Menu

Sunday, 25 May 2014

[Book Review] Remember When by Winna Efendi


Judul Buku        : Remember When
Pengarang          : Winna Efendi
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 260 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya. 

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? 

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru? 

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna? 

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.


THE AUTHOR

Winna Efendi, lahir di Jakarta, 1986, di bawah naungan zodiak Capricorn. Senang menulis dalam lembaran buku tulis lama hingga akhirnya bergabung dengan sebuah komunitas penulisan online. Novel pertamanya berjudul Kenangan Abu-abu, diterbitkan awal 2008. Ai adalah buku keduanya. Sekarang ini, Winna bekerja di bidang keuangan, serta menjadi kontributor di beberapa majalah online. Waktu luangnya dihabiskan untuk menikmati tumpukan DVD jadul, buku-buku yang tak pernah habis dilahap, dan menulis.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Persahabatan dan cinta. Dua hal yang berbeda, tapi saling melengkapi. Dua hal yang selalu berdampingan, tapi sulit bersatu, bahkan bisa saling meniadakan. Ada persahabatan yang didasari cinta, atau cinta yang didasari persahabatan. Sahabat tentunya saling mencintai, layaknya sahabat. Dan dalam kisah percintaan, juga harus dijalin hubungan persahabatan yang erat. Tetapi ketika keduanya melebur menjadi satu, ada salah satu aspek yang mendominasi. Kayak yang orang-orang sering bilang, susah untuk milih antara persahabatan dan cinta.

Adrian, Moses, Gia, dan Freya, empat tokoh utama dari novel ini, juga mengalami dilema yang sama. Awalnya, mereka dipersatukan melalui hubungan persahabatan. Adrian bersahabat dengan Moses, sedangkan Gia bersahabat dengan Freya. Moses menyukai Freya, dan Adrian menyukai Gia. Akhirnya, Moses berpacaran dengan Freya dan Adrian berpacaran dengan Gia. Lingkaran Gia-Freya dan Adrian-Moses pun melebur menjadi satu lingkaran yang lebih besar, dan terbentuk juga dua lingkaran kecil yang baru, yaitu lingkaran Moses-Freya dan Adrian-Gia.

Mereka mengira lingkaran mereka udah simetris, cocok apa adanya, nggak akan berubah. Tapi, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Apapun dapat berubah. Lingkaran-lingkaran kecil yang mereka bentuk pun akhirnya saling melebur. Ada yang membentuk lingkaran baru, ada yang hancur. Konflik-konflik bermunculan, dimana lingkaran baru terbentuk dan meniadakan lingkaran yang lain.

Untuk mempertahankan lingkaran itu, harus ada yang mengalah, bisa satu pihak, atau mungkin semua pihak. Siapakah yang sanggup melakukannya? Apakah akhirnya lingkaran yang telah mereka jalin susah payah dapat pulih kembali? Persahabatan emang sering didominasi oleh cinta, tapi persahabatan sejati akan terus bertahan hingga akhir, walaupun melalui berbagai rintangan. Apakah persahabatan mereka juga begitu?


MY COMMENTARY

Persahabatan dan cinta remaja. Tema ini emang udah sering (banget) diangkat, bahkan oleh kak Winna sendiri, seperti pada novel "Refrain" dan "Ai". Tapi hebatnya, kak Winna selalu berhasil menyajikannya secara berbeda, jadinya nggak bosan dan selalu terasa fresh. Bumbu-bumbu baru dipercikkan, memberikan sensasi yang berbeda pada setiap kisah, termasuk yang ini. Konflik yang diberikan cukup kompleks, dengan solusi yang nggak tertebak.

Gaya bahasa yang digunakan sederhana, tapi banyak juga yang maknanya dalam, dan semuanya mudah dicerna dan terasa mengalir sejalan dengan alurnya. Pendeskripsiannya juga sangat baik, jadi seluruh aspek dalam novel ini terasa hidup, mulai dari tokohnya, hubungan antar tokoh, latar, bahkan konflik yang ada pun terasa sangat nyata. Akhir yang bahagia. Siapa yang nggak suka happy ending? Tapi, akhir yang bahagia biasanya mudah ditebak, sedangkan akhir dari novel ini, bahagia, tapi nggak mudah ditebak. Akhir yang membuat gregetan, karena selama membaca, aku selalu berusaha nebak gimana akhirnya dan menanti-nanti akhir yang bahagia tersebut.

Sampulnya yang berwarna pucat memberikan kesan mellow yang cocok dengan kisah di dalamnya. Gambar kursi taman yang kosong, hanya ada sebuah tas, payung, dan jaket memberikan kesan sepi, sunyi, dan hampa, mendukung kesan mellow yang ingin digalakkan. Novel ini memberikan banyak pesan moral untuk para pembacanya. Makna baru mengenai persahabatan: friendship that lasts. Makanya, aku sangat merekomendasikannya novel ini. And there's a good news. Novel ini lagi diproses untuk diadaptasi jadi film! I can hardly wait! Penulis favoritku ini emang kece! Adore you, kak! Keep writing!

2 comments: