Menu

Wednesday, 13 March 2013

[Flash Fiction] Definition of Friendship


Held by : ngerumpi.com
Status  : Didn’t win (Modified)


Ah, pagi yang indah – udara yang segar, langit yang biru dengan awan-awan putih bersih yang menghiasinya, burung-burung yang berkicauan, pohon-pohon rindang yang melambai-lambai… Sungguh suasana yang nyaman. Aku sedang mendayuh sepedaku bersama teman terbaikku, Jeremy, menuju toko buku favorit kami.
Sesampainya di sana, kami memarkirkan sepeda kami dan memasuki toko buku itu. Berbagai jenis buku duduk manis di rak-rak yang berjejeran rapi. Setelah kami memilih buku yang kami inginkan dan membayarnya, kami pun berjalan keluar.
Kami baru saja menginjakkan kaki di  luar toko, ketika tiba-tiba seseorang menubruk Jeremy dengan kencang, hingga ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Untung aku dapat menahan dan membantunya berdiri kembali. Ia mengimbangi tubuhnya, lalu mecari-cari sesuatu.
“Dia mengambil dompetku!” teriaknya tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang, Jeremy langsung mengejar pencopet itu. Aku panik, lalu ikut mengejarnya. Kami berhenti di sebuah jalan buntu dan si pencopet terkepung di sana.
Jeremy mendekatinya perlahan. “Kembalikan dompetku!” bentaknya.
Si pencopet terlihat waspada, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda kecil berwarna silver yang terlihat tajam.
Oh no, be careful, Jer, batinku.
Si pencopet itu mulai menodongkan pisaunya ke arahku dan Jeremy. Dengan sigap, Jeremy langsung menendang tangannya dan pisau itu pun terjatuh. Si pencopet telihat panik, lalu Jeremy menendang perutnya hingga si pencopet jatuh tersungkur di tanah.  Jeremy mengambil dompetnya dari saku si pencopet, lalu berbalik ke arahku dengan senyuman bangga.
Aku mendesah lega. “Ayo kita pergi sebelum dia pulih,” ajakku.
Ketika kami berbalik, tiba-tiba saja si pencopet itu berdiri, lalu mengambil pisaunya dan menusuk punggungku. Jeremy hendak melawan, tetapi si pencopet dengan lincah menggoreskan pisaunya pada lengan Jeremy, lalu kabur dengan dompet Jeremy di genggamannya.
Aku merasakan darah yang mengalir deras dari punggungku. Rasa sakitnya mulai melumpuhkanku, membuat kakiku tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.  Jeremy dengan sigap menggendongku, lalu berlari – berlari dengan sangat kencang, hingga aku tidak dapat melihat kemana arah yang ia tuju. Pandanganku mulai kabur, dan kemudian semuanya gelap.
Aku membuka mataku perlahan. Pandanganku masih belum terlalu jelas, tetapi aku dapat melihat dinding-dinding yang putih.
“Jen, kamu udah sadar?” Sebuah suara familiar menggema di telingaku.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali hingga pandanganku mulai jelas.
“Masih sakit, Jen?” tanya suara itu lagi.
Aku mengernyit. “Dimana ini? Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Kita lagi di rumah sakit,” sahut Jeremy singkat. “Untung aku cepat membawa kamu ke sini, or you might lost a lot of blood.”
Aku mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Tanganmu kan, juga luka. Udah diobatin belum? Terus, dompetmu gimana?”
Jeremy tersenyum tipis. “Tenang aja, udah nggak apa-apa kok. Soal dompetku, biarin ajalah, yang penting kamu selamat.”
“Wah, gara-gara aku, dompetmu hilang, deh. Sorry,” ujarku penuh rasa bersalah.
Jeremy mengerutkan dahi. “Bukan salahmu, kok. Nggak perlu sampai segitunya, kali,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Aku tersenyum tipis. “Thanks, ya.”
Jeremy mengangkat bahu. “No worries, that’s what friends are for,”  sahutnya sambil tersenyuman tulus.

[Article] Enjoy Your School Time, You Don’t Have It Twice


Held by : ngerumpi.com
Status   : Didn’t win (modified) 


Dewasa ini, banyak siswa yang merasa malas untuk bersekolah. Mereka merasa bahwa sekolah adalah kewajiban yang membebani mereka. Mereka merasa sekolah itu tidak berguna. Apakah benar sekolah itu tidak berguna? Apa sebenarnya tujuan dari sekolah? Sekolah bertujuan untuk mendidik siswa-siswinya. Sekolah adalah tempat menimba ilmu. Sekolah memberi bekal hidup bagi siswa-siswinya. Saya rasa semua orang telah mengetahui hal-hal tersebut. Lalu mengapa masih ada yang merasa sekolah itu adalah beban? Hal itu disebabkan oleh cara pandang mereka yang negatif. Banyak siswa yang sering mengatakan mereka tidak berniat untuk bersekolah dan beberapa dari mereka menanyakan bagaimana caranya mendapat motivasi untuk sekolah.

(http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/be-cool-and-enjoy-school/)

Bagaimana jika dimulai dengan menukar kacamata negatif tersebut dengan kacamata positif? Ada banyak hal positif dari sekolah yang sering diabaikan oleh para siswa. Salah satunya adalah finding the ‘joy of learning’. Pernahkah Anda merasa tidak enak bila Anda tidak mengetahui apa-apa? Mengetahui banyak hal adalah hal yang menyenangkan. Sama halnya dengan belajar. Mempelajari hal baru setiap harinya adalah hal yang menyenangkan, bukankah begitu?  Cobalah mencari perasaan senang dalam belajar.

(http://joyoflearning.blogs.uoc.edu/)

Ada banyak pelajaran yang diajarkan oleh sekolah dan semua pelanjaran itu penting dan berguna. Jangan meremehkan satu pelajaran pun. Banyak siswa yang hanya menyukai beberapa pelajaran dan meremehkan pelajaran lain. Mereka menganggap pelajaran tersebut tidak akan digunakan di kehidupannya yang akan datang. Beberapa dari mereka telah menentukan cita-cita mereka dan pelajaran yang tidak berhubungan dengan cita-cita mereka itu mereka abaikan. Padahal, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Siapa yang tahu akan jadi apa kita nanti? Siapa tahu pelajaran yang diremehkan itu akan dibutuhkan di kemudian hari. Memiliki pengetahuan yang luas bukanlah hal yang merugikan. Jika Anda tahu lebih banyak dari orang lain, itu adalah hal lebih bagi Anda.

(http://intelligentmeasurement.net/2013/07/09/the-pr-agency-of-the-future-measurement-and-data/)

Hal positif lainnya adalah mendapat teman baru. Saat Anda baru lahir, Anda tidak memiliki siapa-siapa selain keluarga Anda. Setelah Anda mulai bersekolah, barulah Anda mengenal banyak teman, Anda belajar bersosialisasi dengan mereka. Berteman adalah hal yang menyenangkan juga. Anda dapat mengetahui pribadi orang yang berbeda-beda dan belajar banyak dari mereka. Anda juga mengenal apa itu “cinta”, “persahabatan”, dll. Banyak hal positif yang dapat dipetik dari pertemanan tersebut. Di sekolah, kita tidak hanya mendapat ilmu pengetahuan dan teman, kepribadian kita juga dibentuk di sekolah. Kita dapat membedakan hal yang baik dan yang tidak. Kita mendapat banyak pengalaman dan kenangan indah dan belajar dari situ. Kita diajarkan sopan santun, moral, dll.

(http://www.hsci2012.org/the-biggest-advances-in-education-2012/)

Yang terpenting dari sekolah bukan hanya ilmu yang kita dapat. Sekolah bukan tentang kepintaran dan nilai, karena hal itu tidak akan bertahan lama. Yang terpenting adalah pengalaman dan kenangan yang indah yang kita dapat di sekolah. Jangan sia-siakan masa sekolahmu. Banyak orang yang menyesal karena menyia-nyiakan masa sekolah mereka. Banyak orang yang ingin mengulang waktu dan kembali ke masa sekolah mereka. Maka dari itu, nikmatilah masa sekolahmu, karena hanya terjadi sekali dalam hidupmu, tak dapat diulang kembali.

[Short Story] Dunia Kelabu



“Hei, Jimmy! Udah berapa ratus kali gue bilang, jangan buang sampah sembarangan! Jangan mentang-mentang ada yang piket, lo seenaknya buang sampah sembarangan di sini. Pungut!” bentak Cherri, si seksi kebersihan yang sok bersih.
“Ah, bising! Terserah gue dong mau buang sampah dimana,” makiku.
Aku memang tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitarku. Bagiku, bumi ini memang sudah rusak dan tidak ada gunanya lagi untuk dipulihkan. Toh nantinya bumi ini akan kiamat, jadi untuk apa peduli.
Bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Aku berjalan kaki menuju rumah seperti biasa. Tiba-tiba, aku mendengar ada suara familiar yang meneriakkan namaku.
“Jimmy!”  teriak suara itu.
Dari kejauhan, terlihat sesosok gadis mungil yang sedang berlari ke arahku. Rambut hitamnya yang panjang dikuncir ekor kuda. Ia menggendong ransel kecil berwarna hijau dan melambai-lambaikan selembar kertas.
Ah, Cherri. Mau apa sih dia? Aku malas berurusan dengannya, jadi aku pun terus berjalan dan pura-pura tidak mendengarnya.
“Jimmy!” teriak Cherri sekali lagi dengan suara khasnya yang tinggi, sambil berusaha meraih pundakku.
Aku pun terpaksa berhenti dan menanggapinya. “Ada apa?” tanyaku sinis.
“Ini!” Ia menyodorkan selembar kertas padaku. “Itu brosur seminar. Gue rasa lo perlu ikut seminar itu,” ujarnya.
Aku pun melirik tulisan yang tertera pada secarik kertas itu. ‘Membasmi Musuh Dunia’.
“Tentang apa ini?” tanyaku.
“Ada deh, pokoknya datang aja. Tempat dan waktunya udah tertera di sana. See ya.” Ia pun beranjak pergi.
Aku memandangi selembar kertas itu. Ah, siapapun tahu aku tidak akan datang. Aku meremas brosur itu dan melemparnya ke sembarang tempat.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Pagi yang indah, udara yang segar, kicauan burung yang memecah keheningan pagi, langit yang biru, sang matahari pagi yang baru saja beranjak dari singgasananya, jejeran pohon yang rindang di sepanjang jalan, orang-orang yang berlalu lalang. Ah, suasana pagi yang selalu kunikmati. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Bunga-bunga indah menghiasi taman sekolah, warna-warninya memperindah suasana.
Aku berhenti di ambang pintu kelas, lalu melihat ke sekeliling. Kelasku terlihat seperti biasa – lantai dan papan tulis yang masih bersih, meja dan kursi yang tersusun rapi, pot-pot bunga yang berjejeran di depan kelas, segala perabot kelas yang terletak pada tempatnya dan terlihat mengkilap, suasana yang nyaman untuk belajar.
Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Aku menyiapkan buku-buku dan alat tulis yang dibutuhkan dan siap untuk memulai kegiatan belajar mengajar hari ini. Kegiatan belajar mengajar pun berjalan seperti biasa.
Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang, saatnya untuk pulang. Aku mengemas barang-barangku dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, aku melakukan hal-hal yang biasa lakukan, seperti makan, mandi, menyusun buku untuk esok hari, dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Tiba-tiba, bel pintu rumahku berbunyi. Aku segera membukakan pintu. Ternyata, yang datang adalah Cherri, mengenakan terusan berwarna ungu muda, dengan bando yang menghiasi rambutnya dan sepatu sutra yang membaluti kaki mungilnya.
“Loh, Cher? Ngapain lo ke sini?” tanyaku kebingungan. Tidak biasanya Cherri berpenampilan seperti ini. Biasanya ia tidak pernah memedulikan penampilannya.
“Lo lupa, ya? Hari ini jam 6 kan ada seminar yang kemarin gue kasih tau. Jadi pergi, kan? Ayo siap-siap, terus kita berangkat,” ujarnya bersemangat.
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-katanya. “Loh, loh, loh? Sejak kapan gue bilang gue mau ikut? Ogah ah, gue ada banyak kerjaan.” tolakku.
“Ah, ayolah. Kan jarang-jarang kita pergi bareng.” Ia pun menarik-narik bajuku dan menatapku dengan pandangan persuasif.
“Iya, iya, gue ikut. Gue siap-siap dulu. Lo masuk dan duduk aja dulu. Mau minum apa?” tanyaku basa-basi, berusaha sopan, tetapi sepertinya gagal.
“Nggak usahlah, habis lo siap-siap kita langsung berangkat,” jawabnya.
Aku pun masuk ke kamarku dan mengambil kemeja lengan pendek dan celana panjang terbagusku dan mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai bersiap-siap dan kami pun segera berangkat. Sesampainya di tempat tujuan, beberapa orang yang sudah sampai di sana menyambut kami – lebih tepatnya, menyambut Cherri. Rupanya seminar ini adalah acara gereja Cherri yang memang terbuka untuk semua orang. Cherri pun berbaur dengan beberapa kenalannya dan memperkenalkanku kepada mereka.
Gerejanya cukup besar dan nyaman, full AC, ada banyak kursi yang tersusun rapi, proyektor dan laptop yang siap digunakan untuk seminar, spanduk besar yang bertuliskan judul seminar tersebut, dan beberapa pernak-pernik berbau rohani yang menghiasi sekeliling gedung gereja.
Selang beberapa menit, seminar tersebut pun dimulai. Pembicaranya masih muda, pria yang berusia sekitar 20-25 tahun, tubuhnya tinggi dan tegap, rambutnya tersisir rapi, mengenakan jas hitam yang terlihat masih baru, senyumnya yang ramah dan suaranya yang lantang membuat para pendengar bersemangat untuk mendengarnya.
“Selamat sore, saudara-saudari yang saya hormati. Terima kasih atas kehadiran saudara sekalian. Seminar pada sore ini akan membahas tentang bagaimana cara kita membasmi musuh dunia. Kata ‘musuh dunia’ memiliki banyak makna. Tetapi, masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh dunia ini adalah polusi. Polusi ada banyak macam, contohnya polusi udara, tanah, air, dan sebagainya. Hampir semua hal di dunia ini telah terkontaminasi oleh polusi.
Pernahkah Anda bayangkan, apa yang akan terjadi 10 tahun lagi, bila kita sebagai penghuni dunia yang bertanggung jawab atas bumi ini, tidak peduli terhadap polusi dan membiarkannya begitu saja? Mungkin pohon-pohon yang rindang akan digantikan oleh tumpukan-tumpukan sampah yang berbau busuk. Atau mungkin udara segar yang kita hirup setiap pagi akan digantikan oleh bau asap yang menyesakkan dada. Kicauan burung akan digantikan oleh dengungan knalpot kendaraan-kendaraan bermotor. Langit yang biru akan berubah warna menjadi abu-abu karena diselimuti oleh gumpalan asap. Matahari tidak akan terlihat lagi, tidak akan ada hari cerah yang menyenangkan lagi. Pernahkah terbayangkan oleh Anda?
Mungkin terlintas di benak Anda bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila kita terus membiarkan polusi di bumi ini merajalela, tentu polusi itu akan membludak dan merusak bumi ini. Maka dari itu, kita harus menghentikannya.”
