Menu

Sunday, 23 June 2013

[Book Review] Kau: Cinta pada Pandangan Pertama by Sylvia L'Namira


Judul Buku       : Kau: Cinta pada Pandangan Pertama
Pengarang         : Sylvia L’Namira
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 212 halaman
My Rating          : 3.5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku sendiri tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi kau adalah pengecualian. Kau muncul di sudut mata seperti sesuatu yang wajar adanya, menghangatkan wajahku seperti cahaya matahari pagi. Suaramu bergelenyar lembut seperti belaian angin sore. Seluruh indraku bereaksi waspada, kau adalah godaan yang tak bisa disangkal begitu saja.

“Siapa namamu?” batinku bertanya-tanya. Kau benar-benar membuat pikiranku tak keruan. Aku semakin sering melihatmu dalam hidupku, tetapi aku tak punya petunjuk barang secuil pun tentang dirimu. Kau misterius seperti malam tak berbulan. Hadirmu memabukkan seperti aroma rempah-rempah.

Namun, sebelum aku berhasil membongkar misteri tentangmu, sosokmu menguap begitu saja seperti embun menjelang siang. Kukira nyeri di hatiku juga bisa cepat pergi, dibantu oleh waktu—aku salah.

Perasaanku tak sama lagi setelah kepergianmu. Kau membuatku mencandu. Kau membuatku merindu.


THE AUTHOR

Saat ini masih aktif bekerja sebagai pustakawan di sebuah sekolah internasional. Tulisannya yang telah terbit adalah novel berjudul "Mi Familia" dan karya nonfiksi "La Tahzan for Single Mothers". Selain itu karyanya yang lain juga diterbitkan dalam antologi, antara lain: "Jumpalitan Menjadi Ibu", "La Tahzan for Working Mothers", "Makan tuh Cinta!", "Be Strong Indonesia", "La Tahzan Lovely Lebaran", "Ramadhan on Delivery", "Ortu, kenapa sih?", "Flash! Flash! Flash! Kumpulan cerita sekilas", "Biarkan Aku Mencintaimu dalam Sunyi." 
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Banyak orang yang nggak percaya sama cinta pada pandangan pertama. Banyak yang bilang, biasanya itu "suka" pada pandangan pertama, bukan "cinta". Tapi, berbeda dengan yang dirasakan Viola. Viola Sembiring, yang biasa dipanggil Piyo, berprofesi sebagai seorang reporter. Dia suka mengamati bentuk awan. Bahkan, dia percaya bentuk-bentuk awan itu memberikan pertanda tersendiri padanya. Dia juga suka memakai topi rajut berwarna-warni untuk menanggapi pertanda itu. Piyo, yang umurnya udah 25 tahun tapi belum juga memiliki pacar ini, membuat mamanya sibuk menjodoh-jodohkannya dengan anak teman-temannya. Piyo jelas menolaknya mentah-mentah.

Suatu hari, Piyo ikut serta menjadi wartawan perang dan dikirimkan ke daerah konflik. Dia bertemu dengan seorang pilot bernama Igo dan tertarik padanya. Tapi, mamanya terus menjodohkannya dengan anak sahabatnya. Apa yang akhirnya Piyo lakukan?


MY COMMENTARY

Kisah cinta yang menarik, dengan akhir yang mengharu-biru. Ide ceritanya sederhana, tapi tetap menyentuh hati. Aku suka dengan keunikan-keunikan yang kak Sylvia tambahkan pada setiap tokohnya, terutama Piyo, si tokoh utama. Profesi yang dipilih juga menarik dan agak jarang. Detail-detail mengenai profesi tersebut pun menjadi sesuatu yang fresh

Teoeri-teori tentang awan, jurnalis, pilot, astronomi, dan lain-lain yang dibubuhkan di novel ini menambah pengetahuan tanpa kesan menggurui. Akhirnya sih sedih, tapi unpredictable dan jleb, gitu aja. Tiba-tiba ceritanya udah berakhir aja, jadi aku tambah sedih. Covernya yang berwarna biru langit dengan gambar awan berbentuk hati sangat menarik untuk dilihat dan sesuai dengan isi novelnya. Aku suka sentuhan yang berkesan lembut pada covernya ini.

Walaupun bukan favoritku, karena entah kenapa nggak gitu klop sama aku, novel ini recommended. Tetep ada aja hal-hal kecil dari novel ini yang aku suka. Way to go, kak. Keep writing!

Friday, 21 June 2013

[Fan Fiction] The Truth about Forever by Orizuka - "Setitik Harapan"


Held by   : GagasMedia
Status    : Win (Modified)


(Sumber: Goodreads)


Yogas tersentak dari lamunannya ketika menyadari taksi yang sedang ditumpanginya telah berhenti. Yogas melemparkan pandangan keluar jendela dan menatap gedung tua di hadapannya. Ia ingat, beberapa waktu yang lalu, ketika ia baru sampai di gedung ini. Hatinya masih begitu keras dan penuh kebencian. Otaknya hanya diisi oleh satu tujuan, mencari orang yang menyebabkan penderitaannya ini dan memberinya pelajaran.

Namun sekarang, ia kembali dihadapkan dengan gedung ini, dalam keadaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Hatinya telah dipenuhi harapan dan kobaran semangat, dan otaknya dipenuhi oleh wajah seorang gadis yang keras kepala itu, Kana. Saat ia kembali lagi ke tempat ini, ia pasti sudah menyandang gelar sutradara. Harus.

Yogas membayar supir taksi tersebut, lalu keluar sambil menenteng ranselnya. Setelah ia bisa duduk tenang di kursi kereta, Yogas memejamkan matanya dan mulai memikirkan apa yang hendak ia lakukan begitu ia sampai di Jakarta. Yang jelas, ia akan menemui keluarganya dan Wulan. Lalu, mendaftar kuliah di bidang perfilman? Ya, mungkin itu ide yang bagus.

Yogas merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah berjam-jam menghabiskan waktu di kereta. Begitu ia menginjakkan kaki di depan pagar rumahnya, ibu dan ayahnya langsung berlari keluar. Ibunya langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat, sampai Yogas kesulitan bernafas.

“Oh, Yogas. Akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Kamu nggak apa-apa? Sudah makan? Sudah minum obat?” Ibu Yogas menerornya dengan ribuan pertanyaan.

“Yogas nggak apa-apa kok, Ma. Tenang aja,” jawab Yogas santai.

Ayah Yogas menepuk pundak anaknya pelan. “Selamat datang kembali, Gas. Maafin Papa, ya.” Pria itu tersenyum tipis.

Yogas sempat terpaku beberapa saat, memandangi wajah pria yang sudah begitu lama tak ditemuinya. Ia mengangguk pelan, lalu sudut-sudut bibirnya ikut terangkat.

Ah, akhirnya, takdir kembali menolehkan kepalanya pada Yogas. Hidupnya yang tadinya terasa begitu berantakan, pelan-pelan ditata ulang.

Welcome home, Gas,” sambut Wulan begitu Yogas memasuki ruang tamu rumahnya.

Yogas tersenyum dan menatap gadis di hadapannya. Gadis yang dulu sangat dicintainya, tetapi sekarang semua sudah berubah.

So, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Wulan ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah Yogas.

“Aku udah janji ke Kana, kalo aku bakal ngejar cita-citaku,” jawab Yogas sambil tersenyum kecil. Matanya menerawang, kembali mengingat janji yang ia buat dengan gadis itu.

“Kalo gue udah jadi sutradara, dan lo udah jadi penulis best seller, ayo kita ketemu lagi.”

“Kalo gitu, janji ya? Kalo kita sudah sama-sama ngeraih cita-cita kita, kita ketemu lagi.”

Senyum Yogas semakin melebar ketika mengingat janji itu. Semangatnya semakin tersulut. Ia jadi tidak sabar untuk cepat-cepat meraih cita-citanya, dan bertemu lagi dengan gadis itu.

Wulan menatap Yogas dengan pandangan haru. Akhirnya, sahabatnya yang satu ini dapat menemukan kembali harapan untuk berjuang hidup. “Jadi, apa yang bakal kamu lakuin demi ngeraih cita-citamu itu?”

Yogas tampak menimbang-nimbang sejenak. “Mungkin, masuk kuliah dan ambil jurusan perfilman?”

Wulan tersenyum puas. “Good idea.”

