Menu

Tuesday, 30 July 2013

[Twilight Saga Fan Fiction] When Fiction Becomes Reality (Part 1)


Hello, hello, Twilight Saga’s fans! I’m here to announce a good news. I have made a Twilight Saga fan fiction! Horray! But it’s half done. I promise I will finish it soon. It’s pretty long, though. So, enjoy! P.S. It’s in Indonesian. I will make the English version soon. Amen to that!


Oh, mimpiku barusan benar-benar mengerikan. Aku bermimpi dibakar hidup-hidup! Segalanya terasa begitu nyata. Kurasa aku menggeliat seperti cacing kepanasan dan berteriak-teriak dalam tidurku. Seharusnya aku merasa lega setelah terbangun dari mimpi buruk itu, tapi…. Kurasa mimpi burukku itu berlanjut. Entah mimpi itu menjadi kenyataan, atau aku yang belum sepenuhnya terbangun. Yang jelas, saat ini aku merasa tenggorokanku sangat sakit, seperti habis dibakar sungguhan. Entah haus macam apa ini, rasanya seperti belum minum selama ratusan tahun. Aku mencengkeram leherku kuat-kuat, berharap dengan begitu, rasa sakitnya akan berkurang, tapi percuma saja.

Lalu, aku melihat pemuda yang tampak familiar itu. Malaikatkah? Entahlah. Mungkin aku benar-benar dibakar hidup-hidup dan pemuda itu adalah malaikat penjemputku? Mungkin. Entah apa yang membuatku berpikir begitu. Yang jelas, aku sangat senang melihat pemuda-garis-miring-malaikat itu. Aku menatap malaikat berwajah pemuda yang sangat familiar itu. Apa saking rindunya aku pada pemuda itu, sampai-sampai wajah malaikat penjemputku pun mirip dengannya? Bukan hanya mirip, tapi sama persis. Kulitnya yang berwarna cokelat, mata bulatnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, rambut cepaknya yang hitam legam… Semuanya!

Beberapa saat kemudian, aku menyadari beberapa hal yang janggal. Aku sudah tidak memakai kacamataku, namun aku dapat melihat dengan sangat jelas, bahkan yang jarak pandangnya sangat jauh. Padahal, tanpa kacamata, aku nyaris buta. Lalu, saat aku menarik nafas, ada nuansa aneh yang menyergap indera penciumanku. Aroma yang sangat menggiurkan, sekaligus menjijikkan. Berbagai aroma lain juga tercium, namun tidak sekuat aroma yang satu ini. Aku juga mendengar dengan sangat jelas. Bunyi daun-daun yang bergesekan oleh angin, sampai suara nafas pemuda di hadapanku ini. Tunggu sebentar, apakah malaikat bernafas?

“K-kau… tidak apa-apa?”

Aku menoleh cepat ke arah pemuda yang barusan bersuara itu. Suaranya pun sama persis dengan sosok yang menghantui kalbuku tiap malam. Ingin sekali aku menyahutnya, tapi selain tidak tahu apa yang harus kujawab – karena aku tidak tahu keadaanku ini bisa dibilang “tidak apa-apa” atau tidak, aku juga tidak bisa bersuara. Tenggorokanku masih sangat sakit.

“Kau… terlihat sangat pucat,” ujarnya lagi sambil mendekat ke arahku.

Semakin ia bergerak mendekat, aroma yang begitu menggangguku itu tercium semakin kuat. Saat ia menyentuh lenganku, aku merasa kehangatan menjalar keluar dari tubuhnya. Bukan hanya hangat, nyaris panas. Dan ini bukan efek dari “jatuh cinta” atau semacamnya. Kau tahu? Biasanya jika kita disentuh oleh seseorang yang kita cintai, akan muncul “rangsangan-rangsangan” tidak jelas, seperti rasa hangat ini. Atau itu hanya terjadi padaku?

“Tubuhmu sangat dingin,” komentar pemuda itu lagi.

Ia semakin mendekat, dan tanpa sadar aku langsung bergerak menjauh. Aku tidak pernah menyangka aku punya refleks secepat itu. Maksudku, saat ini, aku sudah berjarak kira-kira lima meter dari pemuda itu, dalam waktu sepersekian detik – entahlah, aku tidak sempat menghitungnya. Lagipula, aku tidak memakai jam tangan atau stopwatch.

Dan kenyataan itu menendang otakku sampai terpental jauh. Aku menatap ngeri pemuda itu, yang balas menatapku dengan pandangan sejenis. Apa yang dilihat pemuda itu dariku? Apa…. kedua bola mata merah yang mengerikan dan kulit putih pucat yang tampak keras? Dari tatapan kedua bola matanya yang dalam itu, aku bisa melihat pengertian yang sama. Apa ia juga menyadari kenyataan ini? Bagaimana mungkin? Maksudku, bahkan untukku, kenyataan ini masih sangat sulit untuk kuterima.

“A-aku rasa, kita sama-sama menyadari apa yang telah terjadi padamu,” ujar pemuda itu lagi, yang mulai sekarang akan kunamai…. Ben? Ya, aku suka nama itu.

“K-kau tahu?” Akhirnya aku berhasil bersuara. Dan rupanya suaraku tidak terdengar aneh seperti yang kukira.

“Ini memang sulit dipercaya, dan tidak masuk akal, tapi… Ya, kurasa aku tahu apa yang telah terjadi padamu. Maksudku, aku menemukanmu tiga hari yang lalu, dengan bekas gigitan di lehermu. Dan selama tiga hari itu, kau kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.”

Aku menatap Ben lurus-lurus. “Kau menemaniku selama… proses transformasi? Kau tidak tidur?”

Ben mengangguk. “Dan aku melihat semua perubahanmu itu. Benar-benar ajaib. Aku bahkan tidak bisa memercayai mataku sendiri. Bagaimana lukamu itu pelan-pelan menghilang, kulitmu yang semakin pucat, namun terlihat sangat indah, dan segala hal lain dalam tubuhmu, seperti melalui proses penyempurnaan.”

“Jadi, kau percaya pada hal-hal itu? Dan bagaimana kau tahu tentang semua hal itu? Aku kira aku yang menjadi fans berat Twilight Saga di sini,” ujarku pelan.

Ben tertawa kecil, yang anehnya masih berefek sama seperti saat aku masih menjadi manusia. Menyenangkan.

Well, aku tahu cukup banyak hal. Ini memang tidak masuk logika manusia, tapi anehnya, inilah satu-satunya penjelasan yang cocok.”

Aku mengangguk setuju. Dan aku baru sadar, saat mengobrol dengannya, baik saat aku masih menjadi manusia maupun sekarang, aku selalu tenggelam dalam obrolan itu. Aku sampai melupakan rasa sakit di tenggorokanku. Dan bodohnya, aku malah membahas itu, jadinya sekarang aku kembali merasakan rasa sakit itu.

“Kau… haus?” tanya Ben, membuatku tersentak dan berhenti mencengkeram leherku.

Tentu saja itu yang membuat tenggorokanku sakit. Aku tahu jelas itu. Namun, membayangkan diriku meminum darah…

“Kau hebat,” ujar Ben lagi, membuatku menatapnya heran. “Sepertinya kau mendapat kekuatan yang mirip dengan Bella. Amazing self-control. Bahkan, kau lebih hebat darinya.”

Aku mencengkeram rumput yang ada di sekitarku, yang sedikit lagi akan tercabut dari akarnya. Ini benar-benar menyiksa, namun aku tidak mungkin menerkam pemuda yang ada di hadapanku ini. Sebenarnya, apa yang terjadi? Yang aku ingat, aku tidak bisa tidur malam itu, lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di tengah hutan, sendirian. Aku tahu itu berbahaya, tapi rasa cintaku pada hutan terlalu dalam untuk merasakan rasa takut itu. Lalu, aku mendengar suara-suara aneh dan berusah mencari tahu. Aku menemukan seorang pria berkulit pucat bernuansa zaitun, sedang menatapku tajam dari balik pohon.

Setelah itu, semua berjalan dengan sangat cepat. Ia bergerak ke arahku dan aku langsung merasakan rasa sakit luar biasa di leherku, yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku dalam hitungan detik. Dan mimpi burukku itu pun dimulai. Ya, pria itu vampir, sosok yang kuidam-idamkan, dalam dunia FIKSI. Aku tak pernah menyangka akan bertemu yang asli, apalagi menjadi salah satunya. Aku memang pernah mengimpikannya, tapi jelas itu hanya angan-angan yang tidak benar-benar ingin kucapai. Semua ini masih terasa sangat semu. Mungkinkah aku masih bermimpi? Tapi bagaimana caranya untuk bangun dari mimpi aneh ini?

