Menu

Saturday, 25 January 2014

[Book Review] Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin


Judul Buku       : Swiss: Little Snow In Zurich
Pengarang          : Alvi Syahrin
Penerbit            : Bukune
Jumlah Halaman : 308 halaman
My Rating          : 3 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair.  Membuat Yasmine tersenyum bahagia.
Ich liebe dich,”­­— aku mencintaimu — bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak Gunung Uetliberg — yang memancarkan panorama seluruh Kota Zürich — bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan, Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zurich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Salju yang jatuh perlahan di dermaga Danau Zürich yang menawan, jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—Yasmine, semoga akhir kisahmu indah,

Alvi Syahrin


THE AUTHOR

Alvi Syahrin, lahir di Ambon pada tanggal 20 Januari 1992. Kini berdomisili di Surabaya. Selalu merindukan hari libur. Selalu menyukai sesuatu yang berkonsep tentang "pulang". Paling suka hari Jumat. Selalu mengharapkan gerimis pada Sabtu pagi. "Dilema" adalah novel pertamanya yang juga diterbitkan di Bukune.
(Sumber: Back cover novelnya)


MY SUMMARY

Pertemuan Yasmine dan Rakel adalah pertemuan yang biasa-biasa aja. Mereka kebetulan sama-sama suka nongkrong di sebuah dermaga, dan selalu bertemu di sana. Tapi, mereka nggak pernah nyangka kisah mereka akan lebih dari itu. Dimulai dari percakapan basa-basi, sampai janji untuk terus bersama. Awalnya, mereka nggak sadar ada sesuatu yang lebih besar dari rasa penasaran yang mengikat mereka berdua. Dan ketika akhirnya mereka sadar, semuanya udah terlambat. Sebenarnya, mereka bisa terus bersama dari awal, tapi kebutaan mereka terhadap rasa membuat mereka harus menghadapi rintangan demi rintangan.


MY COMMENTARY 

Aku sama sekali nggak nyangka penulisnya cowok. Maaf, tapi jujur saaja, namanya mirip nama cewek – well, karna ada teman cewekku yang namanya Alvi juga, jadi ya, aku langsung ngira Alvi yang ini juga cewek. Tapi, sepertinya aku nggak sendirian dalam hal ini. Banyak yang salah sangka juga, kan? Iya, kan? *melotot*. Gaya penulisannya emang beda dari penulis cewek, tapi ada unsur-unsur tertentu yang bikin aku terus nganggap kalau ini tulisan cewek (sungguh maaf, Kak!).

Ide ceritanya bisa dibilang sederhana dan umum, tapi ada unsur unik dan twist-nya sedikit. Kalo boleh jujur, sih, aku agak kecewa setelah baca. Mungkin karna aku naroh harapan yang terlalu besar dari novel seri STPC, jadinya ya, seperti yang orang bilang, high expectations lead to disappointment. Aku nggak tau juga kenapa aku nggak begitu tertarik sama novel ini. Settingnya sih keren di Swiss - one of my favorite places, tapi kayaknya nggak gitu berasa. Kerasa sedikit sih suasana dinginnya, cuma mungkin deskripsinya kurang, ato diksinya yang agak beda. Pengembangan karakternya juga kurang, jadi aku nggak ngerasa masuk ke dalam cerita dan nggak bersimpati ato empati ke tokohnya. Akhirrnya cukup bikin gemes, sih, dan lumayan touching, but, yeah, that is all

Di novel ini, pertama kalinya aku lebih suka sama tokoh sampingan daripada tokoh utama. Biasanya, aku selalu tergila-gila sama tokoh utama cowoknya, tapi di novel ini, aku malah lebih suka Dylan, mantan sahabat si tokoh utama cowok. Mungkin karena dia lebih sweet. Covernya keren, menggambarkan pemandangan Swiss yang bersalju – cocok banget sama isinya, bikin lebih gampang bayangin settingnya, dan menarik banget, makanya aku beli. Terus ada bonus bookmark dan postcard yang nggak kalah kece.

Novel ini tetap masuk daftar rekomendasiku, tapi rating-nya nggak gitu tinggi, mungkin 3 of 5. Sorry, Kak. But I still own it and might re-read it. Keep writing!

4 comments:

  1. seri STPC yang bukune kayanya rata2 nggak sebagus ya gagas ya? tp covernya tetep keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, kak. STPC Gagas lebih bagus rasanya. Hehehe. Tapi iya, cover bukune kece-kece, bikin ngiler :9

      Delete
  2. STPC Bukune baru baca beberapa, yang ini belum, hehehe. aku juga selalu suka sama tokoh cowok utama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Um, boleh dicoba baca kak, but it's not the best recommendation from me sih. Hehe. Yay tos kak! ;D Makasih udah mampir :3

      Delete