Menu

Tuesday, 24 June 2014

[Book Review] 17 Years of Love Song by Orizuka


Judul Buku       : 17 Years of Love Song
Pengarang         : Orizuka
Penerbit           : Puspa Swara
Jumlah Halaman : 206 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

"Nana, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada di sampingmu. Menemani sepimu. Menghapus air matamu. Menjadi kekuatanmu. Aku ingin menjagamu. Aku ingin kau hanya menyusahkanku dan bergantung padaku."

Begitulah Leo, penyuka baseball yang pendiam, berkata dalam hatinya. Nana, gadis berkursi roda yang ia temui di sebuah padang ilalang indah di belakang sekolahnya, telah membuat dirinya berubah. Dari anak kota yang meremehkan kondisi kampung yang ia tinggali, Leo justru menemukan segalanya di sana. Persahabatan, tanggung jawab, sampai cinta. Namun, saat-saat indah itu hanya sekejap. Musibah yang datang bertubi-tubi memisahkan Leo dengan penyemangat hidupnya, Nana. Lima tahun Leo sibuk menyelusuri jejak gadis itu tanpa lelah. Saat bertemu kembali, Leo sadar bahwa semuanya telah berubah. Apalagi, Leo kini sudah punya idaman lain bernama Raras. Berhasilkah Leo dan Nana merajut kembali kenangan-kenangan yang indah seperti dulu? Atau seseorang harus ada yang kalah?


THE AUTHOR

Bernama lengkap Okke Rizka Septiana. Gadis penggemar thriller yang senang mempelajari berbagai bahasa asing ini lahir di Palembang dan besar di Cirebon. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan musik serta fangirling bersama Kpoppers. Karya-karyanya antara lain: "Me & My Prince Charming", "Summer Breeze" (repackage: That Summer Breeze), "Duhh... Susahnya Jatuh Cinta...!" (repackage: Meet The Sennas), "Miss J" (repackage: Call Me Miss J), "High School Paradise", "Fight for Love!", "Love United: High School Paradise 2nd Half", "The Truth about Forever", "17 Years of Love Song", "The Shaman", "FATE", "Our Story", "I for You", "With You", "Best Friends Forever", "The Chronicles of Audy: 4R", "Oppa and I", "Oppa and I: Love Missions", "Oppa and I: Love Signs", "Infinitely Yours". 
(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Novel ini menceritakan seorang pemuda pecinta baseball bernama Leo. Perceraian kedua orangtuanya membuatnya harus memilih dengan siapa dia akan tinggal. Dia memilih untuk tinggal bersama ibunya, jadi dia harus ikut pindah dari Jakarta ke Purwakarta, kampung halaman ibunya. Si pendiam Leo nggak menyukai keramaian maupun bergaul. Itulah sebabnya, di jam istirahat, dia lebih senang menyendiri dibanding pergi jajan ke kantin yang penuh sesak oleh murid-murid lain.

Saat dia sedang bermain-main dengan bola baseball-nya di sebuah padang ilalang di belakang sekolahnya, dia bertemu dengan seorang gadis manis bernama Nana, yang ternyata selalu menyendiri di padang ilalang itu pada jam istirahat. Sejak saat itu, dia dan Nana menjadi teman baik. Mereka selalu menghabiskan jam istirahat mereka di padang ilalang itu. Tanpa sadar, mereka saling jatuh cinta. Mereka merajut kenangan-kenangan indah bersama selama waktu yang singkat itu, tanpa mengetahui apa yang menanti mereka di masa yang akan datang. Kebersamaan mereka pun tak berlangsung lama. Ibu Leo mengajak Leo kembali pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Hal itu membuat Leo maupun Nana merasa sedih, namun Leo berjanji dia akan sering-sering berkunjung.

