Menu

Monday, 29 December 2014

[Fan Fiction] What Now?

[Diikutkan dalam lomba fanfic The Chronicles of Audy Penerbit Haru]



"Hai, Rex."

     Aku mengangkat wajahku dari berbagai rumus Fisika dalam buku yang sedang kubaca untuk menghadap Ajeng, saingan utamaku di sekolah ini, yang rankingnya selalu membuntutiku. Ia tampak salah tingkah begitu pandanganku tertuju padanya.

     "Eh, anu... aku cuma mau ngucapin selamat berjuang untuk hari ini dan tiga hari ke depan," ujarnya lagi tanpa ditanya.

     Aku pun hanya mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih. Ajeng tampaknya menganggap itu sebagai respon positif, padahal aku berharap ia segera meninggalkanku sendiri lagi.

     "Kamu sudah tahu mau kuliah dimana?"

     Aku mengangguk sekilas. "UGM."

     Ajeng ikut mengangguk-angguk. "Seperti yang kuduga. Tapi kukira kamu mungkin mau ke universitas lain di luar kota yang lebih bagus, atau bahkan ke luar negeri."

     "Kenapa orang selalu menganggap apapun yang berasal dari luar negeri pasti lebih bagus dari yang ada di dalam negeri?" Aku tidak tahan untuk tidak berkomentar.

     Ajeng terbungkam selama beberapa saat, mungkin karena terlalu kaget mulutku mengeluarkan lebih dari lima kata. "Karena memang begitu kenyataannya?" jawabnya ragu.

     Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak selalu," sahutku datar.

     Ajeng pun mengangguk setuju, entah karena ia tidak mau membahas lebih lanjut, atau akhirnya menyadari betapa menganggunya kehadirannya di sini, karena setelah itu ia berbalik untuk kembali ke ruangannya. Tapi saat aku baru saja mengalihkan perhatianku kembali ke buku di hadapanku, Ajeng kembali menoleh.

     "Satu lagi, Rex," ucapnya ragu. "Ada yang ingin kutanyakan lagi."

     Aku pun mendongak malas-malasan dan menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa suara.

     "Kamu masih ingat Mbak yang pernah datang kemari waktu itu? Yang nyariin kamu untuk–"

     Anggukan cepatku memotong kalimatnya. Aku tidak membutuhkan penjelasan lebih detail soal itu. Tentu saja aku ingat.

     Ajeng menggigit bibirnya. "Apa dia... benaran pacarmu?"

     Aku pun menggeleng tanpa berpikir. Aku tidak ingat pernah mengatakan itu. Aku yakin 'Mbak' yang ia maksud juga tidak pernah mengaku-ngaku begitu.

     Ajeng mendesah lega. "Seperti yang kuduga, Mbak itu hanya mengada-ngada. Nggak mungkin kan, kamu pacaran dengan tante-tante yang jauh lebih tua–"

     "Dia baru berumur 22, kok," selaku lagi, dengan nada datar seperti biasa.

     Ajeng yang tidak siap dengan selaan itu tampak sedikit terkejut, namun langsung melanjutkan, "Tetap saja. Dia 5 tahun lebih tua dari kamu."

     "Lalu kenapa?" tanyaku.

     Ajeng terdiam. "Rex, jangan bilang kamu memang suka padanya?"

     Aku menatapnya datar. "Aku nggak bisa bohong ke kamu, kan?"

     Ajeng kembali terbungkam, lalu dalam diam, ia berbalik dan kali ini sungguhan berlalu dari hadapanku. Aku mendesah dan membalik halaman bukuku, tapi kini aku sudah tidak bisa berkonsentrasi. Terima kasih pada Ajeng dan gadis yang diungkit-ungkitnya barusan.

     Seusai ujian hari pertama itu, aku bergegas pulang. Seperti biasa, aku memilih jalan yang melewati sebuah kos-kosan nomor 21. Ya, kebetulan rumah yang ditinggalinya sekarang bernomor 21 juga, tapi terletak di jalan yang berbeda. Aku berhenti di depan gang menuju rumah itu, lalu otomatis berhenti melangkah saat mendapati seorang gadis yang sedang berjalan di hadapanku. Ia sedang memeluk beberapa buku tebal di depan dadanya, lalu berhenti di depan rumah bernomor 21 itu dan memasuki pagarnya. Tidak seperti biasa, bukannya beranjak masuk ke pintu depan, ia malah meletakkan buku-buku yang ditentengnya ke atas meja di teras, lalu duduk di kursinya dan mulai tekun membaca.

     Sejak kepindahannya, ia memang jadi lebih rajin menggarap skripsinya yang terbengkalai. Ia jadi lebih sering ke kampus, baik untuk menemui dosen pembimbingnya, atau meminjam buku di perpustakaan. Tampaknya ia lebih suka belajar di rumah daripada di perpustakaan. Jelas saja, ia terlalu mudah terdistraksi. Di tempat ramai seperti perpustakaan, walaupun orang-orang juga belajar atau membaca buku, ia bisa menemukan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.

     Bukannya di rumahnya tidak ada pendistraksi lain, tapi setidaknya, ia sudah tidak punya pekerjaan-pekerjaan rumah atau hal-hal sepele lainnya yang harus ia urus seperti saat sedang berada di rumah kami. Atau mungkin karena ia ingin cepat-cepat lulus agar tidak membebani orangtuanya dan juga Mas Regan yang membiayai kosnya. Yang jelas, ia memang melaksanakan apa yang harus ia lakukan. Seperti aku yang fokus belajar agar bisa cepat-cepat lulus SMA dan kuliah, lalu mendapat pekerjaan bagus dan meringankan beban Mas Regan dan Mas Romeo, juga membiayai kos gadis itu baik sebelum maupun sesudah ia lulus.

