Menu

Friday, 11 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur Take a Step Back and Have Fun


Cerpen Penggangu Tidur adalah cerpen yang idenya datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini berkunjung di suatu malam yang tak lagi kuingat. Aku pun nggak yakin ini termasuk IPT atau nggak. Awalnya ini dipost di Wattpad, tapi kuputuskan untuk masuk blog aja. Ide yang sederhana, dan terinspirasi sama salah satu scene di film Disney "Up". Ada yang tau yang mana? Selamat membaca!


"Loh, kan, besok mau ke rumah Tante?"

Ekspresi lawan bicaraku langsung berubah drastis, seperti yang kuduga.

"Aduh, sori banget, Dear, aku lupa. Tapi ini kan, terakhir kalinya aku bisa ketemu sama Jay." Cowok itu mencoba memberi alasan.

Aku mendengus. "Jadi, Jay lebih penting dari aku, gitu? Kamu kan, udah janji sama aku duluan. Aku udah bilang ke Tante Jean kita bakal datang bareng."

"Tell her-"

Melihat kedua mataku yang langsung mendelik, Cris langsung berhenti bicara. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.

"Emangnya pesta perpisahannya nggak bisa kapan-kapan, ya?" tanyaku.

Cris menatapku tak percaya. "Dia berangkat malam itu juga, Dearika. Mau kapan lagi pesta perpisahannya? Pas dia udah di Finland?"

Aku mendengus. "Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja sih, pesta perpisahannya?" protesku lagi.

"Kamu tau sendiri gimana sibuknya si Jay."

Aku memutar bola mata. "Ya, salah dia dong, berarti. Lagian, kok rencanainnya tiba-tiba gitu?" Aku masih tidak mau kalah. Bukannya apa. Tante Jean ingin sekali aku datang dengan Cris. Dan aku juga tida mau datang ke sana sendirian. Telingaku tidak akan sanggup.

"Oke, oke, pause dulu. Terlalu panas, nih, nggak bisa mikir. Refreshing bentar, gimana?"

Aku mengerang. "Kamu tuh, ya, selalu kayak gitu. Nganggap semua hal sepele," gerutuku.

Cris menoleh ke jendela, lalu tersenyum manis ke arahku. "Es krim?"

Aku melirik motor es krim keliling yang selalu lewat di depan rumah, lalu membuang muka. "Paddle Pop pelangi," ucapku datar sambil berusaha mempertahankan ekspresi di wajahku.

Cris tersenyum lebar sambil memanggil abang tukang jual es krim itu. Beberapa menit kemudian, kami berdua sudah duduk di teras rumahku sambil menyantap es krim masing-masing.

"Hitam!" teriak Cris tiba-tiba sambil menunjuk mobil Avanza hitam yang lewat di depan rumahku.

Aku menatapnya tak habis pikir, lalu menunjuk Jazz putih yang kebetulan lewat. "Putih!"

Sudah lama juga kami tidak bermain game kurang kerjaan ini.

"Hitam!"

"Putih!"

"Hitam!"

"Hey, itu abu-abu!" protesku ketika melihat Innova abu-abu tua yang barusan lewat.

Cris menggeleng. "Hitam, kok. Kamu buta warna, ya?"

Aku menekuk wajahku dalam-dalam, lalu menujuk mobil apapun yang lewat di depanku. "Putih!"

"Nah, kan, buta warna. Itu silver!"

Aku mengabaikannya, lalu kembali menunjuk mobil Xenia silver yang lewat dan berteriak, "Putih!"

Cris melipat kedua tangannya. "Oke. Siapa yang menyebutkan paling banyak warna yang menang, dan yang kalah harus traktir es krim selanjutnya."

"Hijau!" teriakku langsung sambil mengarahkan telunjukku pada mobil Mazda 2 yang lewat.

"Merah!"

"Biru!"

"Pink!"

Begitulah. Kami memang bukan pasangan yang sempurna. Kami sering bertengkar, baik karena hal besar maupun yang sangat sepele seperti tadi. Tapi, kami selalu berhenti sejenak untuk beristirahat, seperti sekarang, dan bersenang-senang, karena tidak ada yang pernah tahu kapan kami bisa melakukannya lagi.

"Oh ya, kita bisa ajak Jay datang ke rumah Tante. Bilang aja itu pacar keduamu. Problem's solved."


Aku melempar stik es krimku yang sudah habis dilahap ke kepalanya sambil berusaha menahan tawa.

No comments:

Post a Comment