Namun, sejak kepindahan Leo, banyak hal yang menghalangi pertemuan mereka kembali. Berbagai musibah datang bertubi-tubi dan memisahkan mereka. Selama lima tahun mereka terpisah, akhirnya benang merah kembali mempersatukan mereka. Walaupun ada banyak rintangan yang menghadang, tapi mereka tetap berhasil merajut kisah cinta mereka kembali. Namun, di luar dugaan, mereka kembali terpisah dan tak pernah bisa bersatu kembali, meninggalkan kenangan pahit-manis dan suka-duka dalam kisah cinta mereka. Mereka berbeda dunia, namun tetap memiliki hati masing-masing.


MY COMMENTARY

Kisah ini dimulai dari Leo yang udah beranjak dewasa, lalu bergerak mundur, mengenang memori dimana Leo baru pindah ke Purwakarta, lalu bertemu Nana, dan maju terus hingga kembali ke masa kini. Alurnya yang mundur-maju ini sangat menarik, membangkitkan rasa penasaranku. Apalagi dengan adanya sepatah dua patah kata di setiap akhir bab yang mengungkapkan isi hati Leo pada Nana, yang memercikan api penasaran di hatiku, membuatku ingin terus membaca ke halaman selanjutnya.

Walaupun ide ceritanya bisa dibilang cukup sederhana, nggak terlalu banyak konflik yang menegangkan, tapi kak Ori berhasil mengolahnya menjadi kisah cinta yang mengharukan. Setiap adegan kecilnya diisi dengan hal-hal unik yang menarik perhatianku. Percikan-percikan keromantisan di setiap babnya sanggup membuatku terbang ke langit ketujuh. Pemilihan kata-katanya tergolong simpel, nggak terlalu puitis ataupun menghanyutkan seperti novel-novel kak Ori yang selanjutnya, tapi bahasanya yang simpel dan komunikatif itulah yang mudah dicerna olehku dan tetap aja sanggup membawaku tenggelam dalam arus ceritanya.

Adanya twist di beberapa adegan membuat novel ini semakin menarik. Kak Ori nggak lupa menyuntikkan adegan-adegan lucu untuk menghibur para pembaca. Bahkan, ada beberapa adegan lucu yang terselip dalam adegan serius. Hal ini membuat kisahnya nggak membosankan. Seperti biasa, kak Ori sukses menghidupkan tokoh-tokohnya. Tokohnya terasa begitu realistis dengan kepribadian-kepribadian yang unik.

Sampulnya yang menampilkan siluet seorang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersebelahan sambil menikmati matahari terbenam di pinggir pantai benar-benar menggugah hati. Selain itu, gambar itu juga cocok untuk dijadikan simbol yang menggambarkan isi novel ini. Judul yang digunakan juga sesuai dengan isi novel. Sangat menarik. Dengan melihat sampul dan judulnya aja, para pembaca udah bisa menebak bahwa novel ini novel romantis. Tapi tetep aja, nggak ada yang bisa nebak alur ceritanya.

Sayangnya, desain layoutnya kurang mendukung dan kurang menarik. Spasinya yang terbilang rapat membuatku kurang nyaman saat membaca, ditambah lagi dengan jenis fontnya yang kurang enak dipandang dan ukuran yang agak kecil. Selain itu, halamannya yang tipis membuat pembaca mengira kisah di dalamnya singkat, kurang memuaskan. Namun, di balik kisah singkat itu, ada banyak hal romantis dan mengharukan yang memberi kesan mendalam bagiku. Akhirnya yang mengharubiru pun membuatku puas setelah membacanya. Dan yang bikin novel ini spesial, ini buku pertama yang aku beli via online. Hehehe. Recommended! Well done, kak. Keep writing!

Monday, 23 June 2014

[Book Review] Andai Kau Tahu by Dahlian


Judul Buku       : Andai Kau Tahu
Pengarang         : Dahlian
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 366 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Pengakuannya membuatku merona. Dalam sesaat aku terpaku memandangnya... seolah ia hanya imaji belaka. Bahwa semua ini hanya mimpi di suatu malam.

Seolah tak mengerti kejengahanku, kejujuran demi kejujuran meluncur keluar dari bibirnya. Tentang pujian tulusnya akan maknaku di hidupnya. Tentang harapannya akan diriku yang hadir di hidupnya selamanya.

