Menu

Wednesday, 5 February 2014

[Book Review] Outrageous by Moemoe Rizal


Judul Buku        : Outrageous
Pengarang          : Moemoe Rizal
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 242 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Kalau kamu memang tak bisa jadi populer bersama the ‘it’ crowd yang sudah ada, jadilah kontroversial. No, really. It’s like coup d’etat but you’re still allowed to wear good shoes. Cantik itu kekuatan, tetapi kemampuan memengaruhi orang lain adalah sumber kekuasaan para ratu sejak dulu.

So, Dahling, always watch your back. Hati-hati dengan orang yang suka bergosip; lain kali bisa jadi kamulah korban mulut tajamnya. Yang kamu butuhkan adalah pengikut setia, bukan sekelompok boneka yang mengiyakan apapun yang kamu katakan. And yes, being better is not enough. Kamu harus jadi yang terbaik. Tersenyumlah saat orang-orang populer itu mulai menjelek-jelekkanmu. Artinya, kehadiranmu mulai mengkhawatirkan mereka.

Dan ketika mahkota itu akhirnya ada di kepalamu, Yang Mulia, nikmatilah selagi bisa. Dunia popularitas sekejam yang kamu lihat di "All About Eve". Hari ini kamulah yang paling berkuasa. Besok? Only heaven knows, Baby.


THE AUTHOR

Moemoe Rizal jelas bukan seorang pilot. Hanya penggemar pesawat yang gila aviasi keterlaluan. Lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, sekitar 24 tahun lalu (nggak tau sekarang). Pengalaman pertamanya naik pesawat: Fokker 70-nya MZ, then fell in love with aviation. Current activity: menulis sembarangan, coaching marching band, dan bermimpi punya airline sendiri. Pernah nerbitin ini di GagasMedia: "Satu Cinta Sejuta Repot:, "Oh Baby", "Outrageous", "Jump", "Fly to The Sky", dan "Bangkok The Journal."

(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Mindy Minillo dulunya murid terpopuler di sekolah lamanya di Oregon. Tapi, begitu pindah ke Voltaire International School di Jakarta, kehidupan SMA-nya berubah total. Dia jadi susah nyari teman yang ngerti dia. Belum lagi, dia ketemu Tara Fitzwilliam yang seperti saudara kembarnya – memiliki begitu banyak kesamaan, tapi, sifatnya nyebelin, bikin Mindy ogah dekat-dekat sama dia. Selain itu, Mindy juga ketemu dua anak beasiswa yang sifatnya saling bertolak belakang – Sundae si penggosip dan Ning-Ning si jenius.
     
Mindy cukup cocok dengan Ning-Ning, tetapi dia nggak suka sama Sundae yang terlalu terobsesi untuk jadi populer. Sundae mengklaim mereka bertiga – Sundae, Ning-Ning, dan Mindy, sebagai sebuah clique dan berambisi untuk membuat clique mereka jadi yang paling top. Demi ambisinya itu, Sundae maksa Mindy untuk diwawancarai oleh jurnalis mading di sekolah mereka – Flicks, yang berakhir bencana.
     
Cindy, jurnalis yang mewawancarai Mindy, malah nulis artikel tentang kontes ‘Flick A Voltaire Hottie’, yang secara nggak langsung menyiptakan duel antara Mindy dan Tara, yang semakin hari semakin membenci satu sama lain. Mindy dan Tara pun berlomba-lomba untuk menjadi yang lebih baik, sampai-sampai memperebutkan Yaron, cowok top di sekolah yang super pede. Padahal, Mindy naksirnya sama Divi, cowok basket yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
     
Duel ini makin lama makin panas, yang berpuncak ketika keduanya sama-sama mengadakan slumber party di apartemen masing-masing – yang ternyata bersebelahan. Tapi, di puncak inilah semuanya berakhir. Sebuah rahasia terungkap, mengubah hubungan mereka seratus delapan puluh derajat, dan berakhir bahagia.