“Aku tahu semua ini sulit untuk diterima maupun dicerna, tapi mau tidak mau, kau harus menerimanya untuk saat ini. Dan kita harus bertindak cepat. Anggota camp lain akan bangun dan menyadari kepergian kita,” ucap Ben, mengembalikanku ke alam sadar.

Pikiranku mulai menerawang ke hal-hal lain. Hal-hal yang lebih penting. Oke, anggap saja aku benar-benar telah menjadi vampir. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan pada keluargaku? Teman-temanku? Orang-orang lain? Satu hal yang pasti…

“Mereka tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucapku tegas.

Ben tampak bingung dengan pernyataanku itu.

Aku menjelaskan, “Anggap saja dunia supernatural ini benar-benar nyata. Tapi tidak mungkin kan semua orang akan memercayainya? Lagipula… kalau vampir sungguhan ada – setidaknya seperti yang digambarkan Stephenie Meyer, berarti Volturi juga ada. Which means, aku harus mengikuti aturan mereka. Aku harus merahasiakan eksistansiku.” Pemikiran yang aneh, memang. Tapi, hanya itu yang terpikir olehku saat ini.

Ben tampak sedang berusaha menahan senyum geli, entah apa yang lucu. “Aku masih belum sepenuhnya menangkap hal-hal aneh ini,” akunya. “Tapi, baiklah. Kita memang tidak bisa memberitahukan ini pada siapapun. Selain mereka akan sulit menerima dan memercayainya, kita juga tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Aku berpikir sejenak, dan terpaksa memutuskan segalanya lebih cepat, sebelum fajar tiba. “Aku harus memalsukan kematianku.”

Mata Ben melebar. “Apa?”

Aku mengangguk mantap. “Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin kembali pada kehidupan manusiaku. Aku harus pergi. Dan segalanya akan lebih mudah jika semua orang menganggapku sudah mati.”

Ben masih tampak kaget dengan keputusan tiba-tibaku itu. Tapi kemudian, ia mendesah pasrah. “Sepertinya, itu memang satu-satunya cara, tapi… kau tidak kasihan pada orang-orang yang menyayangimu? Mereka akan merasa kehilangan.”

Aku tersenyum sedih. “Tapi aku tidak mau membahayakan mereka.”

Dan akhirnya, kami bergerak cepat. Aku memutuskan untuk pura-pura bunuh diri dengan cara menggantung diriku sendiri dan meninggalkan sepucuk surat. Mengenai isi surat itu… Intinya aku sudah bosan hidup dan memilih untuk mengakhirinya. Aku juga berpesan pada keluarga dan teman-temanku untuk tidak terlalu bersedih dan menjaga diri mereka baik-baik.

Ben tidak begitu setuju dengan isi surat itu, karena sulit untuk percaya kalau aku merasa bosan hidup dan memilih untuk mati. Dia bilang, “It’s so not you.”

Aku tersentuh, karena rupanya ia mengenalku cukup baik sampai bisa berkata begitu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Lebih mudah untuk menerima fakta bahwa seorang gadis ceria ternyata merasa bosan hidup dan memilih bunuh diri, daripada seorang gadis yang berubah menjadi vampir penghisap darah, bukan? Aku memilih gantung diri sebagai caraku bunuh diri, karena itu yang paling mudah diakali, dan juga paling mungkin kulakukan. Saat menjadi manusia, aku sangat takut pada darah, jadi mustahil bagiku untuk menggunakan pisau ataupun benda tajam lainnya.

Setelah selesai menyiapkan segalanya, aku menyuruh Ben untuk kembali ke perkemahan sebelum matahari terbit. Mereka harus menemukan dan menguburkanku sebelum sang raja siang mengintip dari balik awan. Untung saja hutan tempat kami berkemah ditumbuhi berbagai tumbuhan liar yang sangat lebat, sehingga sinar matahari agak sulit untuk menembusnya.

Aku menggantung diriku dengan sulur tanaman yang panjang. Agak aneh memang, jika setelah menggantung diri, kulit leherku tidak berbekas apa-apa. Namun, aku tidak bisa membuat luka bohongan. Tidak ada yang bisa melukai vampir, selain makhluk supernatural lain. Aku hanya berharap mereka tidak terlalu memikirkan hal itu. Lagipula, Ben adalah seorang yang jenius. Ia bisa memberikan penjelasan yang dapat dipercaya. Aku harus berusaha kuat untuk tetap diam dan berpura-pura mati, saat gerombolan anggota campingku mulai berdatangan menghampiri pohon tempat aku menggantung diri. Bukan hal yang sulit, karena vampir tidak perlu bernafas ataupun bergerak. Hanya saja, aku tidak tahan mendengar suara tangisan dan histeria teman-temanku itu. Juga aroma mereka. Untung aku tidak perlu bernafas.

Setelah beberapa waktu ditangisi oleh teman-temanku, mereka memutuskan untuk mengakhiri acara camping kami dan berangkat pulang. Yang berarti, setelah ini, aku akan dihadapkan dengan situasi yang lebih sulit. Entah bagaimana reaksi Mama dan adikku saat melihat “mayat”ku ini. Seperti yang kubayangkan, reaksi Mama marah, sedih, histeris, semua menjadi satu. Mama marah dan menyesal karna telah memperbolehkanku mengikuti kegiatan camping itu, tapi lebih banyak menangis sambil memeluk tubuhku. Kalau vampir bisa menangis, mungkin aku sudah melakukannya sejak tadi.

Oh, aku tahu apa yang dipikirkan Mama saat ini. Ia pasti merasa sangat tidak berguna. Ia pasti merasa gagal menjadi istri dan ibu yang baik. Lima tahun yang lalu, ia kehilangan suaminya dengan cara yang kurang lebih sama. Sekarang, ia harus kembali menghadapi situasi buruk ini. Aku jadi merasa bersalah, namun, apa lagi yang dapat kuperbuat? Di luar prediksiku, adikku juga ikut menangis. Aku ingat, dulu, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menangis saat aku meninggal. Oh, ingin rasanya aku bangun saat ini juga, dan berteriak, “Aha! I knew it!” sambil menunjuk wajahnya dan tertawa mengejek. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu.

Aku tahu Mama akan segera menghubungi kakak perempuanku – yang kini tinggal di Australia, dan aku juga yakin, ia dan suaminya pasti sama shocknya dengan Mama, dan pasti sama histerisnya juga. Bisa-bisa, kakakku itu akan segera memesan tiket pulang saat itu juga. Tapi untungnya tidak. Ia sedang hamil, dan mustahil pulang dengan keadaan itu. Oh, aku jadi ingat. Aku tidak sempat melihat keponakanku. Oke, aku memang tidak benar-benar mati. Aku bisa saja mengunjungi mereka diam-diam untuk melihat keadaan keponakanku itu, tapi tetap saja, rasanya pasti berbeda. Sangat berbeda.

Aku tahu, aku telah menorehkan luka yang sangat dalam di hati Mama, adikku, dan juga kakakku. Luka yang pernah tertoreh juga di hatiku lima tahun yang lalu, kembali kutorehkan di hati mereka. Sekarang, mereka punya dua luka, yang sama dalamnya, dan tidak akan pernah sembuh. Sungguh, aku merasa sangat amat bersalah sekali. Lucu. Di satu sisi, aku telah bertransformasi menjadi makhluk imortal yang sangat kuat. Namun, di sisi yang lain, aku tidak berdaya. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki situasi kacau ini.

Aku dikuburkan di sebuah kompleks khusus pemakaman. Aku bisa merasakan suasana berkabung yang sangat dalam di sekitarku. Ini semua membuatku terharu. Aku memang sempat bertanya-tanya, jika aku mati, siapa saja yang akan bersedih? Dan sekarang, aku mendapat jawabannya. Ditangisi begini, membuatku merasa penting. Tapi, itu bukan hal yang sepenuhnya menyenangkan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di bawah permukaan tanah selama berhari-hari. Sebagai manusia, aku tidak akan bertahan hidup. Namun untuk vampir, ini bukan hal yang sulit. Aku sudah sedikit terbiasa untuk mengabaikan rasa hausku, yang semakin hari semakin menyiksa ini.

Aku sengaja membiarkan tubuhku terkubur selama beberapa hari. Sampai akhirnya, pada suatu malam, saat aku yakin keadaan di sekitarku sudah aman, aku berusaha keluar dari kuburku, dan menutup kubur itu kembali, seperti semula. Aku sempat berpikir untuk mengecek keadaan keluargaku, tapi itu terlalu berisiko. Akhirnya, aku tinggal di hutan dekat kompleks pemakamanku itu, sambil memantau orang-orang yang datang melayat. Aku bisa melihat sinar kesedihan di setiap pasang mata yang datang melayat makamku. Ingin rasanya aku menghampiri dan memeluk mereka semua.

