Menu

Monday, 23 June 2014

[Book Review] Andai Kau Tahu by Dahlian


Judul Buku       : Andai Kau Tahu
Pengarang         : Dahlian
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 366 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Pengakuannya membuatku merona. Dalam sesaat aku terpaku memandangnya... seolah ia hanya imaji belaka. Bahwa semua ini hanya mimpi di suatu malam.

Seolah tak mengerti kejengahanku, kejujuran demi kejujuran meluncur keluar dari bibirnya. Tentang pujian tulusnya akan maknaku di hidupnya. Tentang harapannya akan diriku yang hadir di hidupnya selamanya.

Aku belum cukup mengenalnya. Aku tak pernah memikirkannya. Jadi, bagaimana caraku mengatakan yang sebenarnya, bahwa perasaanku dan perasaannya tidak berada di garis yang sama?


THE AUTHOR

Dahlian (nama pena), pernah berkuliah di UI dengan jurusan Sastra Cina. Sebelum menulis dengan nama pena Dahlian, dia dikenal karena lima buah novel komedi, terbitan GagasMedia, lalu nekat berkolaborasi menulis novel romance dengan teman kuliahnya yang juga penulis, Gielda Lafita. 
(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Cinta akan datang dengan sendirinya tanpa diundang. Begitulah seharusnya. Cinta datang tanpa disangka-sangka, tetapi selalu datang tepat pada waktunya. Waktu yang dimaksud di sini tidak sama dengan waktu kita. Terkadang kita merasa cinta datang terlambat, tapi sebenarnya, kita yang terlambat menyadarinya. Atau kadang kita merasa cinta datang pada waktu yang salah, tapi sebenarnya, ada maksud tertentu di balik semua itu.

Begitulah yang Tania rasakan. Cinta menjadi sesuatu yang membingungkan baginya. Cinta yang dikejar-kejarnya malah mencampakkannya begitu saja. Sedangkan cinta yang tak diharapkannya malah datang pada waktu yang salah. Tania mencintai Hendrik, namun takdir berkata lain. Ayahnya malah menjodohkannya dengan anak sahabatnya yang juga berprofesi sebagai dokter, dengan tujuan mewariskan rumah sakit milik sang Ayah kepada calon menantunya itu. Tentu saja Tania menolak mentah-mentah. Selain karena kebenciannya pada sang Ayah dan sikap otoriternya, dia juga mencintai pria lain.

Akhirnya, Tania memutuskan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah kekasihnya. Namun ternyata, kekasihnya malah berselingkuh dan mencampakkannya begitu saja. Di tengah keputusasaannya itu, seorang pria datang membantunya. Memberinya perlindungan dengan tulus dan menolongnya setiap dia mengalami masalah. Walau awalnya Tania sulit untuk melepaskan kekasihnya dan nggak begitu cocok dengan pria yang menjadi pahlawannya itu, tapi akhirnya dia jatuh hati juga.

Namun, seakan merasa keberatan melihat Tania bahagia, masalah lain pun muncul. Ternyata, Reza, pria yang menjadi pahlawan Tania itu, adalah calon suami yang ingin dijodohkan dengan Tania. Tania merasa dipermainkan. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Apakah Reza tulus mencintainya, atau hanya memanfaatkannya demi mendapatkan  rumah sakit ayahnya? Nasi telah menjadi bubur. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan pria itu. Dan cinta sejati akan selalu menemukan jalan yang tepat, bukan begitu?


MY COMMENTARY

Satu lagi karya kak Dahlian yang membuatku takjub. Walaupun aku kurang klop dengan genre-nya yang rada dewasa – terlalu banyak adegan dewasa, dan aku kurang suka, tapi di balik semua itu, inti cerita yang diangkat tetap bagus. Cinta yang kompleks dan rumit. Konflik-konflik yang bermunculan sangat menarik, begitu pula solusi-solusi yang ditawarkan.

Tokoh-tokohnya juga begitu hidup. Tania, dengan sifat keras kepalanya yang mendarah daging, juga sifatnya yang berantakan dan kurang sopan, yang benar-benar melekat dalam diri Tania, dan Reza yang kaku, serius, rapi, health freak, yang benar-benar ditunjukkan lewat perkataan maupun tindakannya. Konflik batin yang mereka alami, latar belakang mereka, semuanya telah disusun dengan baik. Pilihan kata yang digunakan juga menarik. Sayangnya, penggunanaa bahasanya kurang konsisten. Terkadang bahasanya (terutama di dialog) ringan dan santai, tapi terkadang terlalu baku dan kaku, jadi kurang mengalir dan agak ganjil. Well, I still praise it, though. Well done, kak. Keep writing!

No comments:

Post a Comment