Menu

Tuesday, 30 December 2014

[Reading Challenge] Young Adult Reading Challenge 2014 Wrap Up Post

Wah, nggak terasa tahun 2014 udah mau berakhir aja, ya, padahal rasanya baru kemarin tahun baru dan mulai ikutan reading challenge ini. Sekarang udah saatnya bikin wrap up post aja. Nah, mari kita lihat ada novel YA apa aja yang berhasil kubaca tahun ini, shall we?

1. Ai by Winna Efendi

2. Morning Light by Windhy Puspitadewi

3. Andai Kau Tahu by Dahliam

4. Touché by Windhy Puspitadewi

5. Paris: Aline by Prisca Primasari

6. With You by Orizuka dan Christian Simamora

7. Remember When by Winna Efendi

8.  Incognito by Windhy Puspitadewi

9. Call Me Miss J by Orizuka

10. Let Go by Windhy Puspitadewi

11. I for You by Orizuka

12. Promises, Promises by Dahlian

13. Montase by Windry Ramadhina


Makasih buat kak Tammy yang udah ngadain reading challenge ini. Semoga tahun depan ada lagi dan bisa ikutan lagi!

[Reading Challenge] Indonesian Romance Reading Challenge 2014 Wrap Up Post

Wah, nggak terasa tahun 2014 udah mau berakhir aja, ya, padahal rasanya baru kemarin tahun baru dan mulai ikutan reading challenge ini. Sekarang udah saatnya bikin wrap up post aja. Nah, mari kita lihat ada novel romance apa aja yang berhasil kubaca tahun ini, shall we?

1. Melbourne: Rewind by Winna Efendi

2. Beauty Sleep by Amanda Inez

3. Paris: Aline by Prisca Primasari

4. With You by Orizuka dan Christian Simamora

5. Remember When by Winna Efendi

6. 17 Years of Love Song by Orizuka

7. Ai by Winna Efendi

8. Morning Light by Windhy Puspitadewi

9. Andai Kau Tahu by Dahliam

10. Touché by Windhy Puspitadewi

11. Touché: Alchemist by Windhy Puspitadewi

12. Incognito by Windhy Puspitadewi

13. Rate My Love by Cassandra dan Ela

14. Call Me Miss J by Orizuka

15. Let Go by Windhy Puspitadewi

16. Till We Meet Again by Yoana Dianika

17. Summer Breeze by Orizuka

18. Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin

19. Refrain by Winna Efendi

20. Roma: Con Amore by Robin Wijaya 

21. The Truth about Forever by Orizuka

22. Love United by Orizuka

23. Infinitely Yours by Orizuka

24. I for You by Orizuka

25. London: Angel by Windry Ramadhina

26. Our Story by Orizuka

27. Always, Laila by Andi Eriawan

28. Truth or Dare by Winna Efendi and Yoana Dianika

29. The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka

30. Autumn in Paris by Ilana Tan

31. Camar Biru by Nilam Suri

32. Promises, Promises by Dahlian

33. Montase by Windry Ramadhina


Dengan bangga aku bisa bilang aku berhasil capai level "Married", walaupun aslinya masih single (and very happy). Hahaha. Makasih buat kak Sulis yang udah ngadain reading challenge ini. Semoga tahun depan ada lagi dan bisa ikutan lagi!

Monday, 29 December 2014

[Fan Fiction] What Now?

[Diikutkan dalam lomba fanfic The Chronicles of Audy Penerbit Haru]



"Hai, Rex."

     Aku mengangkat wajahku dari berbagai rumus Fisika dalam buku yang sedang kubaca untuk menghadap Ajeng, saingan utamaku di sekolah ini, yang rankingnya selalu membuntutiku. Ia tampak salah tingkah begitu pandanganku tertuju padanya.

     "Eh, anu... aku cuma mau ngucapin selamat berjuang untuk hari ini dan tiga hari ke depan," ujarnya lagi tanpa ditanya.

     Aku pun hanya mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih. Ajeng tampaknya menganggap itu sebagai respon positif, padahal aku berharap ia segera meninggalkanku sendiri lagi.

     "Kamu sudah tahu mau kuliah dimana?"

     Aku mengangguk sekilas. "UGM."

     Ajeng ikut mengangguk-angguk. "Seperti yang kuduga. Tapi kukira kamu mungkin mau ke universitas lain di luar kota yang lebih bagus, atau bahkan ke luar negeri."

     "Kenapa orang selalu menganggap apapun yang berasal dari luar negeri pasti lebih bagus dari yang ada di dalam negeri?" Aku tidak tahan untuk tidak berkomentar.

     Ajeng terbungkam selama beberapa saat, mungkin karena terlalu kaget mulutku mengeluarkan lebih dari lima kata. "Karena memang begitu kenyataannya?" jawabnya ragu.

     Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak selalu," sahutku datar.

     Ajeng pun mengangguk setuju, entah karena ia tidak mau membahas lebih lanjut, atau akhirnya menyadari betapa menganggunya kehadirannya di sini, karena setelah itu ia berbalik untuk kembali ke ruangannya. Tapi saat aku baru saja mengalihkan perhatianku kembali ke buku di hadapanku, Ajeng kembali menoleh.

     "Satu lagi, Rex," ucapnya ragu. "Ada yang ingin kutanyakan lagi."

     Aku pun mendongak malas-malasan dan menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa suara.

     "Kamu masih ingat Mbak yang pernah datang kemari waktu itu? Yang nyariin kamu untuk–"

     Anggukan cepatku memotong kalimatnya. Aku tidak membutuhkan penjelasan lebih detail soal itu. Tentu saja aku ingat.

     Ajeng menggigit bibirnya. "Apa dia... benaran pacarmu?"

     Aku pun menggeleng tanpa berpikir. Aku tidak ingat pernah mengatakan itu. Aku yakin 'Mbak' yang ia maksud juga tidak pernah mengaku-ngaku begitu.

     Ajeng mendesah lega. "Seperti yang kuduga, Mbak itu hanya mengada-ngada. Nggak mungkin kan, kamu pacaran dengan tante-tante yang jauh lebih tua–"

     "Dia baru berumur 22, kok," selaku lagi, dengan nada datar seperti biasa.

     Ajeng yang tidak siap dengan selaan itu tampak sedikit terkejut, namun langsung melanjutkan, "Tetap saja. Dia 5 tahun lebih tua dari kamu."

     "Lalu kenapa?" tanyaku.

     Ajeng terdiam. "Rex, jangan bilang kamu memang suka padanya?"

     Aku menatapnya datar. "Aku nggak bisa bohong ke kamu, kan?"

     Ajeng kembali terbungkam, lalu dalam diam, ia berbalik dan kali ini sungguhan berlalu dari hadapanku. Aku mendesah dan membalik halaman bukuku, tapi kini aku sudah tidak bisa berkonsentrasi. Terima kasih pada Ajeng dan gadis yang diungkit-ungkitnya barusan.

     Seusai ujian hari pertama itu, aku bergegas pulang. Seperti biasa, aku memilih jalan yang melewati sebuah kos-kosan nomor 21. Ya, kebetulan rumah yang ditinggalinya sekarang bernomor 21 juga, tapi terletak di jalan yang berbeda. Aku berhenti di depan gang menuju rumah itu, lalu otomatis berhenti melangkah saat mendapati seorang gadis yang sedang berjalan di hadapanku. Ia sedang memeluk beberapa buku tebal di depan dadanya, lalu berhenti di depan rumah bernomor 21 itu dan memasuki pagarnya. Tidak seperti biasa, bukannya beranjak masuk ke pintu depan, ia malah meletakkan buku-buku yang ditentengnya ke atas meja di teras, lalu duduk di kursinya dan mulai tekun membaca.

     Sejak kepindahannya, ia memang jadi lebih rajin menggarap skripsinya yang terbengkalai. Ia jadi lebih sering ke kampus, baik untuk menemui dosen pembimbingnya, atau meminjam buku di perpustakaan. Tampaknya ia lebih suka belajar di rumah daripada di perpustakaan. Jelas saja, ia terlalu mudah terdistraksi. Di tempat ramai seperti perpustakaan, walaupun orang-orang juga belajar atau membaca buku, ia bisa menemukan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.

     Bukannya di rumahnya tidak ada pendistraksi lain, tapi setidaknya, ia sudah tidak punya pekerjaan-pekerjaan rumah atau hal-hal sepele lainnya yang harus ia urus seperti saat sedang berada di rumah kami. Atau mungkin karena ia ingin cepat-cepat lulus agar tidak membebani orangtuanya dan juga Mas Regan yang membiayai kosnya. Yang jelas, ia memang melaksanakan apa yang harus ia lakukan. Seperti aku yang fokus belajar agar bisa cepat-cepat lulus SMA dan kuliah, lalu mendapat pekerjaan bagus dan meringankan beban Mas Regan dan Mas Romeo, juga membiayai kos gadis itu baik sebelum maupun sesudah ia lulus.

     Gadis itu akhirnya menyadari kehadiranku dan mendongak saat aku berdeham pelan. "Oh, hai, Rex!" sapanya kelewat ramah.

