Menu

Wednesday, 23 July 2014

[Book Review] Morning Light by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Morning Light
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 176 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY


Sophie selalu merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan mamanya yang adalah penulis terkenal, sehingga ia memaksakan diri untuk mengikuti jejak sang ibu. Devon selalu dituntut oleh ayahnya, yang adalah mantan pemain sepakbola terkenal, untuk menjadi penerus sang ayah. Agnes, sejak kematian kakaknya yang brilian, merasa seakan-akan dirinya tak seberharga sang kakak. Julian selalu memaksakan dirinya untuk menyamai bahkan melampaui kakaknya yang juga brilian. Keempat sahabat ini sama-sama memiliki matahari mereka masing-masing, yang menjadi panutan yang ingin mereka kejar, tapi di sisi lain, dibayang-bayangi oleh terangnya sinar sang matahari, sehingga dibutakan dari sinar mereka sendiri. Seperti semut di seberang jalan yang lebih terlihat dibanding gajah di pelupuk mata, sinar mereka pun lebih dilihat oleh orang lain daripada diri mereka sendiri. Mereka pun saling menyadarkan dan mendukung satu sama lain layaknya sahabat sejati. Mereka menemukan jati diri. Mereka menemukan cinta.


MY COMMENTARY


Novel ini novel lama kak Windhy yang dari awal emang udah pengen kubeli tapi nggak jadi-jadi. Akhirnya, karna emang jodoh, aku akhirnya kesampean juga beli novel ini online bareng novel-novel lain yang juga kuincar. Selama liburanku ini, aku udah baca tiga karya brilian kak Windhy – Touché series dan Incognito, dan aku pun jadi kangen berat sama tulisan kak Windhy, jadilah aku baca juga novel yang ini, yang tadinya mau kusimpen untuk dibaca waktu lagi suntuk kuliah atau apa. 
Walaupun genrenya beda, tapi novel ini sejenis Let Go yang sweet dan menyentuh hati. Tentang persahabatan, keluarga, cinta, dan mimpi, juga hidup itu sendiri. Pokoknya aku belajar banyak dari novel ini – soal mengejar apa yang ingin kamu kejar, bukan yang orang lain inginkan, atau yang kamu pikir orang lain inginkan, atau yang kamu pikir harus kamu kejar. Aku sepenuhnya percaya pada ‘melakukan apa yang kamu cintai’, karena memang kenyataannya akan menjadi lebih mudah. Orang yang melakukan apa yang mereka cintai memang terbukti menghasilkan yang terbaik. Nggak ada gunanya memaksakan diri.
Bagaimana kakak kasih liat satu per satu duduk masalahnya, lalu memuncak di klimaks masing-masing, terus sama-sama turun gunung dan nemu solusi itu terasa teratur banget, jadi enak aja bacanya. Hanya aja, entah cuma perasaanku atau gimana, pace-nya terasa agak cepat. Tiap adegan singkat-singkat aja, mungkin kurang deskripsi yang bikin aku masuk sepenuhnya ke cerita. Emosiku juga nggak terlalu diaduk-aduk. Tapi aku tetep bisa berempatai sama tokoh-tokohnya, dan mereka bikin gemes! Aku suka chemistry Sophie-Devon, Julian-Agnes, dan kerennya, mereka bukan dipasang-pasangi begitu melulu, tapi bisa crossover gitu, deh. Mereka bersahabatnya berempat, dan keliatan chemistry satu sama lainnya. Ada Julian-Sophie, Devon-Agnes, bahkan Devon-Julian dan Sophie-Agnes. Tapi semua tau aku #TeamDeso dan #TeamJunes (sengaja bikin aneh-aneh dan lucu-lucu, hihihi).
Settingnya di Semarang, dan aku jadi pengen ke sana! Seperti Let Go, ada banyak kutipan kece dari novel ini. Kak Windhy emang jago ngerangkai kata. Teori bunga mataharinya kece abis, serius! Aku suka bunga matahari. Dan oh, covernya kece abis! Cantik banget. Kuningnya cerah, bunga mataharinya cantik, pokoknya menggugah hati banget. Kalo dicetul, jangan ganti cover, ya. Udah cinta banget aku! Hahaha. Blurb-nya semacam puitis dan cocok sama isi, walaupun nggak menggambarkan sepenuhnya. Kemungkinan besar, kayak Let Go, orang-orang bakal kira novel ini lebih ke romance, padahal lebih dari itu. 

Recommended, deh! Aku jadi pengen baca novel kak Windhy yang lain – Run, Run, Run!, sHe, Confeito… Semuanya langka. Tapi katanya ada yang mau dicetul, ya? Asyik! Ditunggu ya, Kak! Keep writing! <3

Friday, 11 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur Take a Step Back and Have Fun


Cerpen Penggangu Tidur adalah cerpen yang idenya datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini berkunjung di suatu malam yang tak lagi kuingat. Aku pun nggak yakin ini termasuk IPT atau nggak. Awalnya ini dipost di Wattpad, tapi kuputuskan untuk masuk blog aja. Ide yang sederhana, dan terinspirasi sama salah satu scene di film Disney "Up". Ada yang tau yang mana? Selamat membaca!


"Loh, kan, besok mau ke rumah Tante?"

Ekspresi lawan bicaraku langsung berubah drastis, seperti yang kuduga.

"Aduh, sori banget, Dear, aku lupa. Tapi ini kan, terakhir kalinya aku bisa ketemu sama Jay." Cowok itu mencoba memberi alasan.

Aku mendengus. "Jadi, Jay lebih penting dari aku, gitu? Kamu kan, udah janji sama aku duluan. Aku udah bilang ke Tante Jean kita bakal datang bareng."

"Tell her-"

Melihat kedua mataku yang langsung mendelik, Cris langsung berhenti bicara. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.

"Emangnya pesta perpisahannya nggak bisa kapan-kapan, ya?" tanyaku.

Cris menatapku tak percaya. "Dia berangkat malam itu juga, Dearika. Mau kapan lagi pesta perpisahannya? Pas dia udah di Finland?"

Aku mendengus. "Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja sih, pesta perpisahannya?" protesku lagi.

"Kamu tau sendiri gimana sibuknya si Jay."

Aku memutar bola mata. "Ya, salah dia dong, berarti. Lagian, kok rencanainnya tiba-tiba gitu?" Aku masih tidak mau kalah. Bukannya apa. Tante Jean ingin sekali aku datang dengan Cris. Dan aku juga tida mau datang ke sana sendirian. Telingaku tidak akan sanggup.

"Oke, oke, pause dulu. Terlalu panas, nih, nggak bisa mikir. Refreshing bentar, gimana?"

Aku mengerang. "Kamu tuh, ya, selalu kayak gitu. Nganggap semua hal sepele," gerutuku.

Cris menoleh ke jendela, lalu tersenyum manis ke arahku. "Es krim?"

Aku melirik motor es krim keliling yang selalu lewat di depan rumah, lalu membuang muka. "Paddle Pop pelangi," ucapku datar sambil berusaha mempertahankan ekspresi di wajahku.

Cris tersenyum lebar sambil memanggil abang tukang jual es krim itu. Beberapa menit kemudian, kami berdua sudah duduk di teras rumahku sambil menyantap es krim masing-masing.

"Hitam!" teriak Cris tiba-tiba sambil menunjuk mobil Avanza hitam yang lewat di depan rumahku.

Aku menatapnya tak habis pikir, lalu menunjuk Jazz putih yang kebetulan lewat. "Putih!"

Sudah lama juga kami tidak bermain game kurang kerjaan ini.

"Hitam!"

"Putih!"

"Hitam!"

"Hey, itu abu-abu!" protesku ketika melihat Innova abu-abu tua yang barusan lewat.

Cris menggeleng. "Hitam, kok. Kamu buta warna, ya?"

Aku menekuk wajahku dalam-dalam, lalu menujuk mobil apapun yang lewat di depanku. "Putih!"

"Nah, kan, buta warna. Itu silver!"

Aku mengabaikannya, lalu kembali menunjuk mobil Xenia silver yang lewat dan berteriak, "Putih!"

Cris melipat kedua tangannya. "Oke. Siapa yang menyebutkan paling banyak warna yang menang, dan yang kalah harus traktir es krim selanjutnya."

"Hijau!" teriakku langsung sambil mengarahkan telunjukku pada mobil Mazda 2 yang lewat.

"Merah!"

"Biru!"

"Pink!"

