Menu

Tuesday, 30 December 2014

[Reading Challenge] Young Adult Reading Challenge 2014 Wrap Up Post

Wah, nggak terasa tahun 2014 udah mau berakhir aja, ya, padahal rasanya baru kemarin tahun baru dan mulai ikutan reading challenge ini. Sekarang udah saatnya bikin wrap up post aja. Nah, mari kita lihat ada novel YA apa aja yang berhasil kubaca tahun ini, shall we?

1. Ai by Winna Efendi

2. Morning Light by Windhy Puspitadewi

3. Andai Kau Tahu by Dahliam

4. Touché by Windhy Puspitadewi

5. Paris: Aline by Prisca Primasari

6. With You by Orizuka dan Christian Simamora

7. Remember When by Winna Efendi

8.  Incognito by Windhy Puspitadewi

9. Call Me Miss J by Orizuka

10. Let Go by Windhy Puspitadewi

11. I for You by Orizuka

12. Promises, Promises by Dahlian

13. Montase by Windry Ramadhina


Makasih buat kak Tammy yang udah ngadain reading challenge ini. Semoga tahun depan ada lagi dan bisa ikutan lagi!

[Reading Challenge] Indonesian Romance Reading Challenge 2014 Wrap Up Post

Wah, nggak terasa tahun 2014 udah mau berakhir aja, ya, padahal rasanya baru kemarin tahun baru dan mulai ikutan reading challenge ini. Sekarang udah saatnya bikin wrap up post aja. Nah, mari kita lihat ada novel romance apa aja yang berhasil kubaca tahun ini, shall we?

1. Melbourne: Rewind by Winna Efendi

2. Beauty Sleep by Amanda Inez

3. Paris: Aline by Prisca Primasari

4. With You by Orizuka dan Christian Simamora

5. Remember When by Winna Efendi

6. 17 Years of Love Song by Orizuka

7. Ai by Winna Efendi

8. Morning Light by Windhy Puspitadewi

9. Andai Kau Tahu by Dahliam

10. Touché by Windhy Puspitadewi

11. Touché: Alchemist by Windhy Puspitadewi

12. Incognito by Windhy Puspitadewi

13. Rate My Love by Cassandra dan Ela

14. Call Me Miss J by Orizuka

15. Let Go by Windhy Puspitadewi

16. Till We Meet Again by Yoana Dianika

17. Summer Breeze by Orizuka

18. Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin

19. Refrain by Winna Efendi

20. Roma: Con Amore by Robin Wijaya 

21. The Truth about Forever by Orizuka

22. Love United by Orizuka

23. Infinitely Yours by Orizuka

24. I for You by Orizuka

25. London: Angel by Windry Ramadhina

26. Our Story by Orizuka

27. Always, Laila by Andi Eriawan

28. Truth or Dare by Winna Efendi and Yoana Dianika

29. The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka

30. Autumn in Paris by Ilana Tan

31. Camar Biru by Nilam Suri

32. Promises, Promises by Dahlian

33. Montase by Windry Ramadhina


Dengan bangga aku bisa bilang aku berhasil capai level "Married", walaupun aslinya masih single (and very happy). Hahaha. Makasih buat kak Sulis yang udah ngadain reading challenge ini. Semoga tahun depan ada lagi dan bisa ikutan lagi!

Monday, 29 December 2014

[Fan Fiction] What Now?

[Diikutkan dalam lomba fanfic The Chronicles of Audy Penerbit Haru]



"Hai, Rex."

     Aku mengangkat wajahku dari berbagai rumus Fisika dalam buku yang sedang kubaca untuk menghadap Ajeng, saingan utamaku di sekolah ini, yang rankingnya selalu membuntutiku. Ia tampak salah tingkah begitu pandanganku tertuju padanya.

     "Eh, anu... aku cuma mau ngucapin selamat berjuang untuk hari ini dan tiga hari ke depan," ujarnya lagi tanpa ditanya.