Dan di sinilah Yogas. Duduk di salah satu kursi di Jurusan Perfilman Institut Kesenian Jakarta. Sejauh ini, ia telah mengikuti pelajaran dengan antusias. Semua ini demi gadis itu.

Yogas sedang menyusuri lorong di depan kelasnya dan menemukan kerumunan orang di depan mading. Penasaran, ia pun menghampiri kerumunan itu. Ia menyelip di antara desak-desakan mahasiswa dan berhasil mencapai barisan terdepan untuk melihat poster besar yang terpajang di atas mading.

Yogas tersenyum penuh harapan setelah melihat tulisan demi tulisan yang tertera di poster itu. Ini adalah kesempatan untuknya. Kesempatan untuk unjuk gigi. Ia jelas akan mengikuti lomba film indie ini. Lagipula, ia sudah mendapat ide untuk film yang akan dibuatnya.

Semenjak Yogas mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan itu, ia semakin terlihat bersemangat. Setelah pulang kuliah, atau setiap memiliki waktu luang, Yogas pasti berkutat dengan handycam dan filmnya. Tiada hari tanpa syuting. Ia benar-benar bertekad untuk memenangkan lomba ini.

Berkat kegigihan dan semangat yang berkobar-kobar, akhirnya film itu pun jadi, dan segera Yogas kumpulkan ke panitia. Yogas menunggu dan menunggu. Terus menghitung hari demi hari hingga akhrinya, hari yang ditunggu-tunggunya pun tiba.

Pada hari H, semua peserta diundang ke bioskop Hollywood XXI. Gedung bioskop yang megah itu benar-benar nyaman. Semua peserta telah duduk tenang di sofa empuk dalam salah satu theater yang telah disewa panitia.

“Selamat siang, para peserta Lomba Film Indie. Terima kasih telah hadir tepat waktu. Seperti yang telah Anda ketahui, hari ini kami akan mengumumkan hasil lomba yang telah Anda ikuti. Kami mengumpulkan Anda semua di sini karena film yang memenangkan lomba  ini akan langsung diputar di tempat ini.”

Suasana menjadi sangat hening. Masing-masing peserta terlihat gugup dan berharap-harap cemas film merekalah yang terpilih. Yogas meremas jarinya dengan gelisah. Ini dia waktu yang ditunggu-tunggunya. Dalam waktu beberapa menit lagi, ia akan mengetahui apakah ia akan mendapat setitik celah untuk menggapai mimpinya.

“Baiklah, kami akan segera memutar film yang menjadi pemenangnya. Selamat menonton.”

Lampu di ruangan itu mulai menggelap, dan layar lebar di hadapan Yogas mulai melebar. Layar kosongnya mulai menampilkan background hitam dengan tulisan putih di atasnya. Yogas menahan nafasnya ketika membaca serentetan kata-kata itu.

Setitik Harapan. A Short Movie by Yogas.

Layar berubah menampilkan sebuah ruangan praktik dokter di sebuah rumah sakit. Sang dokter sedang membaca sebuah berkas dengan saksama, kemudian menatap pasien di hadapannya dengan pandangan prihatin.

“Maafkan saya, Dik. Tidak ada kesalahan diagnosa. Anda memang positif mengidap penyakit HIV/AIDS.”

Raut wajah sang pasien berubah pucat pasi. Ia mengangguk dengan linglung, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu. Pemuda itu menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Sebuah suara mengiringinya berjalan.

“Jika kau didiagnosa mengidap penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan, apa yang akan kau lakukan? Bukan, bukan hanya mematikan dan tidak bisa disembuhkan, namun penyakit yang akan membuat orang-orang merasa jijik.”

“Kau akan dijauhi dan dicampakkan oleh orang-orang yang kau kasihi.”

Layar berganti lagi, kali ini menampilkan seorang pria paruh baya yang meninggalkan sebuah rumah, tidak menghiraukan tatapan sedih seorang wanita – yang tak lain dan tak bukan adalah istri pria itu, dan pemuda tadi – yang jelas merupakan anaknya. Lalu, adegan selanjutnya menampilkan seorang gadis – kekasih pemuda itu, yang pergi meninggalkan pemuda tadi sendirian.

“Saat satu demi satu orang yang berharga yang kau miliki pergi meninggalkanmu, siapa lagi yang dapat kau percayai? Pada akhirnya, kau tinggal sebatang kara, menenggelamkan diri ke lubang yang paling gelap, dan menyembunyikan diri dari dunia ini.”

Pemuda tadi mulai suka menyendiri, menjauhi teman-teman sekolahnya.

“Kau mulai menaruh dendam. Dendam kepada orang-orang yang mencampakkanmu. Dendam kepada orang yang menjadi dalang atas semua penderitaanmu. Kau mulai membenci hidupmu. Kau mulai membenci dirimu sendiri.”

Pemuda itu sedang berdiri di atas atap sebuah gedung tinggi, sendirian. Angin sepoi-sepoi bertiup dan memainkan ujung-ujung rambutnya.

“Matamu tertutup. Yang kau lihat hanyalah kebencian. Kau menutup diri. Tidak membiarkan siapapun memasuki duniamu. Kau menepis segala kebaikan orang di sekitarmu. Kau mengabaikan kepedulian dan ketulusan orang lain. Kau menghukum dirimu sendiri dengan tidak membiarkan dirimu merasakan secuil kebahagian.”

“Kau merasa dirimu tidak pantas menggenggam harapan. Tidak pantas menikmati sedikit pun kebahagiaan.”

Pemuda itu sedang berjalan di sebuah lorong yang panjang dan gelap, seakan tidak memiliki ujung.

“Namun, di tengah kegundahan yang kau alami, tidak tertutup kemungkinan kau akan menemukan setitik harapan.”

Di ujung lorong tersebut, mulai terlihat sebuah titik putih yang amat kecil.

“Semua orang pantas merasakan kebahagiaan. Semua orang pantas menggenggam harapan, sekecil apapun itu. Dan selama kita masih berharap, semuanya mungkin.”

Pemuda itu mulai melangkah menghampiri titik putih itu, dan semakin lama, titik itu semakin terlihat jelas.

“Perlu disadari, bahwa hidup ini berbicara tentang keseimbangan. Kita tidak mungkin terus  menerus merasakan kesedihan, pasti ada kebahagiaan yang menunggu kita di balik sana. Teruslah berharap.”

Pemuda itu sampai di ujung lorong dan menemukan sebuah pintu yang terbuka. Di balik pintu itu, ada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang sedang tersenyum ke arahnya, lalu merentangkan tangan lebar-lebar.

“Terkadang, untuk bertahan hidup, yang kita perlukan hanyalah setitik harapan.”

Layar kembali berubah hitam, dengan tulisan THE END berwarna putih. Tepukan tangan dan sorak sorai penonton menyentak Yogas ke alam sadar. Saat ia mengedipkan mata, ia baru sadar bahwa matanya kering dan pipinya telah basah. Yogas segera menghapus jejak air mata di pipinya ketika namanya dipanggil untuk maju ke depan.

Seorang pria memberikan sebuah piala kecil kepada Yogas, beserta sekeping CD yang Yogas yakini berisi film buatannya, lalu menyalaminya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan sambil memuji-mujinya. Yogas tidak bisa menghapus senyuman di wajahnya.

Seusai acara, Yogas langsung bergegas pulang. Ia tidak sabar untuk memberitakan kabar gembira ini pada keluarganya dan juga Wulan. Sepanjang perjalanannya menuju halte bus, Yogas terus bersiul ria sambil sesekali tersenyum kepada orang yang berpapasan dengannya. Biar sajalah jika dikira orang gila. Ia tidak peduli. Suasana hatinya benar-benar baik hari ini.

Langkah Yogas terhenti ketika seorang anak kecil tidak sengaja menabraknya. Anak kecil itu menatap Yogas sebentar, kemudian berlalu begitu saja. Well, Yogas memang tidak mengharapkan permintaan maaf anak itu, mengingat umurnya yang masih kecil. Tetapi, sesuatu membuat kening Yogas berkerut. Kenapa anak sekecil itu berkeliaran di jalanan sendirian?

Yogas menoleh ke arah anak kecil yang telah melewatinya itu. Anak itu sedang berdiri di tepi jalan, bersiap untuk menyeberang jalan. Yogas berjalan pelan mendekatinya. Anak itu masih sangat kecil, jadi ada baiknya jika ia temani menyeberang.