Suatu hari, aku melihat Ben datang ke makamku sendirian, saat keadaan kompleks itu sudah cukup sepi. Aku memutuskan untuk memanggilnya. Bukan dengan teriakan atau telepon, tentu saja. Aku berjalan cukup dekat ke arahnya, dan melemparinya batu – oke, ini mungkin terdengar sadis, namun percayalah, ini tidak semengerikan yang kalian kira. Aku hanya melemparinya kerikil yang sangat kecil untuk menarik perhatiannya. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya aku berhasil. Ia menghampiriku dengan ekspresi lega.

“Untunglah kau tidak apa-apa,” ujarnya.

Tentu saja aku tidak apa-apa, secara fisik.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak ada rencana apapun yang terlintas di benakku. Yang ada hanyalah rasa hampa yang sangat mengusikku. 

“Aku… sempat terpikir sebuah ide,” ujarnya pelan, membuatku menatapnya. “Bagaimana kalau kau tinggal denganku?”

Mataku melebar. “What?” seruku tak habis pikir. “Mana mungkin bisa,” protesku.

Ben menggeleng. “Tentu saja bisa. Aku akan pindah ke Bandung untuk kuliah, kau ingat? Dan di sana, aku tinggal sendirian. Daerahnya terpencil, dekat hutan, lagi, jadi akan lebih mudah bagimu untuk berburu.”

Aku menatapnya ngeri. “Berburu…?”

Ben mengangguk. “Kau tidak mungkin meminum darah manusia, kan? Aku yakin kau pasti akan mengadopsi gaya hidup The Cullens yang kau idolakan itu.”

Aku tersenyum miring. “Aku memang pernah bermimpi menjadi vampir, tapi aku tak pernah mengharapkan mengonsumsi darah sebagai kebutuhan.”

Ben mengangkat bahu. “We’ll find a way. Kau tidak mungkin tidak minum darah. Kau memang tidak bisa mati kelaparan, tapi kau akan menjadi lemah, dan… tersiksa. Aku tidak mau melihatmu seperti itu,” ujar Ben pelan.

Oke, vampir mungkin tidak memiliki emosi seperti manusia. Do they? Aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta saat sudah menjadi vampir. Yang jelas, aku senang mendapat perhatian dari pemuda itu. Ya, vampir yang senang mendapat perhatian dari seorang manusia. Jadilah kami berangkat ke Bandung. Kami tidak berangkat bersama, tentunya. Ia berangkat naik pesawat, sedangkan aku… Aku berlari dan berenang menyeberangi lautan. Sesuatu yang benar-benar baru, dan menakjubkan. Semasa hidupku sebagai manusia, aku tidak pandai berolahraga. Seluruh tubuhku pasti sakit setiap kali selesai berolahraga. Dan aku tidak pernah bisa berenang.

Aku sampai di rumah yang disebut Ben itu, sesuai arahannya. Rumah itu memang terletak di pedalaman, dekat dengan hutan. Suasananya sangat nyaman dan menyenangkan. Ben sudah ada di sana terlebih dahulu. Aku sengaja berangkat sehari setelah ia sampai.

“Kau mau pergi berburu?” tanya Ben, setelah ia selesai berbenah.

Aku hanya menatapnya hampa. Seumur hidupku, aku selalu membenci darah. Aku takut setiap kali melihatnya – terutama dalam jumlah yang besar. Walaupun sekarang aku sudah menjadi vampir, aku tetap tidak punya hasrat untuk meminum darah. Rasa haus yang menyiksa inipun – yang menjadi satu-satunya hal yang bisa menumbuhkan hasrat untuk meminum darah, tidak sanggup membuatku cukup berani untuk melakukannya.

“Sepertinya, rasa takut-akan-darah-mu masih ada, walaupun kau sudah menjadi vampir, ya? Mungkin itu yang menumbuhkan self-control yang begitu kuat dalam dirimu,” ujar Ben. “Tapi, kau hanya takut dengan darah manusia, kan? Seharusnya tidak masalah meminum darah hewan, kan?”

Aku menggeleng lemah. “Kurasa, aku takut pada semua jenis darah,” sahutku sambil mengernyitkan wajah. Aneh, vampir yang takut dan merasa jijik dengan darah. Membenci hal yang bisa membuatmu bertahan hidup adalah hal yang konyol.

“Tapi, kau tidak mungkin menahan rasa hausmu begitu. Awalnya mungkin akan terasa menjijikkan, tapi setelah kau berhasil menembus rasa takutmu itu, aku yakin kau akan berubah pikiran,” ujar Ben yakin, seakan ia pernah mengalami hal yang sama.

Aku tahu yang dikatakannya memang benar, tapi… Aku tidak merasa aku membutuhkan darah. Jadi, aku hanya duduk diam di sofa, dan mulai membaca novel.

Ah, ya, aku mencuri semua novelku yang ada di rumah. Saat keluargaku sedang pergi, aku menyelinap masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa barangku, termasuk novel dan pakaianku. Mama sudah mengepak semuanya dalam kardus, jadi mudah bagiku untuk mengambilnya tanpa diketahui. Kecuali kalau Mama kembali mengecek isi kardus-kardus itu. Kuharap ia tidak melakukannya.

Ben mendesah pasrah melihat sikap keras kepalaku itu dan akhirnya membiarkanku melakukan apa yang aku mau. Aku senang mendapat perhatiannya, namun, aku benar-benar tidak ingin meminum darah. Hal yang sangat aneh, tapi begitulah kenyataannya.

Being a vampire is a gift and a curse. Gift, karena vampir tidak punya kebutuhan sebanyak manusia. Aku tidak perlu makan, mandi, dan tidur, membuatku punya banyak sekali waktu untuk melakukan hobiku. Inilah alasan mengapa dulu aku pernah bermimpi untuk menjadi vampir. Curse-nya hanya satu, merasakan sakit luar biasa pada tenggorokanku ini. Dan sekarang aku mengerti kenapa Edward suka memperhatikan Bella saat ia sedang tidur. Raut wajah seseorang yang sedang tertidur memang enak dilihat. Mereka terlihat damai dan polos. Terutama wajah Ben. Aku suka memerhatikan wajah tidurnya. Ia terlihat semakin tampan. Aku jadi penasaran, bagaimana tampangnya jika menjadi vampir. Pasti terlihat lebih menarik…

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau ia menjadi vampir sepertiku. Walaupun itu artinya kami tidak akan bisa bersama, tapi tidak masalah. Aku tahu ia bahagia dengan kehidupan manusianya. Ia sudah diterima di universitas dan fakultas idamannya. He has got all the things he needs. Aku menatap gelas hitam bertutup dengan sedotan mencuat keluar dari balik lubang tutupnya itu dengan bingung, lalu mengalihkan pandanganku pada orang yang memegang gelas itu.

“Cobalah minum ini,” pinta Ben sambil tersenyum lelah. Belakangan ini, ia sibuk dengan kuliahnya. Ia sering mengurung diri di kamar, dan itu membuatku merasa kesepian. Senang rasanya ketika aku kembali mendapat perhatiannya.

Aku kembali menatap gelas di hadapanku. “Aku kan, tidak bisa mencerna apapun selain darah. Itu pun tidak bisa dibilang ‘mencerna’,” ujarku.

Ben menggoyang-goyangkan gelas itu. “Coba saja minum dulu.”

Aku menatapnya curiga. “Ini darah, ya?”

Ben mengerutkan dahinya. “Minum,” perintahnya lebih tegas, membuatku mau tidak mau menerima gelas itu dan menyeruput isinya.

Ajaib, rasa sakit di tenggorokanku mulai menghilang. Aku langsung meneguk minuman itu sampai tak tersisa dalam hitungan detik. Dan aku merasa jauh lebih baik. Ben tersenyum senang melihatnya.

Mataku menyipit. “Jadi…. Ini beneran darah?” tanyaku lagi.

Ben mengambil tempat di sebelahku dan duduk di sana. “Berhari-hari kuhabiskan untuk berburu, mengambil darah, dan meraciknya agar tidak tercium dan terasa menjijikkan,” jelasnya pelan, membuatku terbelalak.

“Ba-bagaimana kau punya waktu untuk semua itu? Bukannya kau sibuk kuliah?”

Ben kembali tersenyum. “Maaf. Aku berbohong soal itu. Aku baru akan mulai kuliah bulan depan.”

Aku menatapnya tak percaya. “Jadi… dari kemarin itu kau sibuk untuk melakukan semua ini? Untukku?”

Ben mengangguk dan menyunggingkan senyum lebarnya. “Tentu saja.”

Jawaban sesingkat itu berhasil membuatku merasa begitu tersentuh. Ingin rasanya memeluk pemuda yang duduk di sampingku ini, tapi aku takut aku akan meremukkan tulang-tulangnya.

“Jangan terlalu memikirkannya. Anggap saja itu susu yang kau suka.”

