Menu

Thursday, 10 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur And Life Goes On


IdePenggangu Tidur adalah, seperti namanya, ide datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini muncul dua malam yang lalu. Sederhana, dan aku sudah mulai lupa idenya, tapi semoga tetap enjoy. Selamat membaca!


Aku memanjangkan leherku ke kiri dan ke kanan sambil memicingkan penglihatanku. Dalam detik yang sama, aku melihat dua hal bersamaan – yang kucari, dan yang tidak ingin kulihat. Yang kucari sedang berdiri memunggungiku beberapa meter di depanku, tampak sedang menunduk membaca sebuah kertas lebar, sedangkan yang tidak ingin kulihat di sana ada beberapa meter di depannya. Aku buru-buru melambaikan tangan tinggi, lalu mengibas-ngibaskan tanganku ke arah kiri, berharap yang tidak ingin kulihat itu akan segera menghilang dari penglihatanku. 
Saat yang tidak ingin kulihat itu mengerti bahasa tubuhku dan mulai menghilang, seseorang menubrukku dari belakang. Aku otomatis menoleh dan menemukan seorang gadis yang langsung menunduk sambil meminta maaf. 
“Nggak apa–eh, Vya?”
Gadis yang sudah kukenali sebelum ia bahkan memperlihatkan wajahnya itu langsung mendongak, dan sepasang mata abu-abu yang tampak sangat familiar itu melebar. “Nemo? Wah, nggak nyangka bakal ketemu di sini!” serunya riang.
Aku otomatis mendengus, pertama karena mendengar nama panggilan yang masih betah digunakan gadis itu, walaupun sudah lama tidak kudengar, dan ketidakmasukakalan kalimatnya barusan. “Aku kan, emang tinggal di sini. Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu mah, harusnya tau bisa nemuin aku di sini.” Aku memindai gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tidak banyak yang berubah. “Jangan-jangan kamu sengaja nyari aku ke sini, nguntit aku, terus pura-pura nggak sengaja ketemu, ya?” tanyaku dengan kedua mata menyipit.
Gadis itu langsung menyemburkan tawa yang renyah, yang lagi, sudah lama tidak kudengar. “Some things just can’t be changed,” komentarnya, sangat sesuai dengan isi pikiranku saat ini. “Apa kabar, nih?”
Aku merasa risih karena untuk kesekian kalinya, bahuku disenggol orang yang berlalu lalang di kiri dan kananku. Sadar kalau mengobrol di tengah jalan seperti ini tidaklah nyaman, aku pun menarik tangan gadis itu ke salah satu kursi tunggu di stasiun kereta yang terletak di sudut dan mengajaknya duduk di sana.
“Aku baik, seperti yang kamu liat. Kamu sendiri?”
Gadis itu mengangguk dengan senyuman khasnya. “Sama,” sahutnya singkat. “Jadi, begitu lulus kuliah di sini, lanjut kerja dan netap di sini?”
Gantian aku yang mengangguk. “Kalo kamu?”
“Masih di sana, juga,” sahutnya pelan. 
Kemudian kami sama-sama terdiam. Seperti yang ia bilang, some things just can’t be changed. Gadis di hadapanku ini tidak banyak berubah – masih sama menariknya seperti dulu, saat kami pertama kali bertemu, dan dulu, saat kami terakhir kali bertemu. Ia masih menjadi magnetnya, sedangkan aku besi malang yang tak bisa menolak daya tariknya. 
“Tadi… kamu ngapain celingak-celinguk terus lambai-lambai nggak jelas?”
Aku langsung menatapnya. “Jadi, kamu liat? Terus kok bisa nabrak aku?”
“Awalnya aku cuma heran, karna aku nggak kenalin kamu dari belakang. Terus tiba-tiba kerumunan lewat di depanku, bikin aku pusing jadinya nabrak, deh.”
Aku mengangguk-angguk. “Masih sama, ya, nggak suka tempat ramai?”
Lawan bicaraku mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu pandangannya terarah ke depan, melewati bahuku. Ia tampak takjub. Aku pun menoleh ke belakang dan mengikuti arah pandangnya, lalu ikut terpaku.
“Oh, berhasil, ya?” komentarku, lebih kepada diriku sendiri.
“Jadi… tadi itu kamu lagi bantuin temenmu buat ngasih surprise ke ceweknya? Ato kamu lagi ngarahin orang suruhanmu buat ngasih surprise ke cewekmu?”
Aku kembali menoleh ke teman bicaraku dengan tatapan takjub. “Serius, kamu nggak berubah sama sekali. Such an amazing observant, as always. Aku yakin kamu udah tau jawaban dari pertanyaanmu tadi.”
Alvya, nama gadis itu, tersenyum penuh kemenangan. “Tentu saja,” jawabnya yakin, lalu kembali memerhatikan gadis yang berdiri beberapa meter di depan sana yang sedang memeluk sebuket bunga dengan sepasang mata berkaca-kaca, memandangi spanduk besar yang dibawa dua orang laki-laki di hadapannya. Aku sendiri tidak perlu menoleh lagi ke belakang, karena aku sudah melihat semua yang terjadi barusan. Aku malah kembali menekuri wajah yang hampir menghilang dari benakku ini, tapi ternyata, ia tak pernah hilang, hanya tersimpan rapi di sudut benakku saja. 
“Cewekmu itu beruntung banget, deh. Sana, samperin. Dia pasti nggak nyangka begitu nyampe sini bakal disambut kayak gitu,” ujar Vya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang ia bilang beruntung itu.
“Kamu sendiri–”
There you are!” seru seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Vya, membuat gadis itu terlonjak kaget dan menoleh cepat ke belakang.
“Oh, thank God. Well, I kind of knew you would find me,” sahut Vya santai sambil tersenyum, membuat pria itu mendengus, namun mengacak rambut gadis itu pelan. 
“Aku cariin kemana-mana, juga. Kok bisa nyasar, sih? Hobi banget?” omel pria itu, walaupun ia lebih terlihat cemas daripada kesal.
“Makanya kita bareng, kan. Aku suka nyasar, dan kamu selalu bisa nemuin aku.”
Pria berkacamata itu hanya memutar bola mata tanpa bisa menyembunyikan senyumnya. Vya pun menoleh ke arahku. “Kalo gitu, aku duluan, ya. Kamu juga mau nyamperin cewekmu, kan?”
Aku langsung mengangguk setuju. “Oke. Nice to see you again. Till we meet again,” ucapku sambil mengangguk sopan ke arah pria yang sekarang sudah digandeng Vya, menjelaskan apa status mereka.
Aku pun berbalik dan memfokuskan mataku ke arah gadis yang berdiri beberapa meter di hadapanku itu. Seseorang yang tadi kucari, dan kini kutemukan, sedang memandangi apa yang tadinya tidak ingin kulihat. Begitulah hidup. Kita tidak tahu apa tepatnya yang akan terjadi sepanjang perjalanan menuju masa depan, dan sepanjang perjalanan itu, kita akan terus bertubrukan dengan masa lalu, tapi satu hal yang kita tahu, life goes on, and we just keep moving forward.  
Alvya alias Vya dan Geronimo alias Nemo hanyalah bagian dari masa lalu. “And you’re gone, and we're on with our lives” (Don’t Want an Ending – Sam Tsui).

No comments:

Post a Comment