Menu

Saturday, 29 December 2012

[Book Review] Sunshine Becomes You by Ilana Tan


Judul Buku​       : Sunshine Becomes You
Pengarang         ​: Ilana Tan
Penerbit           ​: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman ​: 432 halaman
My Rating          : 5 of 5

(Semua gambar cover, identitas buku, dan blurb dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)


BLURB

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York…
Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu — malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat.
Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga.
Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.


THE AUTHOR

Ilana Tan terkenal karena menulis empat novel roman yang masing-masing novelnya disajikan dengan cerita yang latarnya berbeda-beda, dengan keunikan tokoh-tokoh dari novel yang satu dengan novel yang lainnya saling berkaitan. Karya-karyanya: "Summer in Seoul" (2006), "Autumn in Paris" (2007), "Winter in Tokyo" (2008), "Spring in London" (2010), "Sunshine Become You" (2012), "Seasons to Remember" (2013), dan "Autumn Once More" (2013). 
(Sumber: Wikipedia)


MY SUMMARY

Novel ini mengisahkan tentang seorang pianis terkenal, Alex Hirano, yang nggak pernah menyangka pertemuannya dengan seorang penari profesional bernama Mia Clark, akan membawa malapetaka baginya. Benang merah mengaitkan mereka dalam kejadian yang nggak mengenakkan, yang membuat Alex menganggap Mia sebagai malaikat kegelapannya. Mia, yang nggak pernah menyangka dia mendatangkan hal buruk bagi orang lain, merasa sangat bersalah dan menawarkan ganti rugi dengan menjadi “tangan kanan” Alex.

Hari-hari pun mau nggak mau dilalui Alex bersama Mia. Tanpa disadari, mereka saling mengenal dan hubungan mereka menjadi semakin dekat. Tembok yang didirikan Alex di antaranya dan Mia lama kelamaan roboh. Senyum Mia yang selalu dilemparkannya kepada semua orang meruntuhkannya dengan mudah. Dan tanpa disangka, perasaan lain – selain benci, muncul di antara mereka. Apalagi setelah berbagai kejadian yang menimpa mereka, dan rahasia demi rahasia yang terungkap, hubungan mereka menjadi semakin kompleks. Konflik demi konflik bermunculan, menghalangi mereka untuk bersatu, namun mereka dapat mengatasinya. Ikatan di antara mereka sangat kuat, sampai maut pun nggak sanggup memutuskannya.


MY COMMENTARY

Kisah cinta yang mengaharu biru ini sangat menakjubkan. Pantes saja novel ini laris manis. Temanya emang sederhana, hanya benih cinta yang tumbuh dalam kebencian. Tapi, Ilana Tan sanggup membumbuinya dengan percikan-percikan romantis yang membuat kisah ini terasa spesial. Alurnya yang kompleks mengombang-ambingku. Tokoh-tokohnya begitu hidup, sanggup membuatku empati pada mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan. Aku merasa berbunga-bunga ketika tokoh menuturkan kata-kata romantis, tersenyum ketika tokoh merasa bahagia, dan menangis ketika tokoh sedang sedih atau tertimpa masalah. Latarnya juga dideskripsikan dengan sangat baik, membawaku memasuki suasana New York yang nggak pernah tidur, merasakan berbagai musimnya, dan seakan-akan pergi ke tempat-tempat yang dikunjungi tokoh. Pilihan katanya sangat baik, mudah dipahami dan begitu mengalir. Rangkaian kata-katanya yang indah dan romantis sanggup membuatku melayang ke langit ketujuh.

Tebalnya novel ini nggak menghalangiku untuk membacanya. Bukannya membuatku malas, malahan membuatku semakin semangat untuk terus membalik halamannya sampai habis. Kisahnya yang panjang dan kompleks justru membuatku semakin bergairah. Ending-nya yang nggak terduga membuatku gregetan tapi puas saat membalikkan halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya sedih, tapi kisah itu tetap menjadi kisah cinta yang sangat manis, yang memberi kesan tersendiri di hatiku.