Aku belum cukup mengenalnya. Aku tak pernah memikirkannya. Jadi, bagaimana caraku mengatakan yang sebenarnya, bahwa perasaanku dan perasaannya tidak berada di garis yang sama?


THE AUTHOR

Dahlian (nama pena), pernah berkuliah di UI dengan jurusan Sastra Cina. Sebelum menulis dengan nama pena Dahlian, dia dikenal karena lima buah novel komedi, terbitan GagasMedia, lalu nekat berkolaborasi menulis novel romance dengan teman kuliahnya yang juga penulis, Gielda Lafita. 
(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Cinta akan datang dengan sendirinya tanpa diundang. Begitulah seharusnya. Cinta datang tanpa disangka-sangka, tetapi selalu datang tepat pada waktunya. Waktu yang dimaksud di sini tidak sama dengan waktu kita. Terkadang kita merasa cinta datang terlambat, tapi sebenarnya, kita yang terlambat menyadarinya. Atau kadang kita merasa cinta datang pada waktu yang salah, tapi sebenarnya, ada maksud tertentu di balik semua itu.

Begitulah yang Tania rasakan. Cinta menjadi sesuatu yang membingungkan baginya. Cinta yang dikejar-kejarnya malah mencampakkannya begitu saja. Sedangkan cinta yang tak diharapkannya malah datang pada waktu yang salah. Tania mencintai Hendrik, namun takdir berkata lain. Ayahnya malah menjodohkannya dengan anak sahabatnya yang juga berprofesi sebagai dokter, dengan tujuan mewariskan rumah sakit milik sang Ayah kepada calon menantunya itu. Tentu saja Tania menolak mentah-mentah. Selain karena kebenciannya pada sang Ayah dan sikap otoriternya, dia juga mencintai pria lain.

Akhirnya, Tania memutuskan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah kekasihnya. Namun ternyata, kekasihnya malah berselingkuh dan mencampakkannya begitu saja. Di tengah keputusasaannya itu, seorang pria datang membantunya. Memberinya perlindungan dengan tulus dan menolongnya setiap dia mengalami masalah. Walau awalnya Tania sulit untuk melepaskan kekasihnya dan nggak begitu cocok dengan pria yang menjadi pahlawannya itu, tapi akhirnya dia jatuh hati juga.

Namun, seakan merasa keberatan melihat Tania bahagia, masalah lain pun muncul. Ternyata, Reza, pria yang menjadi pahlawan Tania itu, adalah calon suami yang ingin dijodohkan dengan Tania. Tania merasa dipermainkan. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Apakah Reza tulus mencintainya, atau hanya memanfaatkannya demi mendapatkan  rumah sakit ayahnya? Nasi telah menjadi bubur. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan pria itu. Dan cinta sejati akan selalu menemukan jalan yang tepat, bukan begitu?


MY COMMENTARY

Satu lagi karya kak Dahlian yang membuatku takjub. Walaupun aku kurang klop dengan genre-nya yang rada dewasa – terlalu banyak adegan dewasa, dan aku kurang suka, tapi di balik semua itu, inti cerita yang diangkat tetap bagus. Cinta yang kompleks dan rumit. Konflik-konflik yang bermunculan sangat menarik, begitu pula solusi-solusi yang ditawarkan.

Tokoh-tokohnya juga begitu hidup. Tania, dengan sifat keras kepalanya yang mendarah daging, juga sifatnya yang berantakan dan kurang sopan, yang benar-benar melekat dalam diri Tania, dan Reza yang kaku, serius, rapi, health freak, yang benar-benar ditunjukkan lewat perkataan maupun tindakannya. Konflik batin yang mereka alami, latar belakang mereka, semuanya telah disusun dengan baik. Pilihan kata yang digunakan juga menarik. Sayangnya, penggunanaa bahasanya kurang konsisten. Terkadang bahasanya (terutama di dialog) ringan dan santai, tapi terkadang terlalu baku dan kaku, jadi kurang mengalir dan agak ganjil. Well, I still praise it, though. Well done, kak. Keep writing!