     Ia tampak terkejut akan kehadiranku. Tentu saja. Aku memang sengaja tidak datang menemuinya sejak ia pindah. Bukan berarti kami tidak pernah bertemu, karena kadang saat aku sedang jalan pagi, kami tidak sengaja berpapasan saat ia hendak pergi ke warung yang terletak di jalur jalan pagiku. Kadang, aku yang sengaja mengubah jalur agar bisa bertemu, atau setidaknya melihatnya dari jauh.

     "Kelihatannya udah nggak perlu bantuanku lagi, ya?" komentarku sambil mengamati buku yang sedang dibacanya tadi.

     Audy tersenyum kecil. "Kamu kan punya kesibukan sendiri," ujarnya, lalu seakan teringat sesuatu, ia bertanya, "Ah, ujianmu gimana?"

     "Aku sudah selesai UAS sama ujian praktek. Sekarang tinggal UN. Hari ini hari pertama," jelasku.

     Audy mengangguk-angguk. "Sudah tahu mau masuk universitas mana?" tanyanya lagi, dan aku pun mengangguk.

     "UGM," sahutku pelan, membuatnya kembali mengangguk-angguk.

     Ia bisa saja menanyakan kabar ketiga saudaraku dan juga Mbak Maura, tapi ia tidak melakukannya. Kami malah saling tatap dalam diam. Kurasa ia tahu ia tidak perlu basa-basi bertanya, karena toh, setiap hari ia masih sempat bertemu dengan mereka saat hendak mengantar-jemput Rafael.

     "Jadi, masih perlu bantuanku nggak, setelah aku selesai UN?" tanyaku akhirnya.

     Audy tampak menimbang-nimbang. "Bukannya kamu perlu mempersiapkan diri untuk masuk UGM? Atau malah sudah diundang duluan?"

     Aku mengangguk. "Aku bisa bantu kamu setelah UN."

     Audy ikut mengangguk-angguk. "Dasar anak genius. Hati-hati, jangan terlalu sombong dan percaya diri terus malah jadi nggak lulus UN. Bukannya UGM peduli, sih. Mereka pasti tetap mau kamu masuk sana tanpa harus lulus UN. Dunia ini nggak adil," cerocosnya.

     Hampir saja aku tersenyum, tapi aku berhasil menahannya dan melepaskan dengusan. "Sudah, nggak perlu pusingin itu. Pikirin saja skripsimu itu. UGM pasti nggak sabar kamu cepat-cepat lulus dan ninggalin kampus itu."

     Audy mendengus kesal, tapi lalu menatapku lama, membuatku sedikit risih. "Rex, masih suka aku?"

     Aku terdiam. Kenapa sih, ia hobi sekali menanyakan pertanyaan itu? Apa ia kira perasaanku begitu mudah berubah? "Masih," jawabku tegas. "Tapi aku nggak mau saat aku sudah lulus SMA, bahkan kuliah dan mendapat pekerjaan - saat aku akhirnya sudah bisa diandalkan dan siap minta jawaban dari kamu, kamunya malah belum bisa kasih jawaban karena masih sibuk pusingin skripsi."

     Audy mendengus kesal. "Huh. Lihat saja nanti. Aku bakal selesein skripsi sebelum kamu sempat masuk UGM, biar nggak perlu ketemu kamu di sana."

     Aku mendengus. "Good luck with that," ujarku dengan nada sarkastis yang sangat kentara, lalu berbalik untuk melanjutkan perjalanan pulangku. Aku berani jamin, di belakangku, Audy sedang mengumpatiku, jadi aku tersenyum.

Wednesday, 17 December 2014

[Book Review] Montase by Windry Ramadhina


Judul Buku       : Montase
Pengarang         : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 368 halaman
My Rating          : 4.5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.


THE AUTHOR

Windry Ramadhina lahir dan tinggal di Jakarta, berprofesi sebagai arsitek lepas dan mendirikan biro desain sendiri. Ia mulai menulis fiksi sejak medio 2007 di kemudian.com dengan pseudonim miss worm. Pada tahun 2008, ia terpilih menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta. Ia menerbitkan novel pertamanya, Orange, pada tahun yang sama dan dinominasikan sebagai Penulis Muda Berbakat dalam Khatulistiwa Literary Award. Pada tahun 2009, ia kembali dinominasikan untuk kategori Prosa Terbaik lewat novel "Metropolis". Waktu luangnya diisi dengan wisata kuliner di sejumlah mal Jakarta Selatan, mendengarkan musik gubahan L'Arc~en~Ciel, menonton film, membaca buku, dan bermain dengan gadis kecil kesayangannya.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Cinta itu seperti pencuri di malam hari. Datang diam-diam tanpa diundang, mencuri hati kita. Kita bisa jatuh cinta kapan aja dan dengan siapa aja. Semuanya muncul secara tiba-tiba, tanpa alasan, karna cinta yang didasari oleh sebuah alasan nggak akan bertahan lama. Ketika alasan itu udah nggak cukup kuat atau  mulai pudar, rasa cinta itu pun lama kelamaan akan hilang bersamanya.

Karya brillian dari kak Windry yang berjudul "Montase" ini menceritakan kisah seorang pemuda bernama Rayyi yang hidup di bawah bayang-bayang ayahnya, sang produser sinetron yang terkenal. Dia ditekan oleh harapan ayahnya untuk melanjutkan takhtanya. Padahal dia nggak menyukai bidang ayahnya itu. Dia memiliki cita-citanya sendiri. Tapi, dia nggak cukup berani untuk memperjuangkan cita-citanya itu, jadi dia hanya tunduk di bawah perintah sang ayah.

Lalu, dia bertemu dengan seorang gadis transferan dari Jepang bernama Haru, yang juga menekuni bidang film dokumenter, seperti dirinya. Kasus pada Haru juga mirip dengannya. Haru ingin menjadi pelukis, tapi kedua orangtuanya sangat menyukai film dokumenter, jadi dia memutuskan untuk menjadi pembuat film dokumenter. Yang berbeda adalah, Haru nggak dipaksa oleh orangtuanya. Itu adalah keinginannya sendiri.

Haru membuka mata Rayyi, menyentaknya ke dalam dunia yang berbeda. Sudut pandangnya diubahkan, dan gadis itulah yang memberinya keberanian untuk memperjuangkan cita-citanya. Sifat ceroboh Haru, dan segala yang ada padanya sangat menarik perhatian Rayyi, tapi dia berusaha mengabaikannya. Namun, takdir berkehendak lain. Seakan ada magnet di antara mereka, yang terus mempertemukan dan akhirnya menyatukan mereka. Tanpa sadar, benang merah di antara mereka telah ditautkan oleh sang takdir, dan Haru telah menorehkan kesan yang sangat dalam di hati Rayyi, sehingga ketika mereka berpisah, sebagian hatinya ikut pergi bersama gadis itu. Kalau Haru benar-benar pergi, sanggupkah Rayyi menghadapi kenyataan itu?


MY COMMENTARY

Novel yang sangat mengharukan ini sanggup menyayat hati siapapun yang membacanya. Novel ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ceritanya sarat akan pesan moral, yang berpesan kita harus terus mengejar mimpi kita dan kalau kita terus berusaha, kita pasti bisa mencapainya. Selain itu, novel ini juga mengisahakan tentang obsesi seseorang, yaitu pada film dokumenter, dan mendeskripsikannya dengan baik – latar tempat, suasana, dan detail-detail lain yang bisa mengaktifkan daya imajinasi para pembaca. Bahasanya yang komunikatif menciptakan hubungan yang akrab dan hangat dengan pembaca. Aku merasa seakan-akan sang tokoh sedang menceritakan isi hatinya padaku. Kisah penuh perjuangan dan romantisme ini ditutup dengan sebuah ending yang nggak disangka-sangka, dan sanggup menjadi magnet yang menarik bulir-bulir air mata - walaupun aku nggak nangis, sih. hampir aja.

Sudut pandang yang digunakan hanya satu, yaitu sudut pandang orang pertama dari sisi Rayyi. Itu membuat cakupan penulis menjadi agak sempit, karena nggak dapat menyelami pikiran tokoh lain. Tapi, kak Windry berhasil menyulapnya menjadi sesuatu yang misterius dan menumbuhkan rasa ingin tauku, lalu dengan cara yang unik, dia mengungkap rahasia dan misteri-misteri yang muncul satu per satu. Alurnya yang maju-mundur membuatnya terasa lebih menarik. Flashback mengenai hal-hal yang menjadi misteri atau kenangan indah emang menambah cita rasa yang berbeda pada sebuah cerita.Pendeskripsian akan karakter dan pikiran tokoh disajikan dengan sangat detail, sehingga tokoh-tokoh yang ada terasa hidup dan nyata. Kak Windry sangat menghayati perannya sebagai ‘aku’ atau sang tokoh utama di novel ini – Rayyi, sehingga segalanya terasa real

Warna sampulnya memang kurang cerah – warna cream dengan goresan sketsa pensil, sehingga kurang menarik perhatian pembaca, tetapi sentuhan ujung pensil yang mensketsa gambar sebuah taman dengan pohon sakura dan bangku taman itu sungguh bermakna, seakan Haru yang menggambar tempat dimana dia berada. Lalu, ganbar itu disketsa di atas sebuah kertas foto lama – yang masih berupa rol dan berwarna hitam-putih, membuat kesan unik dan antik, dan juga cocok dengan model kamera tua yang dipakai Haru. Belum lagi judulnya yang unik, yang merupakan istilah dalam fotografi. Walaupun terdengar asing di telinga kaum awam, tapi justru membuat pembaca merasa penasaran dengan isi novel. Dan aku yakin kata ‘montase’ itu memiliki makna yang dalam.