Tampilan pada sampulnya yang menampilkan sebuah studio tari dengan jendela kaca yang memamerkan pemandangan kota New York membantuku membayangkan latar yang digunakan. Sentuhan warna merah mudanya yang soft sangat cocok dengan genrenya. Kata “Sunshine Becomes You” yang digunakan sebagai judul novel ini, selain menjadi judul dari lagu yang ditulis Alex untuk Mia, juga menggambarkan Mia Clark yang menjadi “matahari” dalam kehidupan Alex. Judul yang sangat menggugah hati. Belum lagi kutipan di pojok sampul yang sangat memikat hatiku. “Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.” Rangkaian kata-kata yang sangat romantis dan menyentuh hati! Novel ini sungguh-sungguh menakjubkan, so yeah, it is highly recommended. You will love it as I do! Way to go, kak. Keep writing!

Friday, 28 December 2012

[Flash Fiction] Life Without You is Doom


Joining : FF2in1
Held by : nulisbuku.com 
Status  : Didn’t win (Modified)


Aku memasuki kamar dengan gusar dan membanting pintu di belakangku kuat-kuat. Aku menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar, disusul suara pintu terbuka.
“Ada apa, Sayang?” Suara lembut itu bertanya. Tanpa melihat pun aku tahu itu suara Mama.
Aku mendesah kesal. “Aku bosan sekolah. Aku mau berenti aja,” keluhku.
Mama berjalan mendekatiku dan mennyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. “Kenapa ngomong begitu?”
Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di bahu Mama. “Mama ingat tugas sekolahku yang disuruh bikin short movieitu?”
Aku merasakan anggukan Mama. “Udah cuman dikasih deadline dua minggu, yang bikin kami buru-buru kerja and aku ngedit cuman dalam sehari, pake acara bergadang lagi, eh, nggak dihargai sama sekali. Gurunya nggak bilang mau dikumpul dalam bentuk CD. Aku yang buru-buru kerjanya mana sempat lagi burn ke CD, jadi ya, aku cuman masukkin ke flashdisk aja. Dia dengan sombongnya bilang, dia sengaja minta dalam bentuk CD supaya nggak perlu simpanflashdisk orang. Takut ilang lah, kalo pake CD bisa dia simpan lah, bla bla bla. Ugh! Bete banget!” omelku panjang lebar. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menekan emosiku yang meluap-luap.
Mama mengelus lembut kepalaku. “Terus gimana, tuh?”
Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. “Apa boleh buat. Kami nyusul kumpul besok dalam bentuk CD, tapi nilai tertinggi cuma B. Ah, percuma kerja susah-susah!” seruku kesal.
Mama menepuk-nepuk punggungku. “Yang sabar, ya. Sekolah kan, bukan soal nilai, tapi soal pengalaman. Jadikan ini pengalaman buatmu.”
Aku mendengus. “Pengalaman buruk buat apa disimpan?”
“Justru pengalaman buruk itulah yang berharga, Sayang. Kamu jadi dapat pelajaran,” nasihat Mama.
“Pelajaran apa? Nggak perlu kerja tugas susah payah karna nggak bakal dihargai?” sahutku skeptis.
“Ya, bukan begitu. Nanti saat kamu kerja, kamu kan, nggak tau bosmu bakal kayak gimana. Kamu nggak bisa pilih mau punya bos yang kayak gimana. Nah, bisa aja kamu ketemu bos yang lebih menyebalkan. Kalau sekarang kamu udah terbiasa dengan model orang menyebalkan yang seperti itu, kan jadi gampang buat kamu beradaptasi,” jelas Mama.
Aku mendengus. “Ogahlah kalau punya bos kayak gitu. Langsung berenti aku.”
Mama mengangkat sebelah alis. “Wah, kalau gitu, gimana bisa sukses? Cari pekerjaan susah, loh. Kalau tiap bentar mau ganti kerja, repot, dong.”
Aku menghela nafas. Ya, Mama benar juga. Well, Mama memang selalu benar. Kata-katanya selalu bijak dan menenangkan. Aku nggak bisa membayangkan hidup tanpa Mama. Ergh, pasti mengerikan.