Begitulah. Kami memang bukan pasangan yang sempurna. Kami sering bertengkar, baik karena hal besar maupun yang sangat sepele seperti tadi. Tapi, kami selalu berhenti sejenak untuk beristirahat, seperti sekarang, dan bersenang-senang, karena tidak ada yang pernah tahu kapan kami bisa melakukannya lagi.

"Oh ya, kita bisa ajak Jay datang ke rumah Tante. Bilang aja itu pacar keduamu. Problem's solved."


Aku melempar stik es krimku yang sudah habis dilahap ke kepalanya sambil berusaha menahan tawa.

Thursday, 10 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur And Life Goes On


IdePenggangu Tidur adalah, seperti namanya, ide datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini muncul dua malam yang lalu. Sederhana, dan aku sudah mulai lupa idenya, tapi semoga tetap enjoy. Selamat membaca!


Aku memanjangkan leherku ke kiri dan ke kanan sambil memicingkan penglihatanku. Dalam detik yang sama, aku melihat dua hal bersamaan – yang kucari, dan yang tidak ingin kulihat. Yang kucari sedang berdiri memunggungiku beberapa meter di depanku, tampak sedang menunduk membaca sebuah kertas lebar, sedangkan yang tidak ingin kulihat di sana ada beberapa meter di depannya. Aku buru-buru melambaikan tangan tinggi, lalu mengibas-ngibaskan tanganku ke arah kiri, berharap yang tidak ingin kulihat itu akan segera menghilang dari penglihatanku. 
Saat yang tidak ingin kulihat itu mengerti bahasa tubuhku dan mulai menghilang, seseorang menubrukku dari belakang. Aku otomatis menoleh dan menemukan seorang gadis yang langsung menunduk sambil meminta maaf. 
“Nggak apa–eh, Vya?”
Gadis yang sudah kukenali sebelum ia bahkan memperlihatkan wajahnya itu langsung mendongak, dan sepasang mata abu-abu yang tampak sangat familiar itu melebar. “Nemo? Wah, nggak nyangka bakal ketemu di sini!” serunya riang.
Aku otomatis mendengus, pertama karena mendengar nama panggilan yang masih betah digunakan gadis itu, walaupun sudah lama tidak kudengar, dan ketidakmasukakalan kalimatnya barusan. “Aku kan, emang tinggal di sini. Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu mah, harusnya tau bisa nemuin aku di sini.” Aku memindai gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tidak banyak yang berubah. “Jangan-jangan kamu sengaja nyari aku ke sini, nguntit aku, terus pura-pura nggak sengaja ketemu, ya?” tanyaku dengan kedua mata menyipit.
Gadis itu langsung menyemburkan tawa yang renyah, yang lagi, sudah lama tidak kudengar. “Some things just can’t be changed,” komentarnya, sangat sesuai dengan isi pikiranku saat ini. “Apa kabar, nih?”
Aku merasa risih karena untuk kesekian kalinya, bahuku disenggol orang yang berlalu lalang di kiri dan kananku. Sadar kalau mengobrol di tengah jalan seperti ini tidaklah nyaman, aku pun menarik tangan gadis itu ke salah satu kursi tunggu di stasiun kereta yang terletak di sudut dan mengajaknya duduk di sana.
“Aku baik, seperti yang kamu liat. Kamu sendiri?”
Gadis itu mengangguk dengan senyuman khasnya. “Sama,” sahutnya singkat. “Jadi, begitu lulus kuliah di sini, lanjut kerja dan netap di sini?”
Gantian aku yang mengangguk. “Kalo kamu?”
“Masih di sana, juga,” sahutnya pelan. 
Kemudian kami sama-sama terdiam. Seperti yang ia bilang, some things just can’t be changed. Gadis di hadapanku ini tidak banyak berubah – masih sama menariknya seperti dulu, saat kami pertama kali bertemu, dan dulu, saat kami terakhir kali bertemu. Ia masih menjadi magnetnya, sedangkan aku besi malang yang tak bisa menolak daya tariknya. 
“Tadi… kamu ngapain celingak-celinguk terus lambai-lambai nggak jelas?”
Aku langsung menatapnya. “Jadi, kamu liat? Terus kok bisa nabrak aku?”
“Awalnya aku cuma heran, karna aku nggak kenalin kamu dari belakang. Terus tiba-tiba kerumunan lewat di depanku, bikin aku pusing jadinya nabrak, deh.”
Aku mengangguk-angguk. “Masih sama, ya, nggak suka tempat ramai?”
Lawan bicaraku mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu pandangannya terarah ke depan, melewati bahuku. Ia tampak takjub. Aku pun menoleh ke belakang dan mengikuti arah pandangnya, lalu ikut terpaku.
“Oh, berhasil, ya?” komentarku, lebih kepada diriku sendiri.
“Jadi… tadi itu kamu lagi bantuin temenmu buat ngasih surprise ke ceweknya? Ato kamu lagi ngarahin orang suruhanmu buat ngasih surprise ke cewekmu?”
Aku kembali menoleh ke teman bicaraku dengan tatapan takjub. “Serius, kamu nggak berubah sama sekali. Such an amazing observant, as always. Aku yakin kamu udah tau jawaban dari pertanyaanmu tadi.”
Alvya, nama gadis itu, tersenyum penuh kemenangan. “Tentu saja,” jawabnya yakin, lalu kembali memerhatikan gadis yang berdiri beberapa meter di depan sana yang sedang memeluk sebuket bunga dengan sepasang mata berkaca-kaca, memandangi spanduk besar yang dibawa dua orang laki-laki di hadapannya. Aku sendiri tidak perlu menoleh lagi ke belakang, karena aku sudah melihat semua yang terjadi barusan. Aku malah kembali menekuri wajah yang hampir menghilang dari benakku ini, tapi ternyata, ia tak pernah hilang, hanya tersimpan rapi di sudut benakku saja. 
“Cewekmu itu beruntung banget, deh. Sana, samperin. Dia pasti nggak nyangka begitu nyampe sini bakal disambut kayak gitu,” ujar Vya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang ia bilang beruntung itu.
“Kamu sendiri–”
There you are!” seru seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Vya, membuat gadis itu terlonjak kaget dan menoleh cepat ke belakang.
“Oh, thank God. Well, I kind of knew you would find me,” sahut Vya santai sambil tersenyum, membuat pria itu mendengus, namun mengacak rambut gadis itu pelan. 
“Aku cariin kemana-mana, juga. Kok bisa nyasar, sih? Hobi banget?” omel pria itu, walaupun ia lebih terlihat cemas daripada kesal.
“Makanya kita bareng, kan. Aku suka nyasar, dan kamu selalu bisa nemuin aku.”
Pria berkacamata itu hanya memutar bola mata tanpa bisa menyembunyikan senyumnya. Vya pun menoleh ke arahku. “Kalo gitu, aku duluan, ya. Kamu juga mau nyamperin cewekmu, kan?”
Aku langsung mengangguk setuju. “Oke. Nice to see you again. Till we meet again,” ucapku sambil mengangguk sopan ke arah pria yang sekarang sudah digandeng Vya, menjelaskan apa status mereka.
Aku pun berbalik dan memfokuskan mataku ke arah gadis yang berdiri beberapa meter di hadapanku itu. Seseorang yang tadi kucari, dan kini kutemukan, sedang memandangi apa yang tadinya tidak ingin kulihat. Begitulah hidup. Kita tidak tahu apa tepatnya yang akan terjadi sepanjang perjalanan menuju masa depan, dan sepanjang perjalanan itu, kita akan terus bertubrukan dengan masa lalu, tapi satu hal yang kita tahu, life goes on, and we just keep moving forward.  
Alvya alias Vya dan Geronimo alias Nemo hanyalah bagian dari masa lalu. “And you’re gone, and we're on with our lives” (Don’t Want an Ending – Sam Tsui).

Wednesday, 9 July 2014

[Book Review] Touché: Alchemist by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Touché: Alchemist 
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 224 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Sama seperti Indra, Riska, dan Dani di seri Touché yang sebelumnya, Hiro Morrison juga memiliki kemampuan spesial melalui sentuhannya. Ditambah otak genius dan kejeliannya dalam mengobservasi sekitar, kemampuannya membaca identitas kimia dalam sekali sentuh membuatnya menjadi lab forensik berjalan dan detektif yang handal. Ia pun akhirnya dikontrak menjadi konsultan di Kepolisian New York. Sepanjang perjalanannya memecahkan kasus-kasus, si sombong Hiro akhirnya menemukan tantangan besar yang menjadi titik balik dalam hidupnya.

