Menu

Wednesday, 23 July 2014

[Book Review] Morning Light by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Morning Light
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 176 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY


Sophie selalu merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan mamanya yang adalah penulis terkenal, sehingga ia memaksakan diri untuk mengikuti jejak sang ibu. Devon selalu dituntut oleh ayahnya, yang adalah mantan pemain sepakbola terkenal, untuk menjadi penerus sang ayah. Agnes, sejak kematian kakaknya yang brilian, merasa seakan-akan dirinya tak seberharga sang kakak. Julian selalu memaksakan dirinya untuk menyamai bahkan melampaui kakaknya yang juga brilian. Keempat sahabat ini sama-sama memiliki matahari mereka masing-masing, yang menjadi panutan yang ingin mereka kejar, tapi di sisi lain, dibayang-bayangi oleh terangnya sinar sang matahari, sehingga dibutakan dari sinar mereka sendiri. Seperti semut di seberang jalan yang lebih terlihat dibanding gajah di pelupuk mata, sinar mereka pun lebih dilihat oleh orang lain daripada diri mereka sendiri. Mereka pun saling menyadarkan dan mendukung satu sama lain layaknya sahabat sejati. Mereka menemukan jati diri. Mereka menemukan cinta.


MY COMMENTARY


Novel ini novel lama kak Windhy yang dari awal emang udah pengen kubeli tapi nggak jadi-jadi. Akhirnya, karna emang jodoh, aku akhirnya kesampean juga beli novel ini online bareng novel-novel lain yang juga kuincar. Selama liburanku ini, aku udah baca tiga karya brilian kak Windhy – Touché series dan Incognito, dan aku pun jadi kangen berat sama tulisan kak Windhy, jadilah aku baca juga novel yang ini, yang tadinya mau kusimpen untuk dibaca waktu lagi suntuk kuliah atau apa. 
Walaupun genrenya beda, tapi novel ini sejenis Let Go yang sweet dan menyentuh hati. Tentang persahabatan, keluarga, cinta, dan mimpi, juga hidup itu sendiri. Pokoknya aku belajar banyak dari novel ini – soal mengejar apa yang ingin kamu kejar, bukan yang orang lain inginkan, atau yang kamu pikir orang lain inginkan, atau yang kamu pikir harus kamu kejar. Aku sepenuhnya percaya pada ‘melakukan apa yang kamu cintai’, karena memang kenyataannya akan menjadi lebih mudah. Orang yang melakukan apa yang mereka cintai memang terbukti menghasilkan yang terbaik. Nggak ada gunanya memaksakan diri.
Bagaimana kakak kasih liat satu per satu duduk masalahnya, lalu memuncak di klimaks masing-masing, terus sama-sama turun gunung dan nemu solusi itu terasa teratur banget, jadi enak aja bacanya. Hanya aja, entah cuma perasaanku atau gimana, pace-nya terasa agak cepat. Tiap adegan singkat-singkat aja, mungkin kurang deskripsi yang bikin aku masuk sepenuhnya ke cerita. Emosiku juga nggak terlalu diaduk-aduk. Tapi aku tetep bisa berempatai sama tokoh-tokohnya, dan mereka bikin gemes! Aku suka chemistry Sophie-Devon, Julian-Agnes, dan kerennya, mereka bukan dipasang-pasangi begitu melulu, tapi bisa crossover gitu, deh. Mereka bersahabatnya berempat, dan keliatan chemistry satu sama lainnya. Ada Julian-Sophie, Devon-Agnes, bahkan Devon-Julian dan Sophie-Agnes. Tapi semua tau aku #TeamDeso dan #TeamJunes (sengaja bikin aneh-aneh dan lucu-lucu, hihihi).
Settingnya di Semarang, dan aku jadi pengen ke sana! Seperti Let Go, ada banyak kutipan kece dari novel ini. Kak Windhy emang jago ngerangkai kata. Teori bunga mataharinya kece abis, serius! Aku suka bunga matahari. Dan oh, covernya kece abis! Cantik banget. Kuningnya cerah, bunga mataharinya cantik, pokoknya menggugah hati banget. Kalo dicetul, jangan ganti cover, ya. Udah cinta banget aku! Hahaha. Blurb-nya semacam puitis dan cocok sama isi, walaupun nggak menggambarkan sepenuhnya. Kemungkinan besar, kayak Let Go, orang-orang bakal kira novel ini lebih ke romance, padahal lebih dari itu. 

Recommended, deh! Aku jadi pengen baca novel kak Windhy yang lain – Run, Run, Run!, sHe, Confeito… Semuanya langka. Tapi katanya ada yang mau dicetul, ya? Asyik! Ditunggu ya, Kak! Keep writing! <3

No comments:

Post a Comment