Aku pun memeluk Mama erat-erat. ”Yeah, you’re right. Thanks, Ma. Emang cuman Mama yang bisa redain emosiku. I can’t live without you.”
Mama tersenyum lembut, lalu mengecup keningku. “I will always be there for you, dear.”
 \

Thursday, 27 December 2012

[Short Story] He Knows the Best



​“Mi, temen-temenku udah pada punya Samsung Galaxy Mini nih. Aku juga pengen, tapi pengen yang lebih keren, biar mereka nggak bisa pamer-pamer lagi. Beliin ya, Mi?” bujuk Sarah dengan wajah memelas.
​“Oke deh, Sayang. Nanti Mami beliin iPhone 5 aja biar lebih keren,” sambut mama Sarah enteng.
​“Asik! Makasih, Mi!” seru Sarah kegirangan.
​Sarah adalah anak tunggal dari keluarga yang kaya raya, jadi tidak heran jika kedua orangtuanya memanjakannya dan memenuhi semua keinginannya. Papanya adalah seorang pengusaha yang sangat sukses, sedangkan mamanya adalah ibu rumah tangga yang gaul, suka berfoya-foya, dan selalu memanjakan anaknya.
​Keesokan harinya, pada jam istirahat, Sarah pun memamerkan iPhone terbarunya pada teman-temannya. Semua temannya memuji-mujinya, kecuali Ranee. Sarah dan Ranee memang saling tidak menyukai satu sama lain sejak mereka berdua bertemu. Orangtua mereka sama-sama kaya dan mereka saling memamerkan kekayaan mereka. Tentu saja Sarah merasa sangat puas karena handphonenya lebih canggih daripada handphone Ranee. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.
​Bel pulang sekolah berbunyi, Sarah pun mengemas barang-barangnya dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ia menemukan mamanya sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas.
​“Mi, ada apa? Kok kayaknya cemas banget?“ tanya Sarah.
​“Ayo coba duduk dulu. Ada yang Papi dan Mami mau omongin,” ujar mama Sarah.
​Mereka bertiga pun duduk di sofa. Suasana menjadi tegang seketika. Sarah meremas-remas jarinya dengan gelisah.
​“Gini, Sayang.” Papa Sarah pun memulai pembicaraan. “Keadaan ekonomi kita sedang memburuk, perusahaan Papi bangkrut karena ditipu puluhan juta, jadi untuk menutupi keadaan ekonomi kita yang sedang krisis ini, kita terpaksa menjual mobil dan rumah kita dan pindah ke rumah yang lebih dekat dengan sekolah biar Sarah bisa jalan kaki ke sekolah. Terus ada beberapa barang Sarah yang harus dijual karena kita sudah krisis uang. Papi dan Mami minta tolong, dalam keadaan seperti ini, kita harus mulai berhemat. Maafkan Papi, ya.”
​Sarah tidak bisa memercayai apa yang barusan ia dengar. “What?! Kok bisa begitu sih, Pi? Aku nggak mau ah, kalo barang-barangku dijual, apalagi jalan kaki ke sekolah. Nanti pasti temen-temen pada ngejekin aku. Argh! Nggak mau, nggak mau, nggak mau!” teriak Sarah histeris, lalu berlari ke kamarnya dan membanting pintu.
​Papa Sarah mendesah sedih. Mama Sarah pun mencoba menenangkannya. “Mungkin dia masih shock, Pi. Biar Mami coba tenangin dia dulu, ya.”
​Sarah tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Perasaannya campur aduk. Ia tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi. Ia tidak rela menjual barang-barangnya. Ia langsung membayangkan bagaimana Ranee dan teman-temannya akan mengejeknya karena keadaannya yang seperti ini. Ia tidak mau itu terjadi.