MY COMMENTARY

Jujur aja, kalau disuruh bikin summary novel-novelnya kak Windhy, apalagi yang terbitan Gramedia, aku sering bingung, karena di blurb-nya udah jelas, dan aku takut jadi spoiler, jadi yah, begitulah. Intinya, novel ini KECE BADAI. Bagi yang udah baca seri sebelumnya, novel ini sangat direkomendasikan, bahkan diWAJIBkan untuk dibaca. Dan ya, dua novel seri ini nggak bersambung – tokoh-tokohnya jelas beda, tapi sama-sama bercerita tentang kaum Touché yang punya kemampuan spesial melalui sentuhan. Dan oh, ada tokoh dari seri sebelumnya yang muncul, lagi. Ini bukan spoiler, kan, karna aku juga sering denger tentang ini, tapi pas baca baru ngeh, dan tetep aja kaget (sambil loncat-loncat seneng, hahaha). 
Oh, ada banyak banget yang mau kuomongin di sini, jadi maklum kalo panjang, dan mari dibahas satu-satu. Bagi yang udah baca reviewku tentang novel Touché dan Incognito, pasti tau aku suka banget sama novel bergenre ini. Bukan teenlit biasa, dan lagi-lagi settingnya bukan Jakarta (entah kenapa aku suka novel teenlit yang nggak bersetting di Jakarta, karna bosen, mungkin). Novel ini bersetting di New York, bahkan. Udah lumayan sering, sih, tapi New York itu emang (salah satu) kota favoritku, dan berhubung novel ini nggak luput dari crimes, New York emang kota yang cocok. Terus, tempat-tempat yang disebut juga yang jarang-jarang. Kak Windhy deskripsiin tempat-tempatnya kayak udah pernah pergi ke sana, lagi.
Jadi, sama kayak Touché dan Incognito, Touché: Alchemist ini juga fantasi, tapi lebih ke crimes daripada adventure kayak dua novel sebelumnya, which I also adore! Novel ini kayak paket lengkap, semacam gabungan dari CSI: New York, Detective Conan, dan Psych – semuanya favoritku. Ini menurutku, loh, ya. Kenapa? Well, CSI: New York kayaknya jelas, ya – sama-sama mecahin kasus kriminal, sama-sama di New York. Detective Conan dan Psych juga mecahin kasus kriminal, dan tokoh utamanya mirip si Hiro ini – atau terbalik, si Hiro ini genius dan good observant-nya kayak Shinichi/Conan dan Shaun Spencer di Psych. Tapi Hiro jelas menang karna kemampuan khususnya itu. Such a luck! Dan ya, bikin dia jadi makin kece. Hihihi.
Terus, kasus-kasusnya itu genius! Ini yang bikin aku jatuh cinta (cieileh) sama novel-novelnya kak Windhy. Aku jamin risetnya banyak, jadi semuanya masuk akal. Ya, aku emang nggak pinter-pinter amat, sih, jadi kalo nggak masuk akal pun aku juga kemungkinan besar nggak bakal ngeh, tapi aku tau kak Windhy itu nggak akan pernah ngebiarin ceritanya illogical – nampak banget kak Windhy rajin riset, jadi ya, aku percaya ceritanya based on facts. Dan novel ini bikin aku nostalgia sama SMAku dulu. Aku (terpaksa) ambil IPA pas SMA dulu, jadi ya, masih konek-konek dikit, lah (dan aku bangga, hehehe). Seperti biasa, endingnya nggak tertebak, dan segala hal yang ada di dalamnya. Ada beberapa hal yang bisa kutebak, sih (dan seperti biasa aku merasa bangga), tapi itu hebatnya! Tertebak pun tetep bikin aku senyum puas (dan jingkrak-jingkrak senang) pas tutup halaman terakhirnya. Dan aku selalu geleng-geleng kepala dan mikir, “Kok Kakak bisa kepikiran sejauh itu, sih?” Tokoh yang genius jelas lahir dari penulis yang genius.
Aku suka tokoh-tokohnya. Aku emang bilang hal yang sama ini berulang-ulang hampir di setiap novel yang kusuka, tapi kali ini, aku serius. Tokohnya beneran unik. Selain Hiro – yang kepedean dan sombong, yang jelas beda sama male lead chara kebanyakan (you know, yang biasanya charming and so all, dan anehnya, Hiro malah lebih menarik, padahal yang sering ditonjolkan itu kesombongan dan kemenyebalkannya, if that’s even a word), William – teman Hiro, juga unik dengan kelainan Obsessive Compulsive Disorder. Mungkin itu kelainan yang umum, soalnya adikku tau soal itu, tapi jujur aku baru tau, dan kelainan itu menarik banget di mataku. Ya, call me freak, tapi aku emang suka penyakit ato kelainan yang aneh-aneh. Dan yang aku suka dari itu adalah, kalo si penulis bisa mendeskripsikannya dengan sangat baik tanpa bikin aku bosen. Way to go, Kak! Aku juga suka sama Karen, tokoh ceweknya, dan suka chemistry di antaranya dan Hiro (Team Hiren!). Novel ini nggak banyak romantisnya. Seperti yang kita ketahui bersama, aku suka novel yang ada romance-nya, tapi aku suka novel ini, karna tetep ada romance-nya di bagian akhir (ups, spoiler alert, tapi sepertinya ini udah pada tau?). Dan yang kayak begini yang biasanya berhasil bikin aku klepek-klepek – you know, you just don’t see it coming! Hehehe.
Aku tau kak Windhy pasti sering denger permintaan ini, tapi aku cukup berharap karna ini aku yang minta, ada bedanya (alah). Ya, aku juga yakin, sih, kak Windhy pasti tau aku mau minta apa, tapi no pressure, sih. Aku berdoa aja, deh, semoga kak Windhy dapet ide buat Touché 3 terus serinya dilanjutin. And if it’s not too much to ask, kak Windhy dapet ide terus sampe Touché 7 ato mungkin 8, jadi ngalahin Harry Potter (muahaha). Tapi sekali lagi, no pressure, loh. Kalo maunya ngelanjutin Incognito juga nggak papa… *smirk*
Kayak novel-novel sebelumnya, novel ini page turner, jadi nggak makan waktu lama buat nyeleseinnya, juga mereviewnya. Dan yang bikin aku makin seneng, kak Windhy bilang dia nungguin reviewku. Jelas seneng, dong, diminta sama penulisnya langsung, padahal kan, reviewku biasa-biasa aja. Aku nggak merasa reviewku sebagus blogger-blogger lain di luar sana. Makasih ya, Kak. I’m honored, dan terharu (“:
And again, love the cover! Juga blurb-nya yang detail tapi bikin penasaran! Judulnya juga keren (kayaknya aku lupa sebut soal ini di review Touché yang pertama), dan cocok sama isinya. Alchemist! Always love that word. Dan yang juga luput dari review Touché pertamaku itu soal kutipan yang kak Windhy taruh di awal dan akhir novel. Pas banget, dan kece isinya! Kak Windhy sering bilang kalo dia nggak kayak penulis-penulis lain yang produktif – cepet banget ngehasilin novel barunya. Menurutku, itu bagus, karna liat buktinya, walaupun nulisnya lama, waktu buat risetnya banyak jadi novelnya juga kece abis! 
Aku tau, review harusnya objektif dan bisa maparin kekurangan dan kelebihan, dan itu yang bikin aku seneng bisa review seenak jidatku – aku nggak bisa nggak subjektif, dan kalo emang kusuka, jarang ada kelemahan yang bisa kusebutkan. Novel ini kayak novel-novel sebelumnya, lagi – bebas typo! Mungkin ada, tapi luput dari pengamatanku ato kelupaan, cuma ya, minim banget dan nggak fatal, makanya aku nggak ingat, dan nggak kusebut karna nggak perlu. Satu-satunya kekurangan yang ada, mungkin, kurang tebal? Hahaha. Tapi kayaknya udah pas, deh. Kalo panjang beresiko bikin bosan, walaupun aku tau aku nggak akan bosan. Yang penting aku tetep puas sepuas-puasnya!
Duh, pokoknya novel ini punya semua yang kusuka, deh. Ada lucunya juga. So, udah jelas kan, kenapa sangat kurekomendasikan? Dengan catatan, kalo selera kalian cocok denganku. Hehe. Well done again, Kak. You always amaze me. Semoga suatu hari kita bisa ketemu, walaupun aku nggak tau jelasnya mau ngapain kalo bener bisa ketemu. Mungkin ngobrol sampai mulut berbusa, tapi kayaknya kedengaran mengerikan dan mungkin kakak nggak bakal mau ketemu aku lagi, ato malah nggak pernah mau ketemu. Lol. Keep writing, Kak! Aku akan selalu menanti karyamu xD

Saturday, 5 July 2014

[Book Review] Touché by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Touché 
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 208 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Selain kemampuan aneh yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain lewat sentuhan, Riska memiliki kehidupan normal layaknya siswi SMA biasa. Tapi semua berubah sejak kedatangan Pak Yunus, guru pengganti, dan perkenalannya dengan Indra yang dingin dan Dani si juara kelas.