     Aku pun hanya mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih. Ajeng tampaknya menganggap itu sebagai respon positif, padahal aku berharap ia segera meninggalkanku sendiri lagi.

     "Kamu sudah tahu mau kuliah dimana?"

     Aku mengangguk sekilas. "UGM."

     Ajeng ikut mengangguk-angguk. "Seperti yang kuduga. Tapi kukira kamu mungkin mau ke universitas lain di luar kota yang lebih bagus, atau bahkan ke luar negeri."

     "Kenapa orang selalu menganggap apapun yang berasal dari luar negeri pasti lebih bagus dari yang ada di dalam negeri?" Aku tidak tahan untuk tidak berkomentar.

     Ajeng terbungkam selama beberapa saat, mungkin karena terlalu kaget mulutku mengeluarkan lebih dari lima kata. "Karena memang begitu kenyataannya?" jawabnya ragu.

     Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak selalu," sahutku datar.

     Ajeng pun mengangguk setuju, entah karena ia tidak mau membahas lebih lanjut, atau akhirnya menyadari betapa menganggunya kehadirannya di sini, karena setelah itu ia berbalik untuk kembali ke ruangannya. Tapi saat aku baru saja mengalihkan perhatianku kembali ke buku di hadapanku, Ajeng kembali menoleh.

     "Satu lagi, Rex," ucapnya ragu. "Ada yang ingin kutanyakan lagi."

     Aku pun mendongak malas-malasan dan menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa suara.

     "Kamu masih ingat Mbak yang pernah datang kemari waktu itu? Yang nyariin kamu untuk–"

     Anggukan cepatku memotong kalimatnya. Aku tidak membutuhkan penjelasan lebih detail soal itu. Tentu saja aku ingat.

     Ajeng menggigit bibirnya. "Apa dia... benaran pacarmu?"

     Aku pun menggeleng tanpa berpikir. Aku tidak ingat pernah mengatakan itu. Aku yakin 'Mbak' yang ia maksud juga tidak pernah mengaku-ngaku begitu.

     Ajeng mendesah lega. "Seperti yang kuduga, Mbak itu hanya mengada-ngada. Nggak mungkin kan, kamu pacaran dengan tante-tante yang jauh lebih tua–"

     "Dia baru berumur 22, kok," selaku lagi, dengan nada datar seperti biasa.

     Ajeng yang tidak siap dengan selaan itu tampak sedikit terkejut, namun langsung melanjutkan, "Tetap saja. Dia 5 tahun lebih tua dari kamu."

     "Lalu kenapa?" tanyaku.

     Ajeng terdiam. "Rex, jangan bilang kamu memang suka padanya?"

     Aku menatapnya datar. "Aku nggak bisa bohong ke kamu, kan?"

     Ajeng kembali terbungkam, lalu dalam diam, ia berbalik dan kali ini sungguhan berlalu dari hadapanku. Aku mendesah dan membalik halaman bukuku, tapi kini aku sudah tidak bisa berkonsentrasi. Terima kasih pada Ajeng dan gadis yang diungkit-ungkitnya barusan.

     Seusai ujian hari pertama itu, aku bergegas pulang. Seperti biasa, aku memilih jalan yang melewati sebuah kos-kosan nomor 21. Ya, kebetulan rumah yang ditinggalinya sekarang bernomor 21 juga, tapi terletak di jalan yang berbeda. Aku berhenti di depan gang menuju rumah itu, lalu otomatis berhenti melangkah saat mendapati seorang gadis yang sedang berjalan di hadapanku. Ia sedang memeluk beberapa buku tebal di depan dadanya, lalu berhenti di depan rumah bernomor 21 itu dan memasuki pagarnya. Tidak seperti biasa, bukannya beranjak masuk ke pintu depan, ia malah meletakkan buku-buku yang ditentengnya ke atas meja di teras, lalu duduk di kursinya dan mulai tekun membaca.