Novel ini bukan novel yang mendayu-dayu dan terlalu romantis, sarat akan pesan moral pula, jadi dapat dibaca oleh semua kalangan. So recommended! Novel ini selain dapat menghilangkan rasa jenuh yang melanda, juga sanggup membangkitkan rasa semangat para pembaca untuk terus mengejar mimpi, setinggi apapun itu. Well done, kak. Keep writing!

Monday, 8 December 2014

[Book Review] Promises, Promises by Dahlian


Judul Buku          : Promises, Promises
Pengarang          : Dahlian
Penerbit              : Gagas Media
Jumlah Halaman : 360 halaman
My Rating           : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya “Apa kabar?” dan “Aku selalu memikirkanmu” bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak akan membiarkanmu memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu... meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu—tetapi aku sendiri ragu akan hal itu.

Aku benci tak jujur kepadamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatku jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka lagi...


THE AUTHOR

Dahlian (nama pena), pernah berkuliah di UI dengan jurusan Sastra Cina. Sebelum menulis dengan nama pena Dahlian, dia dikenal karena lima buah novel komedi, terbitan GagasMedia, lalu nekat berkolaborasi menulis novel romance dengan teman kuliahnya yang juga penulis, Gielda Lafita. 
(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

CLBK, alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Pernah denger? Atau malah pernah mengalami? Atau sedang mengalami? Ehem, atau sering ngalamin? Lol. Fiona dan Evan pernah mengalaminya.

Novel ini bercerita tentang sepasang kekasih di masa lampau yang kembali dipertemukan di suatu waktu setelah sekian lama. Di saat itu, keduanya udah berbeda dari yang dulu. Evan udah menikah, sedangkan Fiona bahkan udah memiliki satu anak. Tapi, takdir berkata lain. Evan sedang dalam proses perceraian dengan istrinya, sedangkan Fiona adalah single parent.

Cinta lama bersemi kembali. Lebih tepatnya, cinta yang udah lama terpendam akhirnya dapat mekar kembali. Keduanya masih saling mencintai seperti sedia kala, namun keadaannya udah berbeda. Fiona takut kejadian di masa lalu, yang menyebabkan mereka berpisah, kembali terulang. Dia masih sulit memaafkan perbuatan Evan, dan sulit juga untuk kembali membuka hati buat pria yang pernah menyakitinya itu.

Konflik demi konflik datang menghalangi hubungan mereka. Nggak hanya konflik batin, tapi konflik dari luar juga. Namun, yang namanya cinta sejati, tetap lebih kuat dari apapun. Mereka berhasil mengatasi segalanya karna cinta mereka lebih kuat dan memenangi pertarungan.


MY COMMENTARY

Walaupun aku nggak terlalu suka sama novel dengan adegan-adegan dewasa seperti novel ini, tapi aku suka inti ceritanya yang benar-benar kompleks. Mengharukan dan sangat romantis. Bagaimana perjuangan Evan untuk merebut kembali hati Fiona... Bagaimana cinta mereka tetap berdiri kokoh menghadapi rintangan-rintangan yang ada... Konflik-konflik yang dihadirkan begitu hidup, dan juga nggak disangka-sangka, membuatku nggak henti-hentinya berdecak kagum. Akhir yang bahagia pun membuatku mendesah lega.

Pendeskripsiannya juga sangat baik, bagaimana kak Dahlian sangat mendalami profesi Fiona yang menjadi interior designer. Tokoh-tokoh yang ada juga begitu hidup, dengan latar belakang dan konflik batin yang nyata. Aku jadi ikut empati sama mereka. Covernya yang berwarna cream dengan gambar bunga-bunga berwarna kalem memberikan kesan elegan dan sangat menggugah hati. Aku sebagai pembaca langsung jatuh cinta begitu melihat covernya, dan jadi nggak sabar untuk melahap isinya sampai habis.

Recommended, people! Tapi untuk yang udah cukup umur, ya (walaupun aku sendiri belum :p Eh, emangnya "cukup umur"nya itu berapa, ya? Buat aku sih, nggak akan pernah cukup. Lol). Way to go, kak. You're amazing. Keep writing!

Wednesday, 29 October 2014

[Book Review] Love United: High School Paradise 2nd Half by Orizuka


Judul Buku        : Love United: High School Paradise 2nd Half
Pengarang          : Orizuka
Penerbit            : Puspa Populer
Jumlah Halaman : 190 halaman
My Rating           : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Cinta memang berjuta rasanya.... Begitu juga sekarang yang terjadi pada Fantastic Four-nya SMU Athens, Cokie, Lando, Rama dan Sid. Semuanya terkena demam 'Cinta', walau tentu saja nggak meninggalkan kegilaan mereka pada satu hal yang sama, SEPAKBOLA. Awalnya sih mereka nggak sadar kalau terkena virus cinta. Jadi, pas sadar, beragam cerita seru mulai menghapiri mereka.

Si playboy Cokie harus berhadapan dengan demo para cewek yang patah hati. Lando yang pendiam sampai menangis ketika pujaan hatinya ke rumah. Beda lagi dengan Sid, Si imut yang berhadapan dengan cinta pertamanya, Amel, hingga harus 'perang dingin' dengan Julia. Jadi, Apakah virus cinta kali ini bisa mempersatukan cinta-cinta mereka? Atau masih ada yang patah hati gara-gara bertepuk sebelah tangan?


MY SUMMARY

Jatuh cinta? Semua orang pasti akan merasakannya. Tapi, bagaimana jika kita tau kalau kita sedang jatuh cinta? Ada yang bilang, saat jatuh cinta, jantung kita akan berdetak nggak karuan, pipi kita memanas atau merona, nafas kita memburu, rasa bahagia yang meluap-luap, dan lain-lain. Tapi, ada juga yang bilang kalau jatuh cinta itu sakit, mungkin kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan. Ada banyak kisah cinta yang terjalin di dunia. Ada yang romantis, mengharu-biru, bahkan menggelitik saraf tawa. Cinta bisa kapan datang aja tanpa diundang.

Di novel ini – sekuel dari "High School Paradise", ada banyak kisah cinta yang terbentuk selama masa SMA. Ada kisah cinta yang kocak, menyayat hati, manis, semuanya bercampur aduk di novel ini, membuatnya menjadi satu paket lengkap. Setting yang digunakan adalah Jakarta, menyorot kehidupan para remaja yang bersekolah di sebuah SMA elite bernama Athens. Tokoh utamanya adalah empat cowok jenius sekaligus bengal yang sangat mencintai sepak bola, yaitu Rama, Cokie, Lando, dan Sid. Mereka berempat cowok-cowok keren yang popular di sekolah.

Di novel ini, keempat cowok keren ini sedang disambet virus cinta. Ada Rama, cowok yang baik luar-dalam dan dewasa, telah menjalin hubungan 4 tahun dengan cewek yang lebih tua 3 tahun darinya. Ada Cokie, cowok paling ganteng yang terkenal playboy, akhirnya tobat dan menemukan cewek sederhana yang sanggup membuatnya bertekuk lutut. Ada Lando, cowok pendiam dan dingin yang menemukan malaikat hidupnya. Dan terakhir ada Sid, cowok pirang imut yang lugu, yang menghadapi dilema dalam memilih cinta sejatinya – antara cinta pertamanya yang udah 3 tahun dinantinya, atau cewek ceria yang selalu mengajaknya bertengkar, tapi sangat cocok dengannya. Di akhir, mereka menemukan cinta sejati mereka masing-masing.


MY COMMENTARY

Novel ini benar-benar top. Satu paket lengkap. Novel ini sanggup menumbuhkan bunga-bunga di hatiku, tapi kemudian mencabutnya begitu aja, bikin sakit hati tapi kadang menggelitik saraf tawa juga. Tokoh-tokoh yang diperkenalkan ada banyak, tapi kak Ori sanggup mendalaminya satu per satu. Setiap tokoh memiliki karakter dan latar belakang masing-masing yang sangat unik dan nyata. Selain itu, karakteristik mereka yang berbeda-beda dan menonjol membuat mereka nggak tertukar-tukar dan nggak sulit dihafal. Chemistry antar tokoh juga dibangun dengan brilian, terlihat dari setiap interaksinya. Itu semua membuat novel ini terasa sangat hidup, membuatku mengenal akrab para tokoh dan seakan memasuki alur ceritanya. 

Novel ini lebih fokus pada hubungan antar tokoh, penokohan, dan alur, jadi nggak begitu memperhatikan setting. Bisa dibilang, settingnya itu-itu aja, tapi secara ajaib, kak Ori sanggup membuatku nggak merasa bosan, bahkan nggak sadar kalau setting yang digunakan kadang berulang-ulang. Bahasa yang digunakan sederhana dan komunikatif, jadi mudah diserap dan terasa lebih akrab, serta sangat cocok dengan tokohnya yang masih remaja. Alurnya menarik, naik-turun, membuatku terhanyut dalam cerita, dan seakan sedang naik rollercoaster yang sangat seru. Karena ada banyak tokoh, kisah tiap tokohnya diselang-seling, diceritakan bergantian. Itulah yang membuatku nggak merasa bosan. Alurnya kompleks dan kece abis.

