Menu

Wednesday, 23 April 2014

[Book Review] Roma: Con Amore by Robin Wijaya


Judul Buku       : Roma: Con Amore
Pengarang      : Robin Wijaya
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 384 halaman
My Rating          : 3 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB


Pembaca tersayang, 

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit. 

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR



THE AUTHOR

Robin Wijaya hanya menulis cerita komedi dan naskah pribadi pada awalnya, tapi sejak 2 tahun terakhir, ia malah menggemari tulisan-tulisan yang cukup serius, puisi, ataupun artikel-artikel motivasi yang membangun. Sudah menerbitkan 2 buku solo dan beberapa antologi. Before Us adalah buku solo ketiga yang diterbitkan, sekaligus menjadi novel romance dewasa pertama yang ia tulis. Mendengarkan musik adalah satu-satunya aktivitas yang tidak pernah bosan ia lakukan, selain mengajar art dan matematika, atau sekadar ngobrol dan mencari ide-ide kreatif dengan teman-temannya.
(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Roma berkisah tentang Leonardo Halim, seorang pelukis muda yang berbakat asal Indonesia, dan Felice, seorang karyawan KBRI di Roma yang memiliki masalah dengan keluarganya – terutama sang ibu. Keduanya sudah menemukan tambatan hati masing-masing, namun di akhir, dilema menyergap mereka, kenyataan menampar pipi mereka. Kisah ini menceritakan tentang kekuatan hubungan keluarga yang melebihi apapun, meraih cita-cita, dan menemukan jalan yang tepat.


MY COMMENTARY

So sorry to say, this one is not my cup of tea. Selain karena aku sudah mulai sarkastis sama yang namanya romance, kisah yang ini memang tidak terlalu spesial. Lack of engaging conflicts and strong chemistry. Karakternya lumayan menarik, tapi tidak terasa begitu hidup. Dialognya juga tidak terasa mengalir dan natural, mungkin karena terlalu baku dan kurang konsisten. Latar Romanya juga terkesan hanya menjadi pajangan – tidak terlalu terasa suasananya. Dan keseluruhan pembawaan cerita memberi kesan kalau penulisnya berusaha membuat pembaca terkesan dengan romantismenya – sayangnya, penulis agak gagal dalam hal itu. Maaf, Kak. Don’t give up, though! Looking forward to read your other novels. Keep writing!

No comments:

Post a Comment