     Sejak kepindahannya, ia memang jadi lebih rajin menggarap skripsinya yang terbengkalai. Ia jadi lebih sering ke kampus, baik untuk menemui dosen pembimbingnya, atau meminjam buku di perpustakaan. Tampaknya ia lebih suka belajar di rumah daripada di perpustakaan. Jelas saja, ia terlalu mudah terdistraksi. Di tempat ramai seperti perpustakaan, walaupun orang-orang juga belajar atau membaca buku, ia bisa menemukan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.

     Bukannya di rumahnya tidak ada pendistraksi lain, tapi setidaknya, ia sudah tidak punya pekerjaan-pekerjaan rumah atau hal-hal sepele lainnya yang harus ia urus seperti saat sedang berada di rumah kami. Atau mungkin karena ia ingin cepat-cepat lulus agar tidak membebani orangtuanya dan juga Mas Regan yang membiayai kosnya. Yang jelas, ia memang melaksanakan apa yang harus ia lakukan. Seperti aku yang fokus belajar agar bisa cepat-cepat lulus SMA dan kuliah, lalu mendapat pekerjaan bagus dan meringankan beban Mas Regan dan Mas Romeo, juga membiayai kos gadis itu baik sebelum maupun sesudah ia lulus.

     Gadis itu akhirnya menyadari kehadiranku dan mendongak saat aku berdeham pelan. "Oh, hai, Rex!" sapanya kelewat ramah.

     Ia tampak terkejut akan kehadiranku. Tentu saja. Aku memang sengaja tidak datang menemuinya sejak ia pindah. Bukan berarti kami tidak pernah bertemu, karena kadang saat aku sedang jalan pagi, kami tidak sengaja berpapasan saat ia hendak pergi ke warung yang terletak di jalur jalan pagiku. Kadang, aku yang sengaja mengubah jalur agar bisa bertemu, atau setidaknya melihatnya dari jauh.

     "Kelihatannya udah nggak perlu bantuanku lagi, ya?" komentarku sambil mengamati buku yang sedang dibacanya tadi.

     Audy tersenyum kecil. "Kamu kan punya kesibukan sendiri," ujarnya, lalu seakan teringat sesuatu, ia bertanya, "Ah, ujianmu gimana?"

     "Aku sudah selesai UAS sama ujian praktek. Sekarang tinggal UN. Hari ini hari pertama," jelasku.

     Audy mengangguk-angguk. "Sudah tahu mau masuk universitas mana?" tanyanya lagi, dan aku pun mengangguk.

     "UGM," sahutku pelan, membuatnya kembali mengangguk-angguk.

     Ia bisa saja menanyakan kabar ketiga saudaraku dan juga Mbak Maura, tapi ia tidak melakukannya. Kami malah saling tatap dalam diam. Kurasa ia tahu ia tidak perlu basa-basi bertanya, karena toh, setiap hari ia masih sempat bertemu dengan mereka saat hendak mengantar-jemput Rafael.

     "Jadi, masih perlu bantuanku nggak, setelah aku selesai UN?" tanyaku akhirnya.

     Audy tampak menimbang-nimbang. "Bukannya kamu perlu mempersiapkan diri untuk masuk UGM? Atau malah sudah diundang duluan?"

     Aku mengangguk. "Aku bisa bantu kamu setelah UN."

     Audy ikut mengangguk-angguk. "Dasar anak genius. Hati-hati, jangan terlalu sombong dan percaya diri terus malah jadi nggak lulus UN. Bukannya UGM peduli, sih. Mereka pasti tetap mau kamu masuk sana tanpa harus lulus UN. Dunia ini nggak adil," cerocosnya.

     Hampir saja aku tersenyum, tapi aku berhasil menahannya dan melepaskan dengusan. "Sudah, nggak perlu pusingin itu. Pikirin saja skripsimu itu. UGM pasti nggak sabar kamu cepat-cepat lulus dan ninggalin kampus itu."