Sunday, 5 October 2014

[Movie Review] The Maze Runner (2014)


Movie Title      : The Maze Runner
Directed by     : Wes Ball
Based on        : The Maze Runner by James Dashner
Distributed by : 20th Century Fox
My Rating       : 5 of 5

(http://en.wikipedia.org/wiki/The_Maze_Runner_(film))

The Maze Runner is an American science fiction action thriller film about  a sixteen-year-old Thomas, who awakens in the middle of nowhere. He then learns that he and the other boys are put there. They are provided through the boxes that are sent there. The boys have been establishing a functioning society, also trying to find their way out of the ever-changing labyrinth. They have a team called Runners, who are the only ones allowed to get into the intricate maze to map it and try to search for an escape route during the day, but return before nightfall, as the Maze entrance closes at dusk, and no one has ever survived a night in the Maze. It’s been happening for three years, and finally, something changed, forcing them to rush and find the way out as soon as they can.
Main challenge of writing a movie review is not to spoil anything. I’m trying hard, so I hope I don’t spoil anything. The storyline is brilliant. I love the intriguing premise and the fascinating setting. The casts perform really well, too. And they’re all good looking and lovable! There is no significant twist, but it doesn’t mean it is predictable. When we are brought to a completely different kind of world, we don’t really know what to expect, so we just sit back and enjoy the ride. The plot is flowing like a river, so I don’t really have time to think. I just enjoy it. The ending is not predictable, since I don’t have any prediction. What I didn’t see coming was that there will be a sequel. I’m looking forward to see it! Recommended for everyone!



I also posted this review on my Bubblews account. Check it out!

Saturday, 4 October 2014

[Movie Review] Gone Girl (2014)


Movie Title      : Gone Girl
Directed by     : David Fincher
Based on         : Gone Girl by Gillian Flynn
Distributed by : 20th Century Fox
My Rating        : 5 of 5

(http://en.wikipedia.org/wiki/Gone_Girl_(film))

Gone Girl is an American mystery thriller film about a woman who goes missing on the day of their fifth wedding anniversary. The disappearance creates media frenzy and as a result of his awkwardness in front of cameras, Nick Dunne, her husband, is accused as the prime suspect. Clues after clues, they are led to different directions, until Nick actually manages to figure out what is actually happening. It is not as what they think it is at all. 

This is a really amazing movie with genius storyline and twists, so I am not spoiling anything. That’s why the summary is short. It’s pretty much telling you what’s in the trailer, but it’s much more than that. Such a unexpected and unpredicted one. And the ending, is so annoying! Making me so curious. They’re not kidding when they say this is a thriller. Not just an ordinary mystery murder case, believe me. It won’t be something you ever think of. It’s a pretty long storyline, feels like a never ending one. I spent the whole movie trying to figure out what is going on, and I really enjoyed. It’s just brilliant. I don’t even know how to describe. Mind-blowing would fit really good for this movie. Gillian Flynn, you are a genius! I really want to read the novel now, but some says the ending is different. I’m expecting a sequel, to be honest. 

If you like mystery-thriller, especially psycho movie, this is recommended for you.



I also posted this review on my Bubblews account. Check it out!

Sunday, 28 September 2014

[Book Review] I for You by Orizuka


Judul Buku        ​ : I for You
Pengarang         ​  : Orizuka
Penerbit​             : Gagas Media
Jumlah Halaman  : 380 halaman
My Rating           : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Suatu hari dalam hidupku, kau dan aku bertemu. Masih jelas di ingatanku sosokmu yang memukauku. Lidahku jadi kelu, mulutku terkatup rapat karena malu. Setiap malam, bayangmu menari-nari dalam benakku.

Ada sejuta alasan mengapa aku begitu memujamu. Kau menyinari relung gelap hatiku. Kau satu-satunya orang yang ingin kurengkuh. Kau yang bertanggung jawab atas segala rindu. Kau adalah yang teristimewa bagiku.

Tanda-tandanya sudah jelas: aku menyukaimu. Tetapi, bagaimana caranya untuk mendekatimu? Kau begitu jauh, sulit kuraih dengan jari-jemariku.

Dan semakin lama, aku mulai menyadari satu hal. Bahwa kau dan aku mungkin ditakdirkan tak bisa bersatu.


THE AUTHOR

Bernama lengkap Okke Rizka Septiana. Gadis penggemar thriller yang senang mempelajari berbagai bahasa asing ini lahir di Palembang dan besar di Cirebon. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan musik serta fangirling bersama Kpoppers. Karya-karyanya antara lain: "Me & My Prince Charming", "Summer Breeze" (repackage: That Summer Breeze), "Duhh... Susahnya Jatuh Cinta...!" (repackage: Meet The Sennas), "Miss J" (repackage: Call Me Miss J), "High School Paradise", "Fight for Love!", "Love United: High School Paradise 2nd Half", "The Truth about Forever", "17 Years of Love Song", "The Shaman", "FATE", "Our Story", "I for You", "With You", "Best Friends Forever", "The Chronicles of Audy: 4R", "Oppa and I", "Oppa and I: Love Missions", "Oppa and I: Love Signs", "Infinitely Yours". 
(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Bercerita tentang seorang gadis blasteran yang sangat cantik bernama Cessa. Dia adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya. Lalu, ada seorang pemuda bernama Benji, yang juga blasteran yang sangat tampan dan anak seorang pengusaha kaya juga. Mereka berdua bagaikan putri dan pengeran yang diciptakan untuk satu sama lain. Mereka udah bersama sejak lahir dan selalu bersama hingga mereka besar. Mereka nggak terpisahkan, seperti ada sebuah gelembung yang melingkupi keduanya dan memisahkan mereka dari dunia luar. ​Namun, suatu saat, mereka memutuskan untuk menerbangkan gelembung itu ke dunia luar dan mencoba untuk keluar dari lingkupan gelembung itu. Mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, dan ada dua orang yang sangat spesial di hati mereka, yang berhasil memasuki gelembung milik mereka berdua itu.

Walaupun udah menemukan cinta mereka masing-masing, Cessa dan Benji tetap nggak terpisahkan. Mereka punya hubungan yang kuat dan kompleks, yang nggak dapat dimengerti oleh orang lain, bahkan tambatan hati mereka. Pepatah mengatakan, cinta butuh pengorbanan. Hal itu benar. Mereka pun terpaksa merelakan cinta mereka dan masuk kembali ke dalam gelembung yang mereka bentuk, yang sekarang hanya berisikan mereka berdua saja. Tapi, cinta memiliki kekuatannya sendiri, yang sanggup menyatukan dua orang yang telah dikaitkan oleh benang merah. Di akhir cerita, Cessa dan Benji berhasil memperjuangkan cinta mereka dan meraih kebahagian mereka masing-masing.


MY COMMENTARY

Novel ini benar-benar bagus! Topik yang dipilih, sih, bisa dibilang biasa, dimana percintaan, persahabatan, dan kekeluargaan dipadukan jadi  satu. Tapi, seperti biasa, kak Ori, dengan 'magic'-nya, mengubah tiga hal biasa itu menjadi sebuah kisah yang luar biasa mengharukan. Alurnya sangat menarik, sanggup menghanyutkan para pembaca ke dunia yang berbeda. Diksi yang digunakan kak Ori pun begitu menyentuh hati. Ketebalan novel ini nggak menghalangiku untuk terus membacanya hingga akhir. Justru ceritanya yang panjang membuat novel ini asyik untuk dibaca.

Pendeskripsian tempat dipaparkan dengan sangat baik, membuatku merasa seperti sedang berada di tempat yang dideskripsikan. Cara kak Ori menggambarkan suasana juga membuat pembaca melihat apa yang dilihat sang tokoh, mendengar apa yang didengar, mencium apa yang dicium, dan merasakan apa yang dirasakan. Tokoh-tokohnya terasa sangat nyata. Penyajian ceritanya mengalir dengan lancar, menenggelamkanku, membawaku hanyut dalam arusnya. Novel ini sanggup mengontrol emosi dalam diriku. Ceritanya dapat membuatku tertawa, menangis, tersenyum, berbunga-bunga, marah, dan sebagainya.

Selain itu, setiap bab baru diawali oleh quote indah yang menggambarkan inti dari bab itu. Quote itu membuatku semakin semangat dan penasaran untuk membaca keseluruhan bab maupun keseluruhan novel. Design layout novel ini juga menarik. Sampul dan judulnya juga sangat menggugah hati, benar-benar menggambarkan isi bukunya.

Namun, bahan yang digunakan untuk sampul kurang baik, sehingga mudah lecek dan koyak, maka dari itu sebaiknya novel ini disampul. Selain itu, karena novel ini cukup tebal, akibatnya beberapa halaman dapat lepas dari buku dan tercecer. Above it all, aku benar-benar menyukai novel ini. Recommended! Kayaknya ini novel pertama yang bikin aku berkaca-kaca. Love it! Way to go, kak. Keep writing!

Tuesday, 2 September 2014

[Reading Challenge] New Authors 2014 Update (July-August)

Aku baru sadar aku nggak ada update selama bulan (Mei-Juni). Entah kenapa. Kayaknya kelupaan. Hiks. Baiklah, ini dia update bulan Juli-Agustus. Nggak banyak, sih, but not bad.