Aku mengangguk pelan. Aku merasa sedikit mual jika mengingat aku baru saja meminum darah, namun segera kutepis pemikiran itu. Ben sudah bersusah payah membuatkannya untukku, jadi aku harus menghargainya.

“Karna kau begitu takut dengan darah, aku yakin kau tidak berani memburu hewan itu sendiri dan langsung meminum darahnya seperti yang dilakukan vampir ‘vegetarian’ pada umumnya. Jadi kupikir, jika aku menghidangkannya dengan cara lain, kau pasti mau mencobanya,” jelasnya lagi, membuatku semakin tersentuh. “Jadi mulai sekarang, aku akan berburu untukmu, dan menyajikan minuman itu.”

“Tapi, apa itu tidak merepotkanmu? Kau kan sudah mau kuliah.”

Ben kembali tersenyum – senyum yang selalu membuatku meleleh. “We can work this out,” sahutnya santai.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “ITB tidak salah memilih. Kau pasti akan menjadi anak farmasi terbaik yang pernah mereka punya,” pujiku.

Ben terkekeh. “Anak farmasi yang memelihara vampir. Kedengarannya keren juga.”

Aku ingin memukulnya – untuk main-main, seperti biasa, tapi itu akan menghancurkan tulang belulangnya, jadi… Aku hanya memutar bola mataku.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan lebih menyenangkan. Aku rutin mengonsumsi ‘minuman’ buatan Ben, dan merasa jauh lebih baik sekarang. Karena sudah berkali-kali mengelola ‘minuman’ itu, tidak sulit bagi Ben untuk menghidangkannya. Dan karena merasa tidak enak hati, akhirnya aku membantunya berburu – which is easier for me now. Tapi urusan mengolah darah, itu sepenuhnya urusan anak farmasi pemelihara vampir.

Ben sudah mulai kuliah, dan menjadi lebih sibuk dari biasanya. Aku kembali merasa kesepian. Aku sudah selesai membaca semua novel koleksiku, bahkan sudah mengulangnya beberapa kali. Akhirnya, aku mulai membaca buku-buku pelajaran Ben dan membantunya sebisaku. Ajaib, memang. Aku tak pernah membayangkan aku bisa membantu Ben dalam hal apapun, terutama studinya. Ia terlalu jenius, dan aku jauh di bawahnya. Tapi, berkat daya tangkap vampir yang melebihi manusia, aku bisa mengerti bab-bab pelajaran Ben dan bisa membantunya. Itu membuatku merasa bangga.

Kalian mungkin akan merasa bingung dengan cerita ini. Terlalu nonsense. Vampir tidak mungkin ada di dunia asli, apalagi seperti yang diceritakan dalam novel Twilight Saga. Kalaupun ada, mereka pasti tersebar di daerah Amerika dan Eropa, seperti yang ada di buku. Apa mungkin bisa nyasar sampai ke Indonesia? Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga bingung dan merasa sangat penasaran. Sampai saat ini, aku masih menganggap semua ini mimpi. Terlalu sulit untuk diterima akal sehat. Tapi, sampai kapan aku akan terjebak dalam mimpi ini?

Rasa penasaranku terus bertumbuh, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku tidak tahu jelas mau mulai dari mana, tapi setidaknya aku harus berusaha mencari. Mungkin, aku bisa mencoba menjelajahi seluruh Indonesia untuk mencari jejak vampir penciptaku? Aku mengungkapkan ideku ini pada Ben, dan pemuda itu menolaknya mentah-mentah. Ia mengkhawatirkanku. Aku senang mengetahuinya, tapi aku benar-benar ingin mencari tahu asal-usul semua ini.

Setelah membujuknya mati-matian, akhirnya ia mengizinkanku pergi, dengan perbekalan yang sangat lengkap. Ia menyuruhku berjanji untuk kembali lagi. Ia memberiku waktu satu bulan. Waktu yang lama dan singkat. Aku tidak tahu. Aku pun berangkat, menyusuri hutan demi hutan, kota demi kota. Aku memulai pencarianku dari daerah Jawa terlebih dahulu, lalu terus ke Bali, Nusa Tenggara, dan sekitarnya. Setelah berkeliling dan tidak mendapat apa-apa, aku mulai menyeberang ke arah Sulawesi, terus ke Kalimantan, dan Sumatera.

Saat sampai di Sumatera, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk mengecek keadaan keluargaku. Akhirnya, saat malam tiba, aku menyelinap masuk ke rumahku dengan sangat berhati-hati. Tidak begitu sulit untuk melakukannya. Dan aku bisa tersenyum lega saat menemukan Mama dan adikku dalam keadaan baik-baik saja. Selama perjalanan ini, aku baru menyadari, bahwa menahan nafsu meminum darah manusia tidak sesulit saat sedang bersama Ben. Aroma darah manusia lain tidak sekuat dan semenggiurkan aroma Ben. Mungkin, Benlah yang disebut ‘penyanyi’ untukku. Darahnya bagaikan ‘menyanyi’, memintaku untuk meminumnya.

Butuh pertahanan yang luar biasa untuk tidak menerkam Ben dan menghisap habis darahnya. Sekarang, aku mengerti bagaimana perasaan Edward saat bersama Bella semasa manusianya. Darah Bella juga ‘menyanyi’ pada Edward, dan Edward mampu menahan nafsunya berkat rasa cintanya yang begitu besar pada Bella. Same thing happens to me, with Ben. Aku tidak menyangka rasa cintaku padanya sebesar ini. Aku pikir, aku hanya ‘naksir’. Kami satu sekolah selama SMA. Hanya semasa SMA, tiga tahun yang singkat. Dan aku mulai suka padanya di tahun terakhir. Aneh, kan? Berarti, rasa itu tumbuh dengan sangat pesat. Terlalu pesat.

Saat tidak menemukan apapun di Sumatera, aku pun bertolak ke Papua. Dari ujung ke ujung, memang. Tapi, aku menikmati perjalanan ini. Berlari dengan kekuatan super, membuatku merasa seperti sedang terbang. Benar-benar menyenangkan. Dan sekarang aku mengerti mengapa teman-temanku suka berenang. Berenang memang menyenangkan.Aku sampai di salah satu hutan belantara di Papua beberapa hari kemudian. Aku tidak pernah pergi ke Papua sebelumnya. Bahkan, aku tidak pernah keliling Indonesia seperti ini sebelumnya. Aku memang sering pindah-pindah sekolah dan tempat tinggal, tapi belum sampai keliling Indonesia. Ini pengalaman yang menyenangkan, sayangnya, dalam keadaan yang tidak mengenakkan.

Langkahku terhenti ketika mencium aroma yang tidak lazim. Darah segar. Bukan hanya sekedar darah segar. Darah segar manusia. Dalam jumlah yang banyak. Aku mulai bergerak mendekati sumber bau-bauan itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bisa saja ada perang saudara atau apa. Aku terpana ketika melihat puluhan manusia tergeletak di rerumputan dalam keadaan yang mengenaskan – aku cukup yakin darah mereka sudah dihisap sampai habis. Dan mataku melebar ketika melihat sesosok pria sedang berjongkok di dekat salah satu mayat, dengan gigi tertancap pada lehernya.

“Ka-kau vampir juga?” todongku langsung.

Si vampir pria itu menoleh ke arahku dengan tenang, seperti sudah mengetahui kedatanganku sedaritadi. Pria itu menatapku lama, lalu menyunggingkan senyum. “Oh, kau rupanya.”

Aku membelalakkan mata. “Ka-kau mengenaliku? Bagaimana bisa?” tanyaku tak habis pikir. Lalu, suatu fakta menyetakku. “Oh! Kau… penciptaku?”

Pria itu tertawa. “Secara tidak sengaja,” jawabnya ringan. “Bagaimana hari-harimu? Indah? Oh, apa kau sudah makan?”

Aku menatapnya ngeri. “Mengapa kau mengigitku?” tanyaku langsung. Aku tidak perlu berbasa-basi lagi.

Pria itu kembali tertawa. “Itu hanya sebuah kecelakaan, kalau bisa dibilang begitu. Atau keberuntunganmu,” sahutnya.

Aku mengernyit. Beruntung, katanya?

“Tadinya, aku ingin meminum darahmu, tapi seseorang datang – bergerombol, sebenarnya, jadi aku terpaksa pergi. Hukum Volturi belaku, kau tahu? Kita harus merahasiakan keberadaan kita dari manusia,” lanjutnya.

“Dan ini caramu merahasiakannya?” tanyaku sambil melirik mayat-mayat yang tergeletak di mana-mana.

Vampir pria itu tertawa. “Tempat ini sangat sepi dan terpencil, kau tahu? Jadi, kurasa tidak masalah menyerang mereka seperti ini. Tidak akan menarik perhatian siapapun,” sahutnya santai.

Aku bergidik. “Lalu, kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya… seharusnya kalian ada di daerah Amerika dan Eropa?”