     Audy mendengus kesal, tapi lalu menatapku lama, membuatku sedikit risih. "Rex, masih suka aku?"

     Aku terdiam. Kenapa sih, ia hobi sekali menanyakan pertanyaan itu? Apa ia kira perasaanku begitu mudah berubah? "Masih," jawabku tegas. "Tapi aku nggak mau saat aku sudah lulus SMA, bahkan kuliah dan mendapat pekerjaan - saat aku akhirnya sudah bisa diandalkan dan siap minta jawaban dari kamu, kamunya malah belum bisa kasih jawaban karena masih sibuk pusingin skripsi."

     Audy mendengus kesal. "Huh. Lihat saja nanti. Aku bakal selesein skripsi sebelum kamu sempat masuk UGM, biar nggak perlu ketemu kamu di sana."

     Aku mendengus. "Good luck with that," ujarku dengan nada sarkastis yang sangat kentara, lalu berbalik untuk melanjutkan perjalanan pulangku. Aku berani jamin, di belakangku, Audy sedang mengumpatiku, jadi aku tersenyum.

Wednesday, 17 December 2014

[Book Review] Montase by Windry Ramadhina


Judul Buku       : Montase
Pengarang         : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 368 halaman
My Rating          : 4.5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.


THE AUTHOR

Windry Ramadhina lahir dan tinggal di Jakarta, berprofesi sebagai arsitek lepas dan mendirikan biro desain sendiri. Ia mulai menulis fiksi sejak medio 2007 di kemudian.com dengan pseudonim miss worm. Pada tahun 2008, ia terpilih menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta. Ia menerbitkan novel pertamanya, Orange, pada tahun yang sama dan dinominasikan sebagai Penulis Muda Berbakat dalam Khatulistiwa Literary Award. Pada tahun 2009, ia kembali dinominasikan untuk kategori Prosa Terbaik lewat novel "Metropolis". Waktu luangnya diisi dengan wisata kuliner di sejumlah mal Jakarta Selatan, mendengarkan musik gubahan L'Arc~en~Ciel, menonton film, membaca buku, dan bermain dengan gadis kecil kesayangannya.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Cinta itu seperti pencuri di malam hari. Datang diam-diam tanpa diundang, mencuri hati kita. Kita bisa jatuh cinta kapan aja dan dengan siapa aja. Semuanya muncul secara tiba-tiba, tanpa alasan, karna cinta yang didasari oleh sebuah alasan nggak akan bertahan lama. Ketika alasan itu udah nggak cukup kuat atau  mulai pudar, rasa cinta itu pun lama kelamaan akan hilang bersamanya.

Karya brillian dari kak Windry yang berjudul "Montase" ini menceritakan kisah seorang pemuda bernama Rayyi yang hidup di bawah bayang-bayang ayahnya, sang produser sinetron yang terkenal. Dia ditekan oleh harapan ayahnya untuk melanjutkan takhtanya. Padahal dia nggak menyukai bidang ayahnya itu. Dia memiliki cita-citanya sendiri. Tapi, dia nggak cukup berani untuk memperjuangkan cita-citanya itu, jadi dia hanya tunduk di bawah perintah sang ayah.

Lalu, dia bertemu dengan seorang gadis transferan dari Jepang bernama Haru, yang juga menekuni bidang film dokumenter, seperti dirinya. Kasus pada Haru juga mirip dengannya. Haru ingin menjadi pelukis, tapi kedua orangtuanya sangat menyukai film dokumenter, jadi dia memutuskan untuk menjadi pembuat film dokumenter. Yang berbeda adalah, Haru nggak dipaksa oleh orangtuanya. Itu adalah keinginannya sendiri.

