Menu

Thursday, 10 January 2013

[Flash Fiction] Not Again


Joining   : FF2in1
Held by : nulisbuku.com
Status  : Didn’t win (Modified)


Aku menyusuri lorong sekolahku dengan langkah gontai. Lagi-lagi, hari yang membosankan – bangun pagi, siap-siap ke sekolah, belajar, pulang, kerja PR, tidur. Begitu setiap hari. Aku benar-benar muak.
Tiba-tiba, aku teringat saat hari-hariku yang abu-abu ini dihiasi oleh warna-warna lain. Tapi, warna-warna indah itu sudah pudar. Hari-hari menyenangkan itu sudah berakhir. Aku harus kembali ke lubang kelam ini, sendirian. Dan itu menyakitkan.
Karena masih agak mengantuk dan berjalan sambil menunduk, aku tidak begitu memerhatikan jalanan di depanku. sehingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.
Aku segera mendongak. ”Sorry, aku ti-” Kata-kataku terputus begitu saja.
Aku merasa mulutku sudah terbuka lebar saat ini, dan mataku tidak berkedip sama sekali. Aku tidak memercayai makhluk yang sedang berdiri di hadapanku sambil tersenyum lebar ini. Lidahku mendadak kelu dan lututku melemas.
“Hello, Cereza. Apa kabar?” sapa pemuda itu riang, seakan tidak pernag terjadi apa-apa di antara kami.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku berjuta kali, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi, sosok sempurna di hadapanku ini tidak juga menghilang. Aku meneguk ludah, berharap suaraku kembali. “Baik. Sedang apa kau di sini?” tanyaku basa-basi, berusaha terdengar normal.
Pemuda itu kembali tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku tidak jadi pindah,” sahutnya santai.
Aku merasa jantungku mencelos. “A-apa?!”
Pemuda itu mendesah, lalu menarikku ke lorong yang agak sepi. “Setelah sebulan di sana, aku merasa tidak betah. Aku merasa ada yang kurang. Dan aku sadar, yang kurang itu adalah kehadiran seorang gadis manis yang selalu mengoceh di sampingku. Makanya aku balik untuk mencari gadis itu,” jelasnya panjang lebar.
Aku menatapnya tak percaya, lalu memutar bola mata. “And who’s this girl you’re talking about?”
Pemuda itu kembali mendesah. “Look, I’m sorry, okay? Aku bodoh, mencampakkanmu hanya demi cita-citaku. Tapi sekarang aku sadar, ada yang lebih penting.” Ia mengelus pelan pipiku. “Will you forgive me?”
Dadaku sesak, walaupun pipiku yang disentuh mulai menghangat. Aku mendorongnya menjauh. “Aku bukan barang, yang saat terasa tidak berguna, dibuang begitu saja, lalu ketika diperlukan lagi, dikorek seenaknya dari tempat sampah,” ujarku dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
Pemuda itu berusaha menggapaiku, tapi aku menepisnya dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan pemuda itu, meninggalkan sekolah, meninggalkan masa lalu.
Aku berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang, lalu terduduk lemas di sana. Aku mengatur nafasku yang terengah sambil menyeka air mata yang berhasil lolos dari pertahanan.
Sial! Memang dia kira dia siapa? Berhak memecah belah harapan orang, lalu kembali lagi untuk memberi harapan baru? Atau lebih tepatnya, harapan palsu Lebih sialnya lagi, ia masih punya pengaruh yang kuat padaku. Sentuhannya masih memberiku sensai yang sama seperti dulu, senyumannya masih sanggup menghipnotisku, dan tatapannya masih sanggup menghanyutkanku.
Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak boleh! Aku tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku sudah tidak punya hati untuk dihancurkan sekali lagi. Aku memejamkan mataku erat-erat, berharap saat aku membukanya lagi, rasa sakit ini sudah sirna.