Ketika jarak antara Yogas dan anak itu tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba anak itu mulai menyeberang, dan tidak sengaja tersandung. Bukannya langsung bangkit, anak itu malah duduk diam di tengah jalan sambil mengelus-ngelus lututnya. Anak itu sama sekali tidak menyadari ada sebuah kontainer yang sedang melaju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Yogas langsung berlari ke arah anak itu dan mendorongnya ke tepi jalan, membiarkan kontainer itu menabrak dan mementalkan tubuhnya.

Supir kontainer itu langsung menginjak rem kuat-kuat, dan turun dari mobilnya, menghampiri tubuh Yogas yang mengalami pendarahan hebat. Yogas langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ibu dan ayah Yogas yang telah dihubungi langsung bergegas menjenguk putra semata wayang mereka itu. Wulan juga segera datang. Mereka yang menunggu di luar hanya bisa berharap-harap cemas. Dokter dan para suster sedang sibuk menangani Yogas di ruang UGD. Ketika akhirnya dokter keluar dari ruangan, mereka yang sedang menunggu dapat merasa sedikit lebih tenang.

“Yogas masih dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya,” ujar dokter.

“Boleh saya masuk, Dok?” tanya ibu Yogas dengan nada yang sarat kecemasan.

“Tentu saja.”

Ibu Yogas kembali terisak ketika melihat putra satu-satunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan perban di sekujur tubuhnya. “Gas, ini Mama, Sayang.”

Ibu Yogas mengelus pelan kepala anaknya. “Ayo dong, Gas. Bangun. Jangan tidur terus,” gumamnya lirih. “Kamu bikin Mama, Papa, dan Wulan khawatir saja.”

Ibu Yogas mengenggam tangan Yogas yang bebas dari perban. “Ayo, Nak. Berjuang hidup. Demi Mama. Demi Papa. Demi Wulan. Dan, demi Kana. Kamu selama ini udah berjuang melawan penyakitmu demi Kana, masa kamu malah pergi karena hal ini?”

Ibu Yogas kembali menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya di samping tangan Yogas. Tiba-tiba, ia merasakan gerakan dari tangan yang digenggamnya. Ibu Yogas mengangkat wajah dan menatap tangan dan wajah Yogas secara bergantian.

“Kana…” gumam Yogas lirih.

Mata Ibu Yogas berbinar. “Kamu udah sadar, Nak? Ayo buka matamu.”

“Kana…” Yogas kembali menggumamkan nama itu.

Ibu Yogas tersenyum sedih. “Kamu pasti kangen berat ya, sama Kana? Sayang, dia nggak bisa ada di sini.”

“Kana, maafin aku.”

Ibu Yogas memasang telinganya untuk mendengar lebih jelas gumaman lirih yang keluar dari mulut Yogas.

“Maafin aku karna nggak bisa nepatin janji itu.”

Tepat setelah Yogas mengatakan itu, mesin di sebelahnya berbunyi “beep” yang panjang dan datar, menampilkan garis lurus tanpa ujung. Ibu Yogas mulai meraung-raung dan mengguncang-guncang tubuh anaknya, namun tidak ada gunanya. Dokter dan para suster memasuki ruangan dengan tergesa-gesa dan segera menangani Yogas. Ayah Yogas dan Wulan juga masuk untuk menarik Ibu Yogas keluar dan menenangkannya.

Ada yang mengatakan, ketika kau sudah berada di ambang pintu kematian, potongan-potongan kehidupanmu akan muncul satu per satu di depan matamu. Itulah yang Yogas lihat saat ini. Seperti potongan-potongan rekaman yang disatukan menjadi sebuah film, begitulah kenangan-kenangan hidupnya terpampang jelas di depan matanya.

Dimulai dari awal segala penderitaannya. Saat Joe, sahabatnya, mengajaknya bertemu di belakang sekolah. Kemudian anak-anak berandal itu datang, menahan tubuhnya, tidak membiarkannya menghindar ketika Joe menyuntikkan jarum itu ke lengan kirinya.

Lalu, saat Joe pindah sekolah karena ketahuan menggunakan narkoba, Yogas mengira hidupnya akan baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala. Namun ia salah. Penyakit itu datang tanpa diundang, meluluhlantakkan kehidupan Yogas. Semua orang yang disayanginya pergi meninggalkannya. Ayahnya, lalu Wulan, kekasihnya. Yogas merasa hampa. Dan akhirnya ia memutuskan ia tidak mau menderita sendirian.

Yogas ingat ketika ia memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta, berharap akan menemukan Joe dan membalas dendam. Namun, ia malah bertemu Kana, gadis yang ngekos di kamar sebelahnya. Gadis yang entah mengapa membuat Yogas harus berjuang keras untuk mengabaikannya. Gadis yang selalu ada di sisinya, yang tulus peduli padanya, tanpa mengacuhkan penyakit yang diidapnya. Gadis yang membuat Yogas mencicipi secuil kebahagian dan memberi Yogas setitik harapan.

Lalu, saat Yogas akhirnya menemukan Joe, namun malah mendapat berita pahit. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik Yogas ternyata adalah milik Joe, yang berarti penyakit itu ditularkan dari Joe, sahabat masa kecilnya.

Semua kenangan, baik yang manis maupun yang pahit, semuanya berseliweran di hadapan Yogas, sampai kepada janji itu. Janji yang menjadi alasan Yogas untuk berjuang hidup, walaupun hidupnya harus mengejar waktu dan bergantung pada sebutir demi sebutir pil.

Maaf ya, Kana. Sepertinya pertemuan kita harus tertunda sedikit lebih lama lagi.


Aku menang lomba kecil-kecilan ini berkat like dari temen-temen, so, thank you very much! Hadiahnya emang cuma paket buku, but it means a lot!

See the novel's review by me

Thursday, 20 June 2013

[Book Review] Fly to The Sky by Nina Ardianti and Moemoe Rizal


Judul Buku       : Fly to The Sky
Pengarang         : Nina Ardianti dan Moemoe Rizal
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 360 halaman
My Rating          : 4.5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku. Begitu pula mungkin denganmu, tak tebersit namaku dalam hari-harimu, dulu. Tetapi, siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di kelingkingmu.

Saat pertama kali bertemumu, tak ada yang asing. Kau seperti dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku. Namun, tak ada dari kita yang menyadarinya. Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang. Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu. Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita berjumpa lagi?

Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku? Jadi, aku percaya kau akan menemukanku. Menggenapkan rindu yang separuh.


THE AUTHORS

Nina Ardianti menulis sambil bekerja di bank. Menyukai segala hal yang cheesy, chick-flick, dan chicklit. Oh, dan bau tanah tersiram air hujan. Pernah nerbitin di GagasMedia: "Simple Lie", "Glam Girls", "Impossible", "Fly to The Sky", dan "Restart."

Moemoe Rizal jelas bukan seorang pilot. Hanya penggemar pesawat yang gila aviasi keterlaluan. Lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, sekitar 24 tahun lalu (nggak tau sekarang). Pengalaman pertamanya naik pesawat: Fokker 70-nya MZ, then fell in love with aviation. Current activity: menulis sembarangan, coaching marching band, dan bermimpi punya airline sendiri. Pernah nerbitin ini di GagasMedia: "Satu Cinta Sejuta Repot:, "Oh Baby", "Outrageous", "Jump", "Fly to The Sky", dan "Bangkok The Journal."

(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

GagasDuet ini dimulai dari sudut pandang tokoh wanita bernama Edyta, ditulis kak Nina. Wanita kantoran yang masih single di umurnya yang ke-26 ini sering dijodoh-jodohkan oleh kakak-kakak dan sahabatnya. Tapi, pria-pria yang dijodohkan dengannya nggak ada yang cocok, atau lebih tepatnya, nggak ada yang sanggup menghadapi sifat dan tingkah wanita ini. Suatu hari, di hari yang sangat nggak menyenangkan untuk Edyta, dia malah bertemu dengan Ardian, co-pilot yang sabar menghadapi tingkahnya yang menyebalkan, bahkan membantunya di kala kesusahan. Sejak itu, Edyta jadi merasa ingin tau lebih banyak mengenai sosok Ardian itu dan terus melacaknya kemana-mana.

