Menu

Sunday, 16 June 2013

[Book Review] Seasons to Remember by Ilana Tan


Judul Buku       : Seasons to Remember
Pengarang         : Ilana Tan
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 160 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Pembaca yang baik,

Ketika pertama kali aku menulis "Summer in Seoul", gagasan untuk membuat tetralogi sama sekali tidak terpikirkan olehku. "Summer in Seoul", yang pada awalnya memiliki judul yang sama sekali berbeda, kutulis untuk diikutsertakan dalam lomba. Karena aku tidak menang (hiks…), aku membongkar dan merapikan kembali cerita itu, mencari judul yang lebih menarik (terus terang saja, judul awalnya sangat mengerikan), lalu mengirimkannya kepada Gramedia Pustaka Utama. Hasilnya? Summer in Seoul pun diterbitkan. Hore!

Setelah itu, aku mulai memikirkan buku berikut. Dan Tara Dupont, yang pertama kali muncul di "Summer in Seoul" sebagai tokoh sampingan, terlihat seperti karakter yang menarik. Dia terkesan seperti seseorang yang punya banyak cerita. Jadi aku pun menghampirinya dan membiarkannya bercerita.

Ide untuk membuat tetralogi muncul setelah "Autumn in Paris" selesai ditulis. Saat itu aku berpikir, ”Karena sudah ada musim panas dan musim gugur, sebaiknya aku melanjutkan dengan musim dingin dan musim semi. Baiklah, sekarang apa yang harus kutulis untuk cerita musim dingin?” Langsung saja, Ishida Keiko melangkah maju dan bertanya apakah aku bersedia menulis cerita tentang dirinya. Aku tidak mungkin menolak kesempatan itu.

Di tengah-tengah penulisan "Winter in Tokyo", aku sadar bahwa setelah ini aku harus menelusuri kehidupan kembaran Keiko, Naomi, yang hanya pernah diungkit-ungkit namun tidak pernah terlihat. Banyaknya kemungkinan alur cerita yang bisa diberikan Naomi yang misterius menegaskan keputusanku untuk mengikutinya dan menulis kisah hidupnya.

Masing-masing penulis memiliki cara tersendiri dalam menulis. Aku pun begitu. Aku tidak membuat rencana atau kerangka ketika menulis. Satu cerita hanya diawali satu ide sederhana, lalu aku menunggu ide itu berkembang dengan sendirinya. Aku mengamati ke mana alur cerita itu mengalir dan menulis mengikuti aliran itu. Aku tidak pernah menyuruh tokoh-tokohku melakukan tindakan tertentu atau mengucapkan kata-kata tertentu. Aku hanya menempatkan mereka dalam suatu keadaan, lalu melihat apa yang mereka lakukan dan apa yang akan mereka katakan. Karena ini kisah mereka, bukan kisahku.

Gramedia Pustaka Utama-lah yang pertama kali memberikan ide untuk membuat journal ini, dan dengan journal ingin aku ingin mengajak kalian mengenang kembali setiap kisah dalam keempat musim itu. Kuharap kalian bisa menemukan kutipan kesukaan kalian dalam journal ini. Silakan menambahkan kesan-kesan kalian sendiri di setiap halamannya.

Akhir kata, aku ingin berterima kasih atas dukungan kalian selama ini. Kuharap kalian menikmati kisah setiap musimnya sebesar aku menikmati menulis setiap patah kata dalam setiap kisahnya.


THE AUTHOR

Ilana Tan terkenal karena menulis empat novel roman yang masing-masing novelnya disajikan dengan cerita yang latarnya berbeda-beda, dengan keunikan tokoh-tokoh dari novel yang satu dengan novel yang lainnya saling berkaitan. Karya-karyanya: "Summer in Seoul" (2006), "Autumn in Paris" (2007), "Winter in Tokyo" (2008), "Spring in London" (2010), "Sunshine Become You" (2012), "Seasons to Remember" (2013), dan "Autumn Once More" (2013). 
(Sumber: Wikipedia)



MY SUMMARY

No comment. Intinya buku ini kumpulan quotes dari empat novel seri Four Seasons-nya Ilana Tan yang kece!


MY COMMENTARY

Ilana Tan itu penulis yang T.O.P! Semua novel yang dia tulis masuk ke jajaran novel bestseller. Karyanya emang benar-benar cemerlang. Nggak heran dia punya banyak sekali penggemar yang selalu mengharapkan karya terbarunya (like me!!). Sejak novel terakhirnya, "Sunshine Becomes You", nggak ada kabar tentang karyanya yang selanjutnya. Aku terus menanti dan berharap dia akan menerbitkan karyanya yang lain. Makanya, saat ada kabar bahwa karyanya yang berjudul "Seasons to Remember" akan terbit, aku senang bukan main dan nggak sabar nunggunya.

Begitu buku ini udah terbit dan beredar di toko buku, aku langsung pergi beli, walaupun harganya yang cukup mahal, dan sebenernya aku lagi puasa buku karna krisis uang dan udah mau ujian. Above it all, aku tetep beli tanpa pikir panjang, karna karya Ilana Tan nggak pernah mengecewakan siapapun. Awalnya, aku nggak tau buku ini cuma kumpulan quotes. Aku berharap ini jadi novel yang nggak kalah bagus dengan novel sebelumnya. Awalnya aku agak heran, sih, kok tipis banget? Biasa kan novel Ilana Tan nggak pernah setipis ini. I bought it anyway, dan alangkah kagetnya (halah) aku waktu menemukan buku ini hanya berisi kumpulan quotes dari empat novel pertamanya, Tetralogi Empat Musim. Aku mengharapkan lebih, jadi ketika harapanku pupus gitu aja, datanglah kekecewaan.

Tapi, setelah membacanya, aku merasa (jauh) lebih baik. Kutipan-kutipan yang disajikan kembali membangkitkan berbagai rasa yang kurasakan saat membaca keempat novel itu. Aku jadi kangen sama keempat novel brilian itu dan jadi pengen baca ulang semuanya. 

Waktu baca kata pengantarnya (yang ada di blurb), kayak lagi baca curhatannya Ilana. Di akhir kata pengantar, ada tanda tangannya, yang bikin aku tambah senang. Lalu, ada foto-foto yang menggambarkan setting keempat novel itu. Fotonya kece berat, cocok banget sama setting yang ingin digambarkan, bikin aku makin gampang membayangkan setting dalam cerita. Selain itu, buku ini full color, dengan desain layout yang menarik. Pantes aja harganya mahal. Covernya juga alamak, kece abis! Ada jendela yang nampilin empat pemandangan beda-beda sesuai empat musim yang ada. Whoa!

Yah, ujung-ujungnya aku nggak begitu menyesal udah beli buku ini. Karna isinya hanya berupa kutipan, nggak perlu waktu yang lama untuk membacanya, jadi, setiap kali aku kangen sama karya Ilana Tan, aku tinggal baca buku ini aja buat nostalgia. Aku harap, para pembaca yang membelinya juga nggak merasa kecewa dan menyesal telah membeli buku ini, karena seperti yang kubilang tadi, karya Ilana Tan nggak pernah mengecewakan. So, yeah, it's still recommended. Buku ini emang kece banget kok. Hihihi. Kak Ilana, wherever you are, we are still waiting for your next moves!

No comments:

Post a Comment