(Read the sequel here)

[Flash Fiction] Pensil Warna Hidupku


Joining   : FF2in1
Held by : nulisbuku.com
Status  : Didn’t win (Modified)


Aku merasakan guncangan di bahuku, semakin lama semakin kencang, memaksaku untuk membuka mata. Aku  mendongak dan mendapati seorang pemuda sedang berjongkok di hadapanku dengan senyuman lebar.
Hey, you okay?” tanyanya lembut.
Aku mengerjapkan mata dan menatapnya heran. “What happened?
Pemuda itu terkekeh. “Kamu amnesia, kah? Tadi, waktu aku baru aja masuk lewat gerbang sekolah, aku liat kamu lari keluar sambil nangis. Penasaran, aku ngikutin kamu. Kamu berenti di bawah pohon ini dan terlihat sangat kacau, lalu kamu tertidur,” ceritanya panjang lebar.
Aku mengerutkan dahi, berusaha mengingat-ingat. Oh, ya. Karna orang sinting itu mendatangiku, dan memintaku kembali padanya setelah mencampakkanku begitu saja. Stupid jerk.
Aku memasang tampang datar. “Jadi, kamu ikut membolos juga?”
Pemuda itu terkekeh. “Mendingan nemenin kamu kan, daripada sekolah?” Ia duduk di sampingku. “So, will you tell me what happened? Atau amnesiamu belum sembuh?”
“Amnesiaku belum sembuh.” Aku membeo.
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya. “Udah baik-baik kutenemani di sini, masa tidak dihargai?” protesnya.
Aku mendengus. “Salahkan amnesiaku yang kambuh tiba-tiba,” sahutku ketus.
Pemuda itu mendekatkan wajahnya padaku. “Tadi aku melihat mobil Joe. Apa dia kembali ke sini?” tanyanya lirih.
Aku meliriknya tajam. “I don’t wanna talk about it.”
Pemuda itu mengangguk-angguk. “Fine,” sahutnya singkat.
Suasana menjadi sangat hening. Beberapa menit berlalu, tetapi kami tetap bergeming.
Akhirnya, aku menyerah. ”Alright,” ujarku pasrah. “ Dia menyesal dan memintaku kembali,” ceritaku singkat. Aku tidak pernah tahan menyembunyikan sesuatu dari pemuda ini.
Pemuda itu menoleh cepat ke arahku. “Apa?”
Yeah, unbelievable, right,” sahutku skeptis, lalu membenturkan dahiku ke lutut.
“Lalu, kamu bilang apa?” kejarnya.
Aku mengangkat bahu. “Tentu saja aku tidak mau,” sahutku datar.
Pemuda itu menepuk-nepuk pundakku. “Hey, I’m here, okay? Kamu masih ingat apa yang Mark Gold katakan pada Maggie saat dia diputusin cowoknya di 17 Again?”
Aku sengaja tidak merespon, membiarkan lawan bicaraku itu menjawab pertanyaannya sendiri.
When you’re young, everything feels like the end of the world. But it’s not. It’s just the beginning. You might have to meet a few more jerks, but one day, you’re gonna meet a boy who treats you the way you deserve to be treated. Like the sun rises and sets with you.”

Aku memejamkan mataku, meresap kata demi kata yang diucapkan pemuda ini. Entah mengapa, kehadirannya selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum lemah. “Aku ingat, kok, dan itu betul sekali. Thanks, Jer.”
Jerome membalas senyumku dengan tulus. “You’re welcome.”
Aku menatap senyuman tulusnya itu. Setidaknya, aku punya sahabat sepertinya. Dan setiap kali aku menatap mata hitamnya yang teduh itu, aku tahu hidupku takkan abu-abu lagi.
Jerome mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambutku. Aku memberengut, membuatnya mendekat dan mengecup puncak kepalaku. Saat itulah aku sadar, hatiku tidak lagi hancur, dan ruang yang kosong itu telah terisi kembali.


(This one is actually a sequel of this one)