Apa kabar? Kau terlihat sangat berbeda."

Aku mendengus dalam hati. Tentu saja aku berubah. Dan siapa yang bertanggung jawab akan hal itu? Seharusnya tidak ada, karena segala hal dalam hidup ini tidak luput dari perubahan. Tapi, yang satu ini berbeda. Someone was responsible. 

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," sahutku datar. Seperti biasa, aku selalu berpura-pura semuanya baik-baik saja. Itu yang dilakukan semua orang, bukan? Hidup ini seperti sandiwara, dan manusia adalah aktornya. 

Well, aku tidak selalu begini. Ada alasan di balik setiap hal yang terjadi dalam hidup ini – baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, dan aku adalah salah satu korban dari alasan yang menyakitkan tersebut. 

Pria itu melangkah pelan ke arahku, membuat tanganku otomatis mencengkeram saku jaket. "Are you sure you're okay?" tanyanya. Sekelibat rasa cemas terpancar dari kedua bola matanya, membuatku memutar bola mata. Perlukah kuulang kalau hidup ini hanyalah sandiwara? 

Pria itu mendesah. "Look, I know it's been long time, but I never got a chance to tell you that I'm really sorry. I never meant to–"

And there he goes. Momen yang tidak pernah kunantikan. Penjelasan yang tidak perlu kudengar. Pria itu terus mengoceh, dan kini suaranya mulai terdengar seperti dengungan lebah yang membuat telingaku sakit. 

Aku pun memutuskan untuk membungkamnya. "Aku tidak perlu penjelasan," selaku mantap. 

Ocehan pria itu pun tergantikan oleh suara rintihan yang familiar, yang selalu datang diantar hujan. Tatapan hangat pria itu membeku, bukan karena dinginnya udara hari ini. Bau karat pun ikut menguar bersamanya. Dan sedetik kemudian, pria itu berlutut di hadapanku. 

Aku tersenyum bengis. "Yang kuperlukan hanyalah pelampiasan," lanjutku sambil menarik benda silver yang sudah berpindah tempat dari sakuku ke saku pria itu. 

Aku pun mulai kehilangan kendali. Aku terus mengulang apa yang baru saja kulakukan sambil mengoceh panjang lebar – menuangkan semua isi kepalaku.

"That's for leaving us to suffer alone." 

"That's for being coward." 

"That's for letting Jim go."  

"That's for ruining my life."

Suara rintihan itu terdengar semakin lemah, dan bau karat tercium semakin pekat. Tetapi, apa yang kurasakan bertolak belakang. Dendam telah terbalaskan. Amarah telah terlampiaskan. Akhirnya, ia merasakan apa yang kami rasakan – sakit dan ketidakberdayaan, seperti saat ia meninggalkan Jim yang terluka parah dan aku yang berusaha menyelamatkan Jim. 

Aku mencabut benda silver itu dari saku kemejanya – yang telah berubah warna menjadi merah marun, dan kembali menancapkannya untuk yang terakhir kali. 

Six stabs in the heart to pay what he had done. 

"Max–" panggilnya dengan susah payah, dan aku mendorongnya sampai jatuh tersungkur, lalu mengibaskan rambut panjangku. 

"Namaku Maxine," ralatku. "Hanya Jim yang boleh memanggilku Max."

No comments:

Post a Comment