Sunday, 22 June 2014

[Book Review] Let Go by Windhy Puspitadewi


Judul Buku        : Let Go
Pengarang          : Windhy Puspitadewi
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 244 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

“Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya. Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.”


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

‘Kehilangan’, sama seperti ‘melepaskan’, berkaitan dengan dua rasa: ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Kehilangan dan melepaskan itu dua kata yang berbeda, tapi kadang saling berhubungan. Saat kita kehilangan seseorang, nggak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan orang tersebut. Kurasa semua orang tau, melepaskan bukanlah hal yang mudah – susah pake "banget", malah.

Caraka mengalaminya – kehilangan sang Ayah, dan sulit melepaskannya. Dia jadi benci sama ayahnya karna tega ninggalin dia dan ibunya, jadi dia selalu menolak untuk ngunjungin makam sang Ayah. Lalu, dia bertemu dengan Nathan – cowok pintar yang selalu beraura dingin, Nadya – ketua kelas yang (sok) mandiri, dan Sarah – cewek pemalu yang sulit menolak permintaan orang lain.

Awalnya, dia nggak suka berteman dengan mereka, tapi, situasi menjebaknya, jadi dia terpaksa play the game. Tapi, lama kelamaan, dia pun terbiasa, bahkan menikmatinya. Sifatnya yang terlalu baik membuatnya menjadi ‘tukang ikut campur’. Dia nggak tahan liat orang lain kesulitan dan selalu ingin membantu, tapi terkadang dia nggak menyadari batas-batas privasi seseorang. Beberapa orang senang sama sifatnya itu, sisanya merasa keberatan. Tapi, berkat sifatnya itu pula, Raka belajar banyak – persahabatan, rela berkorban, dan tentu saja, melepaskan.


MY COMMENTARY

Dari awal, aku penasaran sama karyanya kak Windhy, apalagi yang "Let Go" ini. Karna udah langka, aku beli online, deh. Cukup susah, loh, tapi untungnya ketemu. Dari semua karya kak Windhy, yang pernah kubaca baru "Seandainya" dan "Let Go", dua-duanya beli online barengan. Terasa banget dua karya ini ditulis oleh orang yang sama. Dua-duanya punya moral lessons dan kisah yang menyentuh – bukan kisah romance menye-menye ala remaja. Ini yang kusuka – karya yang bermutu. Sayangnya, dari dua karya ini, jujur aja aku lebih suka "Let Go", sih, karena tokoh-tokohnya lebih terasa nyata dan unik, terus kisahnya lebih menyentuh, somehow.

Kenapa aku penasaran sama "Let Go"? Karna banyak yang bilang novel ini bikin sedih – tipe yang kusuka juga, didukung oleh cover berwarna biru yang ‘mellow’ atau ‘haru biru’ gitu, terus judulnya juga menarik: "Let Go" – melepaskan. Biasanya yang berhubungan dengan kata ini pasti ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’, like I said beforeJust an assumption, which is true, anyway – in this case.

Dan seperti novel Gagas lainnya, novel ini juga punya blurb yang bikin gregetan. Bedanya dari novel Gagas yang lain, blurb novel ini lebih jelas – sedikit mendeskripsikan isi novel, sedangkan novel lainnya – terutama novel-novel Gagas yang baru-baru ini dicetak, semua blurb-nya hanya berisi kata-kata puitis yang menggugah hati, tapi justru membuat pembaca bingung, mana yang harus dibeli, karena semua terdengar manis di telinga. Itu bagus, punya blurb yang menarik, tapi kelemahannya, kadang kata-kata manis itu memberi harapan kosong. Pembaca jadi berharap banyak, dan akhirnya malah kecewa sendiri. Novel ini beda. Aku nggak kecewa sama sekali setelah baca novel ini – bahkan baca ulang-ulang dan ngumpulin quote-quote bagusnya.

