Menu

Sunday, 9 June 2013

[Book Review] Autumn Once More by Ilana Tan, dkk


Judul Buku       : Autumn Once More
Pengarang         : Ilana Tan, Aliazalea, Ika Natassa, dkk
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 232 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Cinta < adj >: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

"Autumn Once More" membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan. Semua royalti buku ini akan disumbangkan ke Dana Kemanusiaan Kompas untuk membantu sesama kita.


MY SUMMARY + COMMENTARY

Kumcer ini berisi tiga belas karya yang mostly bergenre romance.

Cerita pertama dikisahkan oleh Aliazalea, seorang penulis yang berprofesi sebagai dosen psikologi di Malaysia. Cerpennya yang berjudul "Be Careful What You Wish For" ini mengisahkan tentang seorang gadis yang diam-diam naksir sama teman sekantornya. Gadis itu hanya bisa mengagumi dari jauh, nggak berani berinteraksi sama pria itu. Tapi takdir berkata lain. Dia terus dipertemukan dengan pria itu. 

Cerpen ini menarik, dari segi deskripsi dan gaya bahasa yang digunakan. Bahasanya mudah dicerna, jadi aku merasa mengalir bersama alur cerita. Pendeskripsiannya juga detail. Tapi, dari segi isi cerita, nggak terlalu unik. Ending-nya pun menggantung, membuat aku kurang puas dengan akhirnya.

Cerita kedua ditulis oleh Anastasia Aemilia, penulis novel "Katarsis", yang menyajikan cerpen dengan judul "Thirty Something", yang mengisahkan dua orang sahabat, Erik dan Rachel, yang saling jatuh cinta. Sayangnya, mereka nggak ditakdirkan bersama. Rachel telah dijodohkan dengan orang lain, dan Erik harus pindah ke Jepang karena urusan kerja.

Cerpen ini romantis dan manis sekali. Alurnya menarik, membuatku penasaran dan tertarik untuk membacanya sampai habis. Tokoh-tokoh yang dihadirkan juga terasa hidup, memiliki karakter tersendiri yang dideskripsikan melalui tindakan dan pikiran tokoh.

"Stuck with You" ditulis oleh Christina Juzwar, penulis novel "Love Lies" dan Kumcer "Teenlit Bukan Cupid". Cerpen ini menceritakan tentang Lita, yang terus terjebak dalam situasi yang nggak mengenakkan dengan atasannya yang jutek, Ares. Tapi ternyata, di balik semua kesialannya itu, ada hal baik yang menunggunya.

Another love story. Kali ini antara atasan dan bawahannya. Cukup menarik, namun ada adegan yang diulang-ulang, seperti kejadian terjebak di lift. Agak aneh, bukan, jika seseorang bisa terjebak di lift sampai tiga kali dengan orang yang sama? Adegan yang berulang-ulang membuat ceritanya kurang kreatif dan membosankan, tapi adegan tersebut juga termasuk unik, sih. Tokoh cowok yang jutek, tapi diam-diam perhatian, juga merupakan jenis tokoh yang menarik, terutama untuk kalangan perempuan (hihihi).

"Jack Daniel’s vs Orange Juice" karya Harriska Adiati, editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama, mengisahkan tentang seorang pria, yang tadinya suka minum minuman keras dan merokok, menghentikan semua aktivitas nggak baiknya itu demi merebut hati seorang gadis, yang merupakan anak dari tetangga barunya. Tapi, apa daya, ternyata gadis itu udah dijodohkan dengan orang lain.

Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, cerpen yang ini menggunakan sudut pandangan tokoh laki-laki, membuatnya lebih manis, karena pembaca dapat mendalami sang tokoh laki-laki, dan biasanya terkesan lebih romantis. Kisah ini agak menyedihkan, karna perjuangan sang tokoh demi merebut cintanya berakhir sia-sia. Tapi, itulah sisi romantisnya, seseorang yang berubah demi cinta.

"Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku" dikisahkan oleh seorang penerjemah dan editor fiksi di GPU, Hetih Rusli. Cerpen ini bercerita tentang seorang pria yang sangat mencintai pasangannya. Sering memerhatikannya dari jauh, memberikan segenap cinta dan perhatiannya untuk wanita yang dicintainya itu, tapi akhirnya dicampakkan begitu aja. Setelah ditinggalkan pun dia masih memerhatikan wanita tambatan hatinya itu.