MY COMMENTARY

Novel ini unik, karena jarang banget penulis cowok menulis novel chicklit kayak gini, dan jadi bagus pula. Idenya simpel aja, tentang kehidupan SMA yang berlatar di Jakarta. Tapi, kak Moemoe berhasil membumbuinya dengan konflik-konflik yang seru dan kocak, walaupun agak klise dan over-dramatis. Nggak kerasa kalau yang nulis itu penulis cowok, karna kak Moemoe riset tentang hal-hal girly-nya bagus, tau merek-merek aksesoris cewek yang bagus, dan lain-lain. Aku aja nggak tau menau soal itu. Hahaha.
     
Aku sering ketawa sendiri selama baca novel ini, karna selera humor kak Moemoe ini kocak dan unik. Contohnya, box kesehatan jadi tren untuk aksesori cewek (halaman 123)? Yang bener aja! Terus di halaman 197, Robber Kitty by The Tiger Trio, yang kedengeran keren banget, padahal itu bahasa Inggrisnya ‘Kucing Garong’ punya Trio Macan. Lol! Selain ngajak ngakak, novel ini cukup menyentuh dan berpesan moral juga, tentang persahabatan sejati, tentang memilih persahabatan di atas cinta, dan sebagainya.
     
Tokoh-tokohnya – terutama tokoh utama (Mindy dan Tara), cukup dikembangkan dengan baik di dalam cerita. Sayangnya, ada beberapa kesalahan yang membuatku kebingungan perihal tokoh Sundae dan Ning-Ning. Kayaknya kak Moemoe sering salah sebut nama, deh, ato kebalik-balik gitu antara Sundae dan Ning-Ning. Aku sampai bikin tabel untuk ngebedain dua tokok ini. Di halaman 39, waktu Mindy baru pertama kali ketemu sama dua cewek itu, ada beberapa deskripsi tentang mereka.
     
“Yang satu cewek pribumi dengan seragam VIS berantakan, yang satunya cantik banget dengan warna putih seragam kami. Yang satu kulitnya gelap – kebanyakan main di luar, tapi menolak keras menggunakan make sunscreen dengan SPF memadai – sedangkan yang satunya putih silau kayak porselen asli Tiongkok. Yang satunya bereksperimen dengan cat rambut, kayaknya bekas dicat pirang terus langsung ditimpa dengan highlight marun. Hasilnya sih rapi, tapi jatuh ke mukanya jadi kucel. Yang satunya lagi kayaknya pemalu dan kelewat polos; rambut panjangnya dikepang dua – ngingetin aku sama ilustrasi klasik yang suka nampang di kalender zaman dulu.”
      
Aku memilahnya satu-satu. Ada dua jenis karakter di sini, yang sangat bertolak belakang. Yang pertama: cantik banget, kulit putih silau kayak porselen asli Tiongkok, pemalu dan kelewat polos dengan rambut dikepang dua. Itu semua cocok dijadikan satu karakter. Sedangkan sisanya: pribumi berkulit gelap dengan seragam berantakan dan rambut bereksperimen cat yang rapi tapi jatuh ke muka jadi kucel. Setelah membaca keseluruhan novel, aku menyimpulkan kalau yang pertama itu cocok sama Ning-Ning, sedangkan yang kedua itu Sundae.
     
Tapi, ada beberapa kekeliruan yang membuat aku jadi ragu. Di halaman 43, dikatakan bahwa Sundae masih culture shock, sedangkan Ning-Ning desperate banget pengen masuk ke jajaran cool people di Voltaire. Itu nggak sesuai sama kesimpulanku. Ning-Ning harusnya polos dan pemalu, jadi untuk apa dia desperate jadi cool people? Seharusnya itu Sundae, dan Ning-Ninglah yang masih culture shockAku cukup yakin sama kesimpulanku itu. Nih ada bukti-buktinya. Di halaman 125, Sundae ngeluh tentang penampilan Ning-Ning. “Ya ampun, Ning-Ning… Apa lo nggak bosan sama rambut kepang lo dan sepatu mary jane itu, hah?” Itu jadi bukti kalau Ning-Ninglah cewek berkepang dua yang polos dan pemalu.
     