Riska kemudian diberitahu bahwa dirinya adalah touché alias orang yang memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti halnya Indra, Dani, dan Pak Yunus sendiri. Seakan itu belum cukup mengejutkan, Pak Yunus diculik! Sebuah puisi kuno diduga merupakan kunci untuk menemukan keberadaan Pak Yunus.

Dengan segala kemampuan mereka, Riska, Dani, dan Indra pun berusaha memecahkan kode dalam puisi kuno tersebut dan menyelamatkan guru mereka.


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Riska mengira kemampuan aneh yang dimilikinya hanyalah miliknya seorang. Memang benar, sampai akhirnya ia bertemu dengan tiga manusia lain yang memiliki kemampuan serupa. Ia, Indra dan Dani – yang juga murid di sekolahnya, serta Pak Yunus, guru pengganti di sekolahnya, memiliki kemampuan serupa melalui sentuhan, sehingga disebut sebagai kaum touché. Riska tidak pernah tahu ada bahaya yang mengejar mereka akibat kemampuan unik mereka itu, sampai akhirnya Pak Yunus diculik, mengharuskannya memecahkan teka-teki bersama Indra dan Dani, dan dihadapkan pada berbagai petualangan – yang kemudian mengajarkan mereka begitu banyak hal.


MY COMMENTARY

Satu kata, KECE! Ini novel kedua karya kak Windhy yang bertema fantasi. Sebelumnya, aku cuma pernah baca ‘Let Go’ dan ‘Seandainya’, yang temanya beda jauh sama novel ini dan Incognito. Sejak awal tau kalo novel-novelnya kak Windhy dicetul, aku langsung tertarik beli dan baca, karna awalnya novel-novel kak Windhy itu langka jadi susah nyarinya. Dan aku sama sekali nggak nyesel sekali pulang langsung buru-buru beli dan baca. Kayak Incognito, ini bukan teenlit biasa. Taulah stereotipe teenlit itu seperti apa – di Jakarta, bahasa gaul, anak remaja alay dan labil, adegan klise, dll – no offense. Sedangkan teenlit yang kusuka itu, emang tentang remaja dan bahasanya ringan, tapi alur ceritanya unik dan seru. Aku emang suka genre adventure dan fantasi, ternyata. Dan novel ini, sama Incognito juga, settingnya bukan di Jakarta, tapi di kota lain kayak Semarang dan Surabaya. Di sini juga ada Solo/Surakarta, lagi. Aku belum pernah ke sana, jadi ya, lebih menarik aja. Kalo Jakarta melulu, kan, bosan. Hehehe.

Aku suka alurnya yang menarik dan tertebak. Saat nulis review ini aku setengah mati berusaha untuk nggak jadi spoiler. Hehe. Yang jelas, endingnya sama sekali nggak tertebak, deh. Bukan cuma ending, malah – hampir setiap halnya. Aku suka teka-tekinya. Aku suka tokoh-tokohnya yang kece. Aku jelas #TeamIndriska! Kalo yang ini, bukan spoiler lah, ya, karna sebelum aku baca pun aku tau Indra bakal sama Riska. Hihihi. Dan aku juga tau aku bakal suka sama Indra <3

Pokoknya aku suka semua hal dalam novel ini. Genius banget, deh! Sama kayak Incognito, di novel ini nampak banget riset yang kak Windhy lakukan, makanya semuanya masuk akal. Walaupun ada beberapa typo, aku maklum, dan typo-nya malah bikin aku ketawa karna jadi lucu – ato karna selera humorku emang agak aneh, entahlah. Hehehe. Dan seperti biasa, karya kak Windhy jarang terlepas dari selera humor yang nyenengin. Pantesan dicetul! Ada sekuelnya, lagi! Aku jadi nggak sabar beli dan baca yang selanjutnya, walaupun nggak bersambung, sih, tapi berhubungan, ato setidaknya inti ceritanya sejenis. Aku yakin aku bakal suka. Pengalaman, kalo aku naruh ekspekstasi tinggi ke satu novel, cuma ada dua kemungkinan – terpenuhi bahkan terlampaui, ato malah jadi kecewa. FYI, yang bisa memenuhi bahkan melampaui ekspektasi tinggiku itu agak jarang, jadi selamat, ya, kak :p

Love the cover! Duh, beneran keren banget, deh. Pas baca, ada beberapa pertanyaan di benak, tapi beberapa udah terjawab, dan sisanya kelupaan. Susahnya jadi penderita ‘amnesia dadakan’ ini. Hahaha. Anyway, seperti biasa, blurb novel kak Windhy selalu menggambarkan inti cerita novelnya gitu, dan bikin penasaran setengah mati! Dan jelas puas banget setelah selesai baca. Dan seperti biasa, selalu ada pesan moral yang menyentuh tentang persahabatan dan cinta, dan romance-nya juga bikin klepek-klepek. Good job, kak! Love you! Keep writing, ya! <3

[Book Review] A Cat in My Eyes by Fahd Djibran


Judul Buku       : A Cat in My Eyes
Pengarang         : Fahd Djibran
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 190 halaman
My Rating          : 3 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Waktu kecil, kita sering bertanya, “Ma, aku keluarnya dari mana, sih?”atau “Pa, Tuhan itu siapa?” Tapi, semakin tua, kita semakin jarang bertanya. Hidup ini tidak lagi menarik tanpa pertanyaan. Monoton. Terjebak dalam rutinitas. Padahal, hidup yang nggak pernah dipertanyakan adalah hidup yang nggak layak diteruskan, kata Socrates. Nah, lho!

Mata kucing aja selalu bertanya. Coba, deh, tatap matanya. Sekarang giliranmu, nyalakanlah matamu dan bertanyalah!

“Saya ngiri sama Fahd. Dia sudah berani meninjau ulang kelaziman. Luar biasa!” - Bambang Q-Anees; Penulis, Penyair, Dosen Teologi dan Filsafat UIN Bandung

‘“Kontemplasi akan cinta, hidup, dan Tuhan,sangat terasa dalam tulisan-tulisannya. Meski kadang dibalut humor atau peristiwa sehari -hari yang kesannya sepele, sebenarnya ada kedalaman yang selalu dia ikut sertakan di sana.”  - Dewi ’Dee’ Lestari; Penyanyi, Novelis


THE AUTHOR

Fahd Djibran, menetap di Yogyakarta sambil terus belajar membaca dan menulis - mengakrabi buku-buku. Senang ngobrol dan berdiskusi. Mabuk buku-buku. Di waktu luangnya, ia menjadi Chief Creative Officer Otak Kanan dan memimpin redaksi di Juxtapose Korporasidea. Menyimpan minat yang besar pada musik, film, sastra, filsafat, spiritualitas, dan kreativitas.

(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Aku nggak tau mau mendeskripsikan buku ini seperti apa. Intinya buku ini kumpulan tulisan yang indah berisi ide-ide dan cara pandang sang penulis yang dicurahkan melalui diksi yang menarik. Seperti tagline-nya, buku ini emang memaparkan pertanyaan dan juga pernyataan – kadang penulis berusaha menjawab juga. Aku merasa buku ini seperti kumpulan filosofi in some sense, dan menarik untuk dibaca.


MY COMMENTARY


Walaupun aku suka membaca dan menulis, tapi sayangnya aku nggak memenuhi stereotipenya – you know, biasa yang suka baca dan nulis suka juga sama yang namanya sastra. Aku suka dan lumayan enjoy, sih, tapi entah kenapa aku cenderung bosan. Nah, buku ini ternyata sastra, dan yeah, aku nggak begitu tertarik, jujur aja. Entah kenapa buku ini berasa seperti buku kumpulan ide, dimana penulisnya bebas mencurahkan ide dan pandangan apa aja yang ada di otaknya, jadi rasanya tiap bab nggak begitu berhubungan satu sama lain. Aku suka ide dan cara pandangan kak Fahd, dan salut dia udah bisa nulis tulisan sedalam ini sejak SMA. Aku yang udah kuliah aja belum nerbitin sesuatu yang wow. Dan nggak jarang aku setuju dengan ide-ide yang dipaparkannya. Aku juga salut sama gaya menulisnya yang kece. Sampe dipuji mbak Dee yang udah terkenal itu, lagi.

