Menu

Thursday, 16 January 2014

[Fan Fiction] "Nothing Left Untold" from Unbelievable by Winna Efendi



Joining  : #WFFB Winnaddict Fan Fiction Battle
Held by  : Winnaddict
Status  : Didn't Win

(http://twitpic.com/dqm47r)


Ummm, sorry, seat’s taken.”
      Gue bisa dengar suara sopran yang agak melengking itu, loud and clear, tapi gue lebih milih bertahan dalam posisi gue – kepala di atas meja, mata tertutup. I’m a man who can’t be moved.
      Tapi gue tau cewek ini nggak bakal berhenti gitu aja. Dia mendengus, terus mulai menyolek bahu gue pakai pensil. Mengangkat kepala dan merespon nggak bakal menyelesaikan masalah. Dia pasti mau nyuruh gue pindah tempat karena dia nggak PW duduk di sebelah gue – eits, tambah “dengan pandangan jijik” di sini.
      Emang sih, masih banyak tempat duduk lain di depan, tapi gue nggak mau pindah, karena posisi paling oke buat tidur di kelas kan, kursi paling belakang. Nah, kalau gue suruh dia yang pindah, dia pasti nggak bakalan mau – jawabnya pasti dengan nada jijik atau manja juga, dan alasannya pasti karena para ‘nerds’ yang bersarang di sana. And it will be an endless debate – kalau gue meladeninya. Jadi, lebih baik enggak, kan? 
      So, what I did is snore. Yeah, kode yang pasti dimengerti semua orang, bahkan cewek kayak dia, kalau gue lagi tidur dan nggak mau diganggu. Untungnya cewek itu beneran mengerti dan berhenti menyolek gue, lalu mendengus – lebih kedengaran kayak mendesah lega, sih. Mungkin tadi dia kira gue pingsan atau mati. Don’t care. Yang jelas, sekarang udah tenang. Bahkan, gue bisa dengar cewek itu bergerak menjauh.
      Baru aja gue menikmati ketenangan sesaat itu, Miss Layla masuk ke kelas dengan langkah mantap. And… she got good news and bad news. Good news is, kami bakal mulai praktek. Bad news is, kami harus pair-up. Sama teman yang duduk di sebelah kami. Sampai akhir semester.
      Fantastic.
     

It’s your fault. I’m turning into a geek.”
      Gue cuma bisa senyum waktu mendengar keluhan cewek itu. Lo suka banget sama film, ya?” tanya gue sambil memerhatikan camcorder yang selalu ada di tangannya itu. “Lo nggak pernah lepas dari barang itu.” Siapa yang menyangka camcorder bisa jadi salah satu aksesori cewek kayak dia? Atau emang lagi nge-trend?        
      “Suatu hari nanti, gue pengen bikin reality show yang terkenal. Kayak Reality Bites, gitu.”
      Gue mengangkat alis. “So, why not do it?”
       Cewek itu cuma mengangkat bahu, lalu mengalihkan topik pembicaraan. “Lo deket banget ya, sama keluarga lo? I think your parents are nice.”
      Oh, mungkin itu masalahnya. Karena orangtuanya. Gue mengangguk sambil mengetuk-negtuk jari. “Orangtua dimana-mana sama aja. Overprotective, selalu pengen tau, banyak ekspektasi.. tapi belakangan gue baru sadar kalau mereka sebenernya care.” Hold on, stop right there. “Wait, remind me why I’m telling you this?”
      “Coz you don’t have any other friends?” candanya. “Anyway, you’re not all that bad, kecuali selera fashion lo yang sangat terbelakang itu, ya.”
      Gue memasang tampang kaget yang dibuat-buat. “Oh sorry, is that offensive to you?”
      Kami sama-sama tertawa. You’re not all that bad yourself, Maybella Wijaya. Yeah, karena sering praktek bareng, kami bisa dibilang udah mulai ‘saling kenal’. Walaupun gue bisa menebak sebagian besar personality cewek ini, tapi tetap aja, ada beberapa hal nggak terduga yang baru gue ketahui tentang cewek ini.
      “Hei, lagi dengerin apa, sih?” Cewek itu tiba-tiba menyambar earphone sebelah kiri gue dan menempelkannya ke telinga. “Eh, nggak nyangka. Lo suka lagu ginian?”
      “Lo nggak suka?” Gue balik nanya.
      “Lebih suka top forties, sih, sama lagu house music. Mix lagu di Oracle, keren tuh.”
      Gue melengos. “Bonyok suka banget sama oldies dan jazz.” Dan gue pun mulai nyebutin nama-nama penyanyi jazz favorit bonyok. “Sejak kecil, di rumah gue diputerin lagu-lagu kayak gini.” And I don’t mind, actually.
      “Eh, kalau lo suka jazz, gue punya tiket buat ke Java Jazz. Acaranya lusa. Kalau mau, kita bisa pergi bareng, as friends.” Tiba-tiba aja, ide itu melintas di kepala gue.
      Gue pikir cewek ini bakal nolak mentah-mentah, tapi yang keluar dari mulutnya malah kebalikannya. “Sure. I’d love to.”