Pria itu mengangkat sebelah alisnya. “Oh? Kau salah satu pembaca novel itu?” tanyanya, membuatku mengernyit heran.

“Kau tahu tentang novel itu?” Aku balik bertanya. Kurasa kami membicarakan novel yang sama.

“Ya, novel yang mengancam keberadaan kami,” sahutnya.

“Jadi… semua yang ada di dalam novel itu nyata?” tanyaku tak percaya. Apa aku salah menangkap maksud vampir di hadapanku ini?

“Ya,” sahutnya mantap. “Dan soal pertanyaanmu sebelumnya, kami memang tinggal di sekitar Amerika dan Eropa, beberapa mulai menyebar ke Afrika dan Asia juga. Kami ini berjumlah banyak, kau tahu? Dan kebanyakan dari kami nomaden. Kami berpindah dan mulai menyebar kemana-mana. Jadi, menemukan salah satunya di sini, bukan sesuatu yang mengherankan,” jelasnya dengan cepat.

“Untuk kasusku, memang sedikit berbeda. Aku penjelajah. Aku suka berkeliling, berpindah tempat kemanapun yang aku mau, sendirian. Dan tahukah kau, darah setiap manusia yang berasal dari tempat yang berbeda memiliki rasa yang berbeda-beda juga? Aku suka menikmati rasa yang berbeda-beda itu,” lanjutnya, membuatku mengangkat alis.

Ia mengatakannya seperti seorang wisata kuliner. Konyol, sekaligus mengerikan.

Ada sangat banyak pertanyaan yang hinggap di kepalaku, membuatku bingung, mana yang harus kutanyakan terlebih dahulu. Tapi aku tahu aku menemukan orang yang tepat. Ia yang mentransformasiku – walau tidak sengaja, dan sepertinya ia mengetahui banyak hal, jadi aku bisa memuaskan rasa penasaranku ini.

“Ceritakan padaku tentang novel itu. Bagaimana mungkin Stephenie Meyer tahu segalanya tentang vampir dan mengeksposnya begitu saja?”

Vampir pria itu menggelengkan kepalanya. “Bukan dia yang mengetahuinya, tapi vampir lain.”

Aku yakin mulutku sudah terbuka sangat lebar saat ini, mungkin akan robek jika aku bukan vampir. “Vampir lain? Dia berteman dengan vampir lain?”

Pria itu kembali menggeleng. “Kau tahu Vladimir dan Stefan?”

Aku mengangguk. “Mereka dalang di balik semua ini?” tanyaku tak percaya. Well, bisa jadi, sih. Vladimir dan Stefan mempunyai dendam dengan Volturi. Bisa saja mereka menggunakan ini untuk menjatuhkan mereka?

“Mereka menciptakan satu vampir berbakat bernama Bannister. Dia dulunya seorang penghipnotis yang handal, sehingga saat menjadi vampir, dia bisa mengontrol pikiran manusia maupun vampir lain,” ceritanya. “Bannister mengontrol Stephenie untuk menceritakan semua hal tentang vampir, untuk menjatuhkan Volturi, tentu saja.”

Limpahan informasi ini begitu sulit untuk kucerna, bahkan dengan ‘otak’ vampir. “Lalu, bagaimana tindakan Volturi terhadap kasus ini?”

“Karena manusia menganggap hal ini hanyalah sebuah cerita yang tidak nyata, Volturi tidak mempermasalahkannya. Mereka hanya menginstruksikan para vampir untuk lebih berhati-hati dalam berburu,” jawab penciptaku itu.

“Dan kau mengabaikannya,” tuduhku, masih sedikit kesal karena vampir di hadapanku ini telah merengut jiwa manusiaku seenaknya.

Vampir pria itu mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku tidak merasa begitu. Buktinya, belum ada yang menangkap basah perbuatanku, kan?” tanyanya – pertanyaan retoris, yang ia jawab sendiri. “Kecuali kau, tentunya.”

“Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Kau bisa ikut berkelana denganku, kalau kau mau. Atau berkelana sendirian. Terserah padamu,” sahut vampir itu santai. “Ngomong-ngomong, aku Vaughn,” ujarnya, dan bergerak dengan cepat – nyaris terbang, ke arahku.

“Aku Mildred,” sahutku singkat.

Vampir yang kini berdiri beberapa sentimeter dariku menatapku takjub. “Kau… vegetarian?” tanyanya heran, sambil menatap lurus-lurus ke dalam kedua bola mataku yang mulai berubah kekuningan. Mungkin sekarang warnanya jingga? Entahlah.

Aku mengangguk.

“Padahal kau baru saja melewati masa liarmu,” lanjut Vaughn.

Aku kembali mengangguk. “Aku… fans keluarga Cullens,” jawabku sekenanya. Well, itu memang benar. Walaupun bukan alasan utamanya. “Oh ya, apakah kau mengenal mereka?”

Vaughn tertawa. “Tentu saja, siapa yang tidak mengenal mereka?” tanyanya skeptis. “Apa kau mau bertemu dengan mereka? Atau mungkin bergabung dengan mereka?”

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya, ide itu kedengaran sangat menarik. Hanya saja…

“Sekarang mereka tinggal dimana?”

“Kanada. Aku bisa mengantarmu kalau kau mau,” sahut Vaughn santai.

Kanada? Jauh sekali. Tapi, aku punya waktu yang cukup untuk itu.

“Baiklah. Antarkan aku ke sana.”