#1 A Cat in My Eyes -Fahd Djibran (Juli)
#2 Derita Mahasiswa - @deritamahasiswa (Juli)
#3 Rate My Love - Cassandra and Ela (Agustus)

Kangen menang GA dari kak Ren, nih.... *kode*. Lol. Sekian dan terima kasih *kabur sebelum ditimpuk*. Happy reading! :D

Saturday, 23 August 2014

[Book Review] Rate My Love by Cassandra and Ela


Judul Buku       : Rate My Love
Pengarang         : Cassandra dan Ela
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 214 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Bercerita tentang Feel yg “beruntung” lulus seleksi reality show bertema cinta Rate My Love. Sesuai iklan reality show ini menjanjikan Feel akan bertemu “The One” seseorang yg bisa jadi bagian dari masa lalu masa kini atau malah masa depan. Feel tak tahu bahwa reality show itu belakangan berubah konsep krn produser Dimitri punya rencana lain. Perjalanan Feel mencari cinta ini harus meraih rating bagus”dan utk memastikan itu dia tak segan-segan melakukan segalanya. Segalanya.. termasuk “memanfaatkan” sisi nyata dalam reality show itu. Siapapun yg akan dipertemukan dgn Feel HARUS mendongkrak rating.


THE AUTHORS

Cassandra adalah penulis novel, skenario film, sinetron, dan sedang mempersiapkan film yang ditulis dan disutradarainya sendiri dengan judul "Oh, Baby". Ela, yang sehari-harinya bekerja sebagai akunting ini sebelumnya pernah menulis novel berjudul "Rate My Love", dan "40 Hari Bangkitnya Pocong". Di waktu luang sering membuat outline cerita.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Feel patah hati karena pacarnya berselingkuh dan mencampakkannya. Di tengah kegalauannya itu, dia akhirnya mengikuti reality show di televisi yang berjudul "Rate My Love". Acara ini menampilkan kisah Feel yang mencari cinta. Produser acara "Rate My Love", Dimitri, memanfaatkan sisi realita hidup Feel untuk bahan acara tersebut. Dia melakukan segalanya untuk mengejar rating. Namun, apa daya, dia malah terjebak dalam perangkapnya sendiri.


MY COMMENTARY

Romance comedy, my favorite! Kocak dan entertaining banget! Tingkah Feel dan segala hal konyol yang dilaluinya benar-benar menghibur. Alurnya menarik dan tak disangka-sangka. Siapa yang mengira novel kocak ini juga bisa berakhir sedih? Uh, akhirnya bener-bener bikin gemes. Nggak sampe nangis, sih, tapi gemes aja! Novel ini benar-benar memiliki daya tariknya sendiri. Unik, beda dari yang lain. Pendeskripsian setiap adegannya yang detail dengan bahasa yang mengalir membuatku hanyut dalam arus ceritanya. Setiap tokoh memiliki kepribadian dan latar belakang masing-masing, membuat mereka semakin nyata dan hidup. Penulis juga nggak melupakan logika cerita, dimana segala hal yang terjadi ada alasan dan keterkaitan dengan hal lain.

Covernya yang kartunis terlihat lucu dan menggemaskan. Pertama kali aku liat cover-nya, aku pikir, “Tumben cover Gagas kayak begini. Nggak biasanya." Mungkin karna ini novel lama, jadinya covernya belum sekece yang sekarang. Tapi, walaupun ini novel lama, isinya tetap kece seperti biasa. Blurb-nya juga beda dari novel-novel Gagas sekarang, lebih ke ringkasan cerita. Di blurb-nya sih, nggak menarik-menarik amat. Awalnya, aku pikir novel ini bakal biasa-biasa aja, ternyata aku salah! 5 of 5, baby! And yes, definitely recommended. Walaupun tipis, tapi komposisi ceritanya pas. Bacaan ringan ini cocok untuk menghilangkan rasa penat di kepala. Aksi konyol Feel pasti bakalan bikin kalian ketawa terpingkal-pingkal (:: Way to go, kak! Keep writing!

Wednesday, 13 August 2014

[Book Review] Our Story by Orizuka


Judul Buku       : Our Story
Pengarang         : Orizuka
Penerbit           : Authorized Books
Jumlah Halaman : 240 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Masa SMA.
Masa yang selalu disebut sebagai masa paling indah,
tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa.

SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah, karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana.

Preman. Pengacau. Pembangkang. Pembuli. Pelacur.

Masuk dan pulang sekolah sesuka hati.
Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain.
Angka drop out jauh lebih besar daripada yang lulus.

Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa,
bahkan jika mereka menginginkannya.

Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati.

Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'.
Supaya tak ada lagi orang dewasa yang bisa mengatur mereka.
Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan.

Ini, adalah cerita mereka.


“Keluarga adalah pondasi, sekolah adalah atap, dan sahabat adalah dindingnya.
An unforgettable school story.”
(Nita Trismaya — pengajar, cerpenis, penulis novel "Yelloveflies & Sweet Edelweiss")

"Satu kata, magnificent! Ceritanya benar-benar SMA jaman sekarang yang kurang peduli pada pendidikannya. The best!"
(Nisa Ayu Andani — pelajar SMA N 6 Bogor)


THE AUTHOR

Bernama lengkap Okke Rizka Septiana. Gadis penggemar thriller yang senang mempelajari berbagai bahasa asing ini lahir di Palembang dan besar di Cirebon. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan musik serta fangirling bersama Kpoppers. Karya-karyanya antara lain: "Me & My Prince Charming", "Summer Breeze" (repackage: That Summer Breeze), "Duhh... Susahnya Jatuh Cinta...!" (repackage: Meet The Sennas), "Miss J" (repackage: Call Me Miss J), "High School Paradise", "Fight for Love!", "Love United: High School Paradise 2nd Half", "The Truth about Forever", "17 Years of Love Song", "The Shaman", "FATE", "Our Story", "I for You", "With You", "Best Friends Forever", "The Chronicles of Audy: 4R", "Oppa and I", "Oppa and I: Love Missions", "Oppa and I: Love Signs", "Infinitely Yours". 
(Sumber: Website GagasMedia with a bit of modifications)

MY SUMMARY

Dewasa ini, sistem pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan. Banyak murid sekolah yang terjerat dalam pergaulan bebas dan juvenile delinquency. Peran sekolah semakin memudar dalam kehidupan siswa-siswi. Untuk menanggapi hal itu, kak Ori menulis novel yang berjudul "Our Story" ini. Dia mempersembahkan novel ini untuk semua remaja di seluruh Indonesia.

Novel ini mengisahkan tentang sebuah sekolah kecil bernama SMA Budi Bangsa, yang menerima semua murid buangan dari sekolah lain - murid-murid yang nggak diterima di sekolah lain, ada yang karena berkelakuan buruk, nilai nggak memuaskan, dan lain-lain. Yasmine, seorang gadis manis dari keluarga yang terbilang kaya, pindah dari Amerika dan kembali bersekolah di Jakarta demi menemani ibunya yang sedang sakit. Ayahnya yang udah bercerai dari ibunya, memilih untuk tetap tinggal di Amerika, dan meminta tolong temannya untuk mengurus masalah sekolah Yasmine. Terjadi kesalahpahaman yang membuat Yasmine terdaftar di SMA Budi Bangsa.

Yasmine terpaksa menghabiskan sisa masa SMA-nya di sekolah tak bermutu itu. Di sana, dia bertemu dengan siswa-siswi yang rusak, yang menjadi pelacur untuk bertahan hidup, yang ikutan geng-geng tak bermoral, dan yang nggak berniat belajar sama sekali. Guru-gurunya pun sama aja. Mereka sering bolos, tidur di jam pelajaran, bersantai-santai di ruang guru, dan lain-lain. Hanya ada beberapa guru aja yang mengajar dengan baik, itu pun percuma aja, karna nggak ada murid yang memerhatikan mereka. Ada satu murid bernama Ferris, yang terlihat normal di mata Yasmine. Dia rajin belajar dan nggak terjerat oleh hal-hal nggak baik seperti murid yang lain. Dia bersekolah di sana demi sebuah misi.

Lalu ada Nino, seorang pemuda tampan yang menjadi ketua geng di sekolahnya, murid populer yang disegani oleh semua orang karna keahliannya dalam berkelahi. Dia selalu membawa sebuah tongkat baseball kemana pun dia pergi. Dia bertindak semaunya, nggak memedulikan orang lain. Masa lalunya yang kelamlah yang bertanggung jawab atas sikap buruknya itu.

Sekolah itu benar-benar hancur, nggak ada satu orang pun yang sanggup memperbaikinya. Tapi, berkat kehadiran Ferris dan Yasmine, serta pengaruh dari Nino, sekolah yang ambruk itu pelan-pelan bangkit kembali. Di sekolah yang kecil itu, mereka membuat cerita mereka sendiri. Berbagai kenangan terbentuk, baik yang indah maupun yang buruk. Ada kisah cinta, persahabatan, kesetiakawanan, tapi ada juga permusuhan, patah hati, dan kekecewaan. Walaupun begitu, mereka tetap melaluinya bersama-sama, baik suka maupun duka.