Di sisi lain, Ardian, sudut pandang tokoh pria yang ditulis kak Moemoe, juga bernasib sama, single dan terus dijodoh-jodohkan oleh sahabatnya. Namun, belum ada wanita yang cocok dengannya - lebih tepatnya, dengan checklist-nya. Dia membuat checklist wanita idamannya - wanita yang sepadan dengannya, memiliki banyak kesamaan dengannya. Akibat sifat perfectionist dan picky-nya inilah dia sulit mendapat pasangan. Ketika Ardian bertemu dengan Edyta, dari awal dia udah tahu, wanita ini sama sekali nggak memenuhi kriteria dalam checklist-nya. Namun, sejak mereka terus berhubungan, semakin lama, dia merasa tertarik sekaligus penasaran dengan kehidupan wanita ini.


MY COMMENTARY

Satu hal yang kusukai dari seri GagasDuet, ada dua penulis yang berkolaborasi dalam satu novel. Jadi, kayak paket two in one gitu, dalam satu novel ada dua penulis, dengan dua gaya menulis yang berbeda, dan dua sudut pandang. Itu membuat pembaca nggak suntuk, karena ada perubahan gaya menulis dan keragaman kosa kata serta diksi.

Kisah ini sangat menyenangkan dan menghibur, apalagi tokoh Edyta yang ceroboh dan blak-blakan itu. Ada beberapa adegan konyol yang membuatku gemes sama tokoh-tokohnya. Alurnya juga menarik, nggak disangka-sangka. Walaupun inti ceritanya simpel, tapi kedua penulis ini berhasil mengembangkannya dengan baik. Masing-masing penulis menyelami tokoh utama yang berbeda, membentuk pribadi yang bertolak belakang, dan sangat mendalaminya, sehingga dua kepribadian yang terbentuk terasa sangat nyata. Mereka sangat menyatu dengan pribadi tokoh yang mereka pegang, jadi saat berganti sudut pandang, sangat terasa perbedaannya. Gaya bahasa kedua penulis sama-sama menarik, begitu mengalir, jadi terasa seperti tokohnya sendiri yang curhat ke aku. Penghayatannya begitu dalam dan detail, jadi aku seakan menyelam langsung ke dalam cerita.

Cover novel ini juga sangat menarik, seperti GagasDuet lainnya. Warna biru dengan gambar awan dan bintang, sesuai dengan judulnya “Fly to The Sky”. Tampilan layoutnya juga tak kalah menarik. GagasMedia emang selalu unggul dalam hal itu! Recommended, of course. Novel ini jenis novel ringan yang entertaining dan kocak, untuk menghilangkan penat di kepala (: Way to go, kak! Keep writing!

[Book Review] Sweet Nothings by Sefryana Khairil


Judul Buku       : Sweet Nothings
Pengarang         : Sefryana Khairil
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 314 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku menyukaimu. Aku membencimu. Aku tak bisa menerima setiap perubahan yang terjadi dalam diriku saat bertemu denganmu.

Tapi kau seperti air, mengalir begitu saja di dalam hidupku. Dan sebentar saja, kau sudah jadi bagian yang tak bisa kusisihkan dari hari-hariku.

Sebagian dariku tak siap tunduk begitu saja di bawah pesonamu. Dan niatmu menyaru bersama senyuman dan tenang sikapmu.
Kau membiarkan aku menebak-nebak ke mana kau akan membawa hubungan ini. Aku bertanya-tanya — dan tak bisa berhenti menyipit curiga ke arahmu.

Sampai suatu saat, kau membuka rahasia hatimu.

Kau ingin menggantikannya—dia yang sudah meninggalkanku. Kau bilang lagi, bisa mencintaiku seperti yang aku mau.
Aku mendengus, menahan diri supaya tidak tertawa. Betapa tidak, kau baru saja mengatakan hal yang tak masuk akal.

Cintalah yang melukaiku dulu. Bagaimana mungkin kau bisa meyakinkanku bahwa kali ini cinta jugalah yang akan menyelamatkanku dari kesepian ini?


THE AUTHOR

Sefryana Khairil lahir dan besar di Jakarta. Senang menulis buku harian sejak kecil hingga cerpen pertamanya terbit tahun 2001. Gadis penyuka warna kuning ini telah menerbitkan beberapa novel, antara lain, "YOU" (2005), "Kata Hati", "Pelangi Jiwa", "Always Love You", "Dongeng Semusim", "Sweet Nothings", "Beautiful Mistakes", "Rindu", "Tokyo: Falling."  Selain menulis novel, ia juga suka puisi, dan artikel.
(Sumber: Website GagasMedia - with a bit of modifications)


MY SUMMARY

Pernah dengar istilah “benci jadi cinta”? Atau bahkan pernah merasakannya? Saskia pernah. Entah yang dialaminya emang “benci jadi cinta”, atau hanya perasaannya aja, karna dari awal, dia emang udah merasa tertarik dengan pria itu, tapi dia terus menepis dan menyangkalnya. Mungkin karna cedera hatinya yang terlalu dalam, akibat pernikahannya yang hancur lebur.

Saskia Fazia, janda muda yang memiliki dua anak, membuka toko kue dan mengelolanya sendiri, ditemani sahabatnya, Indira. Suatu hari, saat dia memerlukan seorang pastry chef baru, sahabarnya merekomendasikan Ghazy Harsa Erlangga, sepupu Indira, yang akhirnya diterima sebagai chef baru di toko kue Saskia.

Harsa juga diam-diam merasa tertarik pada Saskia. Dia berusaha menarik hati Saskia, namun Saskia yang keras kepala terus mengacuhkannya. Saskia sebenarnya merasakan hal yang sama, dan dia sadar akan itu, hanya saja, dia terus memungkiri kata hatinya. Dia terlalu takut untuk kembali membuka hatinya. Walaupun begitu, Harsa nggak menyerah gitu aja. Dia terus berjuang hingga mendapatkan hati Saskia.


MY COMMENTARY

Novel ini bikin aku ngiler. Kenapa? Liat, covernya aja gambar kue yang kayaknya enak banget. Belum lagi kue-kue yang dideskripsikan di dalan novel ini, begitu detail dan menggiurkan. Selama membaca novel ini, aku selalu dibayang-bayangi sesuatu yang manis. Bukan hanya kuenya saja yang manis, tapi kisah cintanya juga manis. Sikap Harsa yang begitu lembut dan pengertian jelas membuat wanita mana pun meleleh.

Alur ceritanya kompleks (maklum, novel dewasa). Konfliknya juga menarik, walaupun kebanyakan konflik batin, tapi cukup kuat untuk membuatku galau dan menanti-nantikan penyelesaian. Tokoh yang diciptakan kak Sefry begitu realistis, dimana masing-masing memiliki kepribadian dan latar belakang yang berbeda, layaknya manusia. Bikin aku empati sama mereka, jadi kalau mereka galau, aku ikutan galau.

Covernya sangat mendukung isi novel dan judulnya. Like I said, gambar kue dengan stroberi di atasnya menggiurkan. Desain layoutnya juga nggak kalah menarik, dimana ada resep kue di bagian awal buku, yang lagi-lagi bikin aku ngiler :9 Recommended, terutama untuk pembaca dewasa. Ada beberapa adegan dewasa yang bikin aku males (I don't know, I just don't like it), tapi above it all, I like the story. Bikin gemes! Well done, kak! Keep writing!

[Book Review] Hanami by Fenny Wong


Judul Buku       : Hanami
Pengarang         : Fenny Wong
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 456 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Kepada Sakura

Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan.
Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana.
- Keigo

Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh.
Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu. 
- Sakamura Jin


THE AUTHOR

Moonlight Waltz adalah novel pertama dari Fenny Wong - seorang gadis SMU (nggak tau sekarang) biasa yang lahir dan besar di Bandung. Mendapatkan pendidikan piano sejak kelas 2 SD dan berhenti di akhir kelas 2 SMA. Walaupun belajar musik klasik sedari kecil, tetapi ia sadar betul cinta sejatinya adalah musik rock, sastra, dan tentu saja, fashion. Di tengah kesibukannya menekuni hobi-hobinya yang lain, ia sadar menulis adalah hal yang tidak bisa ditinggalkannya. Terpukau pada ketekunan sahabatnya, dirinya ikut mulai menulis novel saat kelas 5 SD. Ia menyukai novel dari hampir segala genre, tetapi genre yang ia tulis adalah fantasy atau romance saja. Menerbitkan sebuah novel adalah satu dari banyak impiannya, dan kini telah terwujud.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Hidup ini penuh dengan misteri. Begitu pemikiran Nishikado Sakura tentang hidupnya. Bagaimana tidak? Dia dirawat dan tinggal serumah dengan lelaki yang berbeda sepuluh tahun dengannya sejak kecil, tapi nggak punya hubungan darah sama sekali dengan lelaki itu. Dia nggak pernah mengenal keluarganya dan nggak pernah tau asal usulnya, atau apapun yang berkaitan dengan masa lalunya.

Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri dalam hidup Sakura disingkapkan. Dimulai dari penemuannya tentang nama ayah dan kakak laki-lakinya, bertemu dengan kakaknya itu, lalu terseret hingga mengetahui alasannya tinggal bersama pengasuhnya dari kecil, sampai dalang di balik semua misteri ini.


MY COMMENTARY

Novel ini sangat unik. Alurnya benar-benar menarik. Kak Fenny dengan lihainya menciptakan misteri demi misteri, rahasia demi rahasia, yang sanggup membuatku (hampir) mati penasaran. Lalu, misteri dan rahasia itu terungkap satu per satu, di waktu yang tak terduga. Sangat menakjubkan! Nggak ada penumpukan informasi. Semuanya mengalir begitu aja. Novel ini bukan hanya menyuguhkan kisah romantis di negara sakura, tapi juga berbagai bumbu-bumbu lain yang bikin bacaannya sedap! Banyak twist yang menarik dalam setiap babnya, bikin aku terkagum-kagum. Ada banyak nilai yang dapat dituai juga. Komplit!

Pendeskripsian latar tempatnya juga menarik, membuat aku makin kebelet pergi ke Jepang. Begitu pula tokohnya, begitu mudah dicintai - lovable. Aku suka Sakura, dengan sikap kekanakan dan imut-imutnya, si pengasuh-yang-nggak-mau-kusebut-namanya, dengan sifat dewasa dan cool-nya, dan kakaknya Sakuran (yang namanya nggak mau kusebut juga), dengan sifat acuh tak acuh namun pedulinya (my favorite!!). 

Bahasanya yang mengalir, membuat aku hanyut dalam arus cerita. Aku sangat menikmati masa-masa membaca novel ini. Rasa penasaran yang berhasil dibangkitkan kak Fenny memacuku untuk terus membaca sampai selesai. Novelnya emang kelihatan tebal, tapi itu karena font-nya yang lebih besar dari novel Gagas lainnya, dan membuat lebih nyaman dibaca. Kalaupun tebal, nggak terasa sama sekali, karena alurnya yang mengalir dan asyik dibaca. Menurutku, komposisi ceritanya udah pas, nggak kepanjangan, nggak kependekan. Konflik yang dihadirkan sih kompleks dan rumit, tapi kak Fenny berhasil mencari solusi yang nggak lupa sama logika cerita. 

Blurb-nya bener-bener menarik dan so sweet. Covernya juga kece banget! Terasa sangat ceria dengan warnanya yang terang, jadinya makin menarik, bahkan dari kejauhan sekalipun. Gambar pohon sakura dengan teras khas rumah Jepang plus judul novelnya “Hanami” cocok sama setting yang digunakan. Pokoknya, recommended, deh! Way to go, kak! Keep writing!

[Book Review] Heaven on Earth by Kaka HY


Judul Buku       : Heaven on Earth
Pengarang         : Kaka HY
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 256 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Tak terhitung sudah berapa kali ini terjadi...

Jatuh dan membuatku merasa kecil di dunia ini. Kecewa dan membuatku berhenti untuk percaya orang lain. Dikhianati dan membuatku pesimis terhadap cinta. Seperti burung kecil yang baru terbang, dunia menyuruhku untuk belajar semua hal dalam waktu singkat. Aku dipaksa untuk menentukan segala-segalanya seorang diri. Tiba-tiba saja, hidup dewasa tidak semenyenangkan di pikiranku selama ini.

Tapi kau selalu siap berdiri di belakangku...

Kau tetap menyemangati dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Tak putus-putusnya yakin aku bisa mencapai apa pun yang kuinginkan di saat yang lainnya benar-benar meragukanku. Kau membuatku merasa berharga.

Jujur saja, aku lelah berjuang terus. Tapi demi dirimu aku belum akan menyerah dulu. Mungkin aku harus berusaha lebih keras. Mungkin aku harus mencoba sekali lagi - entahlah. Aku tidak akan mengeluh.

Kau membuatku sadar, ternyata sejak awal, aku tak pernah dibiarkan sendiri.


THE AUTHOR

Kaka HY, berojol dan dibesarkan di Kota Tepian Mahakam. Sekarang sedang bertualang menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Pelajar. Percaya pada keajaiban dan kekuatan mimpi. Salah satu mimpinya adalah menginjakkan si buluk di tanah Hindustani.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Tentang sepasang sahabat, Carla dan Lorent, yang memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki masalah dalam keluarga mereka. Carla, yang tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya, merasa kesal dengan hidupnya yang terasa begitu sulit di umurnya yang masih dini. Ayahnya telah meninggal, membuat ibunya menjadi single parent yang harus menanggung dua kewajiban, mencari nafkah dan mengurus rumah tangga. Mengurus dua hal itu jelas sulit, dan Carla sebagai anak sulung seharusnya emang membantu ibunya itu. Dia bertanggung jawab menjaga rumah dan adiknya selama ibunya pergi bekerja. Dia mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara sekolah dan urusan rumah, membuatnya merasa hidupnya sangat terbebani.

Lorent memiliki kasus yang berbeda. Jika Carla kehilangan Ayah, Lorent nggak kehilangan siapa-siapa, hanya keutuhan keluarganya. Semenjak orangtuanya bercerai, dia sebagai anak tunggal tinggal bergantian di rumah ibu dan rumah ayahnya. Itu membuatnya merasa lelah dengan dua kehidupannya yang berbeda itu, dan berencana untuk mengakhirinya dengan menyatukan ayah dan ibunya kembali. Masalahnya, ayahnya udah memiliki kekasih lain dan berniat menikah. Ini jelas menjadi pergumulan tersendiri bagi Lorent.

Dua sahabat ini berusaha untuk mengubah keadaan hidup mereka dengan jalan mereka sendiri, namun, semuanya jadi berantakan. Mereka merasa hidup mereka sangatlah berat. Padahal, itu hanya karena pola pikir mereka sendiri. Mereka terus mengeluhkan apa yang tidak enak dan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Jika saja mereka mau lebih membuka pikiran mereka dan melihat hal-hal baik dalam hidup mereka , lalu belajar mensyukurinya, jelas semua akan terasa lebih baik.

Itulah pesan moral dari novel ini. Hidup nggak akan selalu berjalan mulus sesuai yang kita ekspektasikan. Nggak ada hidup yang sempurna dan serba enak. Masalah pasti akan datang menghadang. Namun, semuanya pasti berakhir baik-baik aja, jika kita menghadapi masalah itu dengan lapang dada dan kacamata positif. Badai pasti berlalu, dan sehabis badai pasti ada hikmahnya. Carla dan Lorent jelas mendapat pelajaran yang berarti.


MY COMMENTARY

Novel yang unik, walaupun inti cerita dan alurnya biasa-biasa aja, tapi novel ini berbeda dari novel-novel Gagas kebanyakan. Novel ini sarat akan pesan moral, dan lebih memfokuskan diri pada nila-nilai kehidupan dan keluarga. Bagus, tapi sedikit membosankan.

Hatiku cukup tersentuh dengan ceritanya, karna rada-rada mirip sama kisah hidupku sendiri, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang. Mungkin karna konfliknya ringan dan udah terlalu lazim. Tokoh-tokoh yang ada juga nggak sekuat dan sehidup yang seharusnya. Tapi aku tetap menangkap pesan moral yang disampaikan dan merasakan manfaatnya.

Well, pas aku baca novel ini, aku lagi gila-gilanya sama genre romance. Mungkin karna itu aku nggak berasa klop sama novel ini. But above it all, it's still recommended. Like a lot! Karna pesan moralnya bener-bener meaningful! Way to go, kak! Keep writing!

[Book Review] Rain Over Me by Arini Putri


Judul Buku          : Rain Over Me
Pengarang          : Arini Putri
Penerbit              : Gagas Media
Jumlah Halaman : 360 halaman
My Rating           : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau. 

Namun, ketika dia hadir dalam hidupmu — di antara kita — aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan kepadamu. 

Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu — tapi, bagaimana denganku? Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu?


