Menu

Wednesday, 7 January 2015

[Short Story] You're Not Done Yet


Held by : NBC IPB
Status : Didn't Win
Inspired by CSI NY Season 8's Last Episode


Kedua mataku refleks menutup ketika rasa perih mengilukan menyerang pipi kananku, diikuti bunyi retakan yang mengerikan dan cipratan cairan hangat yang menyembur keluar dari hidungku. Aku jatuh terduduk di atas semen yang dingin sambil meringis. Belum sempat aku bangkit berdiri, rasa sakit serupa kembali menyerang dadaku, membuat tubuhku terdorong ke belakang sampai membentur dinding batu bata yang keras.
      Aku berusaha membuka mataku dan yang bisa kulihat hanyalah bangunan terbengkalai yang setengah hangus dan siluet empat orang pria bertubuh besar yang berdiri mengelilingiku. 
      “Look what we’ve got here,” ujar salah satu pria yang terus menggesek-gesekkan kedua benda logam di tangannya. Ia berlutut di sampingku, lalu mengangkat wajahku secara paksa dan tanpa ancang-ancang menggoreskan logam berkilauan yang ada di tangannya itu ke pipiku.
      Aku hanya bisa meringis tertahan, mengundang tawa bengis dari ketiga temannya.
      “How ya feeling, Officer? Enak, kan, sekali-sekali jadi pihak yang tidak berdaya? From hero to zero,” ejeknya sambil mendengus sinis.
      Aku menepis cengkeraman di daguku sambil melemparkan tatapan bengis ke arah pria itu. Sebelum membalas ucapannya, aku membuang ludah bercampur cairan merah pekat ke arahnya. “Not for long. Timku akan menemukanku dan melempar kalian semua ke penjara, for life. I can promise you that,” ucapku berani.
      Keempat pria itu kembali terbahak. Pria dengan dua pisau di tangannya mulai menepuk-nepuk perutku. “I wonder where your kind heart is,” ujarnya dengan nada sarkastis dan penekanan pada kata ‘kind’. Tiba-tiba saja, aku merasakan sakit yang luar biasa di perut bagian kiri. Tanganku refleks ingin menutupi luka di perutku itu untuk mencegah tubuhku kehilangan banyak darah, tapi aku baru teringat akan ikatan tali tambang sialan yang melumpuhkan kedua tanganku ini.
      Pria itu menarik pisau yang ia tancapkan ke perutku dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara, siap menghujamku lagi, dan kali ini, aku yakin ia tidak akan salah tancap.

24 hours earlier

Baru saja aku merogoh ponsel yang bergetar pelan di saku celanaku dan membaca sekilas pesan singkat yang baru dikirimkan, aku mendengar suara decakan dari wanita di hadapanku. Aku otomatis tersenyum minta maaf. “I’m so sorry, Sam, I–
      Kata-kataku langsung terhenti begitu Samantha mengangkat sebelah tangannya. “Just go!” serunya sambil mengibaskan tangan.


Aku tidak heran saat aku sampai di depan sebuah gedung terbengkalai yang setengah hangus. Crime can occur anywhere. Yang aku herankan adalah, gedung itu sangat sepi – tidak ada tanda-tanda siapapun berada di sana. Aku mengangkat bahu sambil melangkah masuk. Mungkin aku yang pertama sampai di sini.
      Baru saja aku sampai di lantai tiga yang sunyi dan kosong – lokasi TKP yang tertera di pesan singkat barusan, sesuatu yang keras menghantam kepalaku, dan seketika itu juga, segalanya berubah hitam.

Lift terbuka, memperlihatkan lab yang sangat sepi dan agak gelap. Aku melangkah keluar dari lift dengan dahi berkerut. Sayup-sayup, terdengar suara familiar yang berasal dari salah satu ruangan.
      “You talking to me? Huh? You talking to me? Well, who the hell you talking to? I'm the only one here,” ujar seorang pria muda yang kemudian mengarahkan pistol di tangannya ke depan dan menarik pelatuk tanpa ragu. “I'm still standing here. Go on, make your move,” lanjutnya dengan nada (sok) keren sambil tersenyum puas ke arah babi percobaan di hadapannya.
       Same old, same old. “Taxi Driver. One of my top five films of all time,” komentarku.

      Pria itu menoleh kaget. “Alec?” Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan kedua mata lebarnya. “How can you be here?”
      Aku mengangkat sebelah alis. “I work here, remember?” Rekan kerjaku yang satu ini memang agak aneh. “Where is everyone?”
      Ron masih menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang aneh. “You’re not supposed to be here, Al. I mean, you’re supposed to die,” sahutnya lambat-lambat.   Melihat ekspresiku yang berubah, Ron buru-buru menambahkan. “Bukan berarti aku mengharapkan kau mati atau apa, maksudku–”
      “What are you talking about?” selaku. Well, ingatan terakhirku memang tidak terlalu baik, tapi, is this for real?
      “You were framed and stabbed, Al,” sahut Ron.
      Aku menggelengkan kepala. Ah, those son of a
      “But you can’t leave, you know,” lanjut Ron lirih. “I can't do this without you.
      Aku memutar bola mata. “Kau tahu itu tidak benar,” sahutku pelan.
      Ron mendesah. “Kau benar. Jelas saja aku bisa,” jawabnya santai. “But I don't want to. I need you to hold on, Al.”


Beep. Beep. Beep. Sayup-sayup, aku mendengar suara mesin yang terus mengeluarkan suara yang agak tidak beraturan itu, lalu tiba-tiba, suaranya berubah menjadi satu suara beep monoton.
      “He's flatlining!” seru seorang wanita, yang disusul suara-suara panik lainnya, lalu seruan sebuah suara berat, “Clear!” dan suara sengatan listrik.
      “He's not responding! Again!” 
      Suara-suara kegaduhan itu semakin lama terdengar semakin jauh, sampai akhirnya hanya  ada sunyi.


“Kau mau kemana?” tanya wanita yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu ruang kerjaku.
      Aku pun menghentikan kegiatan mengepak barang-barangku. “It's time,” sahutku singkat.
      Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. “No, you're not done yet. Why are you giving up? This isn’t like the man that I married,” ocehnya.
      Aku mendesah. “Sam, maaf kalau aku jarang menghabiskan waktuku bersamamu dan lebih mementingkan pekerjaan,” ujarku pelan sambil menatapnya tepat di mata.
      Sam mengangkat sebelah alisnya. “How come you're all of a sudden getting so sentimental?” ejeknya.
      Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. “Can't help but think that I should have done things differently.”
      Sam berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapanku. “Alec Williams, there is not a single moment of each day we spent together that I would change,” ujarnya lamat-lamat, membiarkan setiap katanya terucap jelas. “And I need you to stay.”
      Tanpa disangka, sebuah tangan mungil melayang dan mendarat tepat di pipi kananku, meninggalkan rasa perih yang menyengat kedua mataku untuk terbuka. Aku langsung disambut oleh pemandangan yang tak biasa – seorang wanita yang duduk di samping ranjang rumah sakitku dengan kepala tertunduk.
      “I believe in God the Father, Almighty, Maker of heaven and earth, and in Jesus Christ, his only begotten Son, our Lord, who was conceived by the Holy–”

   Perkataan wanita itu langsung terputus begitu aku menggerakkan tanganku yang ada di dalam genggamannya. Begitu kepala itu terangkat, senyuman hangat langsung merekah di wajah cantiknya.

No comments:

Post a Comment