MY COMMENTARY

Benar-benar kisah yang menyentuh hati. Cerita yang sarat akan pesan moral, tapi nggak melupakan sisi hiburannya. Kisah yang kompleks, padat dengan konflik-konflik yang menegangkan. Tapi, di sela-sela itu semua, diselipkan kisah romantis, humor, tragedi, action, semuanya ada, seperti satu paket lengkap. Tokoh-tokohnya sangat hidup, dengan kepribadian dan latar belakang masing-masing. Kehidupan mereka terasa begitu realistis, yang mungkin terinspirasi dari kehidupan nyata. Walaupun kisahnya agak singkat, tapi terasa padat dan memuaskan. Benar-benar memotivasi dan menginspirasi. Novel yang akan selalu mengingatkan kita akan masa-masa SMA yang indah. Sad ending-nya bikin gemes, though!

Sampulnya yang menampilkan gambar perlengkapan murid SMA begitu cocok dengan isi buku. Para calon pembaca yang melihat tentu aja langsung bisa menebak novel ini menceritakan kehidupan anak SMA, tapi tentu aja, nothing predictable about this novel. Warna sampulnya yang hitam memberi kesan elegan dan misterius, begitu menggugah hati. Sayangnya, desain layout novel ini kurang menarik, dan spasinya agak rapat, serta tulisannya kurang besar, menyebabkan rasa kurang nyaman saat membaca. Tapi, begitu aku udah asyik membaca dan tenggelam dalam alur cerita, hal itu nggak lagi menjadi masalah. 

Novel ini sangat direkomendasikan untuk para siswa SMA, karena novel ini memberikan pandangan baru mengenai arti pendidikan bagi kehidupan manusia. Kisah ini sanggup memotivasi para siswa untuk lebih semangat dalam belajar. Well, recommended to everyone, deh! Ada banyak nilai moral tentang kehidupan yang perlu orang-orang ingat lagi. Well done, kak. You are fantastic! Keep writing!

Wednesday, 23 July 2014

[Book Review] Morning Light by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Morning Light
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 176 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY


Sophie selalu merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan mamanya yang adalah penulis terkenal, sehingga ia memaksakan diri untuk mengikuti jejak sang ibu. Devon selalu dituntut oleh ayahnya, yang adalah mantan pemain sepakbola terkenal, untuk menjadi penerus sang ayah. Agnes, sejak kematian kakaknya yang brilian, merasa seakan-akan dirinya tak seberharga sang kakak. Julian selalu memaksakan dirinya untuk menyamai bahkan melampaui kakaknya yang juga brilian. Keempat sahabat ini sama-sama memiliki matahari mereka masing-masing, yang menjadi panutan yang ingin mereka kejar, tapi di sisi lain, dibayang-bayangi oleh terangnya sinar sang matahari, sehingga dibutakan dari sinar mereka sendiri. Seperti semut di seberang jalan yang lebih terlihat dibanding gajah di pelupuk mata, sinar mereka pun lebih dilihat oleh orang lain daripada diri mereka sendiri. Mereka pun saling menyadarkan dan mendukung satu sama lain layaknya sahabat sejati. Mereka menemukan jati diri. Mereka menemukan cinta.


MY COMMENTARY


Novel ini novel lama kak Windhy yang dari awal emang udah pengen kubeli tapi nggak jadi-jadi. Akhirnya, karna emang jodoh, aku akhirnya kesampean juga beli novel ini online bareng novel-novel lain yang juga kuincar. Selama liburanku ini, aku udah baca tiga karya brilian kak Windhy – Touché series dan Incognito, dan aku pun jadi kangen berat sama tulisan kak Windhy, jadilah aku baca juga novel yang ini, yang tadinya mau kusimpen untuk dibaca waktu lagi suntuk kuliah atau apa. 
Walaupun genrenya beda, tapi novel ini sejenis Let Go yang sweet dan menyentuh hati. Tentang persahabatan, keluarga, cinta, dan mimpi, juga hidup itu sendiri. Pokoknya aku belajar banyak dari novel ini – soal mengejar apa yang ingin kamu kejar, bukan yang orang lain inginkan, atau yang kamu pikir orang lain inginkan, atau yang kamu pikir harus kamu kejar. Aku sepenuhnya percaya pada ‘melakukan apa yang kamu cintai’, karena memang kenyataannya akan menjadi lebih mudah. Orang yang melakukan apa yang mereka cintai memang terbukti menghasilkan yang terbaik. Nggak ada gunanya memaksakan diri.
Bagaimana kakak kasih liat satu per satu duduk masalahnya, lalu memuncak di klimaks masing-masing, terus sama-sama turun gunung dan nemu solusi itu terasa teratur banget, jadi enak aja bacanya. Hanya aja, entah cuma perasaanku atau gimana, pace-nya terasa agak cepat. Tiap adegan singkat-singkat aja, mungkin kurang deskripsi yang bikin aku masuk sepenuhnya ke cerita. Emosiku juga nggak terlalu diaduk-aduk. Tapi aku tetep bisa berempatai sama tokoh-tokohnya, dan mereka bikin gemes! Aku suka chemistry Sophie-Devon, Julian-Agnes, dan kerennya, mereka bukan dipasang-pasangi begitu melulu, tapi bisa crossover gitu, deh. Mereka bersahabatnya berempat, dan keliatan chemistry satu sama lainnya. Ada Julian-Sophie, Devon-Agnes, bahkan Devon-Julian dan Sophie-Agnes. Tapi semua tau aku #TeamDeso dan #TeamJunes (sengaja bikin aneh-aneh dan lucu-lucu, hihihi).
Settingnya di Semarang, dan aku jadi pengen ke sana! Seperti Let Go, ada banyak kutipan kece dari novel ini. Kak Windhy emang jago ngerangkai kata. Teori bunga mataharinya kece abis, serius! Aku suka bunga matahari. Dan oh, covernya kece abis! Cantik banget. Kuningnya cerah, bunga mataharinya cantik, pokoknya menggugah hati banget. Kalo dicetul, jangan ganti cover, ya. Udah cinta banget aku! Hahaha. Blurb-nya semacam puitis dan cocok sama isi, walaupun nggak menggambarkan sepenuhnya. Kemungkinan besar, kayak Let Go, orang-orang bakal kira novel ini lebih ke romance, padahal lebih dari itu. 

Recommended, deh! Aku jadi pengen baca novel kak Windhy yang lain – Run, Run, Run!, sHe, Confeito… Semuanya langka. Tapi katanya ada yang mau dicetul, ya? Asyik! Ditunggu ya, Kak! Keep writing! <3

Friday, 11 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur Take a Step Back and Have Fun


Cerpen Penggangu Tidur adalah cerpen yang idenya datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini berkunjung di suatu malam yang tak lagi kuingat. Aku pun nggak yakin ini termasuk IPT atau nggak. Awalnya ini dipost di Wattpad, tapi kuputuskan untuk masuk blog aja. Ide yang sederhana, dan terinspirasi sama salah satu scene di film Disney "Up". Ada yang tau yang mana? Selamat membaca!


"Loh, kan, besok mau ke rumah Tante?"

Ekspresi lawan bicaraku langsung berubah drastis, seperti yang kuduga.

"Aduh, sori banget, Dear, aku lupa. Tapi ini kan, terakhir kalinya aku bisa ketemu sama Jay." Cowok itu mencoba memberi alasan.

Aku mendengus. "Jadi, Jay lebih penting dari aku, gitu? Kamu kan, udah janji sama aku duluan. Aku udah bilang ke Tante Jean kita bakal datang bareng."

"Tell her-"

Melihat kedua mataku yang langsung mendelik, Cris langsung berhenti bicara. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.

"Emangnya pesta perpisahannya nggak bisa kapan-kapan, ya?" tanyaku.

Cris menatapku tak percaya. "Dia berangkat malam itu juga, Dearika. Mau kapan lagi pesta perpisahannya? Pas dia udah di Finland?"

Aku mendengus. "Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja sih, pesta perpisahannya?" protesku lagi.

"Kamu tau sendiri gimana sibuknya si Jay."

Aku memutar bola mata. "Ya, salah dia dong, berarti. Lagian, kok rencanainnya tiba-tiba gitu?" Aku masih tidak mau kalah. Bukannya apa. Tante Jean ingin sekali aku datang dengan Cris. Dan aku juga tida mau datang ke sana sendirian. Telingaku tidak akan sanggup.

"Oke, oke, pause dulu. Terlalu panas, nih, nggak bisa mikir. Refreshing bentar, gimana?"

Aku mengerang. "Kamu tuh, ya, selalu kayak gitu. Nganggap semua hal sepele," gerutuku.

Cris menoleh ke jendela, lalu tersenyum manis ke arahku. "Es krim?"

Aku melirik motor es krim keliling yang selalu lewat di depan rumah, lalu membuang muka. "Paddle Pop pelangi," ucapku datar sambil berusaha mempertahankan ekspresi di wajahku.

Cris tersenyum lebar sambil memanggil abang tukang jual es krim itu. Beberapa menit kemudian, kami berdua sudah duduk di teras rumahku sambil menyantap es krim masing-masing.

"Hitam!" teriak Cris tiba-tiba sambil menunjuk mobil Avanza hitam yang lewat di depan rumahku.

Aku menatapnya tak habis pikir, lalu menunjuk Jazz putih yang kebetulan lewat. "Putih!"

Sudah lama juga kami tidak bermain game kurang kerjaan ini.

"Hitam!"

"Putih!"

"Hitam!"

