Menu

Sunday, 16 February 2014

[Flash Fiction] The Lucky One Who Isn't Me


Joining  : Kuis FF 500 Kata Berhadiah
Held By : NBC_IPB
Status  : On Going


I was hurt, and I was healed, but now, I’m hurt again. I had made my decision. Wasn’t it the right one
Aku ingat saat kami pertama kali bertemu lima tahun yang lalu. Kami hanya pernah bertemu empat kali, terhitung sampai saat ini. Yang pertama, saat pria itu menyendiri di tengah pesta yang diadakan di bar tempatku bekerja. Aku yang kurang kerjaan iseng mengajaknya ngobrol, dan percakapan yang dimulai dengan, “Konon, orang yang suka menyendiri itu sering kesurupan” itu pun bertumbuh menjadi endless stories mengenai apapun, yang membuatku merasa seakan aku sudah mengenal pria ini sejak lama.
Pertemua kedua, not so good. Pria itu sengaja datang untuk menemuiku, yang tentu saja membuatku berharap yang tidak-tidak. Dan harapan itu jelas pupus bahkan saat pria itu baru mulai berbicara, “So, there’s this woman…” 
Aku menghargai kepercayaannya padaku, bagaimana dia menganggap aku teman bicara yang asyik dan terpercaya. Aku yang saat itu belum peka pun berkata padanya, “That woman in your life, you better make her your wife. And she better believes that she’s the lucky one.” 
Sampai akhirnya, undangan itu sampai di tanganku, dan rasa sakit itu melandaku tanpa disangka-sangka, barulah aku sadar kalau perasaan ini nyata, bukan hanya sekadar cinta lokasi atau apalah itu.
Pertemuan ketiga… tidak bisa dibilang pertemuan, karena aku hanya melihat pria itu berjalan melewati pintu kaca bar ini, bersama wanita beruntung itu dalam pelukannya. Mereka terlihat bahagia, dan itu membuatku merasa sedikit lebih baik, karena setidaknya aku sudah membuat keputusan yang tepat. Aku mungkin tersakiti, tapi itu bukan masalah. Benar bukan berarti enak.
Semuanya bisa saja berakhir di sana. Walaupun bukan ending “Everyone lives happily ever after”, setidaknya sekarang, atau beberapa waktu yang lalu, aku sudah terbiasa hidup dengan rasa sakit itu.
 
“Mengapa meminta nasihatku? Dulu, aku yang mendukungmu untuk menikahinya, dan ternyata kau tidak bahagia bersamanya. Itu jelas salahku.”
Pria itu menggeleng. “Aku tetap menganggapmu teman bicara yang baik.”
Aku mendesah. Call me pathetic, friend-zoned, thirty-something woman, yang terjebak dengan rasa bersalah dan dilema. Pria yang kurelakan pada wanita lain kembali ke hadapanku, meminta saran tentang perceraiannya dengan wanita itu. Apakah keputusanku dulu salah, dan ini adalah kesempatan untuk memperbaikinya?
Aku menutup buku yang sedang kucorat-coret sebelum kedatangan pria ini, dan menemukan kutipan dari lagu favoritku, yang sengaja kutulis di sana untuk mengingatkanku pada keputusan yang kubuat dulu, dan yang juga membantuku bangkit dari patah hati.
Baru saja aku hendak mengatakan sesuatu, bosku memanggilku dari kejauhan, jadi aku pun meminta diri, tidak lupa menyodorkan buku tadi pada pria itu sebelum aku berlalu. Seperti yang kubilang sebelumnya, keputusan yang tepat belum tentu mengenakkan, tapi aku percaya itu yang terbaik.

You make me feel like I’m the only woman with you in your life
But we can’t be together, can’t really be friends
We can’t be lovers, and we can’t pretend
That woman in your life, better keep her as wife
And she better believes that she’s the lucky one*


*Lirik lagu Lucky Guy by David Choi yang sedikit dimodifikasi

No comments:

Post a Comment