Ya, ya, ya. Semua orang juga sudah tahu itu, gerutuku dalam hati. Aku paling tidak suka membahas hal-hal seperti ini. Semua itu hanyalah omong kosong yang selalu menjadi motto banyak orang. Go Green, Save the Earth, bla bla bla. Aku sampai bosan mendengarnya. Kata-kata itu hanya sekadar keluar dari mulut, tetapi tidak benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar diterapkan pun, tidak akan memberi dampak yang besar, toh masih banyak orang lain yang terus mencemari bumi ini.
Jarum jam seakan-akan sudah sangat lelah untuk terus bergerak, sehingga waktu berlalu dengan sangat lambat. 2 jam yang membosankan itu pun akhirnya berakhir. Seminar tersebut ditutup dengan hidangan ramah tamah.
“Ayo dimakan, Jim, jangan malu-malu,” ujar Cherri.
Aku pun mencicipi beberapa jenis makanan, lalu pamit pulang. Sesampainya di rumah, jarum jam rumahku telah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Sungguh hari yang melelahkan. Aku pun berbaring dan segera terlelap.
Aku melihat cahaya putih yang sangat terang menyinari kamarku. Tidak seperti biasanya, matahari bersinar sangat terik hari ini. Sepertinya matahari telah bertumbuh dua kali lipat dari ukuran semula. Tiba-tiba aku teringat, sudah jam berapa sekarang? Mengapa hari sudah terang begini? Aku pun segera membuka mataku dan melirik jam. Oh, untunglah, ternyata baru pukul 6 pagi. Aku pun bergegas bangun, membereskan tempat tidur, menggosok gigi, mandi, mengenakan seragamku, sarapan, dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku mengenakan sepatu sekolahku dan beranjak pergi.
Begitu aku membuka pintu, pemandangan pertama yang tertangkap mataku membuatku terpana. Benda-benda di sekitarku tidak terlihat jelas, seperti diselimuti oleh kabut yang tebal. Yang terlihat hanyalah warna abu-abu dimana-mana. Aku menghirup nafas, dan yang terhirup bukanlah udara yang segar, tetapi asap yang menyengat paru-paruku dan bau busuk sampah. Aku pun berjalan perlahan, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Aku menyusuri jalan yang biasa kulalui, tetapi jalan itu tidak terlihat familiar, sehingga aku pun ragu. Namun, tidak ada jalan lain yang mengarah ke sekolahku, jadi aku yakin aku menyusuri jalan yang tepat. Tidak ada lagi pohon-pohon rindang di sepanjang jalan itu, melainkan tumpukan-tumpukan sampah yang menggunung di sepanjang jalan, sungguh bau dan menjijikkan. Selama 15 tahun aku tinggal di pemukiman ini, baru pertama kali aku melihat lingkungan ini begitu kotor. Ada apa gerangan?
Kicauan burung tidak lagi terdengar, yang kudengar hanyalah dengungan mesin mobil dan motor yang berlalu lalang. Biasanya jalan-jalan di sekitar rumahku sepi, tidak pernah sepadat ini. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Terlihat tanaman-tanaman yang layu di taman sekolah dan sampah yang bertebaran di sekelilingnya. Seperti habis hujan sampah aja, batinku.
Sesampainya di ambang pintu kelas, pemandangan tidak indah itu pun berlanjut. Kelasku yang biasanya bersih cemerlang, sekarang terlihat seperti gudang tua. Lantainya diselimuti oleh debu yang tebal, seperti tidak pernah dibersihkan selama 1 abad. Papan tulisnya pun berubah warna dari putih mengkilap menjadi kuning kecoklatan. Bunga-bunga di dalam pot-pot yang berjejeran di depan kelas layu, tidak terurus. Segala perabot di kelasku kotor dan penuh debu. Apa Cherri buta? Biasanya ia tidak akan pernah membiarkan satu titik debu pun mengotori kelas ini, tetapi mengapa ia membiarkan kelas kami menjadi sekotor ini?
Aku pun menghampiri teman-temanku dan menanyakan apa yang terjadi.
“Loh, nggak salah nih? Biasanya lo yang paling nggak peduli sama lingkungan, kok sekarang malah lo yang sibuk dan prihatin?” tanya Cherri dengan nada menyindir.
“Lo nggak baca berita? Polusi di bumi ini udah merajalela, nggak tertangani lagi. Ada terlalu banyak sampah, asap dan debu dimana-mana. Benar apa kata lo selama ini, emang nggak ada gunanya lagi mengatasi polusi di bumi ini. Bumi udah nggak terpulihkan. Semua orang angkat tangan mengenai hal ini,” ujar Sonia, si juara kelas.
Apa yang terjadi? Mengapa semua orang yang biasanya sangat peduli dengan lingkungan sekarang menjadi acuh tak acuh seperti ini? Apa telah terjadi ledakan bom dahsyat yang mengeluarkan asap yang menyelimuti bumi ini, dan meracuni pikiran-pikiran manusia sehingga mereka tidak peduli lagi terhadap habitatnya sendiri? Atau ada sebuah meteor yang sangat besar yang menghantam dunia ini sehingga terbalik seratus delapan puluh derajat? Aku terus berpikir keras mengenai apa yang menyebabkan semua hal buruk ini. Apa yang terlewatkan olehku?
Perjalanan pulang pergi yang selama ini selalu kunikmati, hari ini terasa sangat berbeda. Cahaya matahari semakin menyengat kulitku. Aku pun berlari menuju rumah – tidak seperti biasanya. Biasanya aku berjalan santai sambil menikmati lingkungan sekitarku yang indah. Tetapi tidak ada lagi yang dapat kunikmati, semuanya sirna begitu saja. Aku memang tidak peduli pada lingkunganku, tetapi itu bukan berarti aku tidak suka menikmati lingkunganku yang asri.
Sesampainya di rumah, aku segera menyalakan televisi dan komputerku bersamaan. Seraya aku mencari tahu apa yang terjadi melalui internet, aku juga menonton berita-berita yang ditayangkan televisi. Aku menggonta-ganti chanel di televisi dan hampir semua berita membahas hal yang sama. Informasi yang kudapat dari internet juga tidak jauh berbeda. ‘Pemerintah dan masyarakat angkat tangan dalam hal menangani polusi yang melanda bumi ini. Program Go Green gagal total.’
Tiba-tiba saja, polusi benar-benar merajalela dan menghancurkan bumi ini. Aku tidak mengerti, mengapa semuanya terjadi secara tiba-tiba seperti ini. Kemarin masih marak-maraknya program go green dan segala bentuk upaya untuk memberantas polusi, sedangkan hari ini, semuanya terhapus begitu saja tanpa alasan.
Hari aneh itu pun berlalu begitu saja. Aku tidak mendapat jawaban sedikit pun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh hari yang membingungkan dan melelahkan. Aku pun beristirahat. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan akan segera berakhir setelah aku memejamkan mata.
Pagi pun tiba dan aku segera membuka mataku dan melongok ke jendela. Pemandangan yang kulihat masih sama dengan pemandangan yang kemarin pagi kulihat. Semuanya masih diselimuti oleh kabut yang tebal. Tetapi hari ini jauh lebih sepi dibandingkan kemarin. Kapan mimpi buruk ini akan berakhir? Hal buruk apa lagi yang akan terjadi hari ini?
Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan lesu. Untungnya hari ini adalah hari Minggu. Aku tidak berniat untuk pergi kemana-mana. Kurasa aku akan menghabiskan hari ini di rumah. Aku pun menyalakan televisi.
“Berita aktual. Kabut asap yang dikeluarkan oleh industri-industri dan juga kendaraan bermotor telah menyelimuti sepertiga kota ini. Gas beracun yang terkandung dalam asap tersebut telah meracuni banyak orang sehingga beberapa diantaranya tewas karena tidak tahan oleh gas tersebut.” Reporter melaporkan berita di televisi.
Oh, tidak. Semua hal benar-benar bertambah buruk. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tahu mimpi buruk ini pasti dapat diakhiri. Aku pun berlari keluar. Sepanjang perjalanan, yang kulihat hanyalah asap, tumpukan sampah yang meninggi, beberapa orang yang lesu sedang berjalan, beberapa diantaranya terlihat hampir pingsan. Bumiku yang permai telah berubah menjadi dunia kelabu yang tak berujung.
Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Hatiku sakit bagaikan tertusuk panah saat melihat semua pemandangan indah yang selama ini kunikmati hancur dan sirna begitu saja. Selama ini aku salah total. Seharusnya aku mendengar semua perkataan orang-orang yang mengingatkanku betapa pentingnya rasa peduli pada bumi ini. Pola pikirku yang terlalu sempit telah membutakan mata tubuh dan mata hatiku. Andai aku dapat memutar kembali waktu, jelas aku tidak akan bertingkah seperti dulu. Aku akan mendukung segala jenis upaya untuk memulihkan bumi ini. Memang bumi ini akhirnya akan kiamat, tetapi bukan berarti kita tidak perlu merawatnya. Aku tidak ingin bumi ini kiamat dengan keadaan seperti ini
Perasaan menyesal memenuhi pikiranku dan air mata pun menggenang di pelupuk mataku. Aku segera menghapus air mata itu. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Mengapa rasa menyesal selalu datang terlambat? Rasa bersalah menggerakkanku untuk terus berlari dan memacu otakku untuk terus berpikir. Aku berlari tanpa tujuan. Amarah, rasa bersalah dan menyesal, semua bercampur aduk di hatiku. Semua ini menguncangku dengan sangat dahsyat, dan membuatku ingin meneriakkan seluruh isi hatiku.
Dari kejauhan aku melihat sekerumunan orang di pinggir jalan. Aku pun berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata sedang dilakukan pengambilan gambar untuk berita di televisi. Seorang reporter paruh baya yang berpakaian rapi, berdiri di tengah-tengah kerumunan tersebut, menghadap kamera sambil memegang mike, sedang melaporkan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hanya berita buruklah yang keluar dari mulut reporter tersebut. Dan para manusia yang mengelilinginya tidak melakukan apapun, hanya berdiri mematung dan mendengar kabar buruk tersebut. Kurasa semua orang tahu apa yang sedang dan akan terjadi, tetapi mengapa mereka hanya duduk diam tanpa berbuat apa-apa? Tiba-tiba, sekelebat ide muncul di benakku. Aku pun segera berlari menuju kerumunan tersebut dan merampasmike dari tangan si reporter.
“Perhatian semua, saya Jimmy dari SMA Jalan Mas. Maaf bila saya menyela berita hari ini, tetapi saya rasa hal ini jauh lebih penting untuk didengar oleh Anda semua. Dulu saya tidak pernah peduli pada bumi ini. Saya pikir, bumi ini telah rusak dan tidak dapat dipulihkan lagi. Saya menganggap bahwa dunia ini akan kiamat juga pada akhirnya, jadi tidak ada gunanya memulihkan bumi ini. Tetapi saya salah total. Sekarang setelah semua hal buruk ini terjadi, barulah saya sadar betapa pentingnya memelihara bumi ini. Saya salah karena telah menganggap remeh bumi ini. Bumi adalah pemberian dari Tuhan sebagai habitat kita yang seharusnya kita lindungi dan pelihara.
Memang sekarang sepertinya sudah terlambat untuk mengubah mimpi buruk ini, tetapi kita tidak bisa hanya duduk diam dan menuggu kiamat tiba. Kita diciptakan Tuhan dengan akal sehat dan hati, maka gunakanlah. Mungkin kelihatannya sudah tidak ada jalan lagi, tapi saya percaya pasti akan terpikir jalan keluar yang tepat. Kita hanya perlu bersatu dan memikirkannya bersama-sama.”
Semua orang terpaku dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya, seorang ibu yang terlihat lesu, memberi tanggapan. “Percuma saja, semua itu sia-sia. Apa yang dapat kita lakukan? Semuanya telah hancur lebur seperti ini. Lebih baik kita menunggu ajal datang menjemput daripada memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin.”
Semua orang mulai mengangguk-angguk dan membenarkan perkataan ibu itu. Beberapa orang berbisik-bisik, dan kerumunan itu mulai bubar, meninggalkanku sendiri, berdiri terpaku. Aku tidak percaya betapa tidak pedulinya mereka pada habitat mereka sendiri. Mengapa saat dunia masih baik-baik saja, mereka dengan tidak jenuh-jenuhnya menyorak-nyorakkan motto-motto untuk memulihkan bumi ini, tetapi saat bumi sudah menjadi seperti ini, mereka malah tidak peduli? Rasa geram pun menggetarkan seluruh tubuhku.
“Argh!” Aku berteriak sekuat tenaga sampai akhirnya aku merasa kehabisan oksigen dan semuanya terlihat kabur dan menjadi  gelap gulita.
Aku perlahan-lahan membuka mataku. Aneh, tiba-tiba saja aku sudah terbaring di tempat tidurku dan agak sulit bagiku untuk mengingat apa yang terjadi kemarin. Aku beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika aku membuka pintu, pemandangan pertama yang kulihat mengagetkanku. Aku melihat ada sesuatu yang menjulang tinggi seperti gunung di depan rumahku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ada beberapa benda yang bulat dan berambut yang menghiasi benda itu, terlihat seperti batok kelapa. Tetapi ada yang berambut panjang, dan semakin dilihat semakin menyerupai kepala manusia. Aku pun berjalan mendekati benda itu dengan sikap waspada. Benda itu mulai terlihat jelas. Aku melihat benda yang menyerupai tangan dan kaki manusia menghiasi benda itu. Dan akhirnya aku menyadari bahwa benda yang menjulang tinggi itu adalah tumpukan manusia, atau lebih tepatnya tumpukan MAYAT.
Tiba-tiba aku membuka mataku dan sekujur tubuhku berkeringat. Aku sudah kembali ke kamarku. Mungkinkah semua hal buruk itu hanyalah mimpi? Dan hal buruk mana yang merupakan mimpi, tumpukan mayat mengerikan itu atau seluruh hal buruk yang terjadi? Aku segera beranjak menuju pintu dan membukanya. Ternyata pemandangan yang kulihat adalah pemandangan yang sama seperti yang biasa kulihat sebelumnya. Tumpukan-tumpukan sampah di sepanjang jalan telah sirna digantikan oleh pohon-pohon rindang yang memang tidak berpindah kemana-mana, tetap berdiri kokoh menghiasi sepanjang jalan setapak itu. Semua kabut dan asap telah tersapu bersih oleh udara segar yang menyejukkan. Matahari bersinar cerah, menerangi langit biru yang dihiasi awan-awan yang putih seperti kapas, sungguh pemandangan yang sangat kurindukan. Burung-burung berkicauan menyambut hari indah yang kurindukan ini.
Phew, semua hal buruk itu hanyalah mimpi. Semuanya telah kembali seperti semula. Mimpi buruk semalam merupakan mimpi terburuk yang pernah kualami. Tetapi aku bersyukur karena mimpi itu telah menyadarkanku betapa pentingnya memelihara bumi ini.
“AKU BERJANJI AKU TIDAK AKAN MEREMEHKANMU LAGI, BUMIKU TERCINTA! MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMELIHARAMU DENGAN BAIK!” teriakku, meluapkan seluruh rasa legaku. Dan aku takkan membiarkanmu berubah menjadi dunia kelabu itu lagi, tambahku dalam hati.

[Short Story] Paper Plane



Ah, sore yang indah. Matahari hendak kembali ke singgasananya. Langit yang berwarna oranye tua menghiasi suasana sore itu. Pemandangan sunset memang sangat indah. Jeremy sedang mendayuh sepedanya mengelilingi perumahan tempat ia tinggal.
Tiba-tiba, sesuatu menabrak kepalanya dengan pelan, lalu jatuh ke tanah. Jeremy sontak berhenti lalu mengangkat benda berwarna putih itu. Ternyata benda itu adalah sebuah pesawat kertas. Ia membuka pesawat kertas itu dan menemukan sebuah pesan di dalamnya.
Dear God,
Where are You? Aku sudah tidak tahan lagi. Kapan Engkau akan menjemputku? I’m waiting for You, God. Tidak ingatkah Engkau? Parasit mematikan ini telah menyiksaku sejak lahir. Sudah 16 tahun berlalu, mengapa Engkau belum juga datang menjemputku? I’ll wait for You, God. Come as soon as possible.

Wow, dari siapa ini?’ pikir Jeremy sambil mencari-cari orang yang menerbangkan pesawat kertas itu.
Ia melihat ke sekelilingnya, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. Ia pun menyimpan surat itu, lalu melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya, ia melewati sebuah rumah yang cukup besar. Ia melihat sebuah tangga yang tersandar pada dinding rumah itu. Tangga itu berujung pada atap rumah tersebut. Sesosok gadis sedang duduk merenung di atas sana.
Tiba-tiba, Jeremy teringat pada pesawat kertas yang ia temukan tadi. Pagar rumah itu terbuka, Jeremy pun menyelinap masuk dan menaiki tangga menuju atap rumah tersebut. Ia berjalan mendekati gadis itu dengan hati-hati.
“Permisi, maaf bila saya tidak sopan memasuki rumah Anda tanpa izin, tetapi saya menemukan pesawat kertas ini saat saya sedang mendayuh sepeda, apakah ini milik Anda?” Jeremy berusaha berbicara sesopan dan selembut mungkin.
Si gadis terkejut, lalu menoleh ke belakang dan melihat selembar kertas yang dipegang Jeremy. “Oh, ya, itu punyaku. Maaf.” ujarnya sambil mengambil selembar kertas itu dari tangan Jeremy.
Jeremy hendak meninggalkan tempat itu, tetapi sesuatu menghentikannya. Isi surat tadi membuatnya penasaran. “Apakah Anda keberatan jika saya ikut duduk di sini?” tanya Jeremy.
“Tentu tidak.” jawabnya singkat.
Jeremy pun duduk tidak jauh dari si gadis. “Boleh saya tahu nama Anda?” Jeremy memulai pembicaraan.
“Aku Shinta. Tidak perlu pakai ‘saya’ dan ‘Anda’. Terlalu formal. Pakai ‘aku’ dan ‘kamu’ saja.” ujarnya.
“Oh, oke. Perkenalkan, namaku Jeremy.” Jeremy mengulurkan tangannya dan Shinta menyalaminya. Tangan gadis itu terasa dingin.
“Kalau boleh tahu, apa alasanmu berada di sini?” tanya Shinta.
“Well, aku sudah membaca isi surat itu, maaf bila itu tidak sopan, tetapi, aku sedikit penasaran dengan isinya. Bolehkah aku menanyakan sesuatu tentangnya?” tanya Jeremy ragu-ragu.
“Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan. Apa itu tentang penyakitku? Aku mengidap penyakit anemia sel sabit, itu adalah penyakit turunan.” Shinta menceritakannya tanpa ditanya.
Anemia sel sabit adalah kondisi serius di mana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit. Sel darah merah normal berbentuk lingkaran, pipih di bagian tengahnya, sehingga memungkinkan mereka melewati pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh bagian tubuh. Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah, terutama di bagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh. Sel sabit ini umurnya tidak panjang, sehingga menyebabkan jumlah sel darah merah sedikit.
“Penyakit itu menyiksaku sejak kecil. Itu membuatku harus bersekolah di rumah. Seumur hidupku kuhabiskan di dalam rumah. Aku ingin bebas seperti anak-anak lain, tetapi aku tidak bisa.” Shinta melanjutkan ceritanya.
Jeremy tertegun beberapa saat, lalu bertanya. “Lalu mengapa kamu ada di sini? Tidakkah berbahaya?”
“Inilah satu-satunya tempat di rumahku yang nyaman bagiku untuk menyendiri.” jawabnya.
“Apa mereka tidak mencarimu?” tanya Jeremy lagi.
“Siapa? Orangtuaku sibuk bekerja, aku anak tunggal, dan suster yang biasa merawatku sedang sibuk mengurus urusan rumah tangga. Ia bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang berada di sini.”
“Apakah penyakit itu bisa disembuhkan?” tanya Jeremy dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik, tetapi Shinta mendengarnya.
“Kata dokter yang menanganiku, belum ada obat untuk penyakit ini.” jawab Shinta dengan raut muka putus asa.
Jeremy memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia terlihat sangat kurus, rapuh, lemah, dan kulitnya pucat. Tetapi di balik semua itu, ia tetap terlihat cantik. Rambutnya yang hitam legam dan panjang menghiasi wajahnya, kulitnya yang putih bersih, dan juga matanya yang besar.
Sebercak rasa iba memenuhi batinnya. Gadis itu cantik dan kelihatannya baik, tetapi ia harus melalui hari-hari sengsaranya sendirian. Tiba-tiba sesuatu menggerakkan hatinya.
“Jangan bersedih, Shin. Aku tahu penyakit itu menyiksamu dari kecil, tetapi itu bukan berarti kamu tidak bisa menikmati hidupmu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jeremy.
Shinta terdiam sejenak, lalu menatap Jeremy dengan mata hitam kecoklatannya. “Bagaimana caranya?” tanyanya.
Well, kita bisa mulai dari hal-hal yang belum pernah kamu lakukan. Kamu bilang kamu menghabiskan masa kecilmu di rumah, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi? Kita bisa bikin jadwal berisi tempat-tempat yang akan kita kunjungi.” Jeremy memberi ide.
“Kedengarannya menyenangkan. Kamu yakin kamu mau nemenin aku?” tanyanya pelan.
Why not? It’ll be fun.” jawab Jeremy tanpa pikir panjang.
Mereka berdua pun menghabiskan sore itu sambil menyusun jadwal perjalanan mereka.
Keesokan harinya, Jeremy menjemput Shinta di rumahnya. Jeremy berhasil mendapat izin dari susternya untuk membawa Shinta berjalan-jalan seharian. Mereka pun memulai perjalanan mereka.
First day’s destination: Viva’s Zoo, Viva’s Sea World, and Viva’s Theatre. Tidak jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta, terdapat beberapa tempat wisata yang cukup terkenal. Pertama-tama, mereka mengunjungi Viva’s Zoo. Kebun binatang ini cukup besar, terdapat sekitar 30 jenis binatang dari seluruh dunia di dalamnya.
Kebun binatang itu tidak begitu ramai pada hari itu, sehingga lebih leluasa bagi mereka untuk menikmati perjalanan mereka. Sesampainya di sana, mereka berkeliling sambil melihat-lihat binatang-binatang yang ada di sana. Shinta sangat bersemangat, ia tidak berhenti mengagumi setiap hewan yang mereka lihat.  Mereka menghabiskan sekitar satu jam di sana, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Viva’s Sea World terletak tepat di sebelah Viva’s Zoo, jadi mereka cukup berjalan kaki menuju tempat itu. Viva’s Sea World tidak kalah  besar dari Viva’s Zoo. Ada beraneka ragam binatang laut di dalam sana. Shinta tidak bisa berhenti mengambil foto sepanjang perjalanan mereka. Melihat Shinta begitu bersemangat, Jeremy pun ikut merasa bersemangat. Ia merasa seperti sedang berjalan-jalan dengan adiknya sendiri.
Setelah berkeliling selama kurang lebih 45 menit, mereka mulai merasa lapar. Mereka pun mengunjungi rumah makan yang tidak jauh dari sana. Mereka memesan makanan seadanya lalu menyantapnya.
“Bagaimana? Asik nggak perjalanan hari ini?” tanya Jeremy sambil menyantap makanan yang dipesannya.
“Asik banget. Hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupku. Thanks, ya.” jawab Shinta dengan semangat. Jeremy hanya membalasnya dengan senyuman.
Setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Untungnya, jarak antar tempat wisata yang akan mereka tuju tidak berjauhan, jadi mereka cukup berjalan kaki saja. Tujuan mereka selanjutnya adalah Viva’s Theatre.
Theatre itu cukup ramai hari itu, karena theatre itu akan menayangkan film yang cukup terkenal, yaitu Titanic. Filmtragic-romantic yang sudah cukup lama, tetapi kembali terkenal karena tayangannya dalam bentuk third-dimension(3D), dimana ketika menonton, penonton harus menggunakan kacamata khusus yang akan mendukung efek tambahan pada film itu yang membuat penonton merasa mereka tidak hanya menonton, tetapi juga ikut masuk ke dalam film itu.
Jeremy sudah pernah menonton film itu sebelumnya, tetapi bukan dalam bentuk 3D. Film itu adalah film 3D pertama bagi Shinta, itu membuatnya sangat bersemangat. Petugas di theatre memberikan setiap penonton sebuah kacamata yang terlihat seperti kacamata hitam. Penonton pun duduk pada tempat mereka masing-masing dan mengenakan kacamata mereka. Film itu pun dimulai.
Film dalam bentuk 2D dan 3D tidak berbeda jauh, hanya saja pada film 3D, semua hal di dalam film tersebut terlihat lebih nyata. Hal itu membuatnya lebih menarik dan seru. Film berdurasi 3 jam itu pun selesai, para penonton mengembalikan kacamata khusus itu kepada petugas dan beranjak keluar.
“Bagaimana filmnya? Bagus?” tanya Jeremy, seakan-akan ia tidak ikut menonton film tersebut.
“Bagus banget. Sedih, ya.” jawab Shinta sambil menyeka air matanya. Film tragedi itu membuatnya menangis.
“Kok kamu gak nangis? Emangnya menurutmu itu gak sedih ya?” tanya Shinta tiba-tiba.
“Cowok gak boleh nangis.” jawab Jeremy diikuti tawa renyahnya.
“Mana ada peraturan kayak gitu.” balas Shinta jutek.
Perjalanan mereka hari itu pun berakhir, Jeremy mengantarkan Shinta ke rumahnya, lalu pulang ke rumahnya sendiri.
Second day’s destination: Fantasy Land. Tempat tersebut juga tidak terlalu jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta. Mereka berangkat ke sana dengan menggunakan taksi, seperti hari sebelumnya. Setelah 20 menit perjalanan, mereka pun sampai di Fantasy Land. Shinta terlihat lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Dengan senyuman di wajahnya dan semangatnya yang menggebu-gebu, ia tidak terlihat seperti orang yang mengidap penyakit sama sekali. Ia terlihat segar bugar, sehat wal’afiat.
Mereka memasuki Fantasy Land dan mencoba setiap permainan yang ada di dalamnya. Mereka menghabiskan sepanjang hari itu dengan bermain-main di sana. Shinta tidak dapat menghapus senyuman di wajahnya, ia terus tersenyum dan tertawa sepanjang hari itu. Jeremy merasakan kebahagiaan yang berbeda ketika ia sedang bersama Shinta. Membahagiakan orang lain memang hal yang menyenangkan. Hari itu pun berlalu dengan cepat, mereka berdua terlihat sangat lelah tetapi bahagia. Keduanya pun pulang ke rumah masing-masing.
Third day’s destination: Marina Beach and Central Park. Hari itu mereka berangkat pagi-pagi sekali.
“Kok kita berangkat pagi banget hari ini? Biasa kan kita berangkat jam 8, hari ini kita berangkat jam setengah 6.” keluh Shinta.
“Karena tempatnya jauh. Dan pemandangan pantai dan taman paling bagus pas sunrise and sunset. Jadi kita ke pantai pas sunrise and ke taman pas sunset.” Jeremy menjelaskan.
Tepat pukul 6.00 WIB, mereka sampai di tempat tujuan. “Wah, benar katamu. Indah banget pemandangannya.” ujar Shinta terkagum-kagum.
Mereka berjalan di sepanjang pesisir pantai sambil menikmati indahnya pemandangan di sana. Lalu Shinta mengambil sebuah ranting pohon yang tergeletak di tepi pantai, lalu menuliskan sesuatu di atas pasir. ‘Shinta & Jeremy were here’. Jeremy tersenyum melihatnya.
Setelah puas menikmati pemandangan pantai, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Central Park. Central Park adalah taman yang luas dan sangat indah. Banyak orang yang mengadakan piknik keluarga di sana.
“Kamu pernah piknik di taman seperti ini?” tanya Jeremy sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Shinta menggeleng pelan.
Well, ayo berpiknik.” ajak Jeremy sambil menarik tangan Shinta.
“Loh, bukannya perlu persiapan, ya? Kita kan gak ada bawa peralatan piknik?” tanya Shinta kebingungan.
“Siapa bilang?” Jeremy menarik Shinta ke atas bukit di dekat taman itu.
Mereka berhenti di bawah pohon yang rindang, di sana telah disiapkan peralatan piknik. Sebuah tikar tebentang luas dengan keranjang yang berisi makanan di atasnya.
Wow, kamu yang menyiapkan semua ini? How?” tanya Shinta.
“Di sini ada layanan buat menyiapkan peralatan piknik.” jawab Jeremy. Mereka pun duduk di atas tikar dan menikmati makanan yang telah disediakan.
Dari atas sana, pemandangan sunset yang indah itu terlihat lebih jelas. Jeremy sedang menikmati pemandangan di sekitarnya, lalu pandangannya terhenti pada sebuah stand gulali.
By the way, kamu pernah makan gulali?” tanya Jeremy tiba-tiba.
“Belum. Apa itu?” tanya Shinta polos.
“Aku beliin deh, tuh ada standnya di sana. Tunggu bentar, ya.” Jeremy beranjak dari tempat duduknya menuju standgulali tersebut.
Shinta mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya dan memejamkan mata. Jeremy pun membeli dua batang gulali lalu kembali ke tempat Shinta berada. Sesampainya di sana, ia melihat Shinta sedang bersandar pada sebuah pohon, ia memejamkan mata dengan senyuman di wajahnya.
‘Apa dia sedang tidur?’ pikir Jeremy.
Ia pun duduk di sebelah Shinta, lalu menemukan sebuah pesawat kertas yang terletak di atas tangan Shinta. Dengan ragu, Jeremy mengambil pesawat kertas itu lalu membukanya. Isinya adalah sebuah pesan.
Dear Jeremy,
Mungkin ini adalah surat kedua yang kamu terima dariku dalam bentuk pesawat kertas, tetapi kali ini, surat ini untukmu. Tepat sebulan sebelum kita bertemu, dokter yang merawatku mengatakan bahwa hidupku sudah tidak lama lagi, sekitar satu bulan dari hari itu. Jadi pada hari dimana kita bertemu, saat aku sedang duduk di atas atap rumahku, aku sedang menanti ajalku. Tetapi, ajalku tidak kunjung tiba. Maka, aku memutuskan untuk menulis surat pada Tuhan, saat itu aku sudah tidak tahan lagi, jika Tuhan tidak segera mengakhirinya, aku akan mengakhirinya sendiri.
Aku sudah hampir melompat dari atap rumahku, ketika kamu menghentikanku dan mengembalikan surat itu. Aku pikir itu adalah tanda bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan permintaanku. Rupanya aku salah. Tuhan memang tidak langsung membuat penyakitku sirna, tetapi ia mengirimmu padaku untuk membantuku menikmati sisa-sisa hidupku. 3 hari Ia tambahkan untukku, itu cukup bagiku, walau aku berharap aku dapat memperpanjangnya.
Selama 16 tahun aku hidup, hanya 3 hari itulah yang paling berkesan di hatiku. Bersamamu, penyakit itu terasa sirna walaupun ia masih ada. Thanks for everything, Jer. I’ll always remember you. The time that we spent together was priceless. I wish I could get it back to you, but I coudn’t. I could only wish you luck and love. Setelah ini, tetap jalani dan nikmati hidupmu, ya.

                                                                                                            Love,
         Shinta
Jeremy terpaku dan menjatuhkan surat itu. Ia memandang Shinta selama beberapa saat, lalu mengecek nafas dan detak jantungnya.
Oh no, you can’t leave me now, Shinta!’ seru Jeremy dalam hati, lalu memeluk Shinta dengan erat. Air mata mengalir deras di pipinya.
Jeremy tidak menyangka bahwa waktunya bersama Shinta akan berlalu begitu cepat dan sangat singkat. Jika ia mengetahuinya dari awal, ia akan membuat hari-hari terakhir itu lebih spesial. Setidaknya ia dapat mengucapkan selamat tinggal secara langsung, bukan melalui paper plane.


[Short Story] Message of Regret



“Pagi, girls,” sapa Chelsea pada teman-temannya.
“Pagi, Chels,” balas mereka.
Chelsea pun meletakkan tas ranselnya ke tempat duduknya dan ikut berkumpul dengan teman-temannya yang sedang bergosip ria.
Aaron  memerhatikannya sambil merenung. ‘Ia sudah berubah,’ pikirnya.
Sepulang sekolah, Chelsea dan teman-temannya berjalan menuju gerbang sekolah bersama-sama. Beberapa temannya pamit pulang karena mereka sudah dijemput. Akhirnya sisa Chelsea sendiri yang belum dijemput.
‘Tumben dia belum dijemput,’ komentar Aaron dalam hati.
Sedaritadi ia memerhatikan Chelsea dari kejauhan. Ia ingin menawarkan bantuan, tetapi ia yakin Chelsea tidak membutuhkannya. Maka, ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sudah selang satu jam dari jam pulang Chelsea, tetapi ia masih belum juga dijemput. ‘Mama kemana sih?’ gerutu Chelsea dalam hati.
Ia melihat sekelilingnya, karena tidak ada tanda-tanda bahwa mamanya akan datang menjemputnya, ia pun memutuskan untuk berjalan pulang. Untung rumah Chelsea tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya 10 menit berjalan kaki.
Dari kejauhan, ia melihat ada beberapa orang yang berkerumunan di depan rumahnya. Ia juga melihat beberapa mobil polisi yang mengelilingi rumahnya.
‘Ada apa ini?’ batinnya.
Mama dan papa Chelsea sedang membawa beberapa koper keluar dari rumah mereka dan beberapa polisi sedang menempelkan kertas panjang berwarna kuning ke sekeliling rumah Chelsea. Chelsea pun segera berlari menuju rumahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Chelsea begitu ia sampai di depan rumahnya.
“Nanti baru Mama jelasin ya, Sayang. Sekarang ayo ikut Papa Mama pergi dari sini,” ajak mamanya.
Chelsea pun menuruti mamanya. Mereka berjalan menjauh dari rumah mereka sambil membawa beberapa koper. Papa Chelsea memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah Chelsea agar mulai besok Chelsea dapat berjalan kaki menuju sekolah.
“Perusahaan Papa mulai bangkrut, jadi Papa minjem 3 milyar ke bank. Papa kira keadaan akan membaik, tapi malah sebaliknya, perusahaan Papa malah makin bangkrut, jadinya nggak sanggup bayar utang itu. Jadi bank nyita rumah dan mobil kita. Maafin Papa, ya.”
Chelsea terdiam sejenak setelah mendengarkan penjelasan papanya. Jelas ia tidak mungkin menyalahkan papanya atas kejadian ini. Tetapi ia sangat terpukul karena ia telah kehilangan segalanya.
Keesokan harinya, Chelsea masuk ke sekolah seperti biasa – tidak sepenuhnya, mulai hari ini ia berjalan kaki menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, ia berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Ia melihat beberapa orang berkumpul di ujung-ujung lorong dan berbisik-bisik sambil memandangnya.
‘Ada apa lagi sekarang?’ gerutu Chelsea dalam hati.
Ia memasuki ruang kelasnya dan menghampiri teman-temannya. Aneh, begitu Chelsea menghampiri mereka, pembicaraan mereka berhenti dan mereka bubar begitu saja. Chelsea merasa bingung dan sedih. Ia pun memutuskan untuk duduk diam di kursinya.
“Eh, kalian udah denger berita belum? Katanya, perusahaan papa Chelsea bangkrut, papanya nggak bisa bayar utang ke bank, jadi rumah dan mobilnya disita,” bisik sebuah suara di belakang Chelsea.
Chelsea mendengarnya, tetapi tidak menghiraukannya. ‘Cepat sekali berita menyebar. Semua orang sepertinya bakal ngejauhin gue mulai sekarang, bahkan teman-teman dekat gue sekalipun. Ternyata selama ini mereka cuma berteman sama gue karna gue kaya,’ batin Chelsea.
Ia tidak menyangka semua hal buruk itu terjadi dalam sekejap. Ia kehilangan segalanya – rumah, mobil dan teman-temannya. Untung keluarganya masih ada bersamanya.
‘Mulai hari ini, semua akan terasa berbeda,’ pikir Chelsea.
Aaron juga mendengar berita tersebut, tetapi itu tidak akan mengubah apapun. Ia merasa prihatin pada Chelsea dan keluarganya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Esok paginya, Aaron sampai di sekolah agak terlambat. Kelasnya telah ramai dipenuhi para siswa. Ia pun meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Wali kelas Aaron memasuki kelas dengan raut wajah yang sedih.
“Selamat pagi, anak-anak. Silahkan duduk di tempat kalian masing-masing. Ibu ingin menyampaikan berita dukacita.”
Semua siswa pun duduk di tempat mereka masing-masing dengan wajah heran. Semua tempat duduk terisi, kecuali tempat duduk Chelsea.
‘Kemana dia?’ pikir Aaron.
“Ayah dari salah satu teman kita, Chelsea, telah dipanggil Tuhan kemarin malam. Sebagai rasa amal dari kita, mari kita menyisihkan sedikit dari uang jajan kita untuk disumbangkan kepadanya.”
Semua siswa terdiam sejenak, kemudian merogoh saku mereka. Aaron tidak menyangka kejadian buruk berturut-turut akan menimpa keluarga Chelsea. Ia pun mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya dan memasukkannya ke kotak sumbangan tersebut.
Chelsea kembali masuk ke sekolah setelah tidak masuk selama satu minggu. Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak diikutinya, maka ia pun berniat untuk meminjam catatan temannya. Tetapi, semua temannya sepertinya enggan untuk meminjamkan catatan mereka padanya. Ia pun mengurungkan niatnya itu.
‘Mengapa semua orang menjadi begitu jahat?’ tanyanya dalam hati.
Seusai istirahat pertama, Chelsea beranjak dari kantin menuju kelasnya. Ia berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Dari kejauhan, ia melihat setumpuk kertas yang terletak di atas mejanya. Ia pun mengangkat tumpukan kertas itu dan melihatnya. Itu adalah hasil fotocopy dari semua catatan yang tidak ia ikuti.
‘Dari siapa ini?’ pikir Chelsea.
Ia melihat ke sekelilingnya lalu menyimpan setumpuk kertas itu.
Bel pulang pun berdering, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Chelsea mengemas semua barang-barangnya dan bergegas pulang. Sesampainya di depan gerbang sekolah, ia baru menyadari bahwa hujan sedang turun dengan derasnya.
‘Kalau ujan begini, gimana gue mau pulang?’ batinnya dengan kecewa.
Ia pun terpaksa berteduh di depan gerbang sekolah sambil menunggu hujan berhenti.
Aaron sedang berjalan menuju gerbang sekolah ketika ia melihat hujan sedang turun dengan derasnya.
‘Untung gue bawa payung.’ batinnya.
Ia melihat Chelsea sedang berteduh di depan gerbang sekolah. Ia hendak membantunya, tetapi ia tidak berani. Ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
Chelsea mendengar suara jejak kaki di belakangnya, tetapi saat ia melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Lalu pandangannya terpaku pada sebuah payung yang bersandar di dinding di sebelahnya dengan secarik kertas yang tertempel di atasnya, bertuliskan ‘Pakai saja payung ini dan pulanglah, mamamu pasti khawatir.
‘Dari siapa ini?’ batin Chelsea kebingungan.
Ia pun membuka payung itu dan berjalan pulang.
Esok paginya, Chelsea membuka matanya perlahan. Ia pun melirik jam, pukul 06.30 WIB.
‘Haiya! Gue telat bangun!’
Ia pun tergesa-gesa mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun pamit pada mamanya dan berlari menuju sekolah.
‘Aduh, kok bisa telat bangun sih?’ gerutu Chelsea sambil berlari sekuat tenaga.
Karena terlalu tergesa-gesa, ia tidak melihat ada batu kerikil yang menghalangi jalannya. Ia pun tersandung dan terjatuh. Kakinya terluka dan berdarah.
“Duh!” Chelsea meringis. ‘Tidak ada waktu untuk mengobatinya.’ batin Chelsea sambil melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.
“Akhirnya sampai juga.” ujar Chelsea ketika ia sampai di depan gerbang sekolahnya.
Ia berjalan perlahan menuju kelasnya sambil menahan sakit. Ia pun duduk di kursinya dan hendak meletakkan beberapa bukunya ke dalam laci mejanya. Ketika ia ingin meletakkan bukunya, ia menemukan sebotol betadine, selembarhansaplast dan secarik kertas yang bertuliskan ‘Cuci bersih lukamu biar gak infeksi, keringkan, lalu pakai betadine dan hansaplastnya.’
‘Aneh, udah berapa kali gue dapat bantuan dari orang misterius ini?’ batin Chelsea.
Ia pun segera mengikuti perkataan yang tertulis di secarik kertas itu.
“Eh, besok Valentine’s Day loh. Lo mau kasih coklat ke sapa?” tanya sebuah suara di belakang Chelsea pada seorang temannya.
“Nggak tau juga, ya. Belum ada rencana.” jawab temannya itu.
‘Ah, masih jaman ya Valentine’s Day?’ batin Chelsea sambil melirik jam.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB.
‘Sudah waktunya untuk pulang.’ pikir Chelsea sambil mengemas barang-barang sekolahnya.
Valentine’s Day pun tiba. Biasanya Chelsea selalu menanti-nantikan hari itu. Tetapi tidak untuk sekarang. Ia tidak mengharapkan satu coklatpun hari ini. Ia yakin tidak akan ada yang memberinya coklat ataupun bunga. Ia berjalan memasuki kelasnya. Seperti biasa, ia langsung duduk di kursinya dan mengeluarkan beberapa buku yang akan ia gunakan dan meletakkannya ke dalam laci mejanya.
Kegiatan belajar mengajar hari itu terasa membosankan. Chelsea memerhatikan seluruh isi kelasnya. Ada beberapa temannya yang sedang memerhatikan penjelasan guru di depan dan ada juga yang sedang asyik mengobrol sendiri. Pandangannya terhenti pada sebuah kursi kosong.
‘Bukannya itu kursi Aaron? Kemana dia?’ batin Chelsea.
Tak terasa, bel pulang pun berdering. Chelsea mengemas barang-barangnya. Ketika ia mengeluarkan buku-buku dari laci mejanya, ia menemukan sekotak coklat. Ia penasaran dari siapa coklat tersebut. Sang pengirim tidak mencantumkan namanya. Chelsea merasa heran. Belakangan ini, ia sering menerima bantuan ataupun barang dari seseorang yang misterius.
‘Siapakah dia?’ pikir Chelsea. Ia pun menyimpan coklat tersebut dan bergegas pulang.
Sepulang sekolah, Chelsea membereskan isi tasnya dan menemukan sekotak coklat yang ia temukan di dalam laci mejanya tadi. Ia pun membuka kotak tersebut. Seperti yang diharapkan, kotak tersebut berisi coklat dan juga sebuah amplop putih yang bertuliskan ‘Untuk Chelsea.’ Aneh, tidak dicantumkan nama pengirimnya. Chelsea pun membuka amplop itu dan membaca surat di dalamnya.
Dear Chelsea,
Apa kabarmu, Chels? Sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin kita sekelas, tetapi semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku. Aku maklum akan hal itu, aku memang tidak pantas menjadi temanmu. Tetapi, mereka juga tidak pantas. Tidak sadarkah kamu bahwa mereka berteman denganmu hanya karena kekayaanmu?
Kurasa semua telah terbukti sekarang. Setelah perusahaan papamu bangkrut, mereka semua meninggalkanmu. Aku turut berdukacita atas apa yang menimpa keluargamu. Aku ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku. Tetapi kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu. Kuharap keadaanmu akan segera membaik. Titip salam untuk mamamu.
P.S : I want you to know that I did it all because I love you.
                                                                                            Sign,
Your old friend
Tulisannya terlihat familiar.
My old friend? Sekelas? Siapa ya?’ pikir Chelsea.
Tiba-tiba, Chelsea terpikir sesuatu. Tulisan di surat itu mirip dengan tulisan ‘si misterius’. Chelsea menebak semua barang dari ‘si misterius’ – payung, hansaplast dan betadine, setumpuk kertas hasil fotocopy, coklat dan juga surat ini berasal dari orang yang sama. Kalimat ‘Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku.’ pada surat itu mendukung dugaannya.
It’s so sweet of him, tapi siapa dia?’ pikir Chelsea.
Ia mulai menerka-nerka. Tiba-tiba, sekelebat pikiran menyerbu otaknya. ‘Mungkinkah dia Aaron?’
Chelsea sudah mengenal Aaron sejak kecil, orangtua mereka adalah rekan kerja sehingga mereka saling berteman, tetapi sejak kelas 1 SMA, pertemanan mereka merenggang.
‘Mungkin itu maksudnya ‘semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku.’
 Perasaan bersalah memenuhi pikiran Chelsea. Selama ini, Aaron tetap setia membantunya dalam kesusahan, padahal ia tidak pernah menghiraukannya. Tetapi apa maksudnya ‘Kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu.’ ?
Kata-kata itu membuat Chelsea cemas. Bukan karena ia takut bahwa tidak akan ada lagi teman yang akan membantunya, tetapi ia takut sesuatu yang buruk sedang menimpa Aaron.
‘Ia tidak  masuk sekolah hari ini. Mungkin gue harus mengecek keadaannya.’
Ia pun melipat surat itu, menaruhnya ke dalam sakunya dan beranjak pergi menuju rumah Aaron.
Sesampainya di sana, ia menekan bel pintu rumah Aaron. Tidak ada yang menjawab atau membukakan pintu. Ia pun membunyikan bel tersebut sekali lagi. Tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.
‘Apa mereka sedang pergi? Atau sudah pindah rumah?’ pikir Chelsea.
“Cari siapa, Dik?” tanya seorang ibu paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Aaron.
“Pemilik rumah ini sedang pergi kemana ya, Tan?” tanya Chelsea.
“Oh, mereka semua sedang berada di rumah sakit. Katanya Aaron sudah lama terdiagnosa penyakit kanker otak, tetapi ia tidak mau dirawat ataupun diobati. Tadi pagi tiba-tiba saja ia pingsan dan akhirnya ia dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana.” Ibu tersebut menceritakan kronologi kejadiannya.
“Tante tau dimana ia dirawat?” tanya Chelsea dengan cemas.
“Di Rumah Sakit Harapan Kasih, ruang 147,” jawabnya.
“Terima kasih, Tan,” seru Chelsea sambil berlari.
Kepanikan memenuhi pikiran Chelsea, ia pun berlari sekuat tenaga. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang 147. Dari kejauhan, ia melihat seorang pria dan istrinya sedang menangis tersedu-sedu. Seorang dokter juga berdiri di sana sambil menenangkan mereka. Hal itu menghentikan langkah Chelsea. Ia berjalan perlahan menuju orang-orang tersebut. Ia mengenali kedua sosok suami-istri itu. Mereka adalah orang tua Aaron.
‘Mungkinkah..’
Chelsea segera memasuki ruangan yang bernomor 147. Begitu ia masuk, ia melihat seorang lelaki yang berbaring lemah di atas tempat tidur. Chelsea berjalan perlahan mendekati tempat tidur itu. Di sebelah tempat tidur itu, terpasang sebuah mesin yang layarnya menunjukkan garis horizontal yang lurus. Air mata menggenang di kelopak mata Chelsea, mendesak untuk keluar. Ia pun mulai menangis tersedu-sedu.
“Aku terlambat,” ujarnya di sela tangisannya.
Ia menenangkan dirinya, menghapus air matanya dan mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Ia pun mulai menulis.
Dear Aaron,
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi pertama-tama, aku ucapkan terima kasih banyak. Terima kasih karena kamu sudah menjadi temanku selama ini. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku walau aku tidak menghiraukanmu. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku dan membantuku saat aku dalam kesusahan. Maafkan aku karena selama ini aku tidak menjadi teman yang baik untukmu. Aku menyesal atas semua perbuatanku. Andai aku dapat mengulang waktu, jelas aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir seperti ini. Semoga kamu bahagia di dunia barumu. I’ll miss you. You’ll always be in my heart.
     Sign,
  Chelsea
Chelsea melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop dan menuliskan ‘MESSAGE OF REGRET’ di atasnya lalu menaruhnya di atas telapak tangan Aaron.