​Mama Sarah mengetuk pintu kamar Sarah. “Sayang, ini Mami. Bukain pintunya, ya?” bujuk mama Sarah.
​Sarah membukakan pintu kamarnya dan membiarkan mamanya masuk.
​“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya mama Sarah prihatin.
​“Gimana mau nggak apa-apa, Mi? Aku bakal diejek habis-habisan sama Ranee kalo kayak gini keadaannya.” keluh Sarah.
​“Wah, wah. Dengerin mami ya, Sayang. Sekarang kamu jangan pikirin diri kamu sendiri dulu. Pikirin keadaan keluarga kita sekarang. Kalo kamu nggak mau berkorban sedikit, kita nggak akan bisa bertahan hidup. Kita nggak akan punya cukup uang buat makan dan nyekolahin kamu. Apa kamu lebih pilih nggak makan dan nggak sekolah dibanding jual barang-barang kamu?” tanya mama Sarah.
​“Nggak sih, Mi,” jawab Sarah.
​“Nah, makanya itu, berkorbanlah dulu. Semuanya pasti akan membaik kok di kemudian hari. Bukan kamu aja kok yang berkorban, Mami juga harus jual semua baju-baju dan perhiasan-perhiasan Mami. Ini semua kan buat kebaikan kita semua.”
​Sarah terdiam sejenak, lalu akhirnya menjawab. “Oke deh, Mi. Aku rela buat jual semua barang-barangku.”
​“Nah gitu dong. Ini baru anak Mami,” ujar mama Sarah sambil mengelus pelan kepala anak sematawayangnya itu.
​Sarah pun terpaksa menjual barang-barang kesayangannya, termasuk iPhone barunya. Keluarganya pindah ke rumah yang agak kecil, jauh berbeda dengan rumahnya yang lama. Selain itu, Sarah juga harus berjalan kaki ke sekolah. Dan seperti yang ia duga, setelah Ranee mengetahui keadaannya, ia pun mengejek-ejek Sarah.
​“Eh, ini kan yang kemarin baru mamer-mamerin iPhone barunya itu. Tapi kok sekarang dia jalan kaki ke sekolah? Dah sekarat loe sekarang?” ejek Ranee diikuti tawaan teman-temannya.
​Sarah hanya bisa diam dan mengepal tangannya kuat-kuat. Ia pun masuk ke kelas dan tidak menghiraukan ejekan Ranee. Teman-temannya mulai menjauhi dia, termasuk teman-teman dekatnya. Ia baru sadar, selama ini teman-temannya hanya mendekatinya karena ia kaya. Ia pun memutuskan untuk diam dan menyendiri.
​Hari-hari pun berlalu dengan penuh kesedihan. Sarah harus terbiasa dengan hidup barunya yang sulit. Ia mulai membenci hidupnya dan mengutuki hidupnya sendiri. Ia malah menyalahkan papanya, dengan berpikiran bahwa papanya tidak dapat mengurus perusahaannya dengan baik, sehingga perusahaan itu bangkrut. Ia juga mengutuki teman-teman yang mengkhianati dan mengejeknya. Nilai-nilainya menurun dan ia pun mulai kehilangan semangat hidup.
​Tak terasa, sudah sebulan penuh ia menjalani hari-hari hampanya, dan tak disangka, setelah bencana buruk itu menimpa dirinya, ada bencana selanjutnya yang menyusul. Suatu hari pada jam pelajaran Fisika, Sarah dipanggil ke ruang guru. Ia pun memasuki ruang guru dan menemukan mamanya sedang duduk di sana dengan wajah murung.
​“Ada apa, Mi?” tanya Sarah.
​“Papi masuk rumah sakit, Sayang. Ayo cepat bereskan buku-bukumu dan kita langsung ke rumah sakit,” ujar mama Sarah cemas.
​Sarah menuruti perkataan mamanya dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
​“Papi kok bisa masuk rumah sakit, Mi?” tanya Sarah ketika sedang dalam perjalanan.
​“Bank tempat kita menabung dijebol orang, jadi semua uang kita yang ada di sana dicuri. Saking kagetnya, Papi kena serangan jantung. Sekarang dokter sedang menangani Papi di rumah sakit.”