Seperti yang udah kusebut di atas, novel ini mengajarkan banyak hal, dan sanggup membuatku terharu. Kisahnya sederhana aja, tapi nggak ditulis sembarangan. Konflik-konfliknya nyata, yang biasanya dialami oleh pembaca di kehidupan sehari-hari. Begitu pula tokohnya – sifat-sifat mereka sering ditemui di dalam diri kita maupun orang lain, tapi kak Windhy berhasil membuat mereka unik, in their own ways.

Aku suka banget sama karakter Caraka. Kurasa semua fans kak Windhy yang udah baca novel ini juga kecantol sama dia. Habis, gemesin, sih! Nathan is fine, too. Dia yang bikin cerita ini makin sedih. Oh, bisa dibilang, it’s a sad ending, tapi karena tokoh utamanya belajar sesuatu dari itu, we can say it’s somewhere between.

Banyak kalimat-kalimat bermakna yang bisa dijadikan pelajaran buat kehidupan. Aku ingat, aku baca novel ini selama liburan lebaran tahun 2013. Aku pulang kampung dan bawa novel ini. Aku baca tanggal 8 Agustus, terus besoknya masih belum bisa move on, jadi ulang baca sambil ngutip kalimat-kalimat bagus, dan (ehem, malu, nih) dipost di twitter.


Er, tapi kayaknya nggak keliatan, ya? Oh, well. Pokoknya, novel ini recommended, deh. Everyone should read it! Pengen rate 5 of 5, tapi entar dibilang mainstream, jadi 4.5 of 5, deh. Hehehe. Good job, kak! You made me fall in love :3 Keep writing!

P.S. Review "Seandainya" nyusul, ya :D

Saturday, 14 June 2014

[Book Review] Ai by Winna Efendi


Judul Buku       : Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti
Pengarang          : Winna Efendi
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 288 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu.
Suatu saat tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan


-Sei-

Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan - mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku - aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Tidak. Semuanya sudah terlambat jauh sebelum hari ini - mungkin sejak festival musim panas itu, atau mungkin sejak kedatangan Shin. Dia telah memilih, sadar maupun tidak, dan orang itu bukanlah aku.

-Ai-

Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun mulai jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai. Kami bahagia, tetapi suatu hari Shin pergi dan tak bisa kembali lagi.


THE AUTHOR

Winna Efendi, lahir di Jakarta, 1986, di bawah naungan zodiak Capricorn. Senang menulis dalam lembaran buku tulis lama hingga akhirnya bergabung dengan sebuah komunitas penulisan online. Novel pertamanya berjudul Kenangan Abu-abu, diterbitkan awal 2008. Ai adalah buku keduanya. Sekarang ini, Winna bekerja di bidang keuangan, serta menjadi kontributor di beberapa majalah online. Waktu luangnya dihabiskan untuk menikmati tumpukan DVD jadul, buku-buku yang tak pernah habis dilahap, dan menulis.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Ada yang bilang cowok dan cewek nggak bisa punya persahabatan yang murni, artinya tanpa rasa apa-apa. Jika cowok dan cewek berteman dekat, kemungkinan besar akan tumbuh rasa suka atau rasa cinta. Walaupun di salah satu novel kak Ori yang berjudul "I for You" nggal begitu, dimana kedua tokoh utamanya – Cessa dan Benji, yang telah bersahabat sejak kecil, malah nggak merasakan rasa cinta, melainkan hanya rasa sayang layaknya kakak dan adik. Berbeda dengan novel kak Winna yang berjudul "Refrain", dimana dua tokoh utamanya, Niki dan Nata, yang juga telah bersahabat sejak kecil, saling memiliki rasa cinta yang tumbuh dalam persahabatan mereka. Di novel kak Winna Efendi yang ini juga mengalami hal yang serupa.

Novel ini mengisahkan tentang seorang gadis bernama Ai yang telah bersahabat dengan seorang pemuda bernama Sei sejak mereka berumur tiga tahun. Ada rasa yang tumbuh dalam persahabatan mereka, tetapi mereka mengabaikannya karena takut merusak persahabatan yang telah lama mereka jalin. Seiring berjalannya waktu, mereka menemukan tambatan hati mereka masing-masing dan mulai melupakan rasa yang pernah tumbuh dulu. Berbagai rintangan berusaha merusak tali persahabatan mereka, tapi mereka berhasil bertahan. 