THE AUTHOR

Arini Putri, mahasiswi Psikologi yang gemar berimajinasi di mana aja dan kapan aja. Gadis yang akrab disapa Arin ini hanya berusaha untuk terus membuat imajinasinya nggak sia-sia. "Rain Over Me" merupakan novel pertama yang dihasilkan dari salah satu hobinya - menulis. Hobinya yang lain adalah menyanyi, dan hingga saat ini masih terus percaya bahwa suatu hari nanti dapat berduet dengan SHINee Onew dan Super Junior Kyuhyun.


MY SUMMARY

Jatuh cinta dengan seseorang yang nggak boleh kau cintai? Yuna dan Kim Hyu Bin pernah merasakannya. Well, itulah yang mereka kira. Novel ini menyajikan kisah cinta yang kompleks antara dua pasangan. Yuna dan Kim Hyu Bin adalah saudara tiri. Ibu Hyu Bin meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan wanita Indonesia yang memiliki anak, yaitu Yuna. Hyu Bin, yang dulunya brutal karna sangat terpukul sepeninggal ibunya, menjadi luluh karna sifat Yuna yang menyenangkan. Namun karena suatu hal, mereka terpisah selama beberapa waktu.

Han Chae-Rin dan Yoon Jeon-Seuk adalah sepasang kekasih (ah, belum bisa dibilang begitu sebenarnya), namun terpisah karena penolakan satu pihak. Chae-Rin menolak Jeon-Seuk yang baik hati, hanya karena dia adalah seorang yang kaya. Ya, Chae-Rin membenci orang kaya, karena sebuah alasan yang berkaitan dengan masa lalu. Kemudian, kedua pasangan itu dipertemukan, dan hubungan mereka pun jadi terpecah belah dan kacau, namun tetap berakhir bahagia, sebagaimana seharusnya.


MY COMMENTARY

Kisah cinta yang kompleks, dengan bumbu-bumbu konflik yang rumit. Alurnya yang naik turun membuatnya semakin menarik. Banyak hal-hal tak terduga yang memberi sensasi tersendiri dalam cerita. Pendeskripsian latarnya juga lumayan baik. Tokoh-tokohnya pun hidup dan nyata, dengan karakter yang menonjol dan saling mendukung. Covernya yang berwarna biru dan rintik-rintik hujan cocok dengan judul dan isinya yang menunjukkan kesan mellow, tapi romantis. 

Secara keseluruhan novel ini menarik, tapi karna aku bukan pecinta Korea, aku jadi kurang menikmatinya. Agak pusing dengan nama-nama tokoh yang sulit diingat dan istilah-istilah asing yang digunakan. But above it all, novel ini tetap recommended, apalagi buat kalian para pecinta Korea. Hohoho. Well done, kak. Keep writing!

Sunday, 16 June 2013

[Book Review] Seasons to Remember by Ilana Tan


Judul Buku       : Seasons to Remember
Pengarang         : Ilana Tan
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 160 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Pembaca yang baik,

Ketika pertama kali aku menulis "Summer in Seoul", gagasan untuk membuat tetralogi sama sekali tidak terpikirkan olehku. "Summer in Seoul", yang pada awalnya memiliki judul yang sama sekali berbeda, kutulis untuk diikutsertakan dalam lomba. Karena aku tidak menang (hiks…), aku membongkar dan merapikan kembali cerita itu, mencari judul yang lebih menarik (terus terang saja, judul awalnya sangat mengerikan), lalu mengirimkannya kepada Gramedia Pustaka Utama. Hasilnya? Summer in Seoul pun diterbitkan. Hore!

Setelah itu, aku mulai memikirkan buku berikut. Dan Tara Dupont, yang pertama kali muncul di "Summer in Seoul" sebagai tokoh sampingan, terlihat seperti karakter yang menarik. Dia terkesan seperti seseorang yang punya banyak cerita. Jadi aku pun menghampirinya dan membiarkannya bercerita.

Ide untuk membuat tetralogi muncul setelah "Autumn in Paris" selesai ditulis. Saat itu aku berpikir, ”Karena sudah ada musim panas dan musim gugur, sebaiknya aku melanjutkan dengan musim dingin dan musim semi. Baiklah, sekarang apa yang harus kutulis untuk cerita musim dingin?” Langsung saja, Ishida Keiko melangkah maju dan bertanya apakah aku bersedia menulis cerita tentang dirinya. Aku tidak mungkin menolak kesempatan itu.

Di tengah-tengah penulisan "Winter in Tokyo", aku sadar bahwa setelah ini aku harus menelusuri kehidupan kembaran Keiko, Naomi, yang hanya pernah diungkit-ungkit namun tidak pernah terlihat. Banyaknya kemungkinan alur cerita yang bisa diberikan Naomi yang misterius menegaskan keputusanku untuk mengikutinya dan menulis kisah hidupnya.

Masing-masing penulis memiliki cara tersendiri dalam menulis. Aku pun begitu. Aku tidak membuat rencana atau kerangka ketika menulis. Satu cerita hanya diawali satu ide sederhana, lalu aku menunggu ide itu berkembang dengan sendirinya. Aku mengamati ke mana alur cerita itu mengalir dan menulis mengikuti aliran itu. Aku tidak pernah menyuruh tokoh-tokohku melakukan tindakan tertentu atau mengucapkan kata-kata tertentu. Aku hanya menempatkan mereka dalam suatu keadaan, lalu melihat apa yang mereka lakukan dan apa yang akan mereka katakan. Karena ini kisah mereka, bukan kisahku.

Gramedia Pustaka Utama-lah yang pertama kali memberikan ide untuk membuat journal ini, dan dengan journal ingin aku ingin mengajak kalian mengenang kembali setiap kisah dalam keempat musim itu. Kuharap kalian bisa menemukan kutipan kesukaan kalian dalam journal ini. Silakan menambahkan kesan-kesan kalian sendiri di setiap halamannya.

Akhir kata, aku ingin berterima kasih atas dukungan kalian selama ini. Kuharap kalian menikmati kisah setiap musimnya sebesar aku menikmati menulis setiap patah kata dalam setiap kisahnya.


THE AUTHOR

Ilana Tan terkenal karena menulis empat novel roman yang masing-masing novelnya disajikan dengan cerita yang latarnya berbeda-beda, dengan keunikan tokoh-tokoh dari novel yang satu dengan novel yang lainnya saling berkaitan. Karya-karyanya: "Summer in Seoul" (2006), "Autumn in Paris" (2007), "Winter in Tokyo" (2008), "Spring in London" (2010), "Sunshine Become You" (2012), "Seasons to Remember" (2013), dan "Autumn Once More" (2013). 
(Sumber: Wikipedia)



MY SUMMARY

No comment. Intinya buku ini kumpulan quotes dari empat novel seri Four Seasons-nya Ilana Tan yang kece!


MY COMMENTARY

Ilana Tan itu penulis yang T.O.P! Semua novel yang dia tulis masuk ke jajaran novel bestseller. Karyanya emang benar-benar cemerlang. Nggak heran dia punya banyak sekali penggemar yang selalu mengharapkan karya terbarunya (like me!!). Sejak novel terakhirnya, "Sunshine Becomes You", nggak ada kabar tentang karyanya yang selanjutnya. Aku terus menanti dan berharap dia akan menerbitkan karyanya yang lain. Makanya, saat ada kabar bahwa karyanya yang berjudul "Seasons to Remember" akan terbit, aku senang bukan main dan nggak sabar nunggunya.

Begitu buku ini udah terbit dan beredar di toko buku, aku langsung pergi beli, walaupun harganya yang cukup mahal, dan sebenernya aku lagi puasa buku karna krisis uang dan udah mau ujian. Above it all, aku tetep beli tanpa pikir panjang, karna karya Ilana Tan nggak pernah mengecewakan siapapun. Awalnya, aku nggak tau buku ini cuma kumpulan quotes. Aku berharap ini jadi novel yang nggak kalah bagus dengan novel sebelumnya. Awalnya aku agak heran, sih, kok tipis banget? Biasa kan novel Ilana Tan nggak pernah setipis ini. I bought it anyway, dan alangkah kagetnya (halah) aku waktu menemukan buku ini hanya berisi kumpulan quotes dari empat novel pertamanya, Tetralogi Empat Musim. Aku mengharapkan lebih, jadi ketika harapanku pupus gitu aja, datanglah kekecewaan.

Tapi, setelah membacanya, aku merasa (jauh) lebih baik. Kutipan-kutipan yang disajikan kembali membangkitkan berbagai rasa yang kurasakan saat membaca keempat novel itu. Aku jadi kangen sama keempat novel brilian itu dan jadi pengen baca ulang semuanya. 