Cerpen ini kembali disajikan dengan sudut pandang tokoh laki-laki, yang membuatnya lebih romantis. Alurnya menarik, maju mundur, disisipi dengan flashback-flashback di waktu yang tepat. Akhirnya menyedihkan, dimana sang pria masih tetap mencintai wanita yang telah menyakiti hatinya. Namun, topik ini udah sering diangkat, jadi kurang unik dan sedikit tertebak.

"Critical Eleven" oleh Ika Natassa termasuk cerpen terbaik dalam buku ini. Jelas aja, cerpen ini ditulis oleh penulis novel yang berbakat dan sering menerima penghargaan. Cerpen ini mengisahkan tentang pertemuan dua insan pada suatu penerbangan di pesawat. Mereka mengobrol dan menemukan banyak kecocokan di sana. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang memberi kesan mendalam pada sang gadis, yang terus mengingatnya di hari-hari selanjutnya.

Ceritanya simpel aja, hanya pertemuan dua orang di pesawat dan obrolan-obrolan mereka. Tapi, pilihan kata yang digunakan memiliki makna yang mendalam dan menyentuh hati. Dapat ditemukan kutipan-kutipan menarik dalam cerpen ini. Cara penulis menyajikan tokoh-tokohnya juga menarik - bagaimana kedua tokoh memiliki pemikiran masing-masing.

Dan ini dia puncak dari kumpulan cerpen ini. "Autumn Once More" karya penulis novel bestseller, Ilana Tan. Pernah membaca novelnya yang berjudul "Autumn in Paris"? Nah, cerpennya yang satu ini menceritakan salah satu adegan yang nggak terceritakan di dalam novel (sidestory), yaitu ketika Tatsuya berjalan-jalan dengan Tara di Disneyland Paris. Saat itu, Tara dan Tatsuya belum lama mengenal, tapi udah cukup dekat. Mereka bersenang-senang tanpa beban, belum mengetahui konflik yang akan mereka hadapi di masa depan. Dan saat itulah, Tatsuya mengaku jatuh cinta pada Tara, tapi menyimpannya untuk diri sendiri.

Seperti biasa, karya Ilana Tan selalu menggetarkan jiwa dan raga para pembacanya. Caranya menyampaikan isi pikirannya melalui tokoh, itu yang membuatnya menarik. Bahasanya yang mengalir dan menghipnotis, mengayun-ayunkanku ke awang-awang. Tokoh-tokoh yang dia ciptakan juga selalu berkarakter, memiliki sifat yang unik dan nyata, juga latar belakang yang realistis. Pilihan katanya yang menyentuh hati, juga bagaimana ending yang disajikan nggak pernah tertebak, membuat pembaca (terutama aku) selalu merasa puas setiap kali selesai membaca karya-karyanya.

"Her Footprints on His Heart" karya Lea Agustina Citra juga nggak kalah bagus. Penulis berlatar pendidikan psikologi ini menyajikan cerita mengenai pasangan yang sedang dalam masa mempersiapkan pernikahan mereka. Ariana dan Rendy, pasangan yang saling mengasihi. Tapi, di tengah kesibukan mereka itu, muncul mantan kekasih Rendy, yang juga adalah cinta pertamanya, dan musuh bebuyutan Ariana. Hal itu membuat Ariana cemas, takut kalau-kalau calon suaminya masih mencintai si mantan. Namun di akhir, Rendy berhasil membuktikan kalau cintanya hanya untuk seorang, yaitu calon istrinya.

Alur ceritanya menarik, dan bagaimana penulis menyajikan ceritanya itu jenius! Sang penulis tau kapan harus memberikan informasi. Informasi yang diperlukan akan muncul di waktu yang tepat, jadi sempat membuat pembaca merasa penasaran, lalu mengangguk-angguk mengerti dan berdecak kagum setelahnya. Ending-nya juga memuaskan, membuatku tersenyum haru setelah selesai membacanya.