Terus di halaman 70, ada lagi penjelasan tentang Ning-Ning dan Sundae. Dibilang kalau Ning-Ning itu cewek lugu yang jenius nggak ketulungan, sedangkan Sundae penggosip nomor satu di sekolah. Dan ini nggak Cuma disebut sekali, tapi di sepanjang novel, dua fakta itu didukung terus. Terus, di halaman 81, Sundae memaparkan rencananya untuk jadi clique paling fabulous di sekolah, yang membuktikan kalau Sundae-lah yang seharusnya desperate jadi cool people yang disebut di halaman 43. Tapi, kekeliruan itu terus berlanjut. Di halaman 125, seharusnya bukan Ning-Ning yang menjawab, “Makanya, tahap pertama: upgrade status sosial lo.” Itu seharusnya line-nya Sundae, karena dari awal, itu emang rencananya Sundae, dan Ning-Ning sama sekali nggak tertarik.
     
Ada juga kekeliruan lain, atau ketidakmasukakalan, kayak di halaman 46, waktu Mindy baru pertama kali ketemu Divi, dia nanya ke Sundae dan Ning-Ning siapa itu, tapi dua-duanya ngangkat bahu, padahal di halaman 152, Ning-Ning bilang kalau dia keenal, bahkan dekat sama Divi. Selain itu, di akhir cerita, fakta kalau Mindy itu perwakilan Miss Teen USA dari Oregon dan Tara dari Rhode Island sangat krusial, dan seakan-akan baru diketahui, padahal, dari awal, di artikel Flicks (halaman 166) jelas-jelas dicantumkan fakta itu.
     
Ada juga ketidakkonsistenan, terutama pada gaya bicara Ning-Ning. Terkadang dia pakai ‘saya’, tapi di lain waktu dia pakai ‘aku.’ Di Jakarta kan, seharusnya bahasanya gaul, tapi di novel ini, rada nyampur. Kadang gaul, tapi tiba-tiba bisa jadi baku. Terus rada aneh aja, tokohnya pada hobi pakai kata ‘sebab’. Rada ganjil kedengarannya.
     
Terus, penggunaan bahasa Inggrisnya yang kurang baik. Tapi aku maklumin karna bisa aja si tokoh emang nggak pandai berbahasa Inggris – beberapa anak di Jakarta, bahkan yang dari Amerika pun, ada yang bahasa Inggrisnya kacau, so, never mind. Cuma, yang rada membingungkan itu di halaman 204. “I’m in seventeenth history, for God’s sake!” Harusnya ‘seventeenth storey’, kan, ya? Ada juga beberapa kesalahan lain, seperti typo dan kesalahan-kesalahan kecil lainnya, tapi selama itu nggak menganggu pembaca, no prob to me.
     
Aku juga rada bingung sama halaman 85, dimana Mindy bisa dengan santai nyetir keliling-keliling, sampai ke Ancol lagi, tapi nggak ngeluh soal macet sama sekali? Biasanya, kalau settingnya di Jakarta kan, paling top kalau ngomel soal macetnya. Apalagi Mindy ini tipe cewek bawel. Hahaha. Ada sih macet, tapi cuma pas Mindy mau masuk dan parkir ke apartemennya doang. Terus, di adegan terakhir pas dalam keadaan ‘genting’, kok bisa-bisanya flashback dulu? Panjang lagi. Well, namanya juga novel. Bisa aja kenyataannya Cuma flashback bentar, tapi karena diceritain dalam bentuk narasi jadi panjang.
     
Terus, kok Mindy dengernya Rashi dipanggil ‘Ash’, ya? Soalnya di novel “Unbelievable” kan, Rashi lebih sering dipanggil ‘Rash’, apalagi sama May dan Ad. Apa salah denger? Atau gimana, ya? Tapi no big deal, sih. Cuma penasaran aja. Hehehe. Jujur aja, ada banyak kejadian klise, sih, tapi akhirnya cukup nggak tertebak, and sweet. Di akhir novel, ada beberapa halaman sampel majalah GlamTeen, dan side story dari novel “Unbelievable”, which really surprised me! Seneng deh, bisa ketemu Mayrio (Maybella-Mario) lagi :D
     
Recommended? Yes. It made my tummy hurt (in a good way), so it was worth to watch. Good one, kak. Keep writing!
     
P.S. Maklum ya, kalau book review ini panjang. Lagi niat, soalnya. 

No comments:

Post a Comment