Check out Part 2 

Sunday, 14 July 2013

[Short Story] Percikan Api dan Semburan Air Es



Pintu otomatis lift terbuka dan pria itu pun melangkah keluar. Ia sedang menarik nafas dalam-dalam ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis dalam balutan gaun putih. Ia sedang berdiri mematung di ujung atap gedung itu. Jika ia bergerak maju satu senti lagi, ia akan jatuh. Tatapannya menerawang ke depan. Wajah bersihnya terlihat pucat dan matanya terlihat merah dan bengkak. Entah mengapa perasaan pria itu tidak enak ketika melihat pemandangan itu.
Tanpa sadar, kaki pria itu bergerak pelan menuju gadis itu. Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter lagi, tiba-tiba tubuh gadis itu oleng dan terhempas ke depan. Sontak tangan pria itu terulur, berusaha menggapai lengan gadis itu. Ia menghela nafas ketika tangannya berhasil mencengkeram lengan kecil gadis itu. Ia menarik tubuhnya yang ringan ke atas.
“Hey, kau gila, ya?” protes pria itu.
Gadis itu terlihat linglung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu bergerak-gerak, berusaha melepaskan cengkraman kuat pria itu. Pria itu merenggangkan cengkramannya dan gadis itu bergerak menjauh dalam diam.
Pria itu memerhatikan gadis mungil yang saat ini sudah duduk di pojokan sambil mendekap kedua lututnya itu. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lututnya. Tubuh rampingnya berguncang, membuat saraf penasaran pria itu semakin tergelitik. Ia pun memutuskan untuk menghampiri gadis itu.
Ia berjongkok di sebelahnya, lalu menepuk pelan bahu gadis itu. “Hei, kamu nggak apa-apa?”
Gadis itu bergeming, tidak mengindahkan satu patah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Melihat tidak ada respons dari gadis itu, ia pun mengulang pertanyaannya. “Kamu nggak apa-apa?”
Gadis itu mengangkat wajahnya yang basah. Matanya merah dan bengkak. Gadis itu merengut. “Nggak. Aku sangat apa-apa,” jawabnya skeptis.
Pria itu mengelus tengkuknya dengan canggung. “Kenapa tadi kamu mau loncat?”
Gadis itu mendengus, lalu menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar. “Bukan urusanmu. Pergi sana, lanjut kerja. Nanti kau diomeli bos brengsekmu itu pula,” usir gadis itu.
Pria yang berjongkok di sebelahnya itu mengernyit. “Bos brengsek?” ulangnya.
Gadis itu mendelik. “Iya! Bosmu itu orang terberengsek yang pernah kukenal!” teriaknya.
Pria itu kembali mengelus tengkuknya, bingung. “Kalau boleh tahu, kenapa ya? Setauku dia orang yang baik.”
Gadis itu mencibir. “Cih. Baik apanya. Serigala berbulu domba!” gerutunya.
Pria itu memerhatikan gadis di hadapannya dengan saksama, berusaha memilah-milah informasi yang ada. Gadis ini masih terlihat sangat muda. Wajahnya masih bersih dan mulus. Sinar matanya masih terlihat polos. Dan tubuhnya yang mungil semakin mendukung bukti-bukti yang ada.
Pria itu meneguk ludahnya. Bosnya itu memang baik, tapi reputasinya mengenai wanita sering dirumorkan yang tidak-tidak. Dengar-dengar, bosnya itu suka main perempuan, dan biasanya yang lebih muda. Apa gadis ini…
“Kenapa kau masih di sini?” tanya gadis itu dengan nada sengit, menyentak pria di hadapannya.
Pria itu menarik nafas. “Aku nggak akan pergi sampai kamu tersenyum dan pulang ke rumah,” sahutnya ringan.
Gadis itu mendengus. “Memangnya kau siapa? Kau bukan ayahku, jadi kau nggak berhak menyuruh-nyuruhku seperti itu. Lagian, orang patah hati mana sih yang bisa tersenyum?”
Pria itu terdiam sejenak, lalu tangannya terangkat pelan-pelan, dan jari terlunjuknya menunjuk ke arah dirinya sendiri. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya. “Aku bisa,” sahutnya santai.
Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu mendengus. “Memangnya kau lagi patah hati?”
Pria itu mengangkat bahu. “Begitulah,” sahutnya. “Kau juga? Apa karna…” Ia berdeham. “Bosku?”
Gadis itu mendesah. “Begitulah,” jawabnya singkat, meminjam jawaban pria tadi.
Pria itu mengerutkan dahi. “Jadi, kau mau bunuh diri cuma karena patah hati?” tanyanya tak habis pikir.
Gadis itu berkacak pinggang. “Enak saja! Aku nggak sedangkal itu! Jangan sok tau deh!” bentaknya.
Pria itu mengernyit. “Jadi?”
“Udah kubilang, bukan urusanmu. Kau nggak diajarin tata krama, ya? Mencampuri urusan orang lain itu nggak sopan, tau!”
Pria itu mengangkat bahu. “Ini kan kantorku, jadi aku punya hak dong buat mencari tau hal-hal yang mencurigakan, untuk menghindari masalah yang tidak diharapkan.”
Gadis itu merengut, memutuskan untuk tidak menjawab.
“Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Udah gelap loh. Mending kamu pulang deh. Entar dicariin lagi,” usul pria itu.
Gadis itu kembali mendelik. “Dicariin siapa? Aku tinggal sendirian dan udah nggak punya pacar, jadi nggak akan ada yang nyariin,” sahutnya judes.
Pria itu kembali terkekeh. “Iya, iya. Jangan judes gitu, ah. Lupain aja si brengsek itu. Kamu pasti dapat yang jauh lebih baik darinya.”
Gadis itu mencibir. “Ogah, deh. Kapok sama yang namanya cinta.”
Pria itu mengangkat alis. “Wah, jangan sampe gitu juga, kali.”
“Habis mau gimana? Hatiku udah kebakar,” sahut gadis itu. “Dasar percikan api sialan!”  umpatnya.
Pria itu mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”
Gadis itu mendesah. “Nothing. It’s just a theory of mine,” sahutnya pelan.
“Teori apa?” tanya pria itu, kelihatan tertarik.
Gadis itu kembali mendesah dan menatap langit biru tua di hadapannya dengan tatapan menerawang. “Cinta itu kayak percikan api di hati. Awalnya percikan itu hanya percikan kecil, menghadirkan rasa hangat di hati kita, lalu membuat rasa cinta yang ada membara, membuat kita berapi-api. Tapi lama kelamaan, api itu menjalar ke seluruh penjuru hati kita, semakin lama semakin besar, lalu akhirnya membakar hati kita. Rasanya sakit dan perih. Dan kalau dibiarkan saja, api itu akan menghanguskan hati kita.”
Pria itu terpaku di tempatnya, salut dengan serentetan kata-kata yang diucapkan gadis itu barusan. Teori yang unik, begitu menurutnya. “Aku juga punya teori sendiri,” komentarnya.
Gadis itu menoleh dan menatap pria yang kini duduk di sampingnya, menunggu kelanjutannya.
Pria itu memandang lurus ke depan. “Cinta itu seperti semburan air es. Hati kita terasa dingin dan sejuk berkat keberadaannya. Tapi jangan lupa, es itu bertemperatur sangat rendah, sanggup membekukan apapun, termasuk hati kita. Rasanya ngilu. Dan kalau dibiarkan saja, hati kita akan benar-benar beku dan lama-lama jadi mati rasa.”
Gadis itu terdiam. Lalu, pelan-pelan senyum di wajahnya mengembang. “Bagus juga teorimu,” komentarnya.
Pria itu balas tersenyum, puas karena telah berhasil menenangkan dan menghibur gadis itu.
Tiba-tiba, tubuh gadis itu menegak. Ia menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya. “Eh, tadi kau bilang kau juga lagi patah hati. Ayo cerita! Aku kan udah cerita, sekarang giliranmu!” perintahnya. Oke, sekarang mereka benar-benar terlihat seperti dua sahabat yang saling mencurahkan isi hati masing-masing, bukan dua orang yang baru saja bertemu.
Pria itu terdiam sejenak, lalu akhirnya mendesah. “Kalau kamu mengencani pria yang lebih tua darimu, aku terbalik. Aku mengencani gadis yang lebih muda dariku.” Pria itu memulai.
“Aku sangat menyayanginya, tapi aku emang bukan orang yang romantis-romantis amat. Aku nggak gitu menganggap serius masalah percintaan. Menurutku, pacaran itu nggak harus ketemu dan memberi kabar tiap saat, nggak harus mesra-mesraan, atau hal-hal norak lainnya. Yang terpenting adalah komitmen. Komitmen untuk saling percaya pada satu sama lain. Komitmen untuk selalu ada untuk dia.”
“Tapi pacarku nggak sependapat. Menurutnya, cinta itu bukan hanya dirasakan, tapi harus diperlihatkan lewat setiap perkataan dan perbuatan. Ia suka hal-hal romantis, yang jarang ia dapatkan dariku. Jadi, ya… Lama-lama kami merasa nggak cocok, jadi kami putus.”
Gadis itu terdiam beberapa saat. “Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana,” guraunya.
Mereka tergelak bersama. Tiba-tiba, pria itu berhenti tertawa. “Jadi… apa alasanmu mau loncat tadi?”
Gadis itu seketika terdiam, lalu menunduk. “Orangtuaku meninggal sebulan yang lalu. Aku anak tunggal, and nggak ada keluargaku di sini, jadi aku cuma sendirian. Bosmu itu satu-satunya ‘keluarga’ yang aku punya. Aku sadar, sejak orangtuaku meninggal, aku jadi lebih manja, karna ya, you know, family complex. Tapi itu dianggap kekanakan sama mantanku. Tadi itu puncaknya, dia bilang dia ngerasa kami udah nggak cocok lagi, jadi dia putusin aku. Tentunya aku sangat terpukul. Aku ngerasa aku nggak punya siapa-siapa lagi. Aku nggak tau harus gimana, jadi kupikir…”
“Hey, jangan terlalu gampang mengakhiri hidup yang secara cuma-cuma Tuhan kasih,” sela pria itu. Ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu. “Life is too precious to be ended that way.”
Gadis itu menunduk. “Ya, aku tau.”
“Akhir dari hidup seseorang itu keputusan Tuhan, bukan manusia. Jadi jangan bermain-main dengan keputusan itu, mengerti?”
Gadis itu mengangguk.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan kanannya. “Kalau begitu, ayo, aku antar pulang.”
Baru saja gadis itu menerima uluran tangan di hadapannya, ia langsung tersentak ketika merasakan tarikan yang kuat dari tangan itu. Ia yang belum siap karena tubuhnya masih lemas, tersentak ke depan dan kehilangan keseimbangan. Pria yang menariknya tadi dengan sigap menangkapnya.
Lalu, segalanya seakan membeku. Mereka terpaku dalam posisi masing-masing – tubuh mungil gadis itu yang sedang setengah dipeluk oleh pria di hadapannya. Pria itu tersadar lebih dulu. Ia berdeham, lalu melepaskan cengkramannya. Ia berjalan mendahului gadis itu menuju lift.
“Ayo,” ajaknya.
Gadis yang diajak bicara masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menangkup pipinya yang terasa hangat. Kehangatan yang sudah lama tidak hinggap di pipinya. Ia merasa seakan ada angin sejuk yang berhembus menerpa hatinya.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, dan juga detak jantung masing-masing. Mobil yang mereka naiki telah berhenti, tapi tidak ada yang bereaksi. Gadis itu melirik pria yang duduk di sebelahnya, tepat ketika sang pria juga sedang melirik ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, namun mereka segera mengalihkannya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, berharap udara sejuk sanggup menghapus jejak kegugupan dalam hatinya, namun percuma saja.
“Kamu tau, teorimu itu benar.” Suara berat pria itu memecah keheningan. “Cinta itu seperti percikan api. Walaupun ia bisa menjalar dan membakar, tapi panas apinya sanggup meluluhkan hati yang beku.”
Gadis itu terdiam. Apa maksud pria ini…
“Kau tau, teorimu juga benar,” sahut gadis itu setelah terdiam beberapa saat. “Cinta seperti semburan air es. Walaupun mengilukan dan membekukan, tapi rasa dinginnya sanggup menyejukkan hati yang terbakar.”
Mereka berdua sama-sama terdiam, mencerna kata-kata masing-masing.
“Kamu tau,” suara pria itu kembali memecah keheningan. “Aku berumur dua puluh empat tahun.”
Gadis itu mengernyit. Lalu? Ia menoleh ke arah pria di sebelahnya, meminta penjelasan, tapi pria itu bergeming. Gadis itu mengerutkan dahinya, lalu teringat sesuatu. Ah, ya, pria itu lebih muda satu tahun darinya.  Ia jadi teringat kata-katanya sendiri.
“Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana.”
Ia melirik pria yang masih duduk diam di sebelahnya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia bergerak ke kanan, mendekatkan wajahnya ke arah wajah pria itu, lalu mengecup pipinya dengan cepat. Lalu, ia melompat keluar dari mobil itu tanpa berkata satu patah kata pun.
Pria itu terpaku di tempatnya. Tangannya terangkat, mengelus pipi kirinya. Perlahan, senyuman mengembang di wajahnya. Ia merogoh saku kemejanya dan menemukan secarik kertas. Setelah mengecup pipinya tadi, gadis itu menaruh sesuatu ke dalam saku kemejanya. Ia membuka lipatan kertas itu dan menemukan sederet angka dan huruf yang tertulis rapi di atasnya.
Magenta Cerulean. +628xxxxxxxxx