Sama seperti buku ‘Derita Mahasiswa’ yang baru-baru ini kuresensi, buku ini juga udah kubaca sejak 9 bulan yang lalu, tapi kutinggal pergi untuk kuliah ke luar negeri, dan pas lagi pulang untuk liburan inilah aku sempet lanjut baca dan mereview-nya. Aku udah sedikit kehilangan feel-nya, tapi aku ingat, aku cukup irritated saat baca buku ini, bukan karena jelek, tapi karena not my cup of tea. Secara, selera orang berbeda-beda. Tapi, mau gimanapun, aku salut sama kak Fahd, karena model tulisan ini nggak semua orang bisa tulis. Aku pun nggak bisa – jelas sekali. Sama kayak mbak Dee, aku juga suka bab ‘Skizofrenia’ di buku ini. Aku setuju sama cara pandang kak Fahd, dan judul babnya emang keren. Hehehe.

Love the cover, too. Semacam maze, gitu. Cocok lah sama inti bukunya. Pertanyaan di otak kita emang nggak habis-habis, dan nggak semua bisa dijawab. Kadang, kayak terjebak di maze rumit dan kita nggak tau jalan keluarnya. Judulnya juga keren. Kucing, karena curiosity can kill a cat, ya? Entah apa hubungannya, sih, tapi menurutku cocok dan makes sense. Well, tapi kayaknya karna mata kucing yang selalu bertanya? Hehe. Dan hebat dicetul! Terus jadi ada tambahannya gitu, kan? Keren, keren.

Good job, kak! Maaf nggak bisa bilang banyak. Gimanapun, aku salut! Keep writing! :D

Friday, 4 July 2014

#11TanpaBatas 11 Buku GagasMedia yang WAJIB Dibaca?! SAY WHAT?


Before we start, SELAMAT ULANGTAHUN, GAGASAYANG!!!!!!!!!!! << iya, penting banget, kan, tanda serunya ada sebelas, karna emang ultah yang ke-11! 

Aku seneng banget aku lagi liburan di Indo pas ultahnya Gagas, karna penting banget aku bisa online 24 jam seharian ini. Kayak tahun lalu, Gagas kan, bagi-bagi buku! Dan lebih enak aja kalo nggak parah-parah amat LDR-nya #apasih. Tapi sayangnya, aku nggak online dari pagi karna tadi ujan+petir jadi modemnya terpaksa dimatiin supaya nggak rusak disamber petir #kokjadicurhat?

Aaaaaaaaaaaanyway (iya, hari ini serba 11), tantangan kali ini adalah (cieileh) menulis artikel tentang "11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca". Kenapa tantangan? Jelas banget nggak, sih, letak susahnya dimana? Semua buku GagasMedia WAJIB dibaca! Terutama yang udah kubaca. Yang belum aja aku merasa wajib baca. Jadi gimana, dong? 

...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...


Here comes the looooooooooong sigh! Mau nggak mau harus diterima juga, kan, tantangannya? Siapa yang nggak mau 11 buku terbaru GagasMedia? Hahahahahahahahahahaha!

Oke, mari kita mulai. Sebelumnya harus mengerutkan dahi sambil mikir keras dulu. Perlukah aku bikin urutan mundur dari 11 sampe 1 sesuai tingkat ke-'wajib'-annya? Ah, itu akan jadi lebih susah, tapi lebih seru. Mari dicoba.

Aku jelas akan nulis ini sesuai buku-buku Gagas yang udah kubaca, biar alasannya lebih jelas. Ini kan, sebagai bentuk rekomendasi buat pembaca-pembaca lain di luar sana. Aku udah baca cukup banyak (banget) buku-buku Gagas, dan untungnya aku data (hampir) semua di Goodreads, jadi mari diubek-ubek sambil mikir keras. Seleksi ini lebih menegangkan dari pemilihan presiden yang akan datang! #apasih

Sebelumnya (ini kapan mulainya, ya?), aku udah tau nih, berdasarkan apa aku milih 11 buku di bawah ini. Beberapa alasan dasar:
1. Ditulis penulis favoritku
2. Begitu diinget, aku langsung seneng sendiri
3. Ceritanya terlalu membekas, dan inilah yang menjadi sebab nomor 2

Okay, okay, here we go.

11. Rate My Love by Cassandra dan Ela

(https://www.goodreads.com/book/show/15787405-rate-my-love)

Jujur aja, aku agak kaget aku milih novel ini. Tapi entah kenapa, sekali liat judul novel ini di list "read" Goodreads-ku, aku langsung masukkin ini ke dalam daftar. Sedikit sejarah tentang novel ini, jelas banget ini novel lama yang langka, dan aku beli ini pun karna harus beli sepaket supaya bisa dapet novel yang aku mau. Aku lupa waktu itu beli paket ini demi novel apa. Yang jelas, harganya jadi murah aja karna termasuk paket dari seller online book shop di FB. Aku sama sekali nggak ekspek ini jadi novel yang kunikmati. Aku inget aku cuma perlu beberapa jam buat nyelesain novel ini. Selain karna tipis, unexpectedly novel ini page turner banget. Romance comedy is always the best! I found this book very entertaining, jadi novel ini emang pantas masuk ke list, walaupun di nomor 11. Lumayan, kan, sebagai pembuka? Novel ini bukan cuma sekedar romcom menye-menye, karna bermoral lesson juga, dan plotnya bener-bener brilian. Sederhana, tapi menyentuh hati.

10. Always, Laila by Andi Eriawan

(https://www.goodreads.com/book/show/18161208-always-laila)

Novel ini juga surprisingly masuk list. Aku tau aku suka novel ini, tapi banyak banget novel Gagas lain yang juga aku suka. Kurasa, novel ini emang spesial. Sama kayak novel "Rate My Love" di atas, begitu liat judul novel ini di Goodreads, aku langsung tertarik macam magnet untuk masukkin novel ini ke list. Aku suka gaya menulisnya yang beda - mungkin karna ditulis oleh cowok. Romantisme dalam novel ini terasa berbeda, dan alurnya menarik. Terus latarnya lokal tapi penulis bikin jadi menarik banget. Bandung kuno gimana gitu. Berasa vintage, and I love it. Jelas banget kenapa novel ini repackaged.

9. Till We Meet Again by Yoana Dianika

(https://www.goodreads.com/book/show/11560776-till-we-meet-again)

Kalo yang ini, aku tau bakalan masuk list. Yang bikin novel ini spesial adalah rasa manis yang diciptakannya. Musik dan Wina. Kisah cinta manis dan masa lalu. Alur yang misterius dan tak tertebak. Karakter-karakter yang lovable. Ini novel kak Yoana yang pertama kali kubaca dan sejak baca novel ini aku jadi ngefans sama kak Yoana. Pokoknya aku suka! Jadi jelas wajib dibaca, dong!

8. Let Go by Windhy Puspitadewi

(https://www.goodreads.com/book/show/7363495-let-go)

Dulu, waktu jaman-jamannya aku tergila-gila sama novel yang full romance, aku jelas berekspektasi novel ini juga sejenis, tapi ternyata, novel ini lebih ke persahabatan. Ada sih, romance-nya, tapi sangat minim. Normalnya, aku kecewa, tapi ternyata, novel ini beda! Aku bener-bener tersentuh, dan sejak baca novel ini, aku jadi ngerti kalo novel kayak ginilah yang lebih worth to read. Pesan moralnya tinggi, dan menyentuh hati banget, deh! Ini novel kak Windhy yang kubaca dan aku langsung jadi fansnya! 

7. Melbourne: Rewind by Winna Efendi

(https://www.goodreads.com/book/show/17898650-melbourne)

Banyak yang suka novel ini, tapi banyak juga yang bilang, alur ceritanya biasa aja. Aku setuju. Tapi, itulah yang bikin kak Winna jadi penulis favoritku. Semua tulisannya emang beride sederhana, tapi somehow, selalu mengikat hati. Aku suka banyak hal dari novel ini. Musik, kisah dari masa lalu, cahaya, semuanya bikin novel ini jadi manis banget. Belum lagi ada kisah spesial di balik novel ini. Kalo kalian pernah baca postinganku untuk ultah Gagas tahun lalu (yang ini nih: 10 Buku GagasMedia Pilihanku), pasti tau kenapa. Intinya itu kado sweet 17th dari salah satu teman baikku, dan nggak disangka-sangka, jadi ya, makin spesial, deh. Terus waktu itu lagi kangen berat sama karya kak Winna, jadi pas bacanya seneng banget. Aku suka playlist novel ini. Dan karakter-karakternya seperti biasa lovable. Diksi kak Winna juga bener-bener menggugah hati. Pokoknya aku suka! Dan aku sengaja taruh novel ini di nomor 7 karna itu angka favoritku. 

6. Infinitely Yours by Orizuka

(https://www.goodreads.com/book/show/12224527-infinitely-yours)

Ini novel Gagas pertama yang kubaca, dan novel kak Ori yang pertama kali kubaca juga. Novel ini jelas spesial, karena sejak baca novel ini, aku jadi kecantol sama terbitan Gagas dan karyanya kak Ori. Dan yang bikin tambah spesial, novel ini bertema Korea! Bukan, aku bukan fans Korea. Aku bahkan agak "anti". Awalnya aku bahkan nggak niat baca karena temanya itu. No offense, loh, ya. Tapi kayaknya emang udah jodoh. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk temen, aku pun penasaran dan coba baca. Dan ternyata, BAGUS! Terutama karena tokoh utamanya orang Indo, dan lovable banget! Terus kak Ori emang hebat, deh. Gaya ceritanya asyik dan kocak. Pokoknya seru banget bacanya. Ngakak terus sampe sakit perut! Ini yang bikin aku salut sama kak Ori. Udahlah bikin aku jadi mau baca novel Korea, bikin aku suka, lagi! Not an easy thing, FYI. Lol. Dan yeah, kak Ori jadi penulis favoritku <3

5. Hanami by Fenny Wong

(https://www.goodreads.com/book/show/15844617-hanami)

Satu hal tentang novel ini: tebal. Aku nggak tau aku suka novel tebal ato tipis, yang penting bagus. Tapi novel ini bukannya panjang dan membosankan. Bisa dibilang novelnya tebel karna tulisannya gede-gede, dan itu poin plus karna jadi lebih nyaman bacanya. Aku suka banget jalan ceritanya. Sama seperti novel lain yang kusuka, karakter-karakternya lovable, dan ini emang salah satu hal penting buatku. Alur dan konfliknya nggak tertebak, dan walaupun udah banyak novel berlatar di Jepang, novel yang satu ini bikin aku merasa kayak beneran lagi di sana. Suka, suka, suka! Manis banget, pokoknya <3


(https://www.goodreads.com/book/show/15865291-draf-1)

Haha, jelas aja di list ini ada lebih dari satu novel kak Winna, karna kan jelas, dia penulis favoritku. Aku bahkan susah payah milih novel/bukunya yang mana yang mau kumasukkin ke sini. Aku masukkin buku ini karna ini buku yang bikin aku langsung kebelet ke Gramed buat pergi beli. Dan jelas sangat puas! Aku emang mau jadi penulis, dan buku ini bener-bener memotivasi aku banget! 

3. Unbelievable by Winna Efendi

(https://d.gr-assets.com/books/1258361780l/7151857.jpg)

Yup, dari kak Winna lagi. Hehehehehehehehehehehe! Well, novel ini unik menurutku, walaupun lagi, ide ceritanya sederhana aja. Menurutku ini agak beda dengan novel kak Winna yang lain. Agak jarang sih, tokoh utama ceweknya kayak Maybella, dan novel bertema cerita yang ada clique-clique-nya gitu juga agak jarang buatku. Seru aja bacanya, lucu juga. Aku suka karakter utamanya, Mario-Maybella alis Mayrio! Ini novel lama yang langka lagi, jadi butuh perjuangan buat dapetinnya, dan pas baca, aku juga lagi kangen karya kak Winna, jadi berasa seneng banget!

2. Paris: Aline by Prisca Primasari

(https://www.goodreads.com/book/show/17212431-paris)

Novel seri Setiap Tempat Punya Cerita yang pertama, dan aku antusias banget sama seri ini. Aku langsung beli dari yang pertama ini, kado ultah ke17 dari adikku tersayang. Aku yang milih, sih, bukan karena dia tau aku mau novel ini, but still, I really appreciated it! Tipis, tapi cerita di dalamnya luar biasa! Mulai dari kovernya yang ijo keren (warna favorit), desain layout yang selalu kece seperti biasa (Gagas gitu, loh!), sampai ke isinya. Settingnya sih, umum banget, di Paris, tapi yang bikin novel ini beda, kak Prisca nampilin sisi yang berbeda dari Paris. Bukan melulu Eiffel Tower, tapi justru tempat-tempat unik dan aneh yang nggak pernah disebut (atau jarang lah, nggak tau juga) di novel lain. Terus, walaupun lovable, karakter-karakternya beneran unik. Bukannya Mr. and Ms. Almost Perfect, tapi justru karakter cewek dan cowok utama yang rada 'aneh' - dan itulah yang bikin unik. Novel ini romantis, tapi lebih ke petualangan dan kekeluargaan, gitu, deh. Pokoknya beda banget! Dan kerennya, kak Prisca cuma nulis novel ini dalam sebulan, dan ngakunya nggak banyak persiapan. Duh, penulis hebat emang beda, ya? Pokoknya suka, suka, suka, suka, suka, suka, suka, suka, suka, suka, suka!

1. The Truth about Forever by Orizuka

(https://www.goodreads.com/book/show/17841894-the-truth-about-forever)

Sebenernya, susah banget mau nentuin yang mana yang nomor satu. Lebih susah dari milih capres, serius! Lol. Dan nomor satupun jatuh ke novel ini, karena novel ini dari penulis favoritku, terus bukan sembarang novel. Novel lama yang langka, yang susah payah kudapatkan, terus tiba-tiba dicetul dan aku menang GA berhadiah novel berkover barunya, jadi yang kover lama yang susah payah kudapatkan aku kasih ke sahabatku. Still, aku seneng banget. Novel ini bukan novel romantis menye-menye, tapi ngajarin banyak hal - tentang cita-cita, forgiveness and love, serta kekeluargaan. Tokoh utama ceweknya mau jadi penulis, sedangkan tokoh cowoknya mau jadi pembuat film. Kurang apa lagi, coba? Itu dua hal yang aku cinta banget! Again, lovable characters. Sad and touchy ending, tapi aku bener-bener puas. Salut berat sama kak Ori! Dan makasih banyak, Gagas, karna bersedia cetul novel ini <3 


Nah, gimana sejauh ini? Not bad, kan? Not bad at all! Semoga artikel ini bikin kalian kebelet pipis, eh, ke Gramed ato toko buku mana aja untuk ngeborong novel rekomendasiku ini. Dijamin nggak akan nyesel! Tahun ini aku nggak sesemangat tahun lalu, karna tahun lalu itu ultah Gagas pertama buatku. Tapi don't get me wrong, jelas aku tetep semangat!!!!!!!!!!! Nggak perlu bukti lebih, kan? :p

Tahun lalu aku dapet 10 buku dari Gagas (sebelas, sih), dan aku berharap, tahun ini hoki dan dapat lagi. Berharap nggak salah, kan? Hehehehehehehehehehehe. Dan, oh.

ONCE AGAIN, HAPPY BIRTHDAY GAGASAYANG! 11 TANPA BATAS! STAY AWESOME! I LOVE YOU TANPA BATAS! <3 <3


Sekian dan terima kasih.


Love,



Me

Thursday, 3 July 2014

[Book Review] Call Me Miss J by Orizuka



Judul Buku       : Call Me Miss J
Pengarang         : Orizuka
Penerbit           : Teen Noura
Jumlah Halaman : 332 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Tujuh alasan kenapa aku benci dipanggil Miss J:

7. Nama itu semacam pengingat kalau aku punya masalah penampilan.

6. Nama itu dikasih oleh orang yang paling kubenci sejagat raya.

5. Nama itu bikin aku ditertawakan seisi kantin.

4. Nama itu bikin aku terkenal (tidak dalam artian baik) dan jadi objek mading di sekolah.

3. Nama itu membuatku dihukum seminggu.

2. Nama itu bikin cowok yang kusukai bilang aku perlu berubah.

1. Praktisnya, nama itu bikin MALU.

Bisa bayangkan penderitaanku? Aku kan sudah kelas sebelas!

Bagaimana aku bisa memulai romansa SMA-ku kalau terus menerus dipanggil Miss J?