​Sarah tidak sanggup berkata-kata. Ia tidak pernah mengira kejadian seburuk ini akan menimpanya. Sesampainya di rumah sakit, mama Sarah pun segera menemui dokter yang memeriksa keadaan papa Sarah.
​“Dok, bagaimana keadaan suami saya?” tanya mama Sarah dengan nada khawatir.
​“Maafkan kami, Bu. Kami sudah mencoba semua yang kami bisa, tetapi karena serangan yang mendadak dan akibat stress yang berkelanjutan, suami Anda sudah tidak dapat tertolong lagi. Maafkan kami, Bu. Kami turut berduka cita,” ujar sang dokter dengan wajah penuh kekecewaan.
​Kabar pahit itu menohok hati Sarah dan mamanya dengan sangat keras. Air mata pun mengalir pada kedua pipi mereka. Sarah tidak menyangka, papa yang ia salahkan selama ini, telah meninggalkan ia dan mamanya untuk selama-lamanya. Rasa bersalah dan penyesalan pun menyerbu benaknya. Sekarang ia harus menjalani hidupnya hanya berdua dengan mamanya. Ia tidak tahu hal buruk apa lagi yang akan menimpanya.
​Keesokan harinya, Sarah masuk sekolah dengan wajah murung. Semua temannya pun memerhatikannya. Seharian itu Sarah hanya duduk diam, tak bersuara. Ia masih sangat terpukul oleh kejadian kemarin. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hidupnya yang sulit ini. Ia mulai menyalahkan Tuhan atas segalanya. Ia merasa ditinggalkan.
​Setelah ditimpa berbagai bencana itu, mama Sarah harus membuka sebuah restoran kecil dan setelah pulang sekolah, Sarah harus membantu mamanya di restoran tersebut. Sejak hidupnya mulai sulit, Sarah harus belajar mandiri. Ia tidak bisa bermanja-manja lagi. Ia mulai rindu dengan hidupnya yang dulu, tetapi ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ia pun menjalani hari-harinya dengan berat hati.
​Ujian semester pun berlalu, saatnya pengambilan rapor, untungnya Sarah naik kelas walau dengan nilai yang pas-pasan. Sejak segala bencana buruk itu menimpanya, nilai Sarah menurun drastis. Ranee meraih juara 1 di kelasnya dan mulai memamerkan nilai-nilainya. Sarah hanya bisa diam, tidak ada hal lain yang dapat ia perbuat.
Class meeting pun berlangsung. Biasanya saat-saat itu menjadi sarana bagi teman-teman Sarah untuk membawa barang-barang mahal mereka dan memamerkannya, terutama Ranee. Sarah tidak dapat memamerkan apa-apa lagi, melihat keadaannya yang sudah sangat berbeda. Ia hanya bisa diam melihat teman-temannya yang sedang memamerkan barang-barang mereka. Ia sempat berharap, suatu saat nanti, mereka akan merasakan apa yang ia rasakan.
​“Ah, enaknya kalo lagi class meeting, bebas, bisa main handphone, bisa online. Kayaknya semua teman pada sibuk main handphone, ya. Ups, kecuali satu orang,” ejek Ranee sambil melirik ke arah Sarah.
​Sarah hanya bisa diam dan menahan amarahnya.
​“Duh, low bat lagi, untung bawa charger. Cas di kelas aja, deh.” ujar Ranee. Ia pun mencolokkan charger handphonenya ke salah satu colokan di kelasnya.
​“Pengumuman, diharapkan semua murid berkumpul di lapangan, segera!” ujar seorang guru melalui speaker.
