Menu

Sunday, 22 June 2014

[Book Review] Let Go by Windhy Puspitadewi


Judul Buku        : Let Go
Pengarang          : Windhy Puspitadewi
Penerbit            : Gagas Media
Jumlah Halaman : 244 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

“Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya. Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.”


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

‘Kehilangan’, sama seperti ‘melepaskan’, berkaitan dengan dua rasa: ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Kehilangan dan melepaskan itu dua kata yang berbeda, tapi kadang saling berhubungan. Saat kita kehilangan seseorang, nggak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan orang tersebut. Kurasa semua orang tau, melepaskan bukanlah hal yang mudah – susah pake "banget", malah.

Caraka mengalaminya – kehilangan sang Ayah, dan sulit melepaskannya. Dia jadi benci sama ayahnya karna tega ninggalin dia dan ibunya, jadi dia selalu menolak untuk ngunjungin makam sang Ayah. Lalu, dia bertemu dengan Nathan – cowok pintar yang selalu beraura dingin, Nadya – ketua kelas yang (sok) mandiri, dan Sarah – cewek pemalu yang sulit menolak permintaan orang lain.

Awalnya, dia nggak suka berteman dengan mereka, tapi, situasi menjebaknya, jadi dia terpaksa play the game. Tapi, lama kelamaan, dia pun terbiasa, bahkan menikmatinya. Sifatnya yang terlalu baik membuatnya menjadi ‘tukang ikut campur’. Dia nggak tahan liat orang lain kesulitan dan selalu ingin membantu, tapi terkadang dia nggak menyadari batas-batas privasi seseorang. Beberapa orang senang sama sifatnya itu, sisanya merasa keberatan. Tapi, berkat sifatnya itu pula, Raka belajar banyak – persahabatan, rela berkorban, dan tentu saja, melepaskan.


MY COMMENTARY

Dari awal, aku penasaran sama karyanya kak Windhy, apalagi yang "Let Go" ini. Karna udah langka, aku beli online, deh. Cukup susah, loh, tapi untungnya ketemu. Dari semua karya kak Windhy, yang pernah kubaca baru "Seandainya" dan "Let Go", dua-duanya beli online barengan. Terasa banget dua karya ini ditulis oleh orang yang sama. Dua-duanya punya moral lessons dan kisah yang menyentuh – bukan kisah romance menye-menye ala remaja. Ini yang kusuka – karya yang bermutu. Sayangnya, dari dua karya ini, jujur aja aku lebih suka "Let Go", sih, karena tokoh-tokohnya lebih terasa nyata dan unik, terus kisahnya lebih menyentuh, somehow.

Kenapa aku penasaran sama "Let Go"? Karna banyak yang bilang novel ini bikin sedih – tipe yang kusuka juga, didukung oleh cover berwarna biru yang ‘mellow’ atau ‘haru biru’ gitu, terus judulnya juga menarik: "Let Go" – melepaskan. Biasanya yang berhubungan dengan kata ini pasti ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’, like I said beforeJust an assumption, which is true, anyway – in this case.

Dan seperti novel Gagas lainnya, novel ini juga punya blurb yang bikin gregetan. Bedanya dari novel Gagas yang lain, blurb novel ini lebih jelas – sedikit mendeskripsikan isi novel, sedangkan novel lainnya – terutama novel-novel Gagas yang baru-baru ini dicetak, semua blurb-nya hanya berisi kata-kata puitis yang menggugah hati, tapi justru membuat pembaca bingung, mana yang harus dibeli, karena semua terdengar manis di telinga. Itu bagus, punya blurb yang menarik, tapi kelemahannya, kadang kata-kata manis itu memberi harapan kosong. Pembaca jadi berharap banyak, dan akhirnya malah kecewa sendiri. Novel ini beda. Aku nggak kecewa sama sekali setelah baca novel ini – bahkan baca ulang-ulang dan ngumpulin quote-quote bagusnya.

Seperti yang udah kusebut di atas, novel ini mengajarkan banyak hal, dan sanggup membuatku terharu. Kisahnya sederhana aja, tapi nggak ditulis sembarangan. Konflik-konfliknya nyata, yang biasanya dialami oleh pembaca di kehidupan sehari-hari. Begitu pula tokohnya – sifat-sifat mereka sering ditemui di dalam diri kita maupun orang lain, tapi kak Windhy berhasil membuat mereka unik, in their own ways.

Aku suka banget sama karakter Caraka. Kurasa semua fans kak Windhy yang udah baca novel ini juga kecantol sama dia. Habis, gemesin, sih! Nathan is fine, too. Dia yang bikin cerita ini makin sedih. Oh, bisa dibilang, it’s a sad ending, tapi karena tokoh utamanya belajar sesuatu dari itu, we can say it’s somewhere between.

Banyak kalimat-kalimat bermakna yang bisa dijadikan pelajaran buat kehidupan. Aku ingat, aku baca novel ini selama liburan lebaran tahun 2013. Aku pulang kampung dan bawa novel ini. Aku baca tanggal 8 Agustus, terus besoknya masih belum bisa move on, jadi ulang baca sambil ngutip kalimat-kalimat bagus, dan (ehem, malu, nih) dipost di twitter.


Er, tapi kayaknya nggak keliatan, ya? Oh, well. Pokoknya, novel ini recommended, deh. Everyone should read it! Pengen rate 5 of 5, tapi entar dibilang mainstream, jadi 4.5 of 5, deh. Hehehe. Good job, kak! You made me fall in love :3 Keep writing!

P.S. Review "Seandainya" nyusul, ya :D

No comments:

Post a Comment