Haru membuka mata Rayyi, menyentaknya ke dalam dunia yang berbeda. Sudut pandangnya diubahkan, dan gadis itulah yang memberinya keberanian untuk memperjuangkan cita-citanya. Sifat ceroboh Haru, dan segala yang ada padanya sangat menarik perhatian Rayyi, tapi dia berusaha mengabaikannya. Namun, takdir berkehendak lain. Seakan ada magnet di antara mereka, yang terus mempertemukan dan akhirnya menyatukan mereka. Tanpa sadar, benang merah di antara mereka telah ditautkan oleh sang takdir, dan Haru telah menorehkan kesan yang sangat dalam di hati Rayyi, sehingga ketika mereka berpisah, sebagian hatinya ikut pergi bersama gadis itu. Kalau Haru benar-benar pergi, sanggupkah Rayyi menghadapi kenyataan itu?


MY COMMENTARY

Novel yang sangat mengharukan ini sanggup menyayat hati siapapun yang membacanya. Novel ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ceritanya sarat akan pesan moral, yang berpesan kita harus terus mengejar mimpi kita dan kalau kita terus berusaha, kita pasti bisa mencapainya. Selain itu, novel ini juga mengisahakan tentang obsesi seseorang, yaitu pada film dokumenter, dan mendeskripsikannya dengan baik – latar tempat, suasana, dan detail-detail lain yang bisa mengaktifkan daya imajinasi para pembaca. Bahasanya yang komunikatif menciptakan hubungan yang akrab dan hangat dengan pembaca. Aku merasa seakan-akan sang tokoh sedang menceritakan isi hatinya padaku. Kisah penuh perjuangan dan romantisme ini ditutup dengan sebuah ending yang nggak disangka-sangka, dan sanggup menjadi magnet yang menarik bulir-bulir air mata - walaupun aku nggak nangis, sih. hampir aja.

Sudut pandang yang digunakan hanya satu, yaitu sudut pandang orang pertama dari sisi Rayyi. Itu membuat cakupan penulis menjadi agak sempit, karena nggak dapat menyelami pikiran tokoh lain. Tapi, kak Windry berhasil menyulapnya menjadi sesuatu yang misterius dan menumbuhkan rasa ingin tauku, lalu dengan cara yang unik, dia mengungkap rahasia dan misteri-misteri yang muncul satu per satu. Alurnya yang maju-mundur membuatnya terasa lebih menarik. Flashback mengenai hal-hal yang menjadi misteri atau kenangan indah emang menambah cita rasa yang berbeda pada sebuah cerita.Pendeskripsian akan karakter dan pikiran tokoh disajikan dengan sangat detail, sehingga tokoh-tokoh yang ada terasa hidup dan nyata. Kak Windry sangat menghayati perannya sebagai ‘aku’ atau sang tokoh utama di novel ini – Rayyi, sehingga segalanya terasa real

Warna sampulnya memang kurang cerah – warna cream dengan goresan sketsa pensil, sehingga kurang menarik perhatian pembaca, tetapi sentuhan ujung pensil yang mensketsa gambar sebuah taman dengan pohon sakura dan bangku taman itu sungguh bermakna, seakan Haru yang menggambar tempat dimana dia berada. Lalu, ganbar itu disketsa di atas sebuah kertas foto lama – yang masih berupa rol dan berwarna hitam-putih, membuat kesan unik dan antik, dan juga cocok dengan model kamera tua yang dipakai Haru. Belum lagi judulnya yang unik, yang merupakan istilah dalam fotografi. Walaupun terdengar asing di telinga kaum awam, tapi justru membuat pembaca merasa penasaran dengan isi novel. Dan aku yakin kata ‘montase’ itu memiliki makna yang dalam.

Novel ini bukan novel yang mendayu-dayu dan terlalu romantis, sarat akan pesan moral pula, jadi dapat dibaca oleh semua kalangan. So recommended! Novel ini selain dapat menghilangkan rasa jenuh yang melanda, juga sanggup membangkitkan rasa semangat para pembaca untuk terus mengejar mimpi, setinggi apapun itu. Well done, kak. Keep writing!