Pria itu mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Ia menekan-nekan tombol-tombol kecil pada benda itu dengan semangat baru.
Gadis itu melangkah riang menuju kamarnya. Langkahnya terasa semakin ringan. Ia meraih gagang pintu kamarnya dan hendak memutarnya ketika ia merasakan getaran di tas kecil yang ia tenteng. Ia mengeluarkan sebuah benda segiempat dari tasnya dan menekan beberapa tombol, lalu kedua sudut bibirnya terangkat.
From: +628xxxxxxxxx
I am no prince. I am no saint. I am not anyone’s wildest dream. But I will stand behind, and be someone to fall back on (;  – Valentino Roberts 
Nama dan nomor yang asing, tapi gadis itu tahu jelas siapa pengirimnya. Ia merasakan percikan api dan semburan air es di hatinya – keduanya sekaligus. Dan anehnya, kombinasi keduanya terasa… sempurna. Aneh memang, bagaimana ia begitu cepat pulih dari patah hatinya dan kembali jatuh cinta. Well, like they said, love is the best medicine. Ia tidak bisa menghindarinya seumur hidup. Lagipula, ia punya firasat baik tentang ini.

Thursday, 11 July 2013

[Movie Review] Refrain (2013)


Judul Film     : Refrain
Produksi       : Maxima Pictures
Sutradara     : Fajar Nugros
Penulis Skrip  : Haqi Achmad
Adaptasi dari : Novel ‘Refrain’ by Winna Efendi
My Rating      : 4 of 5

(http://www.youtube.com/watch?v=7waniQXMbxE)

TRAILER



MY SUMMARY + COMMENTARY

Refrain. Setiap kali mendengar satu kata itu disebut, yang muncul di benakku hanya satu – kisah Niki, Nata dan Anna. Orang lain mungkin akan berpikir, “Oh, refrain itu kan, bagian dari lagu yang diulang-ulang. Reff. Chorus.” Emang itu, sih, arti asli dari kata ‘Refrain‘, tapi, yang pertama kali kuingat adalah novel ketiga kak Winna yang akhirnya difilmkan ini.


Aku udah baca novelnya, yang langsung masuk ke dalam list novel favoritku. Bisa dibilang, aku fans beratnya kak Winna, jadi, saat  mendengar rumor Refrain akan difilmkan, aku langsung bersorak-sorai (literally). Padahal, aku nggak begitu suka film lokal. Kebanyakan novel Indonesia yang difilmkan berakhir kurang memuaskan. Setelah mengingat fakta-fakta itu, semangatku langsung ciut. Aku takut film Refrain nggak sebagus ekspektasiku.

Suatu hari, aku menemukan fanbase official untuk film Refrain di twitter. Di sana, di-update perkembangan film Refrain, mulai dari pemain-pemainnya, kru yang bertugas, serta foto-foto selama syuting. Semakin dilihat, aku menjadi semakin tertarik. Pemain-pemainnya good looking, dan setting yang digunakan juga kelihatannya menarik. Apalagi, salah satu adegannya berlatar di Vienna, Austria. Awalnya, aku kurang setuju dengan pemainnya, karna agak berbeda dari yang ada di bayanganku. Tapi, setelah dilihat-lihat, ternyata cocok juga. Apalagi pemain Olivernya – Maxime Bouttier. Ganteng!

(http://aboutafgan.wordpress.com/2013/03/01/film-refrain/)

Aku pun kembali bersemangat menanti-nanti film ini. Sayangnya, saat film ini akhirnya dirilis, aku belum bisa langsung nonton, karna aku udah janji untuk nonton bareng sama temen-temenku. Aku jadi makin nggak sabar. Akhirnya, aku nonton di hari tayang kelima, yaitu pada hari Selasa, 25 Juni 2013 (yep, I remember!).

Film dan novel emang nggak bisa seratus persen sama. Jelas ada bagian dari novel yang ditiadakan di film, atau dipersingkat. Novel selalu lebih rinci, sedangkan film harus lebih memerhatikan sisi entertainment – jangan sampai membuat penonton bosan. Karena faktor-faktor itulah, film ini jadi beda dari novelnya. Namun, tetap aja ada bagian yang sama, dan aku merasa senang saat mengenalinya.

Film ini diawali dengan monolog Niki, tokoh utama cewek di film ini, yang diperankan oleh Maudy Ayunda. Dia menceritakan tentang persahabatannya dengan Nata – tokoh utama cowok yang diperankan oleh Afgansyah Reza. Mereka udah bersahabat sejak kecil dan melakukan hampir segalanya bersama. Rumah mereka bersebelahan, dan setiap pagi, Nata akan mengantar-jemput Niki ke sekolah dengan sepedanya. Suatu hari, sekolah mereka kedatangan murid baru – Anna. Dan Anna pun masuk ke dalam lingkaran Niki-Nata dengan mudahnya. 

(http://twicsy.com/i/fqK3md)

Anna diam-diam memiliki perasaan pada Nata, yang sayangnya udah terlebih dahulu memiliki perasaan pada Niki. Sedangkan Niki, dia terlalu sibuk mencari cinta pertamanya. Niki yang penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta, akhirnya bertemu dengan Oliver, kapten basket dari sekolah lain. Mereka semakin akrab, dan akhirnya berpacaran. Ini membuat Nata jadi uring-uringan, dan akhirnya persahabatan mereka pun merenggang.

(http://allaboutafgan.blogspot.com.au/2013/02/bts-film-refrain.html)

Persahabatan mereka menjadi semakin kacau setelah Nata akhirnya mengetahui bahwa Anna menyukainya, tapi dia menolak, dan mengatakan bahwa dia menyayangi Niki. Niki mendengarnya dan marah, lalu mulai menjauh. Niki bingung, mengapa persahabatan mereka menjadi kacau begitu. Saat prom, Niki yang seharusnya datang dengan Oliver, akhirnya pergi sendirian karena Oliver sakit. Sesampainya di sana, dia malah menemukan Oliver – yang ternyata nggak sakit, datang dengan Helena, salah satu teman Niki. Niki sakit hati, membuat emosi Nata tersulut, lalu menonjok Oliver.

(http://www.thejakartaglobe.com/features/teenage-romance-handled-with-poise-2/)

Setelah itu, Nata - yang ternyata diterima di sekolah musik di Vienna, memberitahukan kepergiannya pada Niki, dan mereka pun berpisah. Selepas kepergian Nata, Niki menemukan amplop biru berisi surat dari Nata, yang menyatakan perasaannya lewat surat itu. Niki mulai merasa kehilangan dan menyadari bahwa dia juga memiliki perasaan khusus untuk Nata. Beberapa tahun kemudian, Niki, yang tampak lebih dewasa, nggak sengaja menemukan amplop biru dari Nata, dan memutuskan untuk menyusul Nata ke Vienna. Di akhir cerita, Nata dan Niki kembali dipertemukan dan kali ini mereka saling jujur pada perasaan mereka masing-masing.