MY COMMENTARY

Kisah persahabatan yang diwarnai asmara emang udah sering dipakai, tapi kak Winna berhasil menyajikannya dengan cara yang unik, dimana konflik-konflik yang tumbuh terasa nyata, dengan rangkaian kata-kata yang mengalir dan menghanyutkan. Setting yang digunakan juga menarik, yaitu Jepang, yang dideskripsikan dengan sangat baik, membuatku merasa seperti masuk ke dalam setting cerita. Novel ini juga memperkenalkan budaya Jepang, seperti festival-festivalnya, tarian dan pakaian tradisionalnya, dan sebagainya. Sangat menarik.

Sampulnya yang berwarna turquoise dengan latar belakang pohon sakura dan gambar boneka kecil berbaju tradisional Jepang yang berwarna merah dengan rambut merah tua yang disanggul ke atas sangat sesuai dengan setting Jepang yang digunakan. Judulnya yang menggunakan nama tokoh utama – Ai, yang juga bisa berarti “cinta”, cocok dengan genre romance yang digunakan. Sampul yang memikat hati. Definitely recommended! Novel ini udah dicetak ulang dengan cover baru yang nggak kalah kece. Love it! Well done, kak. Keep writing!

Friday, 13 June 2014

The Lucky Girl Who Isn't Me (Originally by me, Dedicated for Hana)


Hana is female lead character in a novel called Interlude by Windry Ramadhina. I know this sounds weird that I'm writing a song for a novel character, but that's what you do as a true reader and a true fan, even though I never 'met' this girl before. So, Hana, here is for you. 

When you think the world hates you
And everything goes against you
Remember, there are always things that 
Were meant for you
There to make you happy

CHORUS
Though you think you're alone
Though you think you're not worth it
Just so you know
You are still
The lucky girl who isn't me
As much as you think you're not
You are
The lucky girl who isn't me

When you think there's no reason for you to be here
Look around
Those people who stand by you 
No matter what
Loving you as if you deserve it
But you do

Back to CHORUS


Bridge

Oh, this may sound like an irony
Asking you to be happy
While all I do is saying
You're luckier than me
But you are
So smile
Cause the world needs it


Back to CHORUS


FYI, Hana, this is so spontaneous. I wrote it in like... few minutes. But all the feelings are there, can you feel it? I hope you like it, cause I do. Cheers! X

Monday, 9 June 2014

[Book Review] Camar Biru by Nilam Suri


Judul Buku       : Camar Biru
Pengarang         : Nilam Suri
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 279 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....


THE AUTHOR

Nilam Suri sudah sejak lama beranggapan bahwa growing up is overrated, even after being a mom. Paling aktif menulis ketika matahari berubah jingga, atau saat langit menjadi kelabu, dan pastinya saat gerimis bergemerisik pelan dari balik jendela. Sedang berusaha mengelabui waktu, dan menolak gravitasi. Suatu hari, dia akan terbang dan tanpa pernah menjadi tua. 
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Cinta tak selalu datang tepat waktu. Betul sekali. Terkadang kita jatuh cinta pada orang dan waktu yang salah. Kita juga nggak bisa memaksakan diri untuk mencintai seseorang pada rentang waktu yang kita tentukan. Semuanya berjalan sesuai alur masing-masing. Cinta punya waktunya sendiri. Begitulah yang dirasakan Nina. Dia udah bersahabat dengan Adit selama bertahun-tahun. Adit selalu ada untuknya. Tapi, bukan berarti Nina langsung jatuh cinta padanya.

Masa lalu yang kelam. Hal itulah yang membuat Nina berubah. Bukan hanya karna kematian kakak laki-laki kesayangannya, Narendra, atau kepergian Sinar, kakak Adit yang menjadi cinta monyetnya. Ada hal lain, yang jauh lebih buruk, yang membuat Nina menjadi seperti mayat hidup.