Waktu baca kata pengantarnya (yang ada di blurb), kayak lagi baca curhatannya Ilana. Di akhir kata pengantar, ada tanda tangannya, yang bikin aku tambah senang. Lalu, ada foto-foto yang menggambarkan setting keempat novel itu. Fotonya kece berat, cocok banget sama setting yang ingin digambarkan, bikin aku makin gampang membayangkan setting dalam cerita. Selain itu, buku ini full color, dengan desain layout yang menarik. Pantes aja harganya mahal. Covernya juga alamak, kece abis! Ada jendela yang nampilin empat pemandangan beda-beda sesuai empat musim yang ada. Whoa!

Yah, ujung-ujungnya aku nggak begitu menyesal udah beli buku ini. Karna isinya hanya berupa kutipan, nggak perlu waktu yang lama untuk membacanya, jadi, setiap kali aku kangen sama karya Ilana Tan, aku tinggal baca buku ini aja buat nostalgia. Aku harap, para pembaca yang membelinya juga nggak merasa kecewa dan menyesal telah membeli buku ini, karena seperti yang kubilang tadi, karya Ilana Tan nggak pernah mengecewakan. So, yeah, it's still recommended. Buku ini emang kece banget kok. Hihihi. Kak Ilana, wherever you are, we are still waiting for your next moves!

Sunday, 9 June 2013

[Book Review] Autumn Once More by Ilana Tan, dkk


Judul Buku       : Autumn Once More
Pengarang         : Ilana Tan, Aliazalea, Ika Natassa, dkk
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 232 halaman
My Rating          : 4 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Cinta < adj >: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

"Autumn Once More" membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan. Semua royalti buku ini akan disumbangkan ke Dana Kemanusiaan Kompas untuk membantu sesama kita.


MY SUMMARY + COMMENTARY

Kumcer ini berisi tiga belas karya yang mostly bergenre romance.

Cerita pertama dikisahkan oleh Aliazalea, seorang penulis yang berprofesi sebagai dosen psikologi di Malaysia. Cerpennya yang berjudul "Be Careful What You Wish For" ini mengisahkan tentang seorang gadis yang diam-diam naksir sama teman sekantornya. Gadis itu hanya bisa mengagumi dari jauh, nggak berani berinteraksi sama pria itu. Tapi takdir berkata lain. Dia terus dipertemukan dengan pria itu. 

Cerpen ini menarik, dari segi deskripsi dan gaya bahasa yang digunakan. Bahasanya mudah dicerna, jadi aku merasa mengalir bersama alur cerita. Pendeskripsiannya juga detail. Tapi, dari segi isi cerita, nggak terlalu unik. Ending-nya pun menggantung, membuat aku kurang puas dengan akhirnya.

Cerita kedua ditulis oleh Anastasia Aemilia, penulis novel "Katarsis", yang menyajikan cerpen dengan judul "Thirty Something", yang mengisahkan dua orang sahabat, Erik dan Rachel, yang saling jatuh cinta. Sayangnya, mereka nggak ditakdirkan bersama. Rachel telah dijodohkan dengan orang lain, dan Erik harus pindah ke Jepang karena urusan kerja.

Cerpen ini romantis dan manis sekali. Alurnya menarik, membuatku penasaran dan tertarik untuk membacanya sampai habis. Tokoh-tokoh yang dihadirkan juga terasa hidup, memiliki karakter tersendiri yang dideskripsikan melalui tindakan dan pikiran tokoh.

"Stuck with You" ditulis oleh Christina Juzwar, penulis novel "Love Lies" dan Kumcer "Teenlit Bukan Cupid". Cerpen ini menceritakan tentang Lita, yang terus terjebak dalam situasi yang nggak mengenakkan dengan atasannya yang jutek, Ares. Tapi ternyata, di balik semua kesialannya itu, ada hal baik yang menunggunya.

Another love story. Kali ini antara atasan dan bawahannya. Cukup menarik, namun ada adegan yang diulang-ulang, seperti kejadian terjebak di lift. Agak aneh, bukan, jika seseorang bisa terjebak di lift sampai tiga kali dengan orang yang sama? Adegan yang berulang-ulang membuat ceritanya kurang kreatif dan membosankan, tapi adegan tersebut juga termasuk unik, sih. Tokoh cowok yang jutek, tapi diam-diam perhatian, juga merupakan jenis tokoh yang menarik, terutama untuk kalangan perempuan (hihihi).

"Jack Daniel’s vs Orange Juice" karya Harriska Adiati, editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama, mengisahkan tentang seorang pria, yang tadinya suka minum minuman keras dan merokok, menghentikan semua aktivitas nggak baiknya itu demi merebut hati seorang gadis, yang merupakan anak dari tetangga barunya. Tapi, apa daya, ternyata gadis itu udah dijodohkan dengan orang lain.

Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, cerpen yang ini menggunakan sudut pandangan tokoh laki-laki, membuatnya lebih manis, karena pembaca dapat mendalami sang tokoh laki-laki, dan biasanya terkesan lebih romantis. Kisah ini agak menyedihkan, karna perjuangan sang tokoh demi merebut cintanya berakhir sia-sia. Tapi, itulah sisi romantisnya, seseorang yang berubah demi cinta.

"Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku" dikisahkan oleh seorang penerjemah dan editor fiksi di GPU, Hetih Rusli. Cerpen ini bercerita tentang seorang pria yang sangat mencintai pasangannya. Sering memerhatikannya dari jauh, memberikan segenap cinta dan perhatiannya untuk wanita yang dicintainya itu, tapi akhirnya dicampakkan begitu aja. Setelah ditinggalkan pun dia masih memerhatikan wanita tambatan hatinya itu.

Cerpen ini kembali disajikan dengan sudut pandang tokoh laki-laki, yang membuatnya lebih romantis. Alurnya menarik, maju mundur, disisipi dengan flashback-flashback di waktu yang tepat. Akhirnya menyedihkan, dimana sang pria masih tetap mencintai wanita yang telah menyakiti hatinya. Namun, topik ini udah sering diangkat, jadi kurang unik dan sedikit tertebak.

"Critical Eleven" oleh Ika Natassa termasuk cerpen terbaik dalam buku ini. Jelas aja, cerpen ini ditulis oleh penulis novel yang berbakat dan sering menerima penghargaan. Cerpen ini mengisahkan tentang pertemuan dua insan pada suatu penerbangan di pesawat. Mereka mengobrol dan menemukan banyak kecocokan di sana. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang memberi kesan mendalam pada sang gadis, yang terus mengingatnya di hari-hari selanjutnya.

Ceritanya simpel aja, hanya pertemuan dua orang di pesawat dan obrolan-obrolan mereka. Tapi, pilihan kata yang digunakan memiliki makna yang mendalam dan menyentuh hati. Dapat ditemukan kutipan-kutipan menarik dalam cerpen ini. Cara penulis menyajikan tokoh-tokohnya juga menarik - bagaimana kedua tokoh memiliki pemikiran masing-masing.

Dan ini dia puncak dari kumpulan cerpen ini. "Autumn Once More" karya penulis novel bestseller, Ilana Tan. Pernah membaca novelnya yang berjudul "Autumn in Paris"? Nah, cerpennya yang satu ini menceritakan salah satu adegan yang nggak terceritakan di dalam novel (sidestory), yaitu ketika Tatsuya berjalan-jalan dengan Tara di Disneyland Paris. Saat itu, Tara dan Tatsuya belum lama mengenal, tapi udah cukup dekat. Mereka bersenang-senang tanpa beban, belum mengetahui konflik yang akan mereka hadapi di masa depan. Dan saat itulah, Tatsuya mengaku jatuh cinta pada Tara, tapi menyimpannya untuk diri sendiri.

Seperti biasa, karya Ilana Tan selalu menggetarkan jiwa dan raga para pembacanya. Caranya menyampaikan isi pikirannya melalui tokoh, itu yang membuatnya menarik. Bahasanya yang mengalir dan menghipnotis, mengayun-ayunkanku ke awang-awang. Tokoh-tokoh yang dia ciptakan juga selalu berkarakter, memiliki sifat yang unik dan nyata, juga latar belakang yang realistis. Pilihan katanya yang menyentuh hati, juga bagaimana ending yang disajikan nggak pernah tertebak, membuat pembaca (terutama aku) selalu merasa puas setiap kali selesai membaca karya-karyanya.