"Hey, itu abu-abu!" protesku ketika melihat Innova abu-abu tua yang barusan lewat.

Cris menggeleng. "Hitam, kok. Kamu buta warna, ya?"

Aku menekuk wajahku dalam-dalam, lalu menujuk mobil apapun yang lewat di depanku. "Putih!"

"Nah, kan, buta warna. Itu silver!"

Aku mengabaikannya, lalu kembali menunjuk mobil Xenia silver yang lewat dan berteriak, "Putih!"

Cris melipat kedua tangannya. "Oke. Siapa yang menyebutkan paling banyak warna yang menang, dan yang kalah harus traktir es krim selanjutnya."

"Hijau!" teriakku langsung sambil mengarahkan telunjukku pada mobil Mazda 2 yang lewat.

"Merah!"

"Biru!"

"Pink!"

Begitulah. Kami memang bukan pasangan yang sempurna. Kami sering bertengkar, baik karena hal besar maupun yang sangat sepele seperti tadi. Tapi, kami selalu berhenti sejenak untuk beristirahat, seperti sekarang, dan bersenang-senang, karena tidak ada yang pernah tahu kapan kami bisa melakukannya lagi.

"Oh ya, kita bisa ajak Jay datang ke rumah Tante. Bilang aja itu pacar keduamu. Problem's solved."


Aku melempar stik es krimku yang sudah habis dilahap ke kepalanya sambil berusaha menahan tawa.

Thursday, 10 July 2014

[Flash Fiction] #IdePengangguTidur And Life Goes On


IdePenggangu Tidur adalah, seperti namanya, ide datang di malam hari, saat aku sedang berusaha tidur, menyebabkan insomniaku semakin parah. Ide Penggangu Tidur yang ini muncul dua malam yang lalu. Sederhana, dan aku sudah mulai lupa idenya, tapi semoga tetap enjoy. Selamat membaca!


Aku memanjangkan leherku ke kiri dan ke kanan sambil memicingkan penglihatanku. Dalam detik yang sama, aku melihat dua hal bersamaan – yang kucari, dan yang tidak ingin kulihat. Yang kucari sedang berdiri memunggungiku beberapa meter di depanku, tampak sedang menunduk membaca sebuah kertas lebar, sedangkan yang tidak ingin kulihat di sana ada beberapa meter di depannya. Aku buru-buru melambaikan tangan tinggi, lalu mengibas-ngibaskan tanganku ke arah kiri, berharap yang tidak ingin kulihat itu akan segera menghilang dari penglihatanku. 
Saat yang tidak ingin kulihat itu mengerti bahasa tubuhku dan mulai menghilang, seseorang menubrukku dari belakang. Aku otomatis menoleh dan menemukan seorang gadis yang langsung menunduk sambil meminta maaf. 
“Nggak apa–eh, Vya?”
Gadis yang sudah kukenali sebelum ia bahkan memperlihatkan wajahnya itu langsung mendongak, dan sepasang mata abu-abu yang tampak sangat familiar itu melebar. “Nemo? Wah, nggak nyangka bakal ketemu di sini!” serunya riang.
Aku otomatis mendengus, pertama karena mendengar nama panggilan yang masih betah digunakan gadis itu, walaupun sudah lama tidak kudengar, dan ketidakmasukakalan kalimatnya barusan. “Aku kan, emang tinggal di sini. Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu mah, harusnya tau bisa nemuin aku di sini.” Aku memindai gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tidak banyak yang berubah. “Jangan-jangan kamu sengaja nyari aku ke sini, nguntit aku, terus pura-pura nggak sengaja ketemu, ya?” tanyaku dengan kedua mata menyipit.
Gadis itu langsung menyemburkan tawa yang renyah, yang lagi, sudah lama tidak kudengar. “Some things just can’t be changed,” komentarnya, sangat sesuai dengan isi pikiranku saat ini. “Apa kabar, nih?”
Aku merasa risih karena untuk kesekian kalinya, bahuku disenggol orang yang berlalu lalang di kiri dan kananku. Sadar kalau mengobrol di tengah jalan seperti ini tidaklah nyaman, aku pun menarik tangan gadis itu ke salah satu kursi tunggu di stasiun kereta yang terletak di sudut dan mengajaknya duduk di sana.
“Aku baik, seperti yang kamu liat. Kamu sendiri?”
Gadis itu mengangguk dengan senyuman khasnya. “Sama,” sahutnya singkat. “Jadi, begitu lulus kuliah di sini, lanjut kerja dan netap di sini?”
Gantian aku yang mengangguk. “Kalo kamu?”
“Masih di sana, juga,” sahutnya pelan. 
Kemudian kami sama-sama terdiam. Seperti yang ia bilang, some things just can’t be changed. Gadis di hadapanku ini tidak banyak berubah – masih sama menariknya seperti dulu, saat kami pertama kali bertemu, dan dulu, saat kami terakhir kali bertemu. Ia masih menjadi magnetnya, sedangkan aku besi malang yang tak bisa menolak daya tariknya. 
“Tadi… kamu ngapain celingak-celinguk terus lambai-lambai nggak jelas?”
Aku langsung menatapnya. “Jadi, kamu liat? Terus kok bisa nabrak aku?”
“Awalnya aku cuma heran, karna aku nggak kenalin kamu dari belakang. Terus tiba-tiba kerumunan lewat di depanku, bikin aku pusing jadinya nabrak, deh.”
Aku mengangguk-angguk. “Masih sama, ya, nggak suka tempat ramai?”
Lawan bicaraku mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu pandangannya terarah ke depan, melewati bahuku. Ia tampak takjub. Aku pun menoleh ke belakang dan mengikuti arah pandangnya, lalu ikut terpaku.
“Oh, berhasil, ya?” komentarku, lebih kepada diriku sendiri.
“Jadi… tadi itu kamu lagi bantuin temenmu buat ngasih surprise ke ceweknya? Ato kamu lagi ngarahin orang suruhanmu buat ngasih surprise ke cewekmu?”
Aku kembali menoleh ke teman bicaraku dengan tatapan takjub. “Serius, kamu nggak berubah sama sekali. Such an amazing observant, as always. Aku yakin kamu udah tau jawaban dari pertanyaanmu tadi.”
Alvya, nama gadis itu, tersenyum penuh kemenangan. “Tentu saja,” jawabnya yakin, lalu kembali memerhatikan gadis yang berdiri beberapa meter di depan sana yang sedang memeluk sebuket bunga dengan sepasang mata berkaca-kaca, memandangi spanduk besar yang dibawa dua orang laki-laki di hadapannya. Aku sendiri tidak perlu menoleh lagi ke belakang, karena aku sudah melihat semua yang terjadi barusan. Aku malah kembali menekuri wajah yang hampir menghilang dari benakku ini, tapi ternyata, ia tak pernah hilang, hanya tersimpan rapi di sudut benakku saja. 
“Cewekmu itu beruntung banget, deh. Sana, samperin. Dia pasti nggak nyangka begitu nyampe sini bakal disambut kayak gitu,” ujar Vya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang ia bilang beruntung itu.
“Kamu sendiri–”
There you are!” seru seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Vya, membuat gadis itu terlonjak kaget dan menoleh cepat ke belakang.
“Oh, thank God. Well, I kind of knew you would find me,” sahut Vya santai sambil tersenyum, membuat pria itu mendengus, namun mengacak rambut gadis itu pelan. 
“Aku cariin kemana-mana, juga. Kok bisa nyasar, sih? Hobi banget?” omel pria itu, walaupun ia lebih terlihat cemas daripada kesal.
“Makanya kita bareng, kan. Aku suka nyasar, dan kamu selalu bisa nemuin aku.”
Pria berkacamata itu hanya memutar bola mata tanpa bisa menyembunyikan senyumnya. Vya pun menoleh ke arahku. “Kalo gitu, aku duluan, ya. Kamu juga mau nyamperin cewekmu, kan?”
Aku langsung mengangguk setuju. “Oke. Nice to see you again. Till we meet again,” ucapku sambil mengangguk sopan ke arah pria yang sekarang sudah digandeng Vya, menjelaskan apa status mereka.
Aku pun berbalik dan memfokuskan mataku ke arah gadis yang berdiri beberapa meter di hadapanku itu. Seseorang yang tadi kucari, dan kini kutemukan, sedang memandangi apa yang tadinya tidak ingin kulihat. Begitulah hidup. Kita tidak tahu apa tepatnya yang akan terjadi sepanjang perjalanan menuju masa depan, dan sepanjang perjalanan itu, kita akan terus bertubrukan dengan masa lalu, tapi satu hal yang kita tahu, life goes on, and we just keep moving forward.  
Alvya alias Vya dan Geronimo alias Nemo hanyalah bagian dari masa lalu. “And you’re gone, and we're on with our lives” (Don’t Want an Ending – Sam Tsui).

Wednesday, 9 July 2014

[Book Review] Touché: Alchemist by Windhy Puspitadewi



Judul Buku       : Touché: Alchemist 
Pengarang         : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 224 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.