Tapi Adit nggak peduli. Dia tetap setia menjaga Nina. Bukan hanya karna janji yang mereka buat saat mereka sedang mabuk di masa remaja mereka - dua buah burung camar biru kertas yang menandakan janji mereka itu, bahwa mereka akan menikah jika sepuluh tahun sejak hari pembuatan janji itu mereka belum mendapat pasangan. Bukan karena itu, tapi karena hal yang lebih besar. Dan kesetiaan Adit itu pun berujung manis.


MY COMMENTARY

Ah, aku benar-benar jatuh cinta sama novel ini. Novel yang bukan hanya menceritakan percintaan di balik persahabatan yang telah dijalin lama, tapi juga mengenai janji, kesetiaan, dan pengorbanan. Benar-benar romantis dan menyayat hati. Bahasa yang digunakan gaul, jadi sangat mudah mengalir bersama alur ceritanya. Hal-hal unik membumbui setiap paragrafnya - hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan. Juga hal-hal romantis yang menyentuh lubuk hati yang paling dalam.

Karakter yang tercipta pun sangat hidup dan menarik, dengan sifat dan kebiasaan yang unik, dan juga latar belakang masing-masing. Setting yang dipilih biasa saja, tapi kak Nilam sanggup menyajikan tempat-tempat dengan deskripsi yang mudah dibayangkan, membuatku seperti sedang berada di tempat yang dideskripsikan. Covernya kece abis, cocok sama isinya. Pokoknya recommended, deh! Ini karya pertamanya kak Nilam, kan, ya? What a great start, kak. Keep writing!

Friday, 6 June 2014

[Movie Review] The Fault in Our Stars (2014)


Movie Title      : Fault in Our Stars
Directed by     : Josh Boone
Produced by    : Wyck Godfrey and Marty Bowen
Based on        : The Fault in Our Stars by John Green
Distributed by : 20th Century Fox
My Rating       : 5 of 5

(http://en.wikipedia.org/wiki/The_Fault_in_Our_Stars_(film))

The Fault in Our Stars is a romantic, comedy, drama film took place in Pittsburgh and Amsterdam. The story revolves around Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) and Augustus Waters (Ansel Elgort) who meet each other when both attend a Cancer Kid Support Group. Both are attracted to each other from the very first time, and they start to hang out together as friends. They get to know each other, share interests, including the books that they read. Hazel reads Augustus’ favorite book, and so does Augustus – he reads Hazel’s favorite book, and he actually likes it, despite the ending. Both Augustus and Hazel are curious of what happens next to the characters in the book. After trying to contact the author, which finally results to something, they are invited to meet the author in person. Even though Hazel’s condition does not allow her to go abroad with airplane, they still go in the end. Their journey doesn’t end as they expected, but go through it together and they have fun along the way. The story turns tragic when a hidden secret is revealed, twisting the fun storyline into a tragedy.  
I watched this movie way before its release. I got another free movie prescreening, so I watched it with my friend on May 26th. It was great! The cinema was quite far and it was at night so there was a lot of struggle there but we really enjoyed the movie! It is a simple but sweet love story between Hazel and Augustus. Simple, because the plot is not full of surprises and twists. It is a common love story, like how they meet – accidentally bumping to each other, fall in love at first sight, getting to know each other, sharing interest, spending time together, etc. Somehow, I could predict what was going to happen. Audience would be aware of how the story might end. The scenes and settings are not that impressive as well. However, since the storytelling is flowing like a river, I just enjoyed the ride. The unique part is how both the guy and the girl are sick. The most common storyline for sad romantic story is that only one of them is sick, and the other takes care of him/her. But in this story, they both take care of each other, which is sweet. Some of the conflicts are predictable, but some others are unexpected – like how their journey ends up. The talented casts play their roles very well. They make their characters feel real – make the audience can feel what they feel. It is a touching and meaningful story. I was not only  entertained and touched, but also learn many lessons from it. My friend and I both cried because of such a touching story! Recommended!


I also posted this review on my Bubblews account. Check it out!