Gue nggak tau apa yang terjadi. Tiba-tiba aja cewek itu berubah. She becomes more unpredictable. Kayak barusan, dengan ajaibnya dia muncul di kebun belakang dengan tas camcorder-nya.
      “What’s wrong?” tanya gue akhirnya, karena, seberapa banyak pun cewek ini berubah, tetap aja mustahil dia datang ke sini karena iseng pengen bantuin gue kerjain tugas. 
      Dari praktek-praktek sebelumnya, dia selalu kerja paling minim. Bedah kodok, gue yang bedah, dia cuma menonton dan mencatat. Untuk praktek yang ini juga, gue yang gali tanah dan menanam bibitnya, dia cuma menonton, merekam, dan megangin kantong bibitnya. So, tell me, apa cewek ini datang ke sini buat menebus semua itu?
      Dia kelihatan kaget, mungkin karena nggak nyangka senyuman yang selalu hinggap di mukanya nggak bisa menipu gue, kayak dia menipu orang-orang lain.
      “Is this about the Flicks article few days ago?” tebak gue. Artikel nggak penting yang nyempitin mading dan loker orang. Kurang kerjaan banget.
      “Jadi lo udah baca,” sahut cewek itu lemas. “It’s not wholly true, if you’re wondering.”
      Gue mengangkat bahu. “So what if it’s true? Ini kan hidup lo, mereka nggak berhak nge-judge.” Even your mom can’t always tell you what to do, right?
      Cewek itu tersenyum. “Tell that’s to the rest of the world,” sahutnya sarkastis.
      Gue mendesah. “Kenapa, sih, lo concerned banget sama apa yang orang pikirin mengenai lo?” Akhirnya gue menanyakan pertanyaan itu juga. Iya, ini pertanyaan, yang butuh jawaban. Gue serius penasaran sama cara pikir orang-orang sekarang.
      “Because we’re what people see, and what people see is how they treat you.”
      Now, that is shallow. “Not true,” sahut gue langsung. “Yang dilihat orang itu cuma permukaannya, bukan dasarnya. Basically, we’re telling people a bunch of lies. You shouldn’t give a shit about what people are saying. I don’t.” Gue tau dia nggak nanya pendapat gue. Gue juga nggak yakin dia bakal dengerin. Tapi setidaknya, I’ve said what I have to say.
      Nggak disangka-sangka, cewek itu malah tersenyum. “Should I say thanks?” tanyanya.
      Gue tertawa. “You’re welcome.”