THE AUTHOR

Bernama lengkap Okke Rizka Septiana. Gadis penggemar thriller yang senang mempelajari berbagai bahasa asing ini lahir di Palembang dan besar di Cirebon. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan musik serta fangirling bersama Kpoppers. Karya-karyanya antara lain: "Me & My Prince Charming", "Summer Breeze" (repackage: That Summer Breeze), "Duhh... Susahnya Jatuh Cinta...!" (repackaged: Meet The Sennas), "Miss J" (repackaged: Call Me Miss J), "High School Paradise", "Fight for Love!", "Love United: High School Paradise 2nd Half", "The Truth about Forever", "17 Years of Love Song", "The Shaman", "FATE", "Our Story", "I for You", "With You", "Best Friends Forever", "The Chronicles of Audy: 4R", "Oppa and I", "Oppa and I: Love Missions", "Oppa and I: Love Signs", "Infinitely Yours". 


(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Lea merasa kehidupan SMA-nya benar-benar sengsara. Sudahlah masa puber menyerang wajahnya dengan sadisnya sehingga jerawat memenuhi wajahnya dan susah dihilangkan, musuh bebuyutannya pakai acara menjulukinya “Miss J” yang semakin merusak reputasinya. Endless war antara Lea dan musuh bebuyutannya itu pun mengambil andil besar dalam penderitaan semasa SMAnya. Kisah cintanya pun cukup mengenaskan. Lea berjuang cukup keras untuk mengambil hati cowok dambaannya sampai terbutakan oleh hal-hal lain yang jauh lebih berharga. Setelah jatuh-bangun selama masa kelas sebelasnya yang menyengsarakan, Lea akhirnya belajar begitu banyak dan berhasil mengatasinya.


MY COMMENTARY


Satu kata buat novel ini – KOCAK! Aku tau kak Ori emang kocak orangnya – semua karyanya selalu bikin perut sakit saking banyak ngakaknya. Novel ini murni teenlit – I mean, seperti teenlit biasanya, lah. Ceritanya ringan dan agak umum – baik alur serta konfliknya, tapi seperti biasa, gaya bercerita kak Ori yang menyenangkan dan mengalir membawaku hanyut dalam arus tawa. Dan seperti biasa, aku selalu jatuh cinta sama tokoh-tokohnya, terutama male lead chara-nya.

Dari awal aku udah tau siapa nama tokoh cowoknya, dan aku juga udah yakin I would fall for him. Jadi sejak mulai baca, aku udah nunggu-nunggu munculnya si cowok ini (aku tiba-tiba nggak pengen sebut namanya, biar yang nggak tau apa-apa ikut penasaran pas bacanya. Hehehehe *evil laugh*). Aku cuma mau kasih tau nama team yang kuciptakan untuk novel ini. Aku jelas #TeamLeya, karena #TeamLemas kedengarannya aneh, kan? Dan aku juga suka tiga sahabat Lea + Rio! (nope, bukan Rio nama tokoh cowok utamanya yang bikin aku klepek-klepek, walaupun aku juga suka si Rio kece ini). Sayangnya, ada satu misteri yang belum kejawab di novel ini, si Rio itu suka siapa? Aku cukup yakin awalnya, siapa yang dia suka, tapi sampe di akhir nggak ada disebut. Aku jadi penasaran! *mari kita todong penulisnya* lol! Dan nama musuh bebuyutan Lea itu genius banget, sumpah!

Novel ini novel lama kak Ori yang cetul, jadi jelas aku seneng, karna nyari novel lama kak Ori itu susah – langka banget. Tapi ternyata, setelah cetul pun, novel ini tetep langka. For some reason, di toko buku kotaku susah banget nyari novel ini. Akhirnya setelah bertahun-tahun (ya kali) nunda-nunda terus, akhirnya aku kesampean beli dan baca novel ini. Dan seperti biasa, aku puas banget setelah selesai baca novel karya kak Ori. Aku salut berat sama kak Ori. Novel lamanya pun bagus-bagus. Novel yang ini lebih ke komedi, sih. Ada persahabatan dan romance-nya juga, tapi bukan novel sedih yang touching. Tetep page turner, dan tetep ada moral lesson-nya, walaupun bisa kasih salah pengertian. Aku yakin kak Ori nggak bermaksud mengajarkan pembacanya untuk membalas dendam ke musuh bebuyutannya, tapi kak Ori mau menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hahaha!

Suka cover-nya yang kuning terang and so eye-catching! Sama gambar dua sweater di setiap halaman bab baru… Aku belakangan baru ngeh, dan yang nanti udah baca pasti ngeh juga dan jadi berbunga-bunga sendiri gitu (ato cuma aku aja, ya?). So, yeah, jelas novel ini recommended. Novel kak Ori yang mana, sih, yang nggak bikin aku seneng, dikasih rating 5 of 5, sama jadi recommended novels dariku? Hahaha. Well done, Kak! I adore you! Keep writing, ya! <3


[Book Review] Derita Mahasiswa by @deritamahasiswa


Judul Buku        : Derita Mahasiswa
Pengarang          : @deritamahasiswa
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 248 halaman
My Rating          : 3 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Gue membuka pintu kelas. Begitu gue lihat ke depan, seketika gue melongo kaget. Seakan-akan ada sutradara yang teriak, "Freeze!"

Demi kentang goreng! Asisten dosen yang lagi berdiri di depan adalah Ruri Khairunnisa, mantan gebetan yang seangkatan sama gue dulu.

Ruri diem, gue diem, seluruh kelas diem. Dan semua pandangan tertuju pada gue. Dengan suaraagak terbata-bata, Ruri berkata tegas, "Mas, saya nggak peduli Anda angkatan berapa. Bagi siapa aja yang terlambat, nggak saya izinkan mengikuti perkuliahan. Silakan Anda keluar dantutup kembali pintunya. Terima kasih."

Bagi gue, nggak ada kata "lulus dengan mulus" saat menjalani masa kuliah. Kenyataannya, masa kuliah gue penuh derita. Di setiap semester selalu ada aja hal-hal konyol yang bikin gue ngurut dada atau garuk-garuk kepala dan cuma bisa ngebatin, "Apes banget sih, gue."

Kejadian-kejadian konyol semasa kuliah itu nggak bikin gue kapok menyandang status mahasiswa. Ini adalah kisah gue, mungkin juga kisah lo atau sebagian mahasiswa di luar sana, yang udah nggak keitung berapa kali dapat sepet pahitnya pengalaman di kampus, tapi pada akhirnya bakal bilang, "Anjrit, gue pengin balik jadi mahasiswa lagi!"


THE AUTHOR

Derma memulai kariernya sebagai perternak sapi perah yang sukses menyebarkan tren susu sapi rasa rambutan. Sempat menjadi Joki Absen Kuliah tapi gagal terkenal karena lebih sering menitipkan absen. Derma juga menjabat Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Pesumo (Pendamping Wisuda Mahasiswa Jomblo) untuk dua periode.

Derma memiliki tujuan untuk melestarikan moto mahasiswa "Bhinneka Tunggal Ipeka" yang memiliki arti berbeda-beda ipeka tapi tetap satu. Dengan moto mahasiswa ini, Derman berharap semua mahasiswa tetap dipandang sama pintarnya meskipun IPKnya berbeda-beda.

(Sumber: Profil Author di bagian belakang buku)


MY SUMMARY


Derita Mahasiswa, seperti judulnya, merupakan pelit – personal literature mengenai kehidupan kuliah sang penulis yang cukup ‘tragis’. Mulai dari OSPEKnya yang menyedihkan dan sial, sampai sidang skripsi yang akhirnya dihadapi. Pembaca akan dibawa mengarungi arus jatuh-bangun sang penulis selama masa kuliahnya yang susah tapi kocak – membuat pembaca merasa bersalah karena menertawakan penderitaan orang lain, tapi justru memang itu kan, salah satu tujuan buku ini?




MY COMMENTARY


Aku nggak bisa bilang banyak soal buku ini, karna bukan my cup of tea. Aku enjoy, sih, bacanya – lucu dan menarik. Aku baru masuk kuliah, dan kuliahku beda sama kuliahnya Mbah Derma, jadi jelas ini baru buatku. Seru juga ngikutin ceritanya. Sayangnya, aku mulai baca buku ini sekitar 9 bulan yang lalu, terus nggak sempat selesein karena pindah kuliah ke luar negeri, dan baru sempet selesein sekarang, pas liburan dan pulang kampung. Aku nggak baca ulang dari awal karna males, jadinya lanjut where I left off, deh. Masih lumayan nyambung sama ceritanya, tapi udah agak lupa, jadi feel-nya udah agak hilang.