​Semua murid beranjak pergi menuju lapangan. Ranee pun ikut meninggalkan kelas dan melupakan handphonenya yang sedang dicas. Kebetulan Sarah adalah orang terakhir yang meninggalkan kelas. Mereka semua pun berkumpul di lapangan. Setelah mendengar pengumuman dari kepala sekolah, mereka pun kembali ke kelas. Tiba-tiba, Ranee berteriak dengan panik.
​“Argh, handphone gue hilang!” teriak Ranee.
​Suasana di kelas pun mulai heboh. Seorang guru yang mendengar kabar tersebut segera menuju kelas mereka.
​“Aduh, ada apa ini pada heboh-heboh? Ranee, handphone kamu kok bisa hilang? Terakhir kamu taruh dimana?” tanya guru tersebut.
​“Tadi baterainya low, Bu, jadi saya cas di kelas. Pas mau kumpul di lapangan, saya lupa bawa handphone saya, dan pas balik, handphonenya udah hilang,” jawab Ranee dengan wajah cemas.
​“Wah, kamu kok bisa teledor gitu sih? Ayo, siapa yang terakhir kali meninggalkan kelas?” tanya guru tersebut dengan tegas.
​Sarah merasa bahwa dirinyalah yang terakhir kali meninggalkan kelas. Ia pun mengangkat tangannya. ​“Saya, Bu. Tapi, saya sama sekali tidak tahu tentang handphonenya Ranee,” jawab Sarah.
​“Alah, bohong, pasti dia Bu, pelakunya. Dia kan udah sekarat sekarang, pasti pengen dong punya barang-barang mahal lagi, jadi pasti dia yang nyolong handphone saya,” tuduh Ranee.
​“Eh, jangan sembarang ngomong loe!” bentak Sarah.
​“Sudah, sudah. Ayo kita lakukan pemeriksaan. Semuanya, bawa tas kalian ke depan!” perintah guru tersebut.
​Semua murid menuruti perintah sang guru dan pemeriksaan pun dilaksanakan. Saat memeriksa tas Sarah, guru tersebut menemukan sebuah handphone.
​“Nah, itu dia handphone saya, Bu. Benar kan apa yang saya bilang, Sarah yang ambil. Dasar tukang nyuri!” bentak Ranee.
​“Wah, jujur, Bu. Saya sama sekali tidak tahu kenapa handphone Ranee bisa ada di tas saya.” Sarah membela dirinya.
​“Alah, mana ada maling yang mau ngaku,” sindir Ranee.
​“Ayo Sarah, ikut Ibu ke kantor, kita bicarakan di sana,” ujar guru tersebut.
​Mama Sarah pun ditelepon oleh sekolah dan segera memenuhi panggilan tersebut.
​“Ada apa ini?” tanya mama Sarah begitu ia sampai di ruang kepala sekolah.
​“Silahkan duduk, Bu.” ujar Bapak Kepala Sekolah. “Anak Ibu dituduh mencuri handphone temannya.” Bapak Kepala sekolah menjelaskan.
​“Saya tidak melakukannya, Pak. Pasti ada yang sengaja memfitnah saya,” bela Sarah.
​“Iya, Pak. Tidak mungkin anak saya melakukan hal seperti ini,” sahut mama Sarah.
​“Tetapi tidak ada bukti bahwa kamu difitnah. Semua bukti mendukung fakta bahwa kamu melakukannya. Maka dari itu, saya terpaksa menjatuhkan hukuman skors 3 minggu. Maaf, peraturan harus dilaksanakan,” ujar Bapak Kepala Sekolah tegas.
​Sarah merasa sedih dan juga kesal, karena ia 100% yakin bahwa hal itu bukanlah perbuatannya. Namun apa boleh buat, mau tidak mau ia harus menerima hukuman itu. Ia dan mamanya pun beranjak keluar dari kantor kepala sekolah.
​Ranee dan teman-temannya yang menguping dari luar tersenyum puas melihat Sarah dihukum. Ternyata, setelah Sarah keluar dari kelas, seorang teman Ranee sengaja menaruh handphone Ranee ke dalam tas Sarah dan memfitnah Sarah yang mencurinya. Sarah tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
​Sarah pun menjalankan masa skorsnya dengan berat hati. Ia mulai berpikir, ia memang diciptakan untuk menderita. Terkadang, saat memikirkan berbagai masalah yang ia jalani, ia menangis tiada henti. Seperti suatu malam, ia menangis sepanjang malam hingga ia terlelap.