"Her Footprints on His Heart" karya Lea Agustina Citra juga nggak kalah bagus. Penulis berlatar pendidikan psikologi ini menyajikan cerita mengenai pasangan yang sedang dalam masa mempersiapkan pernikahan mereka. Ariana dan Rendy, pasangan yang saling mengasihi. Tapi, di tengah kesibukan mereka itu, muncul mantan kekasih Rendy, yang juga adalah cinta pertamanya, dan musuh bebuyutan Ariana. Hal itu membuat Ariana cemas, takut kalau-kalau calon suaminya masih mencintai si mantan. Namun di akhir, Rendy berhasil membuktikan kalau cintanya hanya untuk seorang, yaitu calon istrinya.

Alur ceritanya menarik, dan bagaimana penulis menyajikan ceritanya itu jenius! Sang penulis tau kapan harus memberikan informasi. Informasi yang diperlukan akan muncul di waktu yang tepat, jadi sempat membuat pembaca merasa penasaran, lalu mengangguk-angguk mengerti dan berdecak kagum setelahnya. Ending-nya juga memuaskan, membuatku tersenyum haru setelah selesai membacanya.

"Love is a Verb" adalah karya persembahan dari Meilia Kusumadewi, salah satu penulis di GPU. Cerpennya ini menceritakan kisah cinta antara Timal dan Rangga yang mulai mendingin. Timal merasa nggak diperhatikan oleh Rangga, kekasihnya, yang emang pembawaannya cuek. Akhirnya kisah cinta mereka pun berakhir dengan alasan yang nggak logis. Itu membawa penyesalan tersendiri di hati keduanya. Namun, cinta sejatil selalu menemukan jalan pulang.

"Perkara Bulu Mata" oleh Nina Addison, penulis novel "Morning Brew", mengisahkan tentang Vira yang sedang patah hati. Di tengah gundah gulananya itu, Jojo, sahabatnya dari kecil, menghiburnya. Saat itulah benang merah mereka terpaut, setelah sekian lama bersahabat tanpa merasakan apa-apa. Awalnya hanya Vira yang menyadarinya, tetapi ketika hal itu malah merusak persahabatannya, dia memilih untuk mengenyampingkan perasaannya itu. Tapi akhirnya, Jojo pun menyadari hal yang sama, walaupun di waktu yang agak terlambat.

Cerpen yang ini unik, karna menggunakan beberapa sudut pandang sekaligus. Lompatan sudut pandang itulah yang membuatnya misterius, dimana kita hanya mengetahui lewat satu sudut pandang, nggak yang lain. Sudut pandang yang disorot pun menyimpan rahasia masing-masing, yang menggugah rasa penasaran pembaca.

"The Unexpected Surprise" karya Nina Andiana, editor di GPU, mengisahkan tentang seorang anak yang nggak memiliki hubungan yang baik dengan ibunya. Pada hari ulang tahun ibunya, semua rahasia terungkap, membuatnya merasa menyesal akan perlakuannya terhadap ibunya selama ini. Hubungan mereka pun pulih, bahkan menjadi jauh lebih baik dari yang semula.

Cerpen ini adalah satu-satunya cerpen di buku ini yang nggak tersentuh nuansa romantisme antara sepasang kekasih (cowok-cewek). Kisahnya sederhana aja, tapi sarat akan pesan moral, mengenai hubungan kita dengan keluarga, terutama orangtua – Ibu. Nina berhasil membuktikan bahwa cerpen yang bagus nggak harus selalu membawa-bawa suasana romantisme antara sepasang kekasih.

"Senja yang Sempurna" karya Rosi L. Simamora kembali memenuhi udara dengan suasana romantisme. Kisah ini menceritakan seorang pria yang menutup pintu hatinya rapat-rapat. Dia bahkan nggak mau membuka hatinya untuk seorang wanita yang mencintainya dengan tulus dan segenap hatinya. Saat dia akhirnya sadar dan mulai membuka pintu hatinya, semuanya udah terlambat.

Satu lagi kisah yang menyayat hati, dengan ending yang menyedihkan. Cerpen ini unggul dengan pendeskripisan dan pemilihan kata-katanya. Pendeskripsiannya yang detail menarikku masuk ke dalam cerita. Aku dapat dengan mudah membayangkan suasana yang dihadirkan oleh sang penulis.

"Cinta 2×24 jam", cerpen terakhir yang menjadi penutup dalam buku ini, karya Shandy Tan, memberikan aura tersendiri yang berbeda dari cerpen-cerpen sebelumnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang pria yang nyaris sempurna. Pria ini dideskripsikan oleh seseorang yang misterius, yang mengetahui segalanya, tetapi nggak melakukan interaksi apapun. Si misterius ini jatuh cinta pada sang pria dan memerhatikan tiap gerak-geriknya. Namun, akhirnya rahasia terungkap dan memberikan akhir yang tidak terduga. 

Jelas aja cerpen ini dijadikan penutup, karena cerpen ini yang paling berbeda dan unik. Cerpen ini unggul dengan akhir cerita yang sama sekali nggak tertebak, membuatku ternganga setelah selesai membacanya. What a twist! Penyajian ceritanya yang menyimpan rahasia dimana-mana menggelitiki saraf ingin tauku, lalu menggebrakku dengan kenyataan yang nggak terduga.

Satu buku, banyak cerita. Jelas sangat memuaskan untuk dibaca. That's why it is recommended! Kece deh, pokoknya! Well done, guys! Keep writing!

Saturday, 8 June 2013

[Travel Notes] Liburan Pertama dan Terakhir


Joining : Giveaway
Held by : Bali Bids Aloha
Status : Win (Modified)


Saat aku berumur 9 tahun, keluargaku pindah ke ibukota. Selama ini, Papa dan Mama selalu sibuk mengurus toko, sehingga kami jarang jalan-jalan sekeluarga. Sejak pindah ke Jakarta, Papa dan Mama memiliki pekerjaan baru yang tidak terlalu menyita waktu mereka, sehingga kami akhirnya bisa pergi liburan sekeluarga ke Bali, untuk yang pertama kalinya. Aku sangat senang. Walaupun sudah beberapa tahun berlalu sejak momen itu, aku masih bisa merasakan semangat dan rasa bahagia yang kurasakan saat itu.

Kami sekeluarga pun berangkat ke Bali dengan pesawat Garuda yang besar. Ada televisi di dalamnya, dengan 3 baris kursi. Untuk zamanku dulu, naik pesawat seperti itu saja sudah bisa membuatku mimpi indah setiap malam (P.S. aku masih kecil, jadi maklum). Dan dulu itu, masih disediakan makanan yang enak dari pesawat (tidak seperti sekarang, roti pun belum tentu dikasih). Sayangnya, kakakku tiba-tiba demam saat itu. Setelah dites, ternyata temperaturnya 40 derajat. Jelas kami semua jadi khawatir dan sempat berpikir untuk meminta pesawatnya mendarat di kota terdekat atau bagaimana. Tapi akhirnya awak pesawat hanya memberikan obat, air hangat, dan selimut. Kakakku makan dan meminum obat, lalu tidur. Syukurlah temperaturnya menurun, dan saat kami tiba, ia sudah tidak apa-apa.

Kami menginap di hotel (aku lupa namanya, yang jelas dekat dengan Pantai Kuta). Sejak kecil, aku selalu menyukai hotel. Kalau tidak salah, itu hotel bintang lima, sehingga fasilitasnya sangat bagus dan memuaskan. Adikku mabuk darat, tapi belakangan sudah membaik, asalkan naik mobil kami (merek APV) dan duduk di depan. Akhirnya, kami menyewa mobil APV selama berlibur di sana. Kami pun membawa CD-CD yang biasa kami dengarkan di mobil dan memasangnya.

Kami juga menyewa tour guide yang dengan cekatannya membawa kami mengunjungi berbagai tempat wisata di Bali. Jujur saja, aku tidak ingat tempat-tempat yang kami kunjungi. Setidaknya ada ke pantai, lalu menyusuri jalan-jalan di Bali, toko-tokonya, dan menikmati berbagai pemandangan indah di sana. Aku sekeluarga benar-benar menikmati liburan kami itu. Kami berlibur selama 3 hari 2 malam. Tidak lama, memang, tapi aku benar-benar puas. Dan siapa sangka, liburan sekeluarga pertama kami itu akan menjadi yang terakhir, karena, setahun (sepertinya) kemudian, Papa meninggal dunia, jadi, setiap kali liburan sekeluarga, sudah tidak sama lagi, karena tidak ada Papa :(