Gedung theater Voltaire lagi sepi hari ini – biasanya juga sepi, sih, menjadi lokasi yang bagus untuk bersantai. Baru aja gue duduk di salah satu kursinya, gue mendengar suara teriakan histeris yang familiar. Gue buru-buru keluar dan menghampiri sumber suara – di tangga belakang gedung ini, dan melihat tiga orang cowok – duanya berdiri, yang satunya lagi mendesak seorang cewek sambil mencengkeram pinggangnya.
      “Don’t struggle, it’s just a kiss.” Sayup-sayup, gue mendengar suara cowok itu, terus dia mendekat dan mencium cewek itu sambil menyingkap sedikit bagian bawah rok si cewek.
      Baru aja gue mau membentak mereka, seseorang mendahului gue. Ketiga cowok itu kaget, dan si cewek langsung menjauh sambil teriak kencang-kencang, membuat tiga cowok itu lari terbirit-birit.
      “Lo nggak apa-apa?” Cowok yang mendahului gue itu jongkok di dekat si cewek.
      Gue mengendurkan kepalan tangan gue. Well, I guess I’m not needed here. Gue pun berlalu dari situ.


Gue melangkah pelan menyusuri lorong menuju perpus pribadi Bokap sambil bersiul pelan. Seperti biasa, lorong yang panjang ini sepi nggak berpenghuni. Emang nggak banyak hal yang bisa dilakukan di sekitar lorong ini, paling cuma gue yang lewat buat baca buku di perpus.
      Waktu gue udah hampir sampai, langkah gue langsung terhenti begitu mendengar gumaman-gumaman kecil yang berasal dari ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Tumben ada orang lain di perpus. Gue melangkah pelan menghampiri ruangan itu dan gumaman-gumaman lirih itu terdengar semakin jelas.
      “Di sana, kita bisa start over. Papa yakin ini yang terbaik buat kita semua.”
      Gue menyandar ke dinding di sebelah pintu supaya nggak terlihat. Iya, to the point aja, gue emang berniat menguping.
      “Tapi, Pa, balik ke New York? Apa nggak terlalu jauh?” Itu suara Nyokap.
      “Kerjaan Papa–”
      Suara Bokap makin lama makin kecil, dan akhirnya nggak kedengaran lagi, karena gue berjalan menjauh. Gue nggak perlu tau kelanjutannya. Selain karena itu nggak penting dan bisa ketebak, gue emang nggak mau dengar. Something pushes me to go and not to listen.
      Start over, eh? Sounds nice, but, like I care. Ya, seharusnya gue nggak peduli. Mau netap di sini kek, mau pindah kek, sama aja, nggak ada bedanya. Tapi, kenapa sekarang gue jadi nggak bisa berhenti mikirin satu tempat yang harusnya nggak pernah hinggap di otak gue?