THE AUTHOR

Bernama lengkap Windhy Puspitadewi dan lahir tepat di hari Valentine (gampang diingat, jadi jangan lupa kadonya). Jika ingin tau novel apa saja yang pernah ditulisnya, silakan masukkan nama lengkapnya di paman Google. Sekarang sibuk bekerja sebagai abdi negara.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Sama seperti Indra, Riska, dan Dani di seri Touché yang sebelumnya, Hiro Morrison juga memiliki kemampuan spesial melalui sentuhannya. Ditambah otak genius dan kejeliannya dalam mengobservasi sekitar, kemampuannya membaca identitas kimia dalam sekali sentuh membuatnya menjadi lab forensik berjalan dan detektif yang handal. Ia pun akhirnya dikontrak menjadi konsultan di Kepolisian New York. Sepanjang perjalanannya memecahkan kasus-kasus, si sombong Hiro akhirnya menemukan tantangan besar yang menjadi titik balik dalam hidupnya.

MY COMMENTARY

Jujur aja, kalau disuruh bikin summary novel-novelnya kak Windhy, apalagi yang terbitan Gramedia, aku sering bingung, karena di blurb-nya udah jelas, dan aku takut jadi spoiler, jadi yah, begitulah. Intinya, novel ini KECE BADAI. Bagi yang udah baca seri sebelumnya, novel ini sangat direkomendasikan, bahkan diWAJIBkan untuk dibaca. Dan ya, dua novel seri ini nggak bersambung – tokoh-tokohnya jelas beda, tapi sama-sama bercerita tentang kaum Touché yang punya kemampuan spesial melalui sentuhan. Dan oh, ada tokoh dari seri sebelumnya yang muncul, lagi. Ini bukan spoiler, kan, karna aku juga sering denger tentang ini, tapi pas baca baru ngeh, dan tetep aja kaget (sambil loncat-loncat seneng, hahaha). 
Oh, ada banyak banget yang mau kuomongin di sini, jadi maklum kalo panjang, dan mari dibahas satu-satu. Bagi yang udah baca reviewku tentang novel Touché dan Incognito, pasti tau aku suka banget sama novel bergenre ini. Bukan teenlit biasa, dan lagi-lagi settingnya bukan Jakarta (entah kenapa aku suka novel teenlit yang nggak bersetting di Jakarta, karna bosen, mungkin). Novel ini bersetting di New York, bahkan. Udah lumayan sering, sih, tapi New York itu emang (salah satu) kota favoritku, dan berhubung novel ini nggak luput dari crimes, New York emang kota yang cocok. Terus, tempat-tempat yang disebut juga yang jarang-jarang. Kak Windhy deskripsiin tempat-tempatnya kayak udah pernah pergi ke sana, lagi.
Jadi, sama kayak Touché dan Incognito, Touché: Alchemist ini juga fantasi, tapi lebih ke crimes daripada adventure kayak dua novel sebelumnya, which I also adore! Novel ini kayak paket lengkap, semacam gabungan dari CSI: New York, Detective Conan, dan Psych – semuanya favoritku. Ini menurutku, loh, ya. Kenapa? Well, CSI: New York kayaknya jelas, ya – sama-sama mecahin kasus kriminal, sama-sama di New York. Detective Conan dan Psych juga mecahin kasus kriminal, dan tokoh utamanya mirip si Hiro ini – atau terbalik, si Hiro ini genius dan good observant-nya kayak Shinichi/Conan dan Shaun Spencer di Psych. Tapi Hiro jelas menang karna kemampuan khususnya itu. Such a luck! Dan ya, bikin dia jadi makin kece. Hihihi.
Terus, kasus-kasusnya itu genius! Ini yang bikin aku jatuh cinta (cieileh) sama novel-novelnya kak Windhy. Aku jamin risetnya banyak, jadi semuanya masuk akal. Ya, aku emang nggak pinter-pinter amat, sih, jadi kalo nggak masuk akal pun aku juga kemungkinan besar nggak bakal ngeh, tapi aku tau kak Windhy itu nggak akan pernah ngebiarin ceritanya illogical – nampak banget kak Windhy rajin riset, jadi ya, aku percaya ceritanya based on facts. Dan novel ini bikin aku nostalgia sama SMAku dulu. Aku (terpaksa) ambil IPA pas SMA dulu, jadi ya, masih konek-konek dikit, lah (dan aku bangga, hehehe). Seperti biasa, endingnya nggak tertebak, dan segala hal yang ada di dalamnya. Ada beberapa hal yang bisa kutebak, sih (dan seperti biasa aku merasa bangga), tapi itu hebatnya! Tertebak pun tetep bikin aku senyum puas (dan jingkrak-jingkrak senang) pas tutup halaman terakhirnya. Dan aku selalu geleng-geleng kepala dan mikir, “Kok Kakak bisa kepikiran sejauh itu, sih?” Tokoh yang genius jelas lahir dari penulis yang genius.
Aku suka tokoh-tokohnya. Aku emang bilang hal yang sama ini berulang-ulang hampir di setiap novel yang kusuka, tapi kali ini, aku serius. Tokohnya beneran unik. Selain Hiro – yang kepedean dan sombong, yang jelas beda sama male lead chara kebanyakan (you know, yang biasanya charming and so all, dan anehnya, Hiro malah lebih menarik, padahal yang sering ditonjolkan itu kesombongan dan kemenyebalkannya, if that’s even a word), William – teman Hiro, juga unik dengan kelainan Obsessive Compulsive Disorder. Mungkin itu kelainan yang umum, soalnya adikku tau soal itu, tapi jujur aku baru tau, dan kelainan itu menarik banget di mataku. Ya, call me freak, tapi aku emang suka penyakit ato kelainan yang aneh-aneh. Dan yang aku suka dari itu adalah, kalo si penulis bisa mendeskripsikannya dengan sangat baik tanpa bikin aku bosen. Way to go, Kak! Aku juga suka sama Karen, tokoh ceweknya, dan suka chemistry di antaranya dan Hiro (Team Hiren!). Novel ini nggak banyak romantisnya. Seperti yang kita ketahui bersama, aku suka novel yang ada romance-nya, tapi aku suka novel ini, karna tetep ada romance-nya di bagian akhir (ups, spoiler alert, tapi sepertinya ini udah pada tau?). Dan yang kayak begini yang biasanya berhasil bikin aku klepek-klepek – you know, you just don’t see it coming! Hehehe.
Aku tau kak Windhy pasti sering denger permintaan ini, tapi aku cukup berharap karna ini aku yang minta, ada bedanya (alah). Ya, aku juga yakin, sih, kak Windhy pasti tau aku mau minta apa, tapi no pressure, sih. Aku berdoa aja, deh, semoga kak Windhy dapet ide buat Touché 3 terus serinya dilanjutin. And if it’s not too much to ask, kak Windhy dapet ide terus sampe Touché 7 ato mungkin 8, jadi ngalahin Harry Potter (muahaha). Tapi sekali lagi, no pressure, loh. Kalo maunya ngelanjutin Incognito juga nggak papa… *smirk*
Kayak novel-novel sebelumnya, novel ini page turner, jadi nggak makan waktu lama buat nyeleseinnya, juga mereviewnya. Dan yang bikin aku makin seneng, kak Windhy bilang dia nungguin reviewku. Jelas seneng, dong, diminta sama penulisnya langsung, padahal kan, reviewku biasa-biasa aja. Aku nggak merasa reviewku sebagus blogger-blogger lain di luar sana. Makasih ya, Kak. I’m honored, dan terharu (“:
And again, love the cover! Juga blurb-nya yang detail tapi bikin penasaran! Judulnya juga keren (kayaknya aku lupa sebut soal ini di review Touché yang pertama), dan cocok sama isinya. Alchemist! Always love that word. Dan yang juga luput dari review Touché pertamaku itu soal kutipan yang kak Windhy taruh di awal dan akhir novel. Pas banget, dan kece isinya! Kak Windhy sering bilang kalo dia nggak kayak penulis-penulis lain yang produktif – cepet banget ngehasilin novel barunya. Menurutku, itu bagus, karna liat buktinya, walaupun nulisnya lama, waktu buat risetnya banyak jadi novelnya juga kece abis! 
Aku tau, review harusnya objektif dan bisa maparin kekurangan dan kelebihan, dan itu yang bikin aku seneng bisa review seenak jidatku – aku nggak bisa nggak subjektif, dan kalo emang kusuka, jarang ada kelemahan yang bisa kusebutkan. Novel ini kayak novel-novel sebelumnya, lagi – bebas typo! Mungkin ada, tapi luput dari pengamatanku ato kelupaan, cuma ya, minim banget dan nggak fatal, makanya aku nggak ingat, dan nggak kusebut karna nggak perlu. Satu-satunya kekurangan yang ada, mungkin, kurang tebal? Hahaha. Tapi kayaknya udah pas, deh. Kalo panjang beresiko bikin bosan, walaupun aku tau aku nggak akan bosan. Yang penting aku tetep puas sepuas-puasnya!
Duh, pokoknya novel ini punya semua yang kusuka, deh. Ada lucunya juga. So, udah jelas kan, kenapa sangat kurekomendasikan? Dengan catatan, kalo selera kalian cocok denganku. Hehe. Well done again, Kak. You always amaze me. Semoga suatu hari kita bisa ketemu, walaupun aku nggak tau jelasnya mau ngapain kalo bener bisa ketemu. Mungkin ngobrol sampai mulut berbusa, tapi kayaknya kedengaran mengerikan dan mungkin kakak nggak bakal mau ketemu aku lagi, ato malah nggak pernah mau ketemu. Lol. Keep writing, Kak! Aku akan selalu menanti karyamu xD