(http://www.muvila.com/read/refrain-kalau-cinta-jangan-setengah-setengah/page/0/2)

Ada beberapa adegan dan tokoh di novel yang ditiadakan, dan ending-nya juga dibuat berbeda. But overall, aku tetap merasa puas. Kisah di novel dikemas dengan baik dalam bentuk film. Full of surprises. Sayangnya, adegan yang diambil di Vienna agak pecah, namun selebihnya, nggak masalah. Dan yang membuat film ini lebih unggul dari film Indonesia lainnya adalah, film ini nggak pelit, jadi nggak tanggung-tanggung milih setting. Selain itu, aksesori-aksesori yang digunakan dibuat semirip mungkin dengan yang dideskripsikan di dalam novel, jadi semuanya terasa mendukung dan sinkron. 

(http://www.memobee.com/index.php?do=c.myreview&idmw=952)

Poster filmnya pun terlihat sangat menarik, udah hampir setara dengan film-film luar negeri. Salut! Aku juga suka tagline-nya: "Kalau Cinta Jangan Setengah-Setengah!" Jleb, ya? Hihihi. Aktor dan aktrisnya juga mendalami karakter dengan baik. Film ini bahkan membuatku jatuh cinta pada tokoh Anna yang kalem dan Oliver yang keren. Walaupun kadang terasa agak kaku, namun akhirnya tetap aja bagus. Soundtracknya juga enak didengar dan liriknya cocok sama adegan-adegannya. Film ini film lokal terbagus yang pernah kutonton. Recommended!

(http://allaboutafgan.blogspot.com.au/2013/03/pic-prom-nite-film-refrain.html)

Monday, 8 July 2013

[Travel Notes] Around the World in 7.30 Minutes


December 2010, my family and I had a family trip to Hong Kong and China. One of my favorite places was Windows of The World in Shenzhen, China. It has mini versions of some famous tourist attractions in the world! I took a lot of photographs there, and thought “Hey! Why don’t I put these photos together into a single video?” And that’s what I did.

Here is the video, originally by me. I hope I didn’t get the names wrong. Pardon me if it isn’t good. I’m still an amateur. But I hope you enjoy it! Happy watching! :D


Friday, 5 July 2013

[unforgotTEN GagasMedia] 10 Buku Hadiah dari GagasMedia


(https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151729378668980&set=a.484437473979.288648.51708988979&type=3&theater)

Dalam rangka HUT ke-10 GagasMedia, aku mengikuti kuis "10 Things I Hope for GagasMedia‘, dan menang! Ini hadiahnya.










1. Derita Mahasiswa by Mbah Derma


2. Dreadfully Deadly History by Clive Gifford


3. Dear You by Moammar Emka


4. All You Can Eat by Christian Simamora


5. Buku Pintar Cewek Juara by Zivanna Letisha


6. The Truth About Forever by Orizuka


7. Restart by Nina Ardianti




9. Murjangkung by A.S. Laksana


10. A Cat In My Eyes by Fahd Djibran


(All the covers are from Goodreads)

Rupanya, ini buku pilihannya kak Landy Achmad dan Gita Ramayudha, para layouter GagasMedia. Ada beberapa buku yang diganti sih, karena pilihan mereka buku lama. Nih, aku dapat surat cinta dari mereka:


Ah, senangnya. Makasih banyak ya, Gagas sayang! Makin sukses! See what I wrote to win this quiz

[unforgotTEN GagasMedia] My 10 Birthday Wishes for GagasMedia


Dalam rangka HUT ke-10 GagasMedia, ada kuis “10 Things I Hope for GagasMedia". Jadi, pembaca disuruh menulis 10 harapan buat penerbit kece ini. Yang menang bakal dikasih 10 buku dari Gagas.

(https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151729378668980&set=a.484437473979.288648.51708988979&type=3&theater)

Di bawah ini, 10 harapanku buat GagasMedia:

1. Yang paling paling paling aku harapkan itu, Gagas mau nerima naskah fiksi via email. Aku tau, ada banyak kekurangannya kalo dikirim via email. Tapi, bagi aku yang masih kecil (17 tahun masih kecil, kan?), aku masih bergantung banget sama orangtua, dan takut kena marah kalo print naskah begitu banyak dan harus kirim via pos, lagi (ongkir dari sini mahal, aku jauh sih). I know, ini kedengarannya egois, tapi kan, aku cuma berharap. Boleh, dong? Nggak harus dikabulin, kok (kalo dikabulin, syukur).

2. Kendala di nomor satu nggak akan bikin aku nyerah jadi penulis. Habis ini, aku kuliah, terus kerja. Jadi, aku udah bisa biayain diri sendiri, buat print naskah dan kirim pos ke Gagas. Ini harapan keduaku: bisa jadi salah satu penulis Gagas! Well, lebih tepatnya, pengen bisa bergabung dengan keluarga besar GagasMedia. Doain ya, Gas. And wait for me!

3. Makin, makin, deh. Makin sukses, makin kece, makin hebat. Desain layoutnya makin kece. Covernya makin unik. Isinya makin badai. Tapi, sedikit berharap harganya nggak makin mahal. Lol.

4. Makin sering ngadain lomba menulis dan kuis berhadiah, ya, Gas. Walaupun aku belum tentu menang, tapi cukup bisa ikutan aja udah bikin aku senang!

5. Makin sering ngadain talkshow, bedah buku, dll, tapi jangan di daerah Jawa aja dong, sekali-sekali keliling Indonesia (baca: ke kotaku juga). Dan sering-sering ngadain di TV atau radio, biar aku bisa nonton/denger. Hal-hal kecil kayak gini aja udah bisa bikin aku bahagia banget, loh, Gas. So, yeah, if it’s not much to ask

6. Buka kantor cabang di kotaku! (abaikan aja ini. Aku lagi berkhayal tingkat tinggi. Tapi, kalau nggak keberatan, sih, boleh dipertimbangkan dulu…)

7. Semoga ke depannya Gagas juga dikenal di negara-negara lain, terus novel-novelnya diterjemahin ke bahasa lain dan diekspor ke luar negeri. Kan keren! (aku bakal kuliah ke luar negeri, dan bakal rindu setengah mati sama Gagas)

8. Aku liat kebanyakan novel Gagas genrenya romance, dan lebih sering digemari kaum perempuan (Gagas, si pujaan para wanita). Bukan hal yang buruk sih (toh, aku juga perempuan pemuja Gagas), cuman, yah, ada baiknya kalau Gagas ambil genre lain, biar kaum pria juga melirik (ya, cowok emang jarang sih ada yang suka baca, tapi kan bisa dipaksa #eh). Kan, udah mulai tuh, ada yang genre horor, dll. Udah bagus, jadinya lebih luas cakupannya. Habis ini, mulai ambil yang genre misteri atau fantasi, biar makin keren! Banyak cowok yang lebih suka genre begituan (teman-temanku sih begitu). Nah, jadi nanti Gagas bukan cuma pujaan wanita, tapi dambaan pria juga. Makin top!

9. Di kotaku cuma ada satu Gramedia, sisanya Karisma semua. Aku agak bingung kenapa buku Gagas cuma ada di Gramedia, nggak ada di Karisma (kotaku). Apa Karismanya yang payah atau gimana, ya? Jadi ya, aku berharap, habis ini makin gampang nemuin buku-buku Gagas di toko buku mana pun.

10. Wah, terakhir nih… Aku bingung mau nulis apa lagi. Hmm, oh! Semoga Gagas bisa punya toko buku sendiri. Bukan cuma Toko Buku Gramedia, tapi ada Toko Buku GagasMedia juga. It’ll be cool!

Pengumumannya tanggal 10 Juli 2013, dan…. YUP! AKU MENANG! *tiup terompet* *lempar bunga* *nari-nari* Hadiahnya? 10 buku GagasMedia!

[unforgotTEN GagasMedia] Happy #unforgotTEN Birthday, GagasMedia!


Postingan ini dibuat untuk memperingati HUT ke-10 penerbit favoritku pada tanggal 4 Juli 2013.

JULY 4TH!!”

“Apaan sih? Kok heboh banget?” Begitu temanku bertanya ketika aku sedang heboh-hebohnya saat menanti tanggal keramat ini.

FYI, tanggal 4 Juli itu bukan cuma HUT Amerika Serikat aja, tapi ULTAHNYA GAGASMEDIA – yang menurutku lebih penting daripada hari kemerdekaan negara yang nun jauh di sana (walaupun itu my dream country). Ultah yang keberapa? Yang unforgotTEN! Good one, Gas!

(https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151729378668980&set=a.484437473979.288648.51708988979&type=3&theater)

Nggak terasa ya, GagasMedia udah sepuluh tahun menemani para pembacanya. Hiks! *elap ingus*. Nah, atas permintaan kak Mudin Em untuk memeriahkan ultah Gagas yang kesepuluh ini, aku udah memposting tulisan-tulisan yang berhubungan dengan ultah satu dekadenya Gagas ini.


Aku juga udah ngucapin "Happy Birthday" ke Gagas sepuluh kali via twitter:


Happy #unforgotTEN birthday, GagasMedia. I love you! You’ll always be in my heart!

Love,

Me