     Gadis itu akhirnya menyadari kehadiranku dan mendongak saat aku berdeham pelan. "Oh, hai, Rex!" sapanya kelewat ramah.

     Ia tampak terkejut akan kehadiranku. Tentu saja. Aku memang sengaja tidak datang menemuinya sejak ia pindah. Bukan berarti kami tidak pernah bertemu, karena kadang saat aku sedang jalan pagi, kami tidak sengaja berpapasan saat ia hendak pergi ke warung yang terletak di jalur jalan pagiku. Kadang, aku yang sengaja mengubah jalur agar bisa bertemu, atau setidaknya melihatnya dari jauh.

     "Kelihatannya udah nggak perlu bantuanku lagi, ya?" komentarku sambil mengamati buku yang sedang dibacanya tadi.

     Audy tersenyum kecil. "Kamu kan punya kesibukan sendiri," ujarnya, lalu seakan teringat sesuatu, ia bertanya, "Ah, ujianmu gimana?"

     "Aku sudah selesai UAS sama ujian praktek. Sekarang tinggal UN. Hari ini hari pertama," jelasku.

     Audy mengangguk-angguk. "Sudah tahu mau masuk universitas mana?" tanyanya lagi, dan aku pun mengangguk.

     "UGM," sahutku pelan, membuatnya kembali mengangguk-angguk.

     Ia bisa saja menanyakan kabar ketiga saudaraku dan juga Mbak Maura, tapi ia tidak melakukannya. Kami malah saling tatap dalam diam. Kurasa ia tahu ia tidak perlu basa-basi bertanya, karena toh, setiap hari ia masih sempat bertemu dengan mereka saat hendak mengantar-jemput Rafael.

     "Jadi, masih perlu bantuanku nggak, setelah aku selesai UN?" tanyaku akhirnya.

     Audy tampak menimbang-nimbang. "Bukannya kamu perlu mempersiapkan diri untuk masuk UGM? Atau malah sudah diundang duluan?"

     Aku mengangguk. "Aku bisa bantu kamu setelah UN."

     Audy ikut mengangguk-angguk. "Dasar anak genius. Hati-hati, jangan terlalu sombong dan percaya diri terus malah jadi nggak lulus UN. Bukannya UGM peduli, sih. Mereka pasti tetap mau kamu masuk sana tanpa harus lulus UN. Dunia ini nggak adil," cerocosnya.

     Hampir saja aku tersenyum, tapi aku berhasil menahannya dan melepaskan dengusan. "Sudah, nggak perlu pusingin itu. Pikirin saja skripsimu itu. UGM pasti nggak sabar kamu cepat-cepat lulus dan ninggalin kampus itu."

     Audy mendengus kesal, tapi lalu menatapku lama, membuatku sedikit risih. "Rex, masih suka aku?"

     Aku terdiam. Kenapa sih, ia hobi sekali menanyakan pertanyaan itu? Apa ia kira perasaanku begitu mudah berubah? "Masih," jawabku tegas. "Tapi aku nggak mau saat aku sudah lulus SMA, bahkan kuliah dan mendapat pekerjaan - saat aku akhirnya sudah bisa diandalkan dan siap minta jawaban dari kamu, kamunya malah belum bisa kasih jawaban karena masih sibuk pusingin skripsi."

     Audy mendengus kesal. "Huh. Lihat saja nanti. Aku bakal selesein skripsi sebelum kamu sempat masuk UGM, biar nggak perlu ketemu kamu di sana."

     Aku mendengus. "Good luck with that," ujarku dengan nada sarkastis yang sangat kentara, lalu berbalik untuk melanjutkan perjalanan pulangku. Aku berani jamin, di belakangku, Audy sedang mengumpatiku, jadi aku tersenyum.

4 comments:

  1. Haloo~ Salam kenal :D

    Fanficnya bagus. Karakternya ngena, walau Rex jadi keliatan agak 'lembek' (tapi karena ini dari sudut pandang dia, wajar aja sih ya),
    Aku suka cara penulisanmu.

    Cuma.. sedikit 'kritik', endingnya kurang. Kerasa kayak bukan ending gitu. Bikin pengin baca lanjutannya *lho* Hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ruru! Salam kenal!

      Makasih banget udah ngeluangin waktu buat baca n komen. Really appreciate it! Glad you like it!

      Krn ini buru2 nulisnya, aku emg ga mikir panjang soal ending jd gitu deh hehehe maklum ya masih amatir :3 kalo sempet aku lanjutin ato gimana deh bir lebih asik.
      Makasih banyak loh kritik dan sarannya! :D

      Delete
  2. Lucuuuuuuuuu. Suka deh, ngebaca cerita tentang Audy + 4R dari sudut pandang tokoh lain gini. Apalagi Rex-nya menurutku in character, sesuai gitu sama yang di novel hehe :D
    Maaf ya, tiba-tiba ngomen gini. Saya tau link fanfic kamu dari polling yang dibuka Kak Ori. Gudlak ya, buat kontesnya! >w<d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Dilia. Salam kenal ya.

      Wah makasih banget udah baca n komen. Really appreciate it. Glad you like it!

      Aku malah baru tau ada polling itu. Thanks so much ya! :* sama sekali ga keberatan kok kamu komen :3 seneng malah hehehe

      Delete