Above all, Mbah Derma emang bakat melucu. Cerita yang bisa aja jadi biasa-biasa aja, jadi lucu dan seru waktu diceritain dengan gaya melawaknya Mbah Derma. Belum lagi ilustrasi-ilustrasi berwarna yang mendukung ceritanya. Menarik banget. Soal cover dan desain layout yang menarik emang nggak perlu ditanya, ya. Penerbitnya GagasMedia, gitu loh. Selalu tau caranya menarik hati pembaca.

Mbah Derma emang jelas nama pena, yang menurutku kreatif banget. Pas, ya, Derita Mahasiswa bisa disingkat jadi Derma. Good job, Mbah. Aku curiga kamu itu bang Raditya Dika, soalnya kocak dan gaya ceritanya mirip. Tapi kayaknya bukan, soalnya bang Dika kuliah di luar negeri, kan? Berarti Mbah hebat, udah sekece bang Dika! Keep writing!

Wednesday, 2 July 2014

[Book Review] Incognito by Windhy Puspitadewi


Judul Buku        : Incognito
Pengarang          : Windhy Puspitadewi
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 208 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!

Semua bermula ketika mereka harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang pemuda bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.

Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri.


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Sisca dan Erik tidak pernah akur, terutama karena ‘dendam’ Erik pada Sisca sejak hari pertama mereka masuk SMP. Sialnya, mereka malah selalu duduk di kelas yang sama, masuk ke SMA yang sama, ditugaskan dalam satu kelompok yang sama pula. Walaupun sering bertengkar setiap kali bertemu, mereka tetap mengerjakan tugas sekolah mereka itu bersama. Mereka memutuskan untuk pergi ke Kota Lama dan mengambil beberapa foto di sana. Satu kesamaan di antara mereka, mereka sama-sama tertarik dengan petualangan menjelajah waktu. Erik percaya hal itu sungguhan dapat terjadi, sedangkan Sisca tidak, tapi saat mereka mengalaminya sendiri, mereka pun menjadi sama-sama percaya, walaupun sama sekali tidak menyangka hal itu akan terjadi dalam hidup mereka.

Mereka pun berpetualang menjelajahi waktu bersama seorang cowok asing bernama Carl. Mereka bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal yang hanya mereka kenal lewat sejarah. Hal-hal yang tak pernah mereka bayangkan dapat terjadi dalam hidup mereka, tiba-tiba saja ada di depan mata untuk dihadapi. Mereka bertiga pun belajar mengenai banyak hal sepanjang perjalanan mereka bersama – mengenai pentingnya sejarah dan waktu, persahabatan, cinta, makna hidup dan juga keluarga. 


MY COMMENTARY

Dari awal aku udah tau, teenlit ini bukan sembarang teenlit, dan jelas bakal jadi salah satu favoritku. My cup of tea banget. Aku suka kisah fantasi dan petualangan. Aku juga suka romance, tapi jauh lebih suka kalo romance-nya itu di-wrap sama genre lain. Fantasy + adventure + romance = awesomeness! Belum lagi ada unsur-unsur komedinya. Kak Windhy emang kocak, sih, orangnya, jadi aku suka banget sama karya-karyanya. Di halaman ketiga aja aku udah ketawa. 
Emang dasarnya aku emang suka kisah petualangan menjelajah waktu, jadi aku klop banget sama novel ini. Aku suka sejarah, tapi karena sejarah itu sahabatan baik sama rasa bosan, jadinya aku seringan males, deh. Nah, novel ini pas banget buat aku, karena ada bawa-bawa sejarahnya, tapi nggak ngebosenin sama sekali. Justru menarik banget! Dan kayaknya novel ini novel yang paling butuh begitu banyak riset, deh. Aku nggak ingat ada novel lain yang penulisnya spent banyak waktu buat riset. Jadi, salut berat sama kak Windhy! Apalagi di ‘Writer’s Note’-nya ada dijelasin apa aja yang harus kak Windhy lakukan demi nulis novel ini. Keren banget, deh. Deskripsinya bagus dan detail, seakan-akan kak Windhy pernah menjelajah waktu beneran *kemudian jadi curiga* lol!
Selain sejarah, aku jadi bisa belajar dua bahasa, lagi – Belanda dan Jepang! Awalnya agak pusing sih, karena ngomongnya nyampur-nyampur. Tapi karena habis itu ada diterjemahin, jadi asyik juga. Sekalian belajar, gitu. Dan kerennya bisa ada satu kalimat full bahasa Belanda atau Jepang, gitu. Itu pasti susah, deh. Harus ngerti bahsanya dulu. Walaupun pembaca juga belum tentu tau itu salah ato benar, penulis tetap bertanggung jawab kasih yang benar – nggak boleh abal-abal, dan aku percaya kak Windhy orangnya begitu – bertanggung jawab sama apa yang ditulisnya. Dan bagusnya kak Windhy nggak sok-sokan, pake bahasa asing terus. Cuma awalnya doang, terus seterusnya pake bahasa Indonesia, tapi ceritanya mereka pake bahasa asing, gitu. Jadi kak Windhy nggak repot kasih dua bahasa, dan pembaca nggak capek juga bacanya. 
Nah, udahlah belajar sejarah, belajar dua bahasa baru, aku juga belajar pesan moral yang emang dari awal aku sukai mengenai penjelajahan waktu. Mungkin kalo dulu ditanya, “Kalo aku bisa balik ke masa lalu, apa yang ingin kamu ubah?” aku bakal bikin list hal-hal apa aja yang mau kuubah. Tapi belakangan aku makin sadar, semua hal terjadi karena emang harus begitu, dan kalo ada satu hal aja yang diubah di masa lalu, efeknya bakal kayak domino. Novel ini juga ngajarin hal yang sama, jadi nambah poin plusnya. Selain itu, ada tentang persahabatan, cinta, dan kekeluargaan juga, jadi novel ini berwarna-warni. 
Tokoh-tokohnya juga unik dan lovable. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, jadi berasa realistis. Chemistry antar tokohnya juga berasa, terutama tokoh-tokoh utamanya – Sisca, Erik, Carl. Tokoh-tokoh sampingan terutama yang dari masa lalu juga berasa hidup, bikin aku jadi penasaran, gimana ya, kalo aku beneran bisa ketemu tokoh-tokoh yang cuma kukenal lewat buku sejarah? Aku nggak tau soal Musashi, sih (sama kayak Carl), tapi pasti tetep keren. Aku tau aku mau ngapain kalo ketemu sama Archimedes dan Charles Darwin. Pertama, aku mau tabok mereka karena udah bikin aku repot harus mempelajari teori-teori dari mereka, tapi habis itu aku mau meluk mereka karena aku tau, mau gimanapun, mereka itu berjasa banget. Hehehe.
Alurnya mengalir banget, jadi seru hanyut dalam arusnya. Cuma butuh satu hari – nggak seharian full, lagi, buat nyelesein novel ini. Page turner, that’s the word! A lot of surprises, walaupun bisa aja dari awal udah ketebak, tapi somehow kak Windhy bikin hal-hal itu nggak ketebak. Mungkin karna alurnya yang mengalir, ya, jadinya nggak kepikiran, gitu. Entahlah, yang jelas, begitu selese baca, aku merasa puas banget. Pertanyaan-pertanyaan yang bikin aku penasaran di awal, semuanya kejawab seiring perjalanan. Dan aku jelas Team Sirik – Sisca-Erik. Bangga, nih, bisa bikin gabungan nama tokoh lagi. Dan pas juga aku emang sirik sama mereka, terutama sama Sisca. Enak banget bisa sama Erik terus. Mana Erik keren dan sweet banget, lagi! Terus pake topinya Heiji Hattori, kya! Ngomong-ngomong, aku baru potong rambut, dan tanpa disengaja modelnya jadi mirip Sisca #pentingbangetya. Hahaha!
Oke, lanjut ke cover dan desain layout. Cover-nya, terutama yang baru, attractive banget, aku suka! Cover serta blurb-nya memberi gambaran tentang inti cerita novelnya, dan bikin makin penasaran sama isinya. Sayangnya novelnya tipis, dan tulisannya besar, lagi, jadi ceritanya emang singkat aja. Tapi, font yang besar justru bikin pembaca nyaman bacanya, dan walaupun singkat, tetap entertaining dan memuaskan banget. Sama sekali nggak nyesel udah beli. 
Apa lagi, ya? Kayaknya itu aja. Kekurangan? Apa, ya. Aku nggak merasa ada yang mau kusebut, sih. Typo pun rasanya nggak ada. Hahaha. Recommended! Good job, Kak! Keep writing, ya! <3