​“Sarah.” Terdengar suara yang familiar yang memanggil namanya.
​Sarah pun menoleh ke belakang dan melihat papanya sedang berdiri di belakangnya. ​“Papi?” tanya Sarah kebingungan.
​“Halo, Sarah. Apa kabarmu?” tanya papa Sarah.
​“Kurang baik, Pi. Banyak banget bencana yang menimpa aku. Mulai dari perusahaan Papi yang bangkrut, rumah dan mobil dijual, pindah ke rumah kecil, jual barang-barang mahal, jalan kaki ke sekolah, diejek dan dijauhin teman, tabungan dijebol, Papi meninggal, harus buka restoran dan bantu Mami, dituduh nyuri handphone teman, dan diskors 3 minggu. What’s next?” Sarah menceritakan semuanya dengan air mata berlinang.
​“Wah, wah. Memang banyak bencana yang menimpa kita, tapi di balik semua itu, pasti ada hikmahnya kok, Sarah. Tuhan lakukan ini semua pasti ada maksudnya. Coba Sarah ingat-ingat lagi hidup lama Sarah yang serba enak. Sarah manja, sombong, dan nggak mandiri. Tapi sejak semua bencana ini terjadi, Sarah mau nggak mau harus belajar ini dan itu. Sarah harus belajar mandiri dan nggak manja lagi. Mungkin Sarah nggak kaya, tapi dengan begitu Sarah jadi nggak sombong lagi. Mungkin Sarah diejek, dijauhin dan difitnah teman, tapi dengan begitu Sarah belajar untuk sabar dan akhirnya Sarah sadar, ada beberapa teman yang selama ini dekat sama Sarah hanya karena Sarah kaya. Anggap saja semua bencana ini adalah proses pembentukan kepribadian Sarah. Tuhan mau Sarah berubah, maka dari itu berubahlah Nak, jalani hidupmu ini dengan penuh rasa syukur. Semua pasti akan membaik kok, Sayang. Kamu hanya butuh bersabar.” Papa Sarah menasihati Sarah.
​Setelah mendengar nasihat papanya itu, mata hati Sarah pun terbuka. Semua yang papa Sarah katakan benar. Semua bencana ini adalah pelajaran buat Sarah.
​Tiba-tiba terdengar suara alarm Sarah berbunyi. Sarah terbangun dari mimpinya dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa semua beban di bahunya telah terangkat. Ia pun menceritakan mimpinya itu pada mamanya.
​“Wah, yang Papi katakan itu benar sekali, Sayang. Mungkin Tuhan pakai Papi dalam mimpi Sarah buat sadarin Sarah,” ujar mama Sarah.
​“Betul tuh, Mi. Mulai sekarang aku janji aku bakal berubah. Aku mau jalani semua ini dengan semangat dan penuh rasa syukur!” seru Sarah antusias.
​3 minggu pun berlalu, masa skors Sarah pun berakhir. Ia kembali masuk sekolah dengan semangat. Ada beberapa teman Sarah yang menyindir dan mengejeknya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ia tetap menjalani hidupnya dengan semangat. Ia rajin belajar, rajin pergi ke gereja, membantu mamanya dengan senang hati, banyak berdoa dan mengubah segala perilaku buruknya. Ia menjalani hidupnya dengan penuh syukur dan semua yang papanya katakan dalam mimpinya benar, semuanya membaik. Bisnis mamanya sukses dan keadaan ekonomi keluarga Sarah membaik.
​Tak terasa, 2 tahun berlalu, Sarah pun lulus SMA dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Ia pun menerima beasiswa dari universitas impiannya. Sarah semakin percaya, bahwa dibalik semua bencana, Tuhan pasti punya rencana. He knows the best.