Monday, 8 December 2014

[Book Review] Promises, Promises by Dahlian


Judul Buku          : Promises, Promises
Pengarang          : Dahlian
Penerbit              : Gagas Media
Jumlah Halaman : 360 halaman
My Rating           : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya “Apa kabar?” dan “Aku selalu memikirkanmu” bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak akan membiarkanmu memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu... meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu—tetapi aku sendiri ragu akan hal itu.

Aku benci tak jujur kepadamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatku jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka lagi...


THE AUTHOR

Dahlian (nama pena), pernah berkuliah di UI dengan jurusan Sastra Cina. Sebelum menulis dengan nama pena Dahlian, dia dikenal karena lima buah novel komedi, terbitan GagasMedia, lalu nekat berkolaborasi menulis novel romance dengan teman kuliahnya yang juga penulis, Gielda Lafita. 
(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

CLBK, alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Pernah denger? Atau malah pernah mengalami? Atau sedang mengalami? Ehem, atau sering ngalamin? Lol. Fiona dan Evan pernah mengalaminya.

Novel ini bercerita tentang sepasang kekasih di masa lampau yang kembali dipertemukan di suatu waktu setelah sekian lama. Di saat itu, keduanya udah berbeda dari yang dulu. Evan udah menikah, sedangkan Fiona bahkan udah memiliki satu anak. Tapi, takdir berkata lain. Evan sedang dalam proses perceraian dengan istrinya, sedangkan Fiona adalah single parent.

Cinta lama bersemi kembali. Lebih tepatnya, cinta yang udah lama terpendam akhirnya dapat mekar kembali. Keduanya masih saling mencintai seperti sedia kala, namun keadaannya udah berbeda. Fiona takut kejadian di masa lalu, yang menyebabkan mereka berpisah, kembali terulang. Dia masih sulit memaafkan perbuatan Evan, dan sulit juga untuk kembali membuka hati buat pria yang pernah menyakitinya itu.

Konflik demi konflik datang menghalangi hubungan mereka. Nggak hanya konflik batin, tapi konflik dari luar juga. Namun, yang namanya cinta sejati, tetap lebih kuat dari apapun. Mereka berhasil mengatasi segalanya karna cinta mereka lebih kuat dan memenangi pertarungan.


MY COMMENTARY

Walaupun aku nggak terlalu suka sama novel dengan adegan-adegan dewasa seperti novel ini, tapi aku suka inti ceritanya yang benar-benar kompleks. Mengharukan dan sangat romantis. Bagaimana perjuangan Evan untuk merebut kembali hati Fiona... Bagaimana cinta mereka tetap berdiri kokoh menghadapi rintangan-rintangan yang ada... Konflik-konflik yang dihadirkan begitu hidup, dan juga nggak disangka-sangka, membuatku nggak henti-hentinya berdecak kagum. Akhir yang bahagia pun membuatku mendesah lega.

Pendeskripsiannya juga sangat baik, bagaimana kak Dahlian sangat mendalami profesi Fiona yang menjadi interior designer. Tokoh-tokoh yang ada juga begitu hidup, dengan latar belakang dan konflik batin yang nyata. Aku jadi ikut empati sama mereka. Covernya yang berwarna cream dengan gambar bunga-bunga berwarna kalem memberikan kesan elegan dan sangat menggugah hati. Aku sebagai pembaca langsung jatuh cinta begitu melihat covernya, dan jadi nggak sabar untuk melahap isinya sampai habis.

Recommended, people! Tapi untuk yang udah cukup umur, ya (walaupun aku sendiri belum :p Eh, emangnya "cukup umur"nya itu berapa, ya? Buat aku sih, nggak akan pernah cukup. Lol). Way to go, kak. You're amazing. Keep writing!