Menu

Thursday, 20 June 2013

[Book Review] Heaven on Earth by Kaka HY


Judul Buku       : Heaven on Earth
Pengarang         : Kaka HY
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 256 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Tak terhitung sudah berapa kali ini terjadi...

Jatuh dan membuatku merasa kecil di dunia ini. Kecewa dan membuatku berhenti untuk percaya orang lain. Dikhianati dan membuatku pesimis terhadap cinta. Seperti burung kecil yang baru terbang, dunia menyuruhku untuk belajar semua hal dalam waktu singkat. Aku dipaksa untuk menentukan segala-segalanya seorang diri. Tiba-tiba saja, hidup dewasa tidak semenyenangkan di pikiranku selama ini.

Tapi kau selalu siap berdiri di belakangku...

Kau tetap menyemangati dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Tak putus-putusnya yakin aku bisa mencapai apa pun yang kuinginkan di saat yang lainnya benar-benar meragukanku. Kau membuatku merasa berharga.

Jujur saja, aku lelah berjuang terus. Tapi demi dirimu aku belum akan menyerah dulu. Mungkin aku harus berusaha lebih keras. Mungkin aku harus mencoba sekali lagi - entahlah. Aku tidak akan mengeluh.

Kau membuatku sadar, ternyata sejak awal, aku tak pernah dibiarkan sendiri.


THE AUTHOR

Kaka HY, berojol dan dibesarkan di Kota Tepian Mahakam. Sekarang sedang bertualang menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Pelajar. Percaya pada keajaiban dan kekuatan mimpi. Salah satu mimpinya adalah menginjakkan si buluk di tanah Hindustani.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Tentang sepasang sahabat, Carla dan Lorent, yang memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki masalah dalam keluarga mereka. Carla, yang tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya, merasa kesal dengan hidupnya yang terasa begitu sulit di umurnya yang masih dini. Ayahnya telah meninggal, membuat ibunya menjadi single parent yang harus menanggung dua kewajiban, mencari nafkah dan mengurus rumah tangga. Mengurus dua hal itu jelas sulit, dan Carla sebagai anak sulung seharusnya emang membantu ibunya itu. Dia bertanggung jawab menjaga rumah dan adiknya selama ibunya pergi bekerja. Dia mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara sekolah dan urusan rumah, membuatnya merasa hidupnya sangat terbebani.

Lorent memiliki kasus yang berbeda. Jika Carla kehilangan Ayah, Lorent nggak kehilangan siapa-siapa, hanya keutuhan keluarganya. Semenjak orangtuanya bercerai, dia sebagai anak tunggal tinggal bergantian di rumah ibu dan rumah ayahnya. Itu membuatnya merasa lelah dengan dua kehidupannya yang berbeda itu, dan berencana untuk mengakhirinya dengan menyatukan ayah dan ibunya kembali. Masalahnya, ayahnya udah memiliki kekasih lain dan berniat menikah. Ini jelas menjadi pergumulan tersendiri bagi Lorent.

Dua sahabat ini berusaha untuk mengubah keadaan hidup mereka dengan jalan mereka sendiri, namun, semuanya jadi berantakan. Mereka merasa hidup mereka sangatlah berat. Padahal, itu hanya karena pola pikir mereka sendiri. Mereka terus mengeluhkan apa yang tidak enak dan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Jika saja mereka mau lebih membuka pikiran mereka dan melihat hal-hal baik dalam hidup mereka , lalu belajar mensyukurinya, jelas semua akan terasa lebih baik.

Itulah pesan moral dari novel ini. Hidup nggak akan selalu berjalan mulus sesuai yang kita ekspektasikan. Nggak ada hidup yang sempurna dan serba enak. Masalah pasti akan datang menghadang. Namun, semuanya pasti berakhir baik-baik aja, jika kita menghadapi masalah itu dengan lapang dada dan kacamata positif. Badai pasti berlalu, dan sehabis badai pasti ada hikmahnya. Carla dan Lorent jelas mendapat pelajaran yang berarti.


MY COMMENTARY

Novel yang unik, walaupun inti cerita dan alurnya biasa-biasa aja, tapi novel ini berbeda dari novel-novel Gagas kebanyakan. Novel ini sarat akan pesan moral, dan lebih memfokuskan diri pada nila-nilai kehidupan dan keluarga. Bagus, tapi sedikit membosankan.

Hatiku cukup tersentuh dengan ceritanya, karna rada-rada mirip sama kisah hidupku sendiri, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang. Mungkin karna konfliknya ringan dan udah terlalu lazim. Tokoh-tokoh yang ada juga nggak sekuat dan sehidup yang seharusnya. Tapi aku tetap menangkap pesan moral yang disampaikan dan merasakan manfaatnya.

Well, pas aku baca novel ini, aku lagi gila-gilanya sama genre romance. Mungkin karna itu aku nggak berasa klop sama novel ini. But above it all, it's still recommended. Like a lot! Karna pesan moralnya bener-bener meaningful! Way to go, kak! Keep writing!

No comments:

Post a Comment