This is a bad idea. Remind me again why am I doing this? Buat orang-orang ‘normal’, datang ke Homecoming Dance di ballroom hotel, memakai baju terbaik mereka, berdansa ria bersama  teman-teman dengan lagu-lagu  yang belum tentu mereka tau judulnya, jelas lebih baik daripada  menghabiskan waktu di perpus pribadi sendirian, membaca buku-buku tebal yang membosankan. Tapi, gue bukan orang normal. Gue lebih memilih karatan di perpus daripada sakit kepala karena lagu-lagu nggak jelas ini. Mana harus pake tux, lagi.
      Gue memanjangkan leher sambil melongok ke kanan-kiri. Mustahil banget menemukan cewek itu di tengah keramaian begini. Apa gue pulang aja, ya? This thing can wait, anyway
      Waktu gue udah memutuskan untuk pulang aja, gue melihat cewek itu sedang berjalan ke arah gue. Well, ke arah lobby, lebih tepatnya. Dan waktu pandangan kami bertemu, dia langsung berhenti melangkah dan melongo menatap gue. Sumpah, ekspresinya lucu.
      Setelah diam beberapa detik, akhirnya cewek itu membuka suara. “Hai. Gue cabut dulu, ya,” ujarnya sambil membuat gestur ke arah pintu lobby.
      Oke, gue udah bela-belain datang ke sini, so, now or never. “Wait. Bisa ngomong bentar?”
      Cewek itu kelihatan ragu, tapi akhirnya ikut juga duduk di sofa yang diletakkan di sisi lobby. “I thought social scenes are not your thing,” komentarnya.
      They’re not, and they will never be. Gue mengangkat bahu. “Yet here I am.”
      Lalu, kami sama-sama diam. Gue tiba-tiba bingung mau mulai dari mana.
      Cewek itu terkikik. “Super awkward,” komentarnya.
      Gue mengiyakan. Well, here comes nothing. “Listen, May, I’m sorry. Nggak seharusnya gue begini ke lo.” Gue jeda sebentar, mikir. “The truth is… lo selalu jujur sama gue. Sementara gue enggak.”
      And she deserves to know. Gue menarik nafas, terus melanjutkan. “Tahun lalu, abang gue meninggal. Overdosis kokain. Saat ditemukan, gue yang megang barangnya.” Gue menghela nafas. Ingatan itu kembali memenuhi kepala gue, bikin gue sedih sekaligus kesal. “That’s why the name got stuck with me. Baru-baru ini, keluarga gue mutusin buat pindah ke New York. To start over.”
      Cewek itu masih diam aja, tapi gue tau dia memerhatikan, dilihat dari ekspresinya.
      “Gue nggak bisa bilang sama lo. Awalnya, gue pikir lo sama aja kayak yang lain, nge-judge orang dari penampilan dan statusnya doang. Kayak cewek-cewek lain di sekolah, yang picik dan nggak pernah ngerasain yang namanya susah. And you are.” Oke, ini kedengaran payah. Permintaan maaf macam apa ini? Jadi, gue buru-buru melanjutkan. “But then I get to know you, and you’re not so bad. Gue cuma mau bilang… gue minta maaf.”
      “Apology accepted,” jawabnya langsung tanpa pikir panjang. Well, that went well.
      Kami sama-sama tersenyum, terus tiba-tiba gue kepikiran sesuatu. Gue mengambil iPod Touch yang selalu ada di saku gue, terus mengulurkan sebelah earphone-nya ke arah cewek itu. “Shall we dance?”
      Cewek itu tersenyum lebar sambil menerima uluran gue. Gue sengaja memasang lagu dari Manhattan Transfer yang ikut tampil di Java Jazz waktu itu. Daripada pakai lagu nggak jelas yang dipasang di dance floor, this is much better.
      “Hey, you do realize we’re dancing in the middle of the lobby, right?” goda gue, dan cewek itu menatap gue lekat-lekat, terus tertawa.
      “Just shut up and dance.
      Dan gue cuma bisa menurutinya.


I hate goodbye moment,” keluh cewek itu sambil merapikan rambut gue.
      Gue menahan tangannya di sana sambil menatapnya lekat-lekat. “I’m not saying goodbye.”
      Panggilan untuk pesawatku kembali menggema di ruangan, dan setelah itu, semuanya berjalan dengans sangat cepat. Maybella yang tiba-tiba menarik ujung jaketku sambil berjinjit, terus dengan cepat menyentuh bibir gue dengan bibirnya. Cuma untuk sepersekian menit aja.
      Gue cuma bisa bengong bentar, terus pura-pura sibuk sama barang-barang gue. Habis, gue harus gimana? I’m not that romantic kind of guy. Jadi, gue cuma mengangguk singkat, terus beranjak menuju pintu imigrasi. Tapi, something feels not right.
      Gue balik lagi dan menghampiri cewek itu. “Take care,” ujar gue sambil menyelipkan secarik kertas kecil ke saku jaketnya.
      Like people said, last words are pretty much important. Don’t let anything left untold. Gue yakin sekarang cewek itu lagi senyum-senyum sendiri setelah membaca quote dari salah satu film favoritnya itu, yang tentu aja, gue balik kata-katanya.

      “But I’m just a boy, standing in front of a girl, asking her to love him.”

No comments:

Post a Comment