"Love is a Verb" adalah karya persembahan dari Meilia Kusumadewi, salah satu penulis di GPU. Cerpennya ini menceritakan kisah cinta antara Timal dan Rangga yang mulai mendingin. Timal merasa nggak diperhatikan oleh Rangga, kekasihnya, yang emang pembawaannya cuek. Akhirnya kisah cinta mereka pun berakhir dengan alasan yang nggak logis. Itu membawa penyesalan tersendiri di hati keduanya. Namun, cinta sejatil selalu menemukan jalan pulang.

"Perkara Bulu Mata" oleh Nina Addison, penulis novel "Morning Brew", mengisahkan tentang Vira yang sedang patah hati. Di tengah gundah gulananya itu, Jojo, sahabatnya dari kecil, menghiburnya. Saat itulah benang merah mereka terpaut, setelah sekian lama bersahabat tanpa merasakan apa-apa. Awalnya hanya Vira yang menyadarinya, tetapi ketika hal itu malah merusak persahabatannya, dia memilih untuk mengenyampingkan perasaannya itu. Tapi akhirnya, Jojo pun menyadari hal yang sama, walaupun di waktu yang agak terlambat.

Cerpen yang ini unik, karna menggunakan beberapa sudut pandang sekaligus. Lompatan sudut pandang itulah yang membuatnya misterius, dimana kita hanya mengetahui lewat satu sudut pandang, nggak yang lain. Sudut pandang yang disorot pun menyimpan rahasia masing-masing, yang menggugah rasa penasaran pembaca.

"The Unexpected Surprise" karya Nina Andiana, editor di GPU, mengisahkan tentang seorang anak yang nggak memiliki hubungan yang baik dengan ibunya. Pada hari ulang tahun ibunya, semua rahasia terungkap, membuatnya merasa menyesal akan perlakuannya terhadap ibunya selama ini. Hubungan mereka pun pulih, bahkan menjadi jauh lebih baik dari yang semula.

Cerpen ini adalah satu-satunya cerpen di buku ini yang nggak tersentuh nuansa romantisme antara sepasang kekasih (cowok-cewek). Kisahnya sederhana aja, tapi sarat akan pesan moral, mengenai hubungan kita dengan keluarga, terutama orangtua – Ibu. Nina berhasil membuktikan bahwa cerpen yang bagus nggak harus selalu membawa-bawa suasana romantisme antara sepasang kekasih.

"Senja yang Sempurna" karya Rosi L. Simamora kembali memenuhi udara dengan suasana romantisme. Kisah ini menceritakan seorang pria yang menutup pintu hatinya rapat-rapat. Dia bahkan nggak mau membuka hatinya untuk seorang wanita yang mencintainya dengan tulus dan segenap hatinya. Saat dia akhirnya sadar dan mulai membuka pintu hatinya, semuanya udah terlambat.

Satu lagi kisah yang menyayat hati, dengan ending yang menyedihkan. Cerpen ini unggul dengan pendeskripisan dan pemilihan kata-katanya. Pendeskripsiannya yang detail menarikku masuk ke dalam cerita. Aku dapat dengan mudah membayangkan suasana yang dihadirkan oleh sang penulis.

"Cinta 2×24 jam", cerpen terakhir yang menjadi penutup dalam buku ini, karya Shandy Tan, memberikan aura tersendiri yang berbeda dari cerpen-cerpen sebelumnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang pria yang nyaris sempurna. Pria ini dideskripsikan oleh seseorang yang misterius, yang mengetahui segalanya, tetapi nggak melakukan interaksi apapun. Si misterius ini jatuh cinta pada sang pria dan memerhatikan tiap gerak-geriknya. Namun, akhirnya rahasia terungkap dan memberikan akhir yang tidak terduga. 

Jelas aja cerpen ini dijadikan penutup, karena cerpen ini yang paling berbeda dan unik. Cerpen ini unggul dengan akhir cerita yang sama sekali nggak tertebak, membuatku ternganga setelah selesai membacanya. What a twist! Penyajian ceritanya yang menyimpan rahasia dimana-mana menggelitiki saraf ingin tauku, lalu menggebrakku dengan kenyataan yang nggak terduga.

Satu buku, banyak cerita. Jelas sangat memuaskan untuk dibaca. That's why it is recommended! Kece deh, pokoknya! Well done, guys! Keep writing!

No comments:

Post a Comment