Menu

Wednesday, 17 December 2014

[Book Review] Montase by Windry Ramadhina


Judul Buku       : Montase
Pengarang         : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman : 368 halaman
My Rating          : 4.5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.


THE AUTHOR

Windry Ramadhina lahir dan tinggal di Jakarta, berprofesi sebagai arsitek lepas dan mendirikan biro desain sendiri. Ia mulai menulis fiksi sejak medio 2007 di kemudian.com dengan pseudonim miss worm. Pada tahun 2008, ia terpilih menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta. Ia menerbitkan novel pertamanya, Orange, pada tahun yang sama dan dinominasikan sebagai Penulis Muda Berbakat dalam Khatulistiwa Literary Award. Pada tahun 2009, ia kembali dinominasikan untuk kategori Prosa Terbaik lewat novel "Metropolis". Waktu luangnya diisi dengan wisata kuliner di sejumlah mal Jakarta Selatan, mendengarkan musik gubahan L'Arc~en~Ciel, menonton film, membaca buku, dan bermain dengan gadis kecil kesayangannya.
(Sumber: Website GagasMedia)


MY SUMMARY

Cinta itu seperti pencuri di malam hari. Datang diam-diam tanpa diundang, mencuri hati kita. Kita bisa jatuh cinta kapan aja dan dengan siapa aja. Semuanya muncul secara tiba-tiba, tanpa alasan, karna cinta yang didasari oleh sebuah alasan nggak akan bertahan lama. Ketika alasan itu udah nggak cukup kuat atau  mulai pudar, rasa cinta itu pun lama kelamaan akan hilang bersamanya.

Karya brillian dari kak Windry yang berjudul "Montase" ini menceritakan kisah seorang pemuda bernama Rayyi yang hidup di bawah bayang-bayang ayahnya, sang produser sinetron yang terkenal. Dia ditekan oleh harapan ayahnya untuk melanjutkan takhtanya. Padahal dia nggak menyukai bidang ayahnya itu. Dia memiliki cita-citanya sendiri. Tapi, dia nggak cukup berani untuk memperjuangkan cita-citanya itu, jadi dia hanya tunduk di bawah perintah sang ayah.

Lalu, dia bertemu dengan seorang gadis transferan dari Jepang bernama Haru, yang juga menekuni bidang film dokumenter, seperti dirinya. Kasus pada Haru juga mirip dengannya. Haru ingin menjadi pelukis, tapi kedua orangtuanya sangat menyukai film dokumenter, jadi dia memutuskan untuk menjadi pembuat film dokumenter. Yang berbeda adalah, Haru nggak dipaksa oleh orangtuanya. Itu adalah keinginannya sendiri.

Haru membuka mata Rayyi, menyentaknya ke dalam dunia yang berbeda. Sudut pandangnya diubahkan, dan gadis itulah yang memberinya keberanian untuk memperjuangkan cita-citanya. Sifat ceroboh Haru, dan segala yang ada padanya sangat menarik perhatian Rayyi, tapi dia berusaha mengabaikannya. Namun, takdir berkehendak lain. Seakan ada magnet di antara mereka, yang terus mempertemukan dan akhirnya menyatukan mereka. Tanpa sadar, benang merah di antara mereka telah ditautkan oleh sang takdir, dan Haru telah menorehkan kesan yang sangat dalam di hati Rayyi, sehingga ketika mereka berpisah, sebagian hatinya ikut pergi bersama gadis itu. Kalau Haru benar-benar pergi, sanggupkah Rayyi menghadapi kenyataan itu?


MY COMMENTARY

Novel yang sangat mengharukan ini sanggup menyayat hati siapapun yang membacanya. Novel ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ceritanya sarat akan pesan moral, yang berpesan kita harus terus mengejar mimpi kita dan kalau kita terus berusaha, kita pasti bisa mencapainya. Selain itu, novel ini juga mengisahakan tentang obsesi seseorang, yaitu pada film dokumenter, dan mendeskripsikannya dengan baik – latar tempat, suasana, dan detail-detail lain yang bisa mengaktifkan daya imajinasi para pembaca. Bahasanya yang komunikatif menciptakan hubungan yang akrab dan hangat dengan pembaca. Aku merasa seakan-akan sang tokoh sedang menceritakan isi hatinya padaku. Kisah penuh perjuangan dan romantisme ini ditutup dengan sebuah ending yang nggak disangka-sangka, dan sanggup menjadi magnet yang menarik bulir-bulir air mata - walaupun aku nggak nangis, sih. hampir aja.

Sudut pandang yang digunakan hanya satu, yaitu sudut pandang orang pertama dari sisi Rayyi. Itu membuat cakupan penulis menjadi agak sempit, karena nggak dapat menyelami pikiran tokoh lain. Tapi, kak Windry berhasil menyulapnya menjadi sesuatu yang misterius dan menumbuhkan rasa ingin tauku, lalu dengan cara yang unik, dia mengungkap rahasia dan misteri-misteri yang muncul satu per satu. Alurnya yang maju-mundur membuatnya terasa lebih menarik. Flashback mengenai hal-hal yang menjadi misteri atau kenangan indah emang menambah cita rasa yang berbeda pada sebuah cerita.Pendeskripsian akan karakter dan pikiran tokoh disajikan dengan sangat detail, sehingga tokoh-tokoh yang ada terasa hidup dan nyata. Kak Windry sangat menghayati perannya sebagai ‘aku’ atau sang tokoh utama di novel ini – Rayyi, sehingga segalanya terasa real

Warna sampulnya memang kurang cerah – warna cream dengan goresan sketsa pensil, sehingga kurang menarik perhatian pembaca, tetapi sentuhan ujung pensil yang mensketsa gambar sebuah taman dengan pohon sakura dan bangku taman itu sungguh bermakna, seakan Haru yang menggambar tempat dimana dia berada. Lalu, ganbar itu disketsa di atas sebuah kertas foto lama – yang masih berupa rol dan berwarna hitam-putih, membuat kesan unik dan antik, dan juga cocok dengan model kamera tua yang dipakai Haru. Belum lagi judulnya yang unik, yang merupakan istilah dalam fotografi. Walaupun terdengar asing di telinga kaum awam, tapi justru membuat pembaca merasa penasaran dengan isi novel. Dan aku yakin kata ‘montase’ itu memiliki makna yang dalam.

Novel ini bukan novel yang mendayu-dayu dan terlalu romantis, sarat akan pesan moral pula, jadi dapat dibaca oleh semua kalangan. So recommended! Novel ini selain dapat menghilangkan rasa jenuh yang melanda, juga sanggup membangkitkan rasa semangat para pembaca untuk terus mengejar mimpi, setinggi apapun itu. Well done, kak. Keep writing!

No comments:

Post a Comment