Menu

Monday, 9 June 2014

[Book Review] Camar Biru by Nilam Suri


Judul Buku       : Camar Biru
Pengarang         : Nilam Suri
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 279 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....


THE AUTHOR

Nilam Suri sudah sejak lama beranggapan bahwa growing up is overrated, even after being a mom. Paling aktif menulis ketika matahari berubah jingga, atau saat langit menjadi kelabu, dan pastinya saat gerimis bergemerisik pelan dari balik jendela. Sedang berusaha mengelabui waktu, dan menolak gravitasi. Suatu hari, dia akan terbang dan tanpa pernah menjadi tua. 
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Cinta tak selalu datang tepat waktu. Betul sekali. Terkadang kita jatuh cinta pada orang dan waktu yang salah. Kita juga nggak bisa memaksakan diri untuk mencintai seseorang pada rentang waktu yang kita tentukan. Semuanya berjalan sesuai alur masing-masing. Cinta punya waktunya sendiri. Begitulah yang dirasakan Nina. Dia udah bersahabat dengan Adit selama bertahun-tahun. Adit selalu ada untuknya. Tapi, bukan berarti Nina langsung jatuh cinta padanya.

Masa lalu yang kelam. Hal itulah yang membuat Nina berubah. Bukan hanya karna kematian kakak laki-laki kesayangannya, Narendra, atau kepergian Sinar, kakak Adit yang menjadi cinta monyetnya. Ada hal lain, yang jauh lebih buruk, yang membuat Nina menjadi seperti mayat hidup.

Tapi Adit nggak peduli. Dia tetap setia menjaga Nina. Bukan hanya karna janji yang mereka buat saat mereka sedang mabuk di masa remaja mereka - dua buah burung camar biru kertas yang menandakan janji mereka itu, bahwa mereka akan menikah jika sepuluh tahun sejak hari pembuatan janji itu mereka belum mendapat pasangan. Bukan karena itu, tapi karena hal yang lebih besar. Dan kesetiaan Adit itu pun berujung manis.


MY COMMENTARY

Ah, aku benar-benar jatuh cinta sama novel ini. Novel yang bukan hanya menceritakan percintaan di balik persahabatan yang telah dijalin lama, tapi juga mengenai janji, kesetiaan, dan pengorbanan. Benar-benar romantis dan menyayat hati. Bahasa yang digunakan gaul, jadi sangat mudah mengalir bersama alur ceritanya. Hal-hal unik membumbui setiap paragrafnya - hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan. Juga hal-hal romantis yang menyentuh lubuk hati yang paling dalam.

Karakter yang tercipta pun sangat hidup dan menarik, dengan sifat dan kebiasaan yang unik, dan juga latar belakang masing-masing. Setting yang dipilih biasa saja, tapi kak Nilam sanggup menyajikan tempat-tempat dengan deskripsi yang mudah dibayangkan, membuatku seperti sedang berada di tempat yang dideskripsikan. Covernya kece abis, cocok sama isinya. Pokoknya recommended, deh! Ini karya pertamanya kak Nilam, kan, ya? What a great start, kak